
''Chika, ini Tante bawakan teh.''
''Eh Tante, makasih ya. Seharusnya Tante tidak usah repot-repot.''
''Tidak apa-apa lagi. Oh ya bagaimana Zidni? Sepertinya dia mulai mencair ya sama kamu.''
''Lumayan masih mau ngomong, Tante. Tapi ya gitu masih judes dan jutek. Sebenarnya dia punya masalah apa sih Tante? Pasti ada sebabnya dia seperti itu. Atau memang karakter dia seperti itu ya ''
''Kalau kata Om Miko, dia ada cerita yang sangat menyedihkan di masa lalunya. Ya, Tante pikir itu pasti penyebabnya. Om Miko juga baru cerita akhir-akhir ini.''
''Aku yakin Zidni sebenarnya baik. Tapi pasti ada sesuatu di balik sikap nakalnya itu. Memangnya Zidni dulu kenapa Tante?''
''Jadi sebenarnya ini tentang cinta dan restu. Karena Papa Zidni ini memiliki sikap yang sama-sama keras dengan mertua Tante, yaitu Mama Rosa. Ya maklum saja, Papa Zidni itu adiknya Mama Rosa. Mereka terlalu mengatur pilihan anak-anaknya. Bedanya Om Miko berani memperjuangkan bahkan dengan beraninya Om Miko mengajak Tante nikah diam-diam. Baru setelah nikah, Om Miko meminta restu. Tapi Zidni saat itu masih muda, pikirannya labil jadi justru sikap nekatnya itu justru membahayakan dirinya dan juga kekasihnya, Amora. Jadi.....,'' Gina lalu menceritakan semua masa lalu Zidni pada Chika. Berharap Chika bisa membantu Zidni keluar dari bayang-bayang masa lalunya.
''Ya ampun, kasihan Zidni. Ternyata kisah cintanya tragis sekali. Pantas saja dia seperti itu, Tante. Tapi kan tidak seharusnya dia menyakiti hati wanita lain. Apalagi Zidni memperlakukan mereka dengan kasar tanpa perasaan.''
''Itu karena Zidni tidak bisa menemukan sosok Amora dalam wanita yang di dekatinya. Ya, kamu tahu sendirilah Chika, Zidni dari keluarga berada tentu saja gadis-gadis itu hanya memanfaatkan Zidni.''
''Walaupun begitu, tidak seharusnya Zidni menyakiti hati wanita. Soalnya kemarin aku lihat sendiri, dia dengan mudahnya mengakhiri hubungan tanpa rasa bersalah. Kalau Zidni terus berusaha mencari Amora di wanita lain, tentu saja dia tidak akan mendapatkannya. Karena sifat, watak dan sikap setiap orang kan beda. Zidni tidak akan pernah menemukan kebahagiaan kalau dia terus melihat kebelakang.''
''Iya juga sih, apa yang kamu katakan benar juga. Makanya itu kamu coba bantu dia supaya bisa ceria lagi. Yang paling Tante pikirin itu Mamanya Zidni. Kasihan Tante Kamila mikirin Zidni terus. Hampir setiap hari Tante Kamila menelpon Tante dan Om Miko untuk menanyakan kabar Zidni. Zidni sudah makan? Apa Zidni masih murung? Masih suka pulang malam nggak, minum, ke bar, klub dan main wanita. Terus Zidni sudah mau belajar mengurus perusahaan belum? Selalu saja seperti itu, Chika. Tante kasihan kalau sampai Mamanya Zidni jadi depresi. Apalagi yang Tante Kamila punya saat ini cuma Zidni.''
__ADS_1
''Iya Tante, Chika akan bantu Zidni. Ya tidak peduli mau sejutek dan segalak apa sama aku, aku akan tetap berusaha. Setidaknya dia harus memikirkan Mamanya.''
''Perusahaan kan juga harus bertahan, Chika. Sejak Papa Zidni meninggal, Om Miko yang mengurusnya. Zidni justru semakin tidak peduli dengan perusahaan. Semua ini ya karena Zidni masih menyimpan dendam pada Papanya. Dan menganggap Papanya penyebab meninggalnya Amora. Terserah kamu lah, kamu mau deketin Zidni seperti apa. Soalnya Om Miko sendiri tidak berhasil membujuknya. Yang ada Om Miko malah marah-marah terus sama Zidni.''
