Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 80 Kita, Gandengan saja!


__ADS_3

Begitu mobil masuk di gerbang, hujan pun tiba-tiba hujan.


''Hah, hujan beneran. Padahal aku cuma mengarang saja. Sebenarnya entah kenapa hari ini aku ingin bersama gadis menyebalkan ini,'' gumam Kevin dalam hati.


''Wah beneran turun hujan nih.'' Ucap Keira.


''Aku bilang juga apa. Makanya kalau pergi kemana-mana harus bisa membaca cuaca. Soba saja kamu nekat berangkat sendiri, pasti sudah basah kuyup di jalanan.''


''Marvel, kamu masuk dulu ya. Biar papa payungi kamu. Dan kamu Keira, tunggu di mobil.'' Sambung Kevin. Kevin kemudian turun dari mobil lalu memayungi Marvel untuk masuk ke rumah terlebih dahulu. Setelah Marvel masuk, Kevin kembali untuk memayungi Keira. Tanpa basi-basi, Kevin membukakan pintu untuk Keira. Hujan yang begitu deras di sertai angin yang kencang serta petir yang tiba-tiba menyambar, membuat Keira spontan memeluk Kevin. Kevin terkejut saat Keira memeluknya dengan erat, Keira benar-benar merasa takut saat mendengar suara petir menggelegar.


''A... aku takut petir Tuan.'' Ucap Keira tergagap. Kevin yang merasakan nafas memburu Keira yang ketakutan, lalu mendekapnya dan segera membawanya masuk ke dalam rumah. Saat sudah sampai di teras rumah, Kevin melipat kembali payungnya. Sementara Keira masih erat memeluknya.


''Ehem, takut atau nyaman?'' kata Kevin sambil berdehem. Menyadari ucapan Kevin, Keira pun buru-buru menjauh dari Kevin.


''Siapa yang nyaman? Namanya juga takut. Sekalipun yang berdiri di hadapanku Bi Nani, aku juga akan memeluknya.'' Bantah Keira.


''Sudah masuk sana! Cepat ganti bajumu nanti bisa masuk angin.'' Perintah Kevin. Tanpa banyak bicara Keira segera masuk menuju kamar tamu. Kevin tersenyum kecil melihat Keira yang tampak lucu saat marah.


Sebenarnya sesaat setelah mereka pergi, Kevin memerintahkan Pak Wawan untuk menemani Pak Ammar di rumah. Dengan alasan ingin menjauhkan Keira dari berita buruk serta mempertahankan reputasi, Kevin membujuk Marvel untuk menemui Keira di rumahnya. Ia tidak tenang dan merasa cemas kalau Keira pergi bersama Leon. Kevin tampak lega saat Keira pergi bersama kedua sahabatnya.


-


Setelah berganti pakaian, Keira pun menelepon Ayahnya. Pak Ammar sendiri tengah asyik bermain catur bersama Pak Wawan, penjaga rumah sekaligus tukang kebun di rumah Kevin.


''Halo Ayah, Ayah baik-baik saja kan?''


''Ayah baik-baik saja, Nak. Nak Kevin baru saja menelepon kalau kamu akan menginap lagi disana karena katanya Marvel merengek dan tidak mau kamu pergi. Apalagi ini juga hujan deras.''


''Hah? Merengek? Kapan Marvel merengek? Aku saja belum keluar kamar,'' gumam Keira dalam hati.


''Tuan Kevin bilang begitu Yah?''


''Iya, Nak. Katanya pas kamu pamit mau pulang, Marvel mencegah kamu dan menangis. Kamu temani dia saja ya, kasihan dia pasti merindukan sosok ibu. Ayah juga sudah bersama Pak Wawan disini. Pak Wawan kemari juga atas perintah Nak Kevin,'' kata Pak Ammar dengan begitu polosnya.


''Baiklah kalau begitu. Ayah baik-baik ya.''


''Iya kamu tenang saja.'' Sambungan telepon pun berakhir. Keira mengepalkan tangannya sambil mengeratkan rahangnya.


''Dasar si kepala batu! Apa maksudnya menjebakku seperti ini. Bisa-bisanya dia bersandiwara di depan Ayah.'' Gerutu Keira. Keira kemudian keluar dari kamarnya dan menaiki anak tangga menuju lantai atas. Keira melihat ruang kerja Kevin terbuka, ia pun memutuskan untuk masuk tanpa permisi.


''Tuan!" seru Keira.


