Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 290 Membagi Tugas


__ADS_3

''Zidni!" panggil Chika sambil menggedor pintu kamar Zidni. Zidni yang mendengar suara kencang dan gedoran keras pintu, segera membukanya.


''Ada apa?''


''Kamu bisa kan mengecilkan suara musik kamu. Lihat, Sheeva nangis nih! Cepat bantuin buatin susu.'' Perintah Chika. Sheeva kini sedang dalam gendongan Chika.


''Lalu Bibi sama baby sitter kemana?''


''Bibi ke pasar, Mbak Yuni mendadak ijin sakit. Kamu tahu kan kalau Om dan Tante sedang keluar kota. Kamu kan keponakannya, seharusnya bantu juga dong. Jangan malah enak-enakan.'' Kesal Chika.


''Aku tidak bisa membuatnya.''


''Ayo ikut aku ke kamar Sheeva. Nanti kamu ikutin perintah aku. Kasihan dia pasti haus.''


''Iya-iya.'' Jawab Zidni dengan nada malas. Akhirnya Chika dan Zidni pergi menuju kamar Sheeva. Dengan perintah Chika, Zidni membuatkan susu untuk Sheeva.


''Nih,'' ketus Zidni.


''Terima kasih ya.'' Chika lalu mencoba menyusui Sheeva dengan sufor.


''Sebaiknya kita ajak Sheeva ke taman saja, supaya dapat udara segar.'' Usul Zidni.


''Iya kamu benar.'' Chika dan Zidni lalu menuju taman samping rumah.


Chika dengan telaten menenangkan Sheeva, sampai akhirnya Sheeva tertidur lagi.


''Syukurlah sayang, kamu sudah tenang. Tante Chika sudah khawatir sekali.'' Ucap Chika sambil mengayun Sheeva dalam gendongannya.


''Sheeva sudah tenang, jadi aku ke kamar dulu.''


''Iya tapi musiknya jangan keras-keras.''


''Iya-iya.'' Zidni kemudian berlalu begitu saja. Meskipun terkesan cuek, setidaknya Zidni mau membantu Chika menenagkan Sheeva.


Setelah Sheeva tertidur pulas, Chika lalu membawa Sheeva menuju paviliunnya. Dan Chika pun ikut tertidur.

__ADS_1


Sore harinya saat Chika terbangun, Chika terkejut melihat Sheeva sudah tidak ada di sampingnya. Chika lalu keluar dari kamarnya dan memannggil Sheeva.


''Sheeva! Sheeva, kamu dimana sayang?'' teriak Chika. Meskipun Chika tahu dan sadar kalau Sheeva tidak akan bisa menjawabnya. Chika lalu masuk ke dalam rumah untuk memanggi Zidni. Namun Zidni tidak ada di kamarnya. Wajah Chika sudah pusat pasi. Namun saat melintas ke kamar Sheena, Chika mendengar rengekan kecil Sheeva.


''Sheeva!" seru Chika saat membuka pintu kamar Sheeva. Chika bernafas lega, saat mihat Sheeva sudah aman bersama Bibi dan juga Zidni.


''Oh syukurlah kalau Sheeva baik-baik saja. Kamu yang membawa Sheeva, Zidni?''


''Iya. Kamu tidur mendengkur dan tidak mendengar Sheeva menangis. Dia puph jadi sekalian aku minta bantuan Bibi untuk memandikannya.''


''Ma-maaf, aku benar-benar tidak mendengarnya. Bi, terima kasih ya.''


''Sama-sama Non. Non Sheeva juga sudah bersih dan wangi Non, saya tinggal ke dapur ya untuk menyiapkan makan malam.''


''Iya Bi, terima kasih ya.''


''Sama-sama Non.'' Bibi pun lalu meninggalkan kamar Sheeva.


''Terima kasih juga ya, kamu sudah menjaga Sheeva. Aku kaget setengah mati, saat bangun Sheeva sudah tidak ada di sampingku.''


''I-iya. Aku akan mandi dengan cepat.'' Ucap Chika seraya berlalu. Chika tidak menyangka diam-diam Zidni perhatian dan peduli pada Sheeva. Padahal selama ini Zidni terkesan sangat cuek dan acuh. Sembari menunggu Chika mandi, Zidni meletakkan Sheeva di stroller. Zidni kemudian mengajak Sheeva keluar rumah dan mengajaknya jalan-jalan di taman samping rumah.


Hari itu Chika dan Zidni menjadi dekat, bahkan mereka kompak mengurus Sheeva. Sampai akhirnya, Zidni mengajak Sheeva tidur di kamarnya. Zidni juga mengajak Chika untuk tidur di kamarnya. Tentu saja Zidni tidur di sofa, sementara Chika tidur diatas ranjang bersama Sheeva. Mereka berdua kompak saling menjaga, meskipun Zidni masih tampak kaku untuk menggendong bayi.


Chika dari atas tempat tidur memandangi Zidni yang sudah terlelap di sofa.


