
Setelah mengantar Marvel menuju sekolah, Kevin mengarahkan mobilnya menuju mall.
''Lho kok kita kesini Tuan?''
''Stop panggil aku Tuan! Jangan sampai orang lain tahu. Kamu bisa memanggil Miko dengan sebutan Kakak tapi susah sekali memanggilku dengan sebutan lain. Selama kontrak masih berjalan, jangan memanggilku Tuan. Aku mengajakmu kesimi untuk untuk membelikanmu pakaian. Istri seorang Kevin mana mungkin lusuh dan kucel seperti ini.''
''Namanya juga tidak bawa baju ganti. Ya terpaksa aku pakai lagi.''
''Sudah jangan membantah! Sebaiknya kita segera masuk ke dalam karena jam seperti ini mall masih sepi. Jadi tidak ada yang akan menguntit kita.''
Kevin dan Keira lalu masuk ke dalam mall. Keira mengekor Kevin karena langkah kaki Kevin terlalu panjang untuk ia ikuti. Sesampainya di toko pakaian branded. Tanpa banyak bicara, Kevin mengambil beberapa pakaian untuk Keira tanpa menanyakan apakah Keira suka atau tidak.
''Coba ini semua!'' kata Kevin.
''Sebanyak ini Tuan, eh Mas.''
''Iya? Aku akan meletakkan semua pakaian itu di kamar tamu. Supaya saat menginap disana, kamu punya pakaian untuk ganti. Ambil salah satu untuk kamu pakai sekarang.''
''Baiklah.'' Keira lalu menuju ruang ganti. Ada sepuluh baju yang di pilih Kevin.
''Kenapa semuanya pas? Dan sesuai dengan seleraku yang tidak terlalu terbuka.'' Gumam Keira sembari bercermin. Setelah selesai, Keira pun keluar.
''Bagaimana? Sudah cukup semuanya?''
''I... iya semuanya pas.''
''Mbak, bungkus semuanya!" pinta Kevin pada pelayan toko itu.
''Apa? Semuanya Mas?''
''Iya. Memang kenapa? Anggap saja ini bonus untukmu. Tanda tangan kontrak pertama kamu sudah masuk dalam hitungan kerja.'' Kata Kevin dengan tegas. Setelah membeli pakaian, Kevin mengajak Keira menuju toko sepatu dan tas. Seperti sebelumnya, tanpa bertanya Kevin memilih dan membungkus begitu saja. Keira hanya bisa menelan ludah, melihat Kevin belanja tanpa pikir panjang dan langsung membayar begitu saja.
''Ini uang nggak habis apa? Tanganku sudah tidak muat membawa kantong belanja ini,'' gumam Keira dalam hati. Melihat Keira yang kuwalahan, Kevin pun membantunya.
''Mas, ini banyak sekali! Bahkan berlebihan. Klienku tidak ada yang membelanjakan aku seperti ini.''
''Sudah jangan cerewet.''
Setelah selesai berbelanja, Kevin bergegas mengajak Keira ke kantornya. Saat hendak masuk ke dalam kantor, Kevin menyodorkan lengannya meminta Keira untuk merangkulnya. Keduanya tampak serasi dan romantis saat memasuki kantor.
''Memang tidak bisa jalan sendiri Mas? Harus di gandeng juga?''
__ADS_1
''Jangan cerewet! Ikuti saja perintahku.''
''Iya-iya. Galak amat sih.''
Sesampainya di ruangan, Keira langsung melonggarkan rangkulannya pada lengan Kevin.
''Apa yang harus aku lakukan disini, Mas?''
''Ya tunggu aku saja disini. Jangan kemana-kemana. Aku mau ke ruang meeting.''
''Lebih baik aku pulang saja. Bagaimana dengan Ayah? Aku belum membuatkan sarapan untuknya.''
''Tidak usah khawatir. Aku sudah meminta anak buahku untuk mengurus sarapan pagi Ayahmu.'' Kata Kevin sembari berlalu meninggalkan ruangannya.
''Bete banget nggak sih kehidupan kaku seperti ini? Bangun tidur ke kantor, habis itu ke rumah, kehidupan seperti apa ini? Bisa mati muda kalau aku terus hidup seperti ini.'' Gerutu Keira yang merasa kesal dengan kehidupan barunya. Ia lalu memutuskan untuk keluar dari ruangan Kevin. Ia memilih untuk jalan-jalan dan berkeliling kantor Kevin yang megah itu.
Saat sedang berkeliling, dari arah berlawanan Keira melihat Ferdi.
''Ferdi, untuk apa dia disini?'' gumamnya. Keira lalu berbalik arah untuk melarikan diri dari Ferdi tapi Ferdi buru-buru mengejarnya dan berhasil menarik lengan Keira.
''Kei, berhenti!" Kata Ferdi.