''Ada apa?'' tanya Kevin tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan berkas di hadapannya. Keira mendekat lalu menggebrak meja Kevin. Kevin lalu melihat kearah Keira yang tampak marah.


''Apa maksud Tuan dengan berbohong dan mengarang cerita pada Ayahku?''

__ADS_1


''Mengarang cerita apa maksudmu?''


''Tuan bilang kalau Marvel merengek memintaku untuk tetap disini. Padahal Marvel baik-baik saja kan? Dia tidak merengek sama sekali. Sepertinya Tuan merencanakan sesuatu." Selidik Keira sambil bertolak pinggang. Kevin menghela nafas panjang lalu beranjak dari duduknya. Ia lalu mendekat ke arah Keira dan terus mendekat, membuat Keira melangkah mundur.


''Hei, apa kamu tidak bisa melihat kalau ada wartawan yang mengikuti kita sejak kita membuat vidio klarifikasi itu? Mereka terus membuntuti kita, bahkan membuntutimu. Tidak semua media itu baik, mereka suka menggiring opini tanpa melihat kebenarannya. Makanya akhir-akhir ini aku sering mengajakmu pergi bersama. Bagaimana kalau Ayahmu melihat berita lain tentang dirimu? Apa kamu tidak memikirkan sejauh itu? Bukan hanya reputasiku tapi juga nama baikmu menjadi taruhannya.'' Kata Kevin panjang lebar sampai membuat Keira tersudut pada dinding. Keira hanya bisa terdiam dan tidak bisa membantah ucapan Kevin.


''Lalu apa yang kamu inginkan sekarang? Jangan lupa dengan perjanjian kontrak kita, siapa yang melanggar harus membayar sebesar 2 Milyar.'' Sambung Kevin sambil mengacungkan dua jarinya di depan Keira. Keira yang merasa takut dengan ekspresi menyeramkan Kevin, membuat Keira mengigit bibir bawahnya dan hal itu lagi-lagi membuat Kevin teringat akan kecupan Keira.


''Kevin, apa yang sedang kamu lihat?'' gumam Kevin dalam hati. Dan tiba-tiba listrik padam.


''Tuan, aku takut!" seru Keira sambil memeluk Kevin dalam kegelapan. Hujan yang lebat dan sambaran petir di tambah listrik yang padam, semakin menambah ketakutan Keira.


''Ah lepaskan aku! Modus kan?'' kata Kevin sambil berusaha menepis tangis Keira di dalam kegelapan.


''Siapa yang modus? Aku beneran takut, Tuan.''


''Kamu berdiri disini saja, aku ambil ponselku di meja.''


''Tidak mau! Aku tidak mau lepas dari Tuan!" kata Keira yang tidak bisa membendung rasa takutnya.


''Lalu bagaimana caraku berjalan kalau kamu memelukku seperti ini?'' kesal Kevin.


''Ya udah jalan pelan-pelan aja menuju meja. Awas saja kalau berani melepaskan pelukanku!" Ancam Keira sambil mencubit perut Kevin.


''Auw, sakit Kei!"


''Iya-iya.'' Kevin berjalan pelan menuju arah meja, sementara Keira dengan erat memeluk tubuhnya dari depan. Setelah berhasil mendapatkan ponselnya, Kevin segera menyalakan flash di ponselnya. Ia melihat Keira memeluknya dengan erat, dengan mata terpejam.


''Dia benar-benar ketakutan,'' batin Kevin.


''Sekarang lepaskan aku!'' kata Kevin. Keira membuka matanya dan melihat cahanya dari flash ponsel Kevin. Perlahan ia melepas pelukannya pada Kevin.


''Tuan atau Mas, antar aku ke kamar. Kamar ku ada di bawah,'' pinta Keira sambil menarik ujung baju Kevin. (Mohon maklum, disini Keira memang di buat bingung untuk memanggil Kevin Mas atau Tuan. Jadi authornya kadang nulis Mas dan kadang juga Tuan, hehehe).


''Ya sudah, kamu jalan di depan. Biar aku yang di belakang sambil nerangin jalan.''


''Gandengan saja.'' Pinta Keira tanpa basa-basi.


''Gandengan? Memangnya mau menyeberang apa?''


''Aku takut, sudah jangan cerewet.'' Ketus Keira. Tanpa meminta persetujuan Kevin, Keira langsung menggandeng erat tangan Kevin.


''Awas kalau sampi Tuan lepaskan, aku akan menggigitmu!" ancam Keira. Kevin kemudian dengan perlahan, mengantar Keira menuju kamarnya.


