Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 232 Buket Bunga


__ADS_3

Keira masih bingung dan penasaran dengan pengirim bunga itu. Sedari tadi ia berdiri sambil menatap buket bunga yang berada di meja kamarnya. Hampir seharian Keira berkutat dengan pikirannya, sampai seruan suara Marvel memanggil namanya.


''Mama!" panggil Marvel sambil masuk begitu saja ke kamar Keira. Lamunan Keira pecah, mendengar suara nyaring putra sambungnya.


''Hei sayang,'' Keira memeluk Marvel.


''Bagaimana sekolahmu, sayang?'' tanya Keira seraya melepas pelukannya.


''Semuanya baik-baik saja, Mah. Kalau masalah sekolah, Mama tidak perlu khawatir.''


''Baiklah sekarang ganti pakaianmu dan Mama akan menyiapkan makan siang untukmu.''


''Oke Mah.'' Namun tiba-tiba pandangan Marvel tertuju pada bunga mawar putih di atas meja.


''Mah, bunganya cantik sekali? Pasti dari Papa ya?''


Keira terdiam sejenak namun akhirnya ia terpaksa berbohong. ''Iya sayang, itu bunga dari Papa.''


''Apa Mama bahagia mendapat bunga dari Papa?''


''Tenti saja. Kenapa kamu menanyakan itu? Sudah kamu cepat ganti pakaian, cuci kaki, tangan setelah itu Mama tunggu di meja makan.''


''Iya-iya Mah.'' Marvel kemudian berlalu setelah mengecup pipi dan perut Mamanya.


Di dapur, dengan di bantu Bi Nani, Keira sedang menyiapkan makan siang untuk Marvel. Tak lama kemudian Marvel turun dan segera menuju meja makan.


''Perutku sudah lapar sekali, Mah.''


''Baiklah, kamu mau makan apa sayang?''


''Aku mau ayam goreng sama sayur sop saja, Mah. Itu saja sudah cukup.''


''Oke anak tampan.'' Keira lalu menuangkan nasi dan lauk yang di minta oleh Marvel. Sebelum makan, Marvel tidak lupa untuk berdoa dulu. Ia makan dengan sangat lahapnya. Keira tersenyum. ''Pelan-pelan Marvel tadi kamu tersedak.''


''Hehehe maaf Mah, aku terlalu bersemangat untuk makan. Papa tidak pulang?''


''Papa pasti akhir-akhir ini sangat sibuk kan Pak Krisna masih cuti.''


''Oh begitu. Oh ya Mah, aku mau cerita.''


''Cerita apa sayang? Cerita saja.''


''Tapi Mama juga makan, jangan hanya melihatku saja. Nanti kasihan dede bayinya kalau Mama tidak makan.''


''Oke baiklah, Mama akan menemanimu makan. Tapi Mama penasaran dengan ceritamu.'' Kata Keira seraya menuangkan nasi dan lauk ke dalam piringnya. Hamil muda memang mengganggu selera makan Keira. Terkadang malas untuk makan bahkan terkadang begitu rakus.

__ADS_1


''Ayo cerita, Mama sudah makan nih.''


''Oke-oke. Jadi begini Mah, Marvel punya teman baru. Ah, bukan teman baru, lebih tepatnya Anrez punya teman baru di kelas. Dia cewek Mah, tapi dia selalu saja diam Mah. Marvel beberapa kali menolongnya tapi dia sama sekali tidak pernah mengucapkan terima kasih. Bahkan saat Marvel selesai menolong, dia selalu pergi begitu saja. Kata Anrez, dia di kelas juga tidak punya teman. Marvel ingin mengajaknya berteman tapi dia selalu acuh. Kira-kira dia kenapa ya Mah?''


''Mmmm apa dia mengalami gangguan pendengaran? Atau memang dia tidak bisa bicara?''


''Aku tidak tahu Mah. Dia amat sangat pendiam bahkan lebih pendiam dari Marvel dulu. Dia seperti sedang ketakutan begitu, Mah. Dia lebih senang menyendiri dan hanya membaca sebuah buku cerita saja, itu kata Anrez.''


''Kenapa kamu ingin mengajaknya berteman? Bukankah di kelas sudah banyak teman perempuan?'' Obrolan Ibu dan anak kecil itu kian menarik. Keira tersenyum karena ia merasa mempunya seorang jejaka kecil.


''Iya juga ya tapi tidak tahu lah, Mah. Aku di kelas juga tidak akrab dengan teman-temanmu. Temanku hanya Anrez saja.''


''Lalu kenapa kamu tertarik dengan dia? Memang siapa namanya?''


''Namanya Luna, Mah. Ya mungkin aku merasa kasihan karena dia selalu sendiri.''


