Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 239 TERBAIK


__ADS_3

Malam harinya Kevin mengajak Keira dan Marvel untuk makan malam di luar. Karena hari ini giliran Krisna yang harus lembur. Krisna hanya bisa pasrah untuk lembur malam ini.


“Terima kasih ya Mas, sudah mengajak kita makan malam di luar.”


“Sama-sama sayang. Kamu juga pasti jenuh di rumah terus apalagi aku selalu pulang malam.”


“Terima kasih juga ya, Pah.” Sambung Marvel.


“Sama-sama, Nak. Oh ya bagaimana sekolahmu?”


“Baik-baik saja, Pah. Tidak ada masalah dengan nilaiku.”


“Bagus, pertahankan nilai-nilaimu Marvel. Semuanya harus sempurna.”


“Mas, jangan menekan Marvel seperti itu. Walau bagaimanapun dia tetaplah anak-anak.”


“Iya aku mengerti sayang tapi anak jaman sekarang kalau kita tidak menekannya, mereka akan berbuat sesuka hati.”


“Apa kamu yakin kalau saat dia dewasa nanti, dia tidak akan menjadi anak yang pembangkang kalau kamu menuntutnya untuk sempurna, Mas?”


“Ayolah sayang, kita sedang makan malam bersama. Kamu jangan bawa serius ucapanku. Kita bisa diskusikan nanti di rumah. Dan jangan membiasakan membela anak di depan matanya karena itu akan membuat dia besar kepala.”


Keira mendengus kesal berusaha menahan amarahnya. Karena sejujurnya dari awal, Keira kurang setuju dengan cara Kevin mendidik Marvel yang selalu menuntut kesempurnaan.


“Pah, jangan marahi Mama hanya karena aku.” Sahut Marvel.


“Papa tidak marah kok. Papa hanya mengutarakan pendapat Papa saja. Sudah kita lanjutkan saja makan malamnya.”


Keira yang kesal, moodnya seketika berubah. Ia menyudahi makannya. Keira lalu beranjak dari duduknya.


“Sayang, kok makannya udahan. Terus kamu mau kemana?”


“Aku mau ke toilet sebentar.” Ketus Keira.


“Aku antar ya?”


“Tidak usah, Mas.” Jawab Keira seraya berlalu menuju toilet.


“Mas Kevin keras kepalanya suka bikin bad mood,” gerutunya dalam hati. Saat Keira hendak masuk ke toilet, Keira melihat seorang pria yang mirip dengan mantan suami Tessa, keluar dari toilet bersama seorang wanita. Keira segera berbalik dan pura-pura sibuk untuk menyembunyikan wajahnya. Tak lupa Keira memotret keduanya, meskipun hanya tertangkap dari belakang saja.


“Benar dugaan gue sama Laras. Tidak ada tanda-tanda sedang sakit bahkan mantan suami Bu Tessa itu tampak segar bugar dan bahagia. Apa yang mereka lakukan di toilet?” Gumam Keira penuh tanya. Keira pun mengurungkan niatnya untuk menuju toilet, ia memilih segera kembali ke mejanya.


“Sudah selesai, sayang?” tanya Kevin.


“Iya sudah.”

__ADS_1


“Baiklah, setelah ini kita mau kemana lagi?” tanya Kevin.


“Kita ke taman bagaimana, Pah?” Marvel memberikan usul.


“Oke baiklah. Kei, apa kamu setuju?”


“Iya Mas tidak apa.”


“Kamu marah ya? Jutek amat.”


“Ya begitulah.” Jawab Keira seenaknya. Keira lalu beranjak dari duduknya dan mengajak Marvel untuk menuju mobil terlebih dahulu.


“Dasar wanita! Selalu benar dan selalu ingin di mengerti. Untung cinta.” Gumam Kevin.


Sesampainya di taman, Marvel berlari dengan senangnya melihat banyak kunang-kunang disana.


“Mah, kunang-kunangnya bagus sekali.” Seru Marvel.


“Iya Marvel. Wah, indah sekali ya.” Keira dan Marvel menghamburkan diri bermain bersama kunang-kunang. Kevin lega melihat kunang-kunang itu mampu mengembalikan senyum Keira. Kevin mengambil ponselnya lalu merekam kebersamaan Keira dan Marvel yang bermain bersama kunang-kunang.


“Mah, aku ingin membawa mereka pulang. Boleh kan Mah?”


“Boleh saja. Tapi bagaimana dengan teman-teman dan keluarga mereka kalau kamu mengambilnya? Mereka pasti mencarinya. Bagaimana kalau yang kita bawa adalah Ibu atau Ayah salah satu dari mereka? Atau mungkin yang kita bawa adalah adik atau kakak salah satu dari mereka juga? Atau bisa jadi sahabat salah satu dari mereka? Bukankah mereka juga akan sedih dan mencari keluarganya. Kasihan mereka bukan? Mereka sudah terbiasa bersama-sama kemanapun mereka pergi. Bahkan mereka sudah terbiasa bersama-sama menerangi malam yang gelap. Kalau kita mengambil salah satu dari mereka, tentu cahayanya tidak sempurna, sayang. Kalau seandainya ada anak kecil yang ingin memiliki Mama, apa kamu tidak sedih? Apa kamu rela melepaskan Mama? Apakah Marvel masih merasa semuanya utuh?” Mendengar semua ucapan Mamanya, Marvel terdiam dan berpikir beberapa saat. Marvel kemudian memeluk Mamanya dengan erat.


