Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 263 Penenang Hati


__ADS_3

''Mas, besok aku ke acara pembukaan butiknya Laras ya? Boleh kan, Mas?'' ucap Keira membuka obrolan saat makan malam.


''Boleh saja tapi kamu jangan capek-capek seperti waktu itu ya? Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa.'' Pesan Kevin.


''Iya Mas, kamu tenang saja. Besok acarnya pagi jam 9 jadi sekalian nanti aku ke kantor bawa makan siang untuk kamu.''


''Oke sayang. Yang penting kamu harus selalu hati-hati ya.''


''Iya Mas.''


Keesokan harinya setelah mengantar Marvel ke sekolah, Keira segera menuju ke butik Laras. Tak lupa Keira membawa buket bunga yang indah sebagai ucapan selamat.


''Laras, selamat ya. Keren banget ini butiknya.'' Ucap Keira seraya memberikan pelukan untuk sahabatnya itu.


''Thanks banget ya Kei, udah sempetin datang kesini. Ini semua juga berkat dukungan Kak Krisna.''


''The best lah Pak Krisna pokoknya.''


''Ya udah kesana yuk! Acaranya segera di mulai.''


''Oke.''


Acara pembukaan butik itupun dihadiri oleh kedua orang tua Laras, Krisna dan juga Ibu mertua Laras. Laras dan Krisna juga mengundang lima puluh anak yatim supaya usaha Laras semakin berkah. Ditambah doa para anak yatim akan dengan mudah di ijabah oleh sang khalik. Laras dan Krisna juga menyelipkan harapan supaya mereka segera di karunia momongan. Acara pun langsung di mulai dengan doa, kemudian memotong pita tepat di depan pintu masuk butik dan terkahir memotong tumpeng serta makan bersama. Laras sangat bahagia karena semuanya berjalan dengan lancar sesuai dengan yang ia inginkan. Apalagi memiliki sebuah butik adalah impiannya selama ini.


Setelah semua acara rangakaian selesai, para pembeli mulai berdatangan. Johan yang absen hadir karena tidak bisa cuti, memilih membantu Laras untuk promosi. Dan alhasil hari pertama buka, pembeli membludak.


''Wah, bener-bener si Johan emang best banget marketingnya.'' Kata Laras pada Keira.


''Jadi Johan nih yang bantuin, Ras?''


''Iya Kei, gue minta bantuan dia, hehehe. Sebagai ganti karena dia nggak bisa datang.''


''Iya sih Johan emang keren. Kalau nggak gitu, dia nggak naik jabatan jadi manajer, Ras.''


''Serius si Johan jadi manajer?''


''Iya Ras. Dia belum cerita sama elo?''


''Belum, Kei. Wah, wajib di todong traktiran nih. Kok bisa semudah itu, Kei? Dan suami elo baik banget.''


''Karena chalenge yang di kasih Mas Kevin ke Johan melebihi ekspetasi perusahaan. Jadi tiga bulan ini Mas Kevin training Johan gitu lah untuk naik jabatan dengan tantangan dia bisa tingkatin penjualan produkk yang sempat macet. Ya semoga Johan bisa, Ras.''


''Gila juga si Johan. Bener-bener berkah dia nikahin janda ya,'' celetuk Laras.


''Berkah nikah. Rezeki mereka kali. Nggak usah bawa status janda kali, Ras.'' Ucap Keira.


''Hehehe iya Kei, becanda gue. Gue juga seneng kalau sahabat gue seneng. Ya apalagi seriang jejaka seperti Johan menikahi single mother itu nggak mudah lho, Kei. Makanya berkah banget hidupnya si Johan.''


''Iya juga sih. Semoga Johan benar-benar bisa setia sama Bu Tessa. Awas aja kalau sampai dia berubah, gue bakalan minta Mas Kevin, bikin si Johan jadi miskin lagi.'' Seloroh Keira.

__ADS_1


''Hahaha setuku banget, Kei. Kalau Johan banyak tingkah, bikin miskin aja.''


''Emang ya kita ini sahabat nggak ada akhlak,'' seloroh Keira diringi tawa Laras.


Setelah menghadiri acara pembukaan butik Laras, Keira pergi menuju kantor Kevin dengan membawa makan siang.


''Selamat siang Tuan Kevin,'' sapa Keira begitu masuk keruangan suaminya.


''Hei sayang, selamat siang juga.'' Ucap Kevin seraya beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan istrinya. Kevin merentangkan kedua tangannya, Keira pun menghambur dalam dekapan suaminya.


''Bagaimana sayang? Sudah selesai acaranya?''


''Sudah kok, Mas. Bagaimana pekerjaanmu, Mas?''


''Hari ini tidak sepadat hari-hari yang lalu kok.'' Ucap Kevin seraya memberikan kecupan di pucuk kepala istrinya. Kevin lalu mengajak Keira untuk duduk di sofa.


''Ya sudah Mas, kamu makan dulu ya.''


''Kamu sudah makan?''


''Sudah tadi kok di acaranya Laras. Mau aku suapin?''


''Mmmm mau banget, sayang.'' Jawab Kevin dengan senyum manisnya itu. Keira llau menyuapi suaminya dengan telaten.


Setelah selesai menyuapi suaminya, Keira pun segera pamit.


