Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 178 Ada apa dengan Keira?


__ADS_3

Nyonya Mira dan Gina sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Di sela-sela menyiapkan makan malam, Nyonya Mira menyempatkan untuk membuatkan Gina dan Miko ramuan tradisional.


''Gin, Ibu buatkan kamu dan Miko ramuan tradisional untuk penambah kesuburan ya. Harus di minum rutin ya. Ibu buat stok untuk satu bulan ke depan dan ini bisa di letakkan di kulkas. Jadi ini tidak akan basi.''


''Terima kasih ya, Bu. Sebenarnya Gina sangat merindukan Ayah dan Ibu tapi maaf sekali Gina dan Mas Miko sangat sibuk sampai belum sempat mengunjungi Ibu.''


''Iya tidak apa-apa. Ayah dan Ibu mengerti kesibukan kamu. Makanya kamu cepat punya anak ya, biar Ayah dan Ibu tidak kesepian lagi karena bisa main sama cucu.''


''Doakan saja ya Bu, supaya Gina dan Mas Miko cepat di beri momongan.''


''Ayah dan Ibu selalu mendoakan kalian, Nak. Tapi kondisi kamu dan nak Miko baik-baik saja kan?''


Mendengar pertanyaan Ibunya, Gina terdiam sejenak. Tidak mungkin Gina mengatakan kalau Miko tidak subur. Karena hal itu hanya akan membuat kedua orang tuanya terbebani.


''Tidak kok Bu. Semuanya baik-baik saja. Ya dokter memang menyarankan kalau kami berdua harus mengurangi aktivitas supaya tidak terlalu capek. Gina akui sejak menikah hingga detik ini, Tuhan membukakan jalan rezeki bagi kami yang begitu luar biasa. Sampai energi kami terforsir dan lupa untuk istirahat. Bahkan kami terlalu menikmatinya sampai lupa memprioritaskan kehamilan Gina.''


''Syukurlah kalau semuanya baik-baik saja, Nak. Sekarang kita berusaha saja ya. Namanya kehidupan rumah tangga pasti ada tahapannya nak. Ada yang di beri anak dulu, kemdian karirnya meningkat lalu ada juga yang sebaliknya. Jangan berkecil hati, nak.''


Gina kemudian mendekat dan memeluk Ibunya. Semua nasihat Ibunya selalu berhasil membuatnya tenang. ''Terima kasih ya Bu, selalu membuat Gina tenang. Gina kangen banget di peluk dan memeluk Ibu seperti ini.''


''Apalagi Ibu, Gin. Kamu sudah dewasa dan sekarang di ambil sama Nak Miko. Hanya tersisa kenangan saja bersama kamu.'' Ucap Nyonya Mira dengan senyum hangatnya.


''Ibu yang lama ya disini,'' pinta Gina dengan manja.


''Lho-lho yang lama bagaimana? Ibu sama Ayah besok harus pulang. Kamu tahu sendiri kan kalau merawat sawah dan perkebunan tidak mudah apalagi di tinggalkan begitu saja, ya meskipun sudah ada banyak pegawai disana. Kamu tahu sendiri Ayahmu sangat teliti dengan semua itu apalagi dengan tanamannya. Dan sekarang ini Ayah dan Ibu sama-sama mengembanhkan tanaman obat. Makanya Ibu bawa ramuan ini untuk kamu. Kalau habis, kamu telepon Ibu ya, biar Ibu buatkan dan nanti bisa di antar.''


''Iya Ibuku sayang. Ibu dan Ayah memang terbaik.'' Ucap Gina yang semakin erat memeluk Ibunya.


''Eh tapi mertua kamu masih seperti itu juga ya sama kamu,'' bisik Nyonya Mira.


''Hehehe iya, Bu. Tapi sudahlah, Gina tidak ambil pusing. Yang penting adalah Mas Miko selalu ada untuk Gina.''


''Ya itu yang terpenting. Kamu doakan saja, supaya hati mertua kamu itu menjadi lebih lembut lagi. Apapun yang di katakan, jangan pernah kamu masukkan hati ya. Karena bagi seorang pembenci, apapun yang kita lakukan akan selalu salah.''


''Iya Bu, semua nasihat Ibu akan selalu Gina ingat.''


-

__ADS_1


*Satu Minggu Kemudian...


Pagi hari yang cerah, membuat Keira semangat sekali pagi itu. Setelah ia bangun tidur, tak lupa ia membangunkan suami dan putra sambungnya itu. Keperluan Kevin ke kantor pun tak lupa untuk Keira siapkan. Begitu pula dengan keperluan sekolah Marvel, Keira mengecek kembali buku pelajaran yang akan di bawa oleh ke sekolah. Setelah semuanya lengkap, Keira pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Pagi Bi," sapa Keira pada Bi Nani dengan semangatnya.


"Pagi juga, Nyonya Keira. Nyonya Keira pagi ini semangat sekali dan tentunya semakin cantik."


"Ah, Bibi bisa saja memujinya. Oh ya Bi, sini biar saya bantu."


"Nyonya sebaiknya duduk saja, biar saya saja."