“Jadi sekarang kamu mengertikan maksud Mama?”


“Iya Mah, aku mengerti. Aku tidak boleh mengambil mereka dari kehidupannya. Aku akan membiarkan mereka terbang bebas bersama teman-temannya dan juga keluarganya supaya mereka tetap utuh dan bisa terus menerangi malam dengan cahayanya.”


“Good boy! Anak Mama memang hebat.” Keira memberikan kecupan di pucuk kepala Marvel. Semua kebersaman antara Ibu dan anak sambung itu terekam jelas dalam layar ponsel Kevin. Kevin terharu dengan bagaimana sikap Keira yang begitu hangat dan lembut saat memberikan pengertian pada Marvel.


“Kei, kamu memang Ibu yang sangat hebat. Meskipun ini adalah pengalaman pertamamu hidup berumah tangga dan bahkan untuk pertama kalinya menjadi Ibu sambung tapi kamu bisa menenangkan Marvel. Kamu mendidiknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Maafkan sikapku yang terlalu keras pada Marvel karena aku tidak bisa sepertimu. Aku semakin mencintaimu.” Gumam Kevin dalam hati dengan tatapan penuh kekaguman pada Keira. Setelah puas bermain, mereka pun segera pulang. Di tengah perjalanan, Marvel pun sudah tertidur di bangku belakang.


“Sayang, kamu masih marah?”


“Sedikit.”


“Maaf ya kalau tadi suaraku meninggi. Aku hanya tidak ingin Marvel menjadi anak yang pemalas dan manja apalagi dia itu laki-laki. Semua hal buruk dalam hidupku, membuatku begitu keras padanya.”


Keira lalu memeluk lengan Kevin dan menyandarkan kepalanya pada bahu Kevin.


“Aku mengerti, Mas. Kamu boleh keras padanya tapi jangan sampai membuatnya terluka karena itu akan membekas sampai dia dewasa nanti. Saat kamu marah dengannya, cepatlah minta maaf padanya, Mas. Karena jika tidak, itu akan membuatnya menjadi seorang pendendam.”


“Aku sepertinya harus banyak belajar darimu, Kei.”


“Harus Mas, kamu kan memang sangat menyebalkan. Bawel, keras kepala dan cerewet,” seloroh Keira dengan tawanya.

__ADS_1


“Tapi kamu cinta kan?”


“Mmmmm terpaksa sih. Soalnya sudah terlanjur hamil,” ucap Keira terkekeh.


“Kamu jahat sekali! Selama ini kamu memanfaatkan aku saja ya.”


“Hehehe kamu ini, Mas. Kalau aku tidak cinta, mana mau aku hamil anak kamu. Terima kasih ya Mas, untuk malam ini.”


“Sama-sama sayang. Aku berusaha menebus kesibukan ku yang kemarin.”


-


Sesampainya di rumah, Kevin segera turun dari mobil lalu menggendong Marvel dan membawanya ke kamar, Keira pun mengekor di belakang Kevin. Saat berada di kamar Marvel, pandangan Keira mengedar. Keira menemukan ide untuk membuat kunang-kunang.


“Mas, aku punya ide.” Kata Keira dengan suara pelan.


“Ide apa?” tanya Kevin saat merebahkan tubuh Marvel diatas tempat tidur.


“Aku ingin membeli lampu hias LED.”


“Untuk apa sayang?”


“Mas, Marvel kan tadi ingin membawa kunang-kunang pulang tapi aku memberinya pengertian supaya dia mengurungkan niatnya. Nah, aku ingin memasang lampu hias LED di kamarnya. Jadi saat lampu utama kamarnya dimatikan, lampu hias itu yang menyala dan mirip kunang-kunang deh. Aku hanya kasihan saja kalau kunang-kunang itu meninggalkan habitatnya. Aku melakukan ini karena tidak ingin Marvel kecewa Mas.”


“Baiklah sayang, katakan apa yang kamu butuhkan. Aku akan membantumu menghias kamar Marvel. Sebaiknya kita bicarakan di kamar ya.”


“Ya sudah ayo, Mas. Kasihan nanti dai terganggu dengan suara kita.”


Setelah sampai di kamar, Keira menuju olshop orange. Keira lalu menunjukkan lampu hias yang ia maksud pada suaminya.


“Mas, lihat deh ini. Seperti ini Mas.”


“Iya ya, bagus juga apalagi kalau nyalanya gelap.”


“Dan nanti aku akan membentuk lampu ini menyerupai kunang-kunang.”


“Kamu ini ada saja idenya.”


“Supaya Marvel senang, Mas. Kita bisa memenuhi keinginannya dengan cara yang lain.”


Kevin tersenyum lalu memeluk erat istrinya. “Sayang, terima kasih. Kunang-kunang yang sebenarnya adalah kamu. Kamu membawa cahaya untuk kehidupanku dan Marvel.” Tak terasa air mata lolos dari pelupuk mata Kevin.


“Sama-sama Mas. Karena aku juga bahagia menjadi bagian dari hidup kamu dan Marvel.''


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2