Keira tersenyum sambil mengelus kepala Marvel. ''Kamu dan Anrez coba ajak dia berbicara, kalaupun dia tidak menjawab, jangan kamu paksakan. Dan kamu juga jangan bersikap kasar apalagi sampai mengoloknya.''


''Tidak Mah, Marvel tidak akan melakukan itu. Baiklah Mah, aku besok akan bicara padanya. Karena gantungan tasnya tadi terjatuh dan aku menemukannya.''


''Nah, itu kesempatan baik untuk kamu mengajaknya bicara dan berteman.''


''Iya Mah, aku akan mencobanya.''


''Astaga bujang kecilku, dia sangat menggemaskan. Rasanya tidai sabar melihatnya dewasa dan di kelilingi gadis-gadis cantik,'' gumam Keira dalam hati dengan tawa kecilnya.


''Sayang, aku pulang!" suara Kevin menggema sampai ke ruang tengah.


''Hai Mas,'' sapa Keira yang tengah menemani Marvel menyelesaikan tugasnya. Kevin lalu mencium kening istri dan juga putranya.


''Serius sekali belajarnya?'' kata Kevin.


''Iya Pah, besok Marvel ada ulangan harian.''


Keira lalu beranjak dan berdiri, melepas jas dan dasi suaminya.


''Mau makan malam sekarang, Mas?''


''Boleh tapi aku mandi dulu ya.''


''Ya sudah, aku siapkan air hangat dulu.''


''Iya sayang.''


''Marvel, Mama dan Papa ke kamar dulu. Mau menyiapkan air hangat untuk Papa.''

__ADS_1


''Iya Mah, aku sudah mendengar percakapan kalian. Lakukan saja apa yang ingin Papa dan Mama lakukan.'' Kata Marvel tanpa berpaling dari buku yang ia pegang. Kevin terkekeh, mendengar ucapan putranya yang seperti orang dewasa itu.


Kevin lalu mengacak rambut putranya. ''Anak yang pengertian sekali.''


Kevin dan Keira lalu menuju ke kamar. Begitu sampai di kamar, pandangan Kevin langsung tertuju pada buket mawar putih di atas meja.


''Jadi ini bunganya, sayang?''


''Iya Mas.'' Ucap Keira seraya meletakkan tas, dasi dan jas ketempatnya.


''Sepertinya ini teguran untukku sayang.''


''Teguran apa maksudnya, Mas?'' Keira tidak mengerti apa yang Kevin katakan.


''Teguran karena sejak kita menikah, aku hampir tidak pernah memberikan buket bunga padamu, sampai ada orang lain yang mengirimkannya untukmu.'' Ucap Kevin sambil melepas kemejanya. Kini tampak jelas dada bidang Kevin yang terpampang nyata di hadapan Keira. Kevin menghampiri istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Kevin memeluk istrinya dari belakang, sambil menekankan dahunya pada pundak Keira.


''Maaf ya sayang, kalau aku bukan pria yang romantis bagimu.''


''Hei, Mas. Aku bahkan tidak berpikir kearah sana lho.''


''Terdengar dari suaramu tadi siang, kamu begitu bahagia menerima buket bunga yang kamu anggap dariku, iya kan?''


''Tentu saja aku bahagia, Mas. Karena aku pikir, itu dari suamiku. Tapi begitu tahu itu bukan dari kamu, aku jadi biasa saja lah.''


''Baiklah mulai besok, aku akan mengirimkan bunga untukmu.''


''Tidak perlu berlebihan, Mas. Aku tidak mau bunga yang seperti itu.''


''Memangnya bunga apa yang kamu mau?''


''Bunga bank saja, Mas.'' Keira tertawa kecil dengan jawabannya sendiri.


''Dasar wanita! Kalau seperti itu gercep.''


''Iyalah, Mas. Itu normal, semua orang menyukai uang. Oh ya kalau begitu, aku buang saja ya bunganya.''


''Terserah kamu saja. Aku akan mencari tahu siapa pengirim bunga itu. Aku juga akan menambah pengawal untuk di rumah dan juga untuk menemani kamu pergi kemana saja ya. Sejak kejadian ledakan itu, aku sangat khawatir sayang.''


''Mas, kamu juga jaga dirimu ya.''


''Kamu tenang saja, aku bisa menjaga diriku dengan baik sayang. Aku benar-benar trauma sekali. Aku tidak ingin kamu dan baby kita kenapa-kenapa.''


''Kamu tidak perlu khawatir, Mas. Aku pasti akan baik-baik saja. Aku bisa menjaga diriku. Ya sudah, sebaiknya sekarang kamu mandi, keburu airnya dingin lagi.''


''Oke sayang.'' Kevin kemudian berlalu menuju kamar mandi, setelah mendaratkan kecupan di pipi Keira.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2