"Tidak apa-apa, Bi. Lagipula menu sarapan pagi ini tidak terlalu rumit." Keira dengan semangat memotong sayuran untuk memasak tumis kol dan wortel pagi ini. Tak lupa dengan udang asam manis juga. Keira juga tidak lupa menyediakan secangkir teh hangat untuk suaminya dan segelas susu untuk Marvel. Setelah semua makanan siap, Keira dengan semangat memindahkan semua masakannya ke meja.


Marvel yang sudah siap untuk sarapan, segera turun ke bawah menuju ruang maka. Ia melihat Mamanya sedang sibuk menyiapkan sarapan. "Pagi, Mah. Sudah siap semuanya? aku mendadak merasa kelaparan."


"Pagi jagoan, Mama. Sudah siap kok. Sini duduk jagoan." Keira dengan semangat menuangkan nasi ke dalam piring Marvel beserta lauk dan sayurnya.


"Oh ya Papa kamu mana? tumben lama sekali."


"Aku tidak tahu, Mah." Jawab Marvel sambil mengangkat bahunya.


"Iya Mah."


Keira kemudian berjalan menuju lantai dua, menuju kamarnya. Keira sangat terkejut saat melihat Kevin masih tertidur lelap di atas tempat tidur.


"Mas, ayo bangun. Kamu ini bagaimana sih? ini sudah jam berapa?"


"Sayang, aku masih ngantuk. Sebentar ya." Jawab Kevin dengan malas.


Keira kemudian mendekat dan menarik paksa tangan Kevin. "Mas, katanya kamu hari ini ada meeting pagi, kok malah masih santai sih."


"Lima menit lagi ya, Kei."


"Tidak bisa Mas! kamu biasanya tidak pernah malas-malasan seperti ini lho. Kenapa mendadak jadi males gini sih?" Keira benar-benar merasa kesal. Keira kemudian menyambar gelas yang berisi air di meja nakas. Ia kemudian mencipratkan air ke wajah Kevin. Kevin dengan malas membuka matanya. Kevin yang iseng, justru menarik Keira sampai Keira jatuh ke dalam pelukannya.


''Mas, lepaskan!'' Keira meronta.

__ADS_1


''Tidak mau! aku ingin memelukmu seperti ini. Entah kenapa aku hari ini malas sekali ke kantor.''


''Mas, ini adalah rapat penting. Apalagi sebentar lagi smart bag milik kamu akan di launching.''


''Iya aku tahu tapi rapatnya nanti jam 9. Ini masih setengah 7. Masih ada waktu kita untuk bersama di atas tempat tidur.''


''Tidak bisa, Mas. Aku sudah mandi, sudah wangi, sudah cantik jadi aku malas untuk kotor-kotor lagi. Kasihan Marvel juga sarapan sendirian.''


''Kamu tidak usah khawatir, Marvel sudah mengerti kalau pagi hari Papa dan Mamanya telat sarapan, itu artinya sedang sibuk membuat adonan adik.''


''Sejak kapan Marvel paham itu?'' Keira mengernyitkan dahinya.


''Sejak kamu selesai nifas, aku sering mengatakan itu pada Marvel. Makanya dia tidak pernah protes saat kita telat sarapan. Dia justru mendukung Papanya untuk membuat adonan adik.''


''Ya ampun, Mas. Kamu ini keterlaluan sekali, kasihan Marvel kan? nanti dia merasa tersisihkan.''


''Tenang sayang, itu tidak akan terjadi. Marvel sangat mengerti akan itu karena dia sendiri sudah tidak sabar untuk memiliki adik.''


''Iya Mas tapi jangan sekarang. Aku sedang tidak mood. Sebaiknya kamu mandi dulu, gih.''


''Kamu berani menolak suami ya?''


''Mas, bukannya menolak. Tapi hari ini aku tidak ingin. Sebaiknya kamu mandi.''


''Sayang, kamu biasanya tidak pernah menolakku. Kenapa mendadak menolak seperti ini?''


''Mas, ayolah lepaskan aku. Aku ingin mengantar Marvel ke sekolah. Aku hari ini sedang tidak ingin denganmu.''


''Sayang, apa kamu tidak mencintaiku lagi?'' Kevin merasa heran.


''Aku mencintaimu, Mas. Aku ingin sarapan bersama Marvel dan ingin menghabiskan waktuku bersama Marvel. Sejak aku selesai nifas, kamu selalu mengajakku kerja rodi siang dan malam. Jadi, kali ini biarkan aku bersama Marvel ya.''


Kevin akhirnya menyerah dan melonggarkan pelukannya. ''Baiklah, pergi sana temani Marvel.'' Ucapnya ketus.


''Maaf ya, Mas.'' Kata Keira dengan entengnya. Ia kemudian pergi meninggalkan kamarnya dan menyusul Marvel.


''Kenapa dengan istriku? sekalipun aku mengajaknya kerja rodi tapi dia tidak pernah menolakku walau secapek apapun? ada apa dengannya? apa dia bosan denganku? ataukah dia menyukai pria lain? atau mungkin permainan ku di ranjang kurang memuaskan? ah tapi kalau masalah ranjang sepertinya tidak karena dia selalu memuji keperkasaanku.'' Kevin terus mengoceh dengan dirinya sendiri. Menerka-nerka apa yang terjadi dengan Keira.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2