''Bi Nani-Mbak Rima! Cepat nyalakan lilin dan lihat kamar Marvel!" teriak Kevin sambil menuruni anak tangga.

__ADS_1


''Iya Tuan! Rima sudah berada di kamar Den Marvel,'' sahut Bi Nani dari dapur.


Akhirnya, Kevin sampai juga di kamar tamu. Namun Kevin terkejut saat Keira menariknya untuk masuk ke dalam kamar.


''Kei, kenapa kamu membawaku ke kamar?''


''Aku takut Tuan.'' Kata Keira yang masih memegang tangan Kevin sedari tadi.


''Lebih baik kamu tidur dan aku ambilkan lilin.''


''Tidak mau! Dengarkan petirnya? Terus itu anginnya juga. Serem kayak di film horor.'' Kata Keira.


''Marvel saja berani tapi kenapa kamu yang sudah dewasa malah seperti anak kecil? Hah?''


''Usia itu tidak bisa menjadi tolak ukur sebuah phobia. Paham!"


Kevin lalu menyeret Keira dan mendudukkannya di atas kasur.


''Sudah duduk! Diam! Aku ambilkan lilin!" bentak Kevin.


''Dasar galak!" sahutnya. Namun Kevin tidak peduli dengan ucapan Keira. Saat Kevin berbalik hendak keluar, Keira berlari lalu memeluknya dari belakang. Kevin sangat terkejut dengan sikap Keira itu.


''Tuan, aku sungguh takut. Jangan tinggalkan aku. Biasanya di saat seperti ini Kak Kenny atau Ayah menemaniku sampai lampu menyala.'' Lirih Keira. Tiba-tiba flash ponsel Kevin mati.


''Kok semakin gelap?'' sambung Keira.


''Ponselku mati, batreku habis. Ya udah ayo duduk sana.'' Kevin lalu mengajak Keira duduk di tepi ranjang. Suasana hening, hanya terdengar suara hujan yang begitu lebat di sertai petir.


''Kenapa hujannya masih belum berhenti juga? Listriknya padam pula?'' Kata Keira dengan perasaan takutnya.


''Tidak usah cengeng! Tidak usah mengeluh! Seperti anak kecil saja.'' Ketus Kevin.


''Terserah Tuan mau bicara apa! Ketakutan setiap orang itu berbeda. Ponselku juga mati. Rasanya seperti hidup di jaman purba.''


''Biasanya dia begitu dewasa dan keibuan mengahadapi Marvel tapi kali ini dia benar-benar seperti anak kecil.'' Kata Kevin dalam hati. Keira lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kevin.


''Tuan, jangan lepaskan tanganku ya. Setidaknya sampai lampu ini menyala.'' Kata Keira yang masih setia menggenggam tangan Kevin. Berdekatan dengan Keira seperti iniz membuat jantung Kevin berdetak tidak karuan. Apalagi mendadak Keira berubah manja seperti ini. Kevin berusaha tenang supaya tidak tergoda dengan keadaan yang sebenarnya sangat mendukung bagi pasangan suami istri. Bermesraan di atas ranjang bersama pasangan saat hujan dan dingin seperri ini adalah yang paling menyenangkan.


''Kevin, kenapa mendadak pikiranmu mesum? Ayo sadar! Ingat kontrak itu! Kamu sendiri kan yang membuatnya?'' kata Kevin dalam hati yang berdialog dengan dirinya sendiri.


''Kei,'' panggil Kevin. Namun ternyata Keira tertidur di bahu Kevin.


''Tidur? Astaga.'' Ucapnya. Kevin lalu membantu Keira untuk berbaring di atas tempat tidur. Saat Kevin akan beranjak pergi, Keira kembali menarik tangan Kevin hingga Kevin terjatuh disisi Keira.


''Jangan pergi, Kak. Temani aku.'' Keira mengigau. Kali ini Kevin benar-benar berbaring di samping Keira. Bahkan tangan Keira sudah melingkar di tubuh Kevin. Di tambah kaki Keira yang menimpa kaki Kevin, Kevin benar-benar tidak bisa bergerak.

__ADS_1


''Astaga, aku sama sekali tidak bisa bergerak. Tubuhnya berat juga ternyata.'' Kata Kevin yang berusaha beranjak. Akhirnya Kevin pun menyerah. Di dalam kegelapan, ia memberanikan diri membelai kepala Keira. Sampai akhirnya Kevin pun tertidur satu ranjang dengan Keira.


Bersambung.....


__ADS_2