
Setelah dari cafe, Johan kemudian mengantar Tessa pulang. Sesampainya di rumah, Tessa melihat Rendy baru saja keluar dari kamar Anrez.
''Eh Tessa-Johan kalian baru pulang?'' tanya Rendy basa-basi.
''Dimana Anrez, Mas?'' tanya Tessa.
''Dia tidur, kami baru saja sampai di rumah.''
''Apa Anrez sudah makan?''
''Kamu tenang saja tadi Anrez sudah makan. Oh ya aku mau minta maaf belum bisa mengembalikan uangmu karena aku juga sedang mencari pekerjaan.''
''Itu bukan uangku tapi uang Johan. Dia yang meminjamkannya untukmu. Karena sejak berpisah, kamu bahkan tidak meninggalkan sepeserpun untuk aku dan Anrez. Sebaiknya kamu jangan sering-sering datang kemari.''
''Maafkan aku, Tessa. Aku memang Ayah tidak berguna. Aku benar-benar menyesal dan beratubat sebelum aku pergi.'' Kata Rendy dengan memelas.
''Terima kasih sudah mengingat Anrez. Sebaiknya kamu pergi.''
''Iya aku akan pergi. Terima kasih karena sudah mengijinkan aku bersama Anrez. Aku permisi.'' Ucap Rendy seraya berlalu. Johan melihat bahwa Tessa menahan amarahnya setiap kali berhadapan dengan Rendy. Johan kemudian memeluk Tessa dari belakang untuk menenangkannya.
''Tenanglah, aku sudah bilang padamu untuk bersikap lebih santai.''
''Tapi aku benar-benar tidak bisa, Jo. Melihatnya saja sungguh membuatku muak.''
CUP! Kecupan lembut mendarat di leher Tessa. Tessa terkejut dan merasa geli.
''Jo, kamu mengagetkanku saja.''
''Supaya kamu tidak tegang dan berhenti cemberut. Baiklah kalau begitu aku pulang ya.''
''Kamu nanti malam ingin di masakkan apa?''
''Terserah kamu saja. Apapun masakan kamu, akan aku makan.'' Kata Johan sambil melepaskan pelukannya. Tessa kemudian memutar tubuhnya menghadap Johan.
CUP! Tessa memberikan kecupan sekilas di bibir Johan. Johan tersenyum lalu ia membalasnya dengan mengecup kening Tessa.
''Aku pulang dan mandi dulu ya.''
''Iya. Secepatnya kemari.''
''Iya.'' Johan kemudian pergi dan segera pulang ke rumahnya.
''Oh mesra dengan Tessa sungguh godaan yang besar. Aku harus kuat iman lah. Kepancing dikit boleh tapi jangan banyak-banyak,'' gumam Johan dalam hati.
-
Sementara itu Krisna dan Laras baru saja tiba di rumah Krisna. Mereka baru saja menghabiskan waktu bersama.
''Kok sepi Kak? Ibu mana?''
''Setiap akhir pekan Ibu ada arisan RT. Ya sekalian bisa silaturahmi dengan warga disini.''
''Oh begitu. Aku lapar nih, katanya mau masakin aku?''
''Iya-iya aku ganti baju dulu ya.''
''Ikut,'' rengek Laras.
__ADS_1
''Tidak boleh. Kamu duduk saja dulu ruang makan.'' Kata Krisna seraya berlalu menuju kamarnya. Laras memasang wajah cemberutnya karena tidak boleh ikut masuk ke kamar. Bukan Laras namanya kalau tidak kehabisan akal. Laras kemudian berlari dan melompat naik ke punggung Krisna. Krisna sangat terkejut dengan sikap Laras.
''Laras, kamu ini membuatku kaget saja? Bagaimana kalau kamu jatuh?'' kata Krisna.
''Aku tidak mau sendirian di bawah, Kak. Aku mau ikut ke kamar. Aku janji tidak akan macam-macam.''
Krisna mendengus kesal. ''Oke baiklah.'' Krisna akhirnya menyerah dengan sikap wanita yang sudah berada di punggungnya itu. Setekah sampai di kamar Krisna, Krisna menurunkan Laras. Sedangkan Laras langsung naik ke atas tempat tidur.
''Kak, bobok yuk!" goda Laras sambil mengusap-ngusap kasur.
Krisna tersenyum. ''Hhhh sudah aku duga. Kenapa ya calon istriku ini mesum sekali?''
''Siapa yang mesum? Memangnya kalau bobok harus begitu ya?'' kata Laras.
''Katanya kamu lapar, aku ganti baju dulu ya.''
''Oke.''
Tiba-tiba rasa kantuk, mendera Laras. Matanya terasa sangat berat, berkali-kali ia menguap. Setelah beberapa menit berganti pakaian, Krisna terkejut melihat Laras yang sudah tertidur pulas. Krisna tersenyum lalu menatap lebih dalam wajah Laras.
''Baru juga di tinggal sebentar tapi sudah tidur. Dia terlihat imut dan lucu kalau sedang tidur.'' Gumam Krisna dalam hati sambil mengusap kepala Laras.