''Hari ini aku melihat sisi lain Zidni. Dia sebenarnya bukan cuek, buktinya dia peduli dengan Sheeva. Meskipun gaya bicaranya ketus tapi setidaknya dia masih punya nurani. Lagian Sheeva juga anak Om-nya, masa iya dia mau cuek saja. Dibalik sikao dinginnya itu, dia ternyata bisa hangat juga. Apalagi saat menggendong Sheeva, dia seperti Papa muda yang menggemaskan. Eh-eh, apa yang kamu pikirkan Chika? Wah pikiranmu sepertinya sudah kacau.'' Chika bergumam dengan batinnya sendiri.


...****************...


''Selamat pagi cantiknya Mama. Aduh, kamu sudah semakin besar ya. Sudah bisa diajak bercanda.'' Keira menyapa putri cantiknya yang kini telah memasuki usia 3 bulan.


''Selamat pagi cantiknya Papa. Ada si cantik Mama dan si cantik Rachel nih. Melihat kamu semakin menggemaskan begini, Papa malah jadi malas ke kantor. Papa pinginnya di rumah main-main sama kamu.''


''Nanti kalau Papa malas kerja, aku tidak minum susu dong Papa. Papa harus semangat kerja ya. Aku dan Mama, akan menunggu Papa di rumah. Papa tidak boleh malas, anaknya sudah dua lho, Pah.''

__ADS_1


''Kamu ini bisa saja sayang. Habis gemes sayang, pipinya kayak bakpao. Terus kalau ketawa ini bikin gemes.''


''Ya sudah Mas, kamu tolong siapkan air hangat ya, aku mau memandikan Rachel. Kasihan ini diapersnya udah full pipis.''


''Iya sayang. Oh ya aku bawain kamu sarapan ke kamar ya?''


''Nanti aku turun saja, Mas. Nanti kita sarapan sama-sama dibawah. Sebaiknya setelah menyiapkan air panas, kamu lihat Marvel ya. Dia sudah bangun apa belum, sekalian cek ulang tasnya ya, Mas. Memastikan buku yang dibawa sesuai jadwal.''


''Siap istriku sayang, perintah segera di laksanakan!" Kevin lalu beranjak dari tempat tidur. Dengan sigap ia menyiapkan ari hangat dan peralatan mandu putri kecilnya itu. Setelah itu Kevin menuju kamar Marvel. Dan ternyata Marvel masih tidur.


''Kakak Marvel, ayo bangun!'' Kevin menepuk pelan bahu Marvel.


''Morning Pah!" sapa Marvel dengan suara malas.


''Ayo mandi Kak, sudah jam 6 lho.''


''Iya Papa.'' Marvel mengucek matanya. Dengan perlahan Marvel turun tempat tidur dan segera menuju kamar mandi. Sembari menunggu Marvel mandi, Kevin lalu merapikan tempat tidur Marvel. Ya, Kevin bahkan lupa kapan terakhir kali ia membantu Marvel merapikan tempat tidur.


Setelah kasur Marvel rapi, Kevin menyiapkan seragam untuk putranya itu. Tak lupa Kevin mengecek kembali jadwal yang dibawa oleh Marvel. Beberpa menit kemudian, Marvel keluar dari kamar mandi. Kevin juga membantu Marvel untuk memakai pakaiannya. Kevin tidak ingin Marvel merasa kurang kasih sayang karena ada Rachel ditengah-tengah mereka. Setidaknya ia dan Keira sudah sepakat untuk membagi tugas dan saling bekerja sams.


''Adik sudah mandi, Pah?''


''Sepertinya sudah selesai, Kak. Kamu tunggu di ruang makan ya. Setelah ini Mama dan adik kebawah untuk sarapan. Giliran Papa yang mandi.''


''Terima kasih ya Pah sudah membantuku bersiap, walaupun sebenarnya aku sudah terbiasa sendiri.''


''Sama-sama Kak. Papa dan Mama hanya tidak ingin kamu merasakan kekurangan kasih sayang.''


''Pah, Marvel sudah besar. Jadi Marvel sama sekali tidak punya pikiran seperti itu. Rachel juga masih bayi jadi dia justru yang lebih harus diperhatikan. Marvel tidak merasa cemburu atau kekurangan kasih sayang kok, Pah.''


''Papa bangga sekali denganmu, Nak. Rupanya anak Papa ini sudah semakin pintar dan pengertian. Kamu adalah Kakak terbaik.''


''Sedangkan Papa dan Mama adalah orang tua terbaik.'' Ucap Marvel dengan senyum lebarnya. Kevin lalu mengecup kepala putra sulungnya sebelum Marvel menuju ruang makan.


Bersambung.... Maaf ya upnya telat. Untuk "Takdir Cinta Aruna" author ganti judul jadi "Promise of Love"... Ayooo pada mampir ya, ceritanya tentu beda dari karya ku yang lain. Yukkk mampir kesana, makasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2