''Sayang, aku pergi dulu ya sekalian jemput Marvel.''


''Iya Mas.'' Keduanya lalu saling berpelukan dan saling mengecup bibir sebelum pergi.


''Kalau sudah sampai rumah, langsung kasih kabar ya, sayang.''


''Iya-iya, Mas. Kamu ini terlalu khawatir sekali, kamu tenang saja ya.''


''Iya, akan aku tahan kekhawatiranku.''


-


Sesampainya di sekolah, Keira segera turun dari mobil dan memilih menunggu Marvel di dalam gerbang sekolah. Keira mencari tempat yang teduh untuk menunggu Marvel keluar kelas.


Namun pandangan Keira tertuju pada seorang gadis yaitu Luna. Luna tampak berjalan sendirian namun tali sepatu, membuat langkah Luna terhenti. Luna lalu menekuk satu lutunya untuk membetulkan tali sepatunya. Namun Luna tetap tidak bisa. Keira tersenyum melihat Luna yang mulai kesal karena tidak bisa mengikat tali sepatunya. Keira kemudian beranjak dari duduknya, mendekati Luna untuk menawarkan bantuan.


''Hai anak manis, Tante bantu ya.'' Ucap Keira. Luna mendongak melihat kearah Keira. Keira lalu berlutut dan mengikatkan kembali tali sepatu Luna.


''Sudah selesai anak manis.'' Ucap Keira.


''Terima kasih.'' Kata Luna dengan pelan, sambil memberikan senyuman tipisnya pada Luna.


''Sama-sama. Kamu cantik sekali ya.'' Ucap Keira sambup membelai kepala Luna. Luna kemudian berlalu begitu saja.

__ADS_1


''Eh kok main pergi begitu saja. Aku kan ingin tahu namanya. Dia sangat cantik dan menggemaskan.'' Gumam Keira yang melihat Luna sudah menghilang dari pandangannya karena Luna sudah masuk ke dalam mobil yang menjempunya.


''Mama!" teriakan Marvel, membuat Keira berpaling.


''Hai sayang!" ucap Keira sambil melambaikan tangannya.


''Mama bicara sama Luna ya? Apa dia menjawab?'' tanya Marvel.


''Oh jadi tadi namanya Luna?''


''Iya Mah. Dia anak baru yang aku ceritakan itu. Dia aneh kan, Mah.''


''Tadi Mama membantunya mengikatkan tali sepatunya dan dia bilang terima kasih tapi dia langsung pergi begitu saja.''


''Mama beruntung mendapat ucapan terima kasih darinya. Aku berkali-kali membantunya tidak pernah mendapatkan ucapan terima kasih. Tapi setidaknya aku tahu kalau dia itu tidak bisu.''


''Marvel, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Mungkin dia malu sayang.''


''Habis aku kesal, Mah. Apa susahnya mengucapkan kata terima kasih. Dia itu menyebalkan sekali.''


''Sudah-sudah jangan marah-marah lagi. Kalau kita menolong itu harus ikhlas dan tidak boleh mengharapkan apapun.''


''Iya Mama, Marvel tahu kok. Tapi kan dia juga bisa sedikit saja mengharagi kebaikan seseorang. Marvel tidak ingin di balas kok. Hanya ingin di hargai saja. Setiap kali di tolong selaku saja diam, bahkan dia pernah mendorongku saat kau mengajaknya berteman.'' Cerita Marvel dengan mengungkapkan segala kekesalannya.


Keira tersenyum mendengar celotehan putra sambungnya itu. Keira kemudian merangkul bahu Marvel. ''Aduh, anak Mama ini sepertinya sedang marah besar. Oke silahkan kamu luapkan amarah kamu, kalau marahnya reda baru kita pulang. Atau kamu butuh sesuatu untuk meredakan amarahmu?''


''Tidak! Mood ku sudah rusak karena dia, Mah. Dia sombong sekali.'' Kesal Marvel.


Keira kemudian berlutut dihadapan putranya, di pegangnya kedua bahu Marvel. Dan di tatapnya mata Marvel dengan sangat hangat. ''Oke baiklah, sekarang dengarkan Mama ya. Coba ambil nafas pelan-pelan lalu hembuskan.''


Marvel lalu menuruti perintah Mamanya.


''Coba ulangi lagi sampai tiga kali,'' ucap Keira. Marvel pun mengikuti kembali instruksi Mamanya.


''Bagaimana? Sudah sedikit tenang?'' tanya Keira. Marvel mengangguk pelan.


''Sekarang berikan senyuman manismu untuk, Mama. Mama akan sedih kalau melihat anak Mama seperti ini.'' Ucap Keira dengan tatapan memohon. Marvel perlahan memberikan senyumnya pada Keira.


''Nice, good boy. Terima kasih sayang.'' Keira lalu memeluk putranya.


''Bagaimana kalau kita makan ice cream?'' tanya Keira.


''Mau banget, Mah.''


''Oke, lets go! Kita pergi ke kedai ice cream ya. Untuk mendinginkan suasana yang semapat memamanas sedikit.''


''Oke Mah, aku setuju sekali. Terima kasih ya Mah, selalu membuatku lebih tenang.''


''Sama-sama sayang.''

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2