''Kei kenapa kamu tidak datang ke acara pertunanganku?''
''Setelah apa yang kamu lakukan, kamu bisa bicara seperti itu, dasar gila! Aku sudah mati rasa denganmu!" tegas Keira sembari berlalu.
''Tunggu Kei! Maafkan aku.''
''Ferdi!" panggil Lily.
''Kamu sudah selesai ke toiletnya?''
''Sudah. Kamu ngapain sama dia? Terus Kenapa dia disini? Bagaimana bisa orang rendahan seperti dia ada disini? Oh pasti kamu sengaja menguntit Ferdi kan?''
''Apa? Menguntit? Sungguh tidak ada pekerjaan saja. Ambil sana bekasku!" kata Keira sembari berlalu begitu saja. Lily yang geram pun mengejar Keira namun Ferdi menahannya.
''Sayang, tidak ada gunanya mengejarnya.''
''Ferdi, lebih baik kamu urus saja pekerjaanmu. Aku akan mengurusnya.'' Lily lalu melepaskan tangan Ferdi. Ia kemudian berusaha mengejar Keira.
''Hei berhenti!" teriak Lily. Keira yang muak pun melanjutkan langkahnya tanpa mengiraukan panggilan Lily.
__ADS_1
''Aku bilang berhenti wanita murahan!" kata Lily yang semakin menjadi. Keira pun menghentikan langkahnya dan berbalik.
''Ada apa lagi Nona? Urusan kita sudah selsai.''
''Aku tidak akan membiarkan siapapun untuk mendekati Ferdi. Kamu sengaja menguntit kami kan? Kamu tidak terima kalau Ferdi mencampakkanmu jadi kamu balas dendam padanya. Kamu ingin menggodanya dengan merubah penampilanmu seperti ini iya kan? Dan bagaimana bisa wanita murahan sepertimu bisa menginjakkan kaki di perusahaan besar seperti ini.''
''Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu Nona. Aku terlalu sibuk untuk berdiskusi dengan anda.''
''Dasar wanita rendahan yang sombong.'' Lily yang di kuasai marahnya, lalu mendorong Keira hingga terjatuh tersungkur di lantai.
''Auw,'' rintih Keira. "Sangat di sayangkan Nona yang berpendidikan bersikap seperti ini hanya karena seorang pria seperti itu.'' Kata Keira. Lily yang kesal lalu mengguyur Keira dengan air mineral yang ada di genggamannya.
''Keira!" seru Kevin. Kevin lalu membantu Keira untuk berdiri.
''Kamu tidak apa-apa?'' kata Kevin dengan khawatir. Kevin kemudian melepas jasnya lalu menyelimuti tubuh Keira yang basah.
''Apa yang kamu lakukan Nona?''
''Memberinya pelajaran supaya tidak gatal.''
''Jangan pernah sakiti Keira kalau tidak Nona akan berurusan denganku.''
''Memang apa hubunganmu dengannya? Beraninya ikut campur.''
''Dia calon istriku. Jadi jangan pernah sentuh dia!" kata Kevin dengan mengeratkan rahangya.
''Lily, apa yang kamu lakukan?'' kata Ferdi yang melihat Kevin dan Lily berdebat.
''Aku memberinya pelajaran. Mendorongnya dan mengguyurnya dengan air. Memang kenapa? Ini hanya permulaan.'' Kata Lily dengan angkuhnya.
''Tu... Tuan Kevin maafkan calon istri saya ini.''
''Katakan pada Tuan Handoko kalau aku akan mengakhiri kerja sama ini. Aku tidak sudi bekerja dengan orang yang tidak punya etitude dan sopan santun seperti ini. Lihat, dia sudah menyakiti calon istriku. Aku tidak segan-segan membawa kasus ini ke jalur hukum atas tindakan perbuatan yang tidak menyenangkan. Aku tidak main-main dengan ancamanku!" Kata Kevin sambil menunjuk kearah Lily dan Ferdi. Kevin kemudian bergegas membawa Keira keruangannya.
''Lily kamu tahu siapa dia? Dia itu Tuan Kevin pemilik perusahaan ini. Sekarang karena sikap kamu, dia memutuskan kerja sama dengan perusahaan Papa.'' Mendengar penjelasan Ferdi, Lily terperangah tidak percaya.
''Apa? Pemilik perusahaan ini? Bagaimana bisa wanita rendahan itu akan menjadi istri seorang pemilik perusahaan ternama ini?'' Kata Lily dengan geram.
''Keira pantas mendapatkan yang terbaik karena aku sudah menyakitinya. Lebih baik sekarang kita pikirkan bagaimana supaya Papa tidak marah setelah mendengar cerita ini.'' Ferdi lalu mengajak Lily pergi meninggalkan kantor Kevin.
Bersambung.....
__ADS_1