''Dimana-mana pria yang agresif tapi ini kebalikannya. Punya calon istri tapi agresif dan maunya mesum terus. Untung saja aku pria yang punya kelainan gugup saat berdekatan dengan wanita.'' Gumam Krisna lagi. Ia kemudian memakaikan selimut untuk Laras dan segera menuju dapur. Krisna kemudian memulai memasak untuk Laras. Di buatnya udang goreng tepung, cah kangkung, tahu dan tempe goreng tak lupa sambal terasi. Bagi Krisna, sambal harus selalu ada meja saat makan.
Satu jam kemudian, masakan selesai. Krisna segera menatanya di meja makan. Setelah semuanya siap, Krisna kembali ke kamarnya untuk membangunkan Laras. Tampak Laras masih tertidur dengan sangat pulas.
''Laras, ayo bangun.'' Kata Krisna sambil menepuk lengan Laras.
''Laras, makanannya sudah siap. Ayo bangunlah!" kata Krisna lagi. Laras kemudian menarik tangan Krisna sehingga Krisna terjatuh di atasnya tubuhnya. Krisna merasa terkejut dan sangat heran dengan tenaga Laras yang begitu kuat menariknya. Dengan mata yang masih terpejam, Laras mengalungkan tangannya ke leher Krisna. Laras kemudian memonyongkan bibirnya hendak mencium Krisna. Krisna mengernyitkan dahi tanda heran.
''Kenapa kakak menutup mulutku?'' ucapnya dengan mulut yang terbungkam. Krisna kemudian melepaskan tangannya.
''Kakak menolakku?''
''Tidak, bukan begitu. Aku sudah selesai masak, nanti keburu dingin. Nanti kalau kita ciuman, yang ada kita malah tidak jadi makan.''
''Jadi...?'' pancing Laras.
''Jadi ciumannya nanti saja setelah selesai makan, supaya kita bisa menikmatinya.'' Kata Krisna tergagap.
''Oke baiklah.'' Jawab Laras dengan senyum lebarnya.
''Tapi gendong,'' rengek Laras. Krisna hanya mengangguk lalu menyodorkan punggungnya pada Laras. Mereka kemudian menuju ruang makan.
''Ini semua kamu yang masak?''
''Iyalah, memang siapa lagi?''
''Padahal aku tadi ingin ikut memasak tapi aku mengantuk sekali.''
''Lain kali kita bisa memasak lagi. Kamu mau apa?''
''Biar aku yang melayani kamu. Gantian ya karena kamu sudah memasak untukku.''
''Iya.''
Laras kemudian menuangkan nasi dan semua hasil masakan Krisna ke dalam piring Krisna.
__ADS_1
''Ini suamiku,'' kata Laras sambil mencuri kecupan di pipi Krisna.
''Kamu selalu saja membuatku terkejut, Laras.''
''Tapi kamu suka kan?''
''Suka karena aku akan betah makan di rumah,'' jawabnya dengan senyum.
''Selamat makan suamiku.''
''Selamat makan juga istriku.'' Mereka berdua makan dengan tenang dan sesekali mereka saling bergantian menyuapi. Tentu saja semua itu Laras yang memulainya duluan.
Selesai makan, Laras segera merapikan meja dan mencuci piring.
''Sudah, biarkan saja.'' Kata Krisna sambil meletakkan piring kotor begitu saja.
''Jangan Kak, nanti kasihan Ibu. Aku kan sudah makan gratis disini, masa iya mencuci piring saja aku tidak mau.''
''Aku bantu ya?''
''Tidak usah. Kakak peluk aku saja.''
''Peluk? Kamu kan sedang mencuci piring yang ada malah ganggu.''
''Kakak peluk aku dari belakang sambil aku mencuci piring, seperti adegan romantis dalam film.''
''Astaga, kamu ini ada-ada saja ya.''
''Sudah Kak, lakukan saja. Biar kamu semakin semangat, sekalian belajar biar rasa gugup Kakak itu hilang jangan sampai tremor pas malam pertama nanti.''
Krisna kemudian mengikuti kemauan Laras. Ia kemudian memeluk Laras dari belakang, melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Laras.
''Dasar kamu ini ada-ada saja. Kamu modus kan? Memanfaatkan kesempatan kan karena di rumah tidak ada Ibu.''
''Hehehe iya, Kak. Kalau ada Ibu aku malu mau mesra-mesraan. Kak cium aku dong?'' pinta Laras.
''Cium gimana? Aku kan di belakang.''
''Kalau adegan gini kamu cium pipi aku dari belakang.''
''Kamu ini benar-benar ya?''
''Kan kita sebentar lagi mau nikah. Tidak apa-apalah kita melatih kemesraan kita. Kamu itu kan tidak pernah inisiatif sendiri, selalu aku yang mengajari kamu. Jadi kamu harus nurut.''
Krisna menghela nafas panjang, ia lalu mengecup kedua pipi Laras secara bergantian dari belakang.
''Ya ampun Kak, bahagianya aku. Begini saja rasanya mau terbang.''
''Sudah selesaikan dulu pekerjaanmu nanti keburu Ibu datang.''
''Oke baiklah, Kak. Tapi pelukannya jangan di lepasin ya. Sama ciumnya jangan lupa.'' Kata Laras.
''Iya-iya.''
''Hmmm punya istri seperti Laras, sepertinya saat malam pertama nanti, aku benar-benar akan di kurung di kamar. Aku harus rajin olahraga untuk mengimbangi calon istriku ini.'' Gumam Krisna dalam hati sambil menggoda meniup tengkuk Laras.
Bersambung.....
__ADS_1