''Iya Tante, aku akan membantunya.''
''Ya sudah kalau begitu kamu istirahat ya. Jangan lupa tehnya diminum. Oh ya, kamu sudah makan?''
''Sudah Tante. Tapi Zidni belum makan. Aku mengajak makan tapi dia tidak mau. Sepertinya dia hanya makan saat sarapan saja.''
''Ya itu, dia juga masih suka menghukum dirinya sendiri. Menganggap dirinya sebagai penyebab Amora meninggalnya Amora, bahkan sempat beberapa kali Zidni hampir bunuh diri. Dia dulu sempat kena infeksi lambung lho karena itu. Ya sudah, kamu istirahat ya.''
''Iya Tante, terima kasih.'' Gina kemudian meninggalkan kamar Chika.
...****************...
"Zidni, aku nebeng ya!" seru Chika sambil berlari mengejar Zidni yang berjalan menuju garasi untuk mengambil motornya.
"Tidak mau!" ketus Zidni.
"Ayolah aku mohon! Kamu tahu kan aku anak perantauan. Aku tidak mungkin merepotkan Tante Gina dan Om Miko, aku cukup sadar diri sekalipun kita keluarga. Aku juga belum gajian. Uangku menipis, belum untuk makan siang dan membeli keperluanku yang lain." Cerocos Chika sambil terus membuntuti Zidni. Tak lupa Chika memasang wajah memelasnya.
__ADS_1
"Aku mohon, Zidni. Aku nebeng ya? Lagi pula searah juga kan. Nanti aku bantu beli bensin deh kalau bensinnya habis. Soalnya hidup di kota besar seperti ini mahal. Beda kalau di kampungku. Aku sendiri bisa kuliah dapat beasiswa. Aku datang kesini untuk mencoba sukses." Chika terus mengoceh dan menganggu Zidni. Ya, Chika sengaja melakukan itu supaya Zidni tidak berlarut dalam sedihnya. Jadi Chika sengaja membuat ulah dan mengusik Zidni.
Zidni mendengus. "Ya sudah, naik!"
"Yeay! Makasih ya, kamu baik deh." Chika reflek memeluk Zidni. Zidni dibuat terkejut lagi dengan sikap Chika. Zidni berdehem sambil mengarahkan tatapan tajam pada Chika. Chika tersadar dan melepaskan pelukannya.
Chika meringis. "Heheheh, maaf. Aku terlalu bersemangat."
"Bagaimana bisa seorang sepertimu bisa menjadi sekretaris di perusahaan milik Om Kevin." Sindir Zidni.
"Aku real karena otak ya." Ucap Chika seraya naik ke motor Zidni. Zidni kemudian melajukan motornya.
"Maaf ya Zidni, aku sepertinya harus membuatmu kesal. Supaya pikiran kamu tertuju pada aku si pengusik ketenanganmu." Batin Chika. Selama perjalanan, Chika terus mengoceh, berusaha mengajak Zidni berbicara namun Zidni sama sekali tidak menggubrisnya.
"Oh ya kamu sebenarnya tinggal si Shanghai sebelah mana?"
"Kamu tidak akan tahu." Ketus Zidni.
"Iya-iya aku tahu. Aku kan memang kampungan, tidak pernah keluar negeri. Sekalipun kamu memberi tahuku, aku juga tidak akan tahu. Pasti disana sering turun salju ya. Aku ingin sekali melihat salju dan bermain salju, sepertinya itu akan sangat menyenangkan. Oh makanan kesukaan kamu apa? Kalau aku, suka makanan apa saja sih. Yang jelas makanan Indonesia, apalagi masakan Ibuku itu terenak di dunia. Kalau kamu apa?" Mendengar ocehan Chika, Zidni hanya diam sambil terus fokus untuk menyetir.
"Baiklah kalau kamu tidak mau menjawabnya. Sepertinya kamu sedang sariawan juga. Oh ya warna kesukaan mu apa? Kalau aku suka semua warna sih. Tapi aku lebih suka warna biru dan hitam sih. Oh ya sejak kapan kamu tinggal di Shanghai? Dan bagaimana sekolah disana? Apa seorang playboy sepertimu pernah punya kekasih?" Cerocosan Chika sama sekali tidak ditanggapi oleh Zidni.
__ADS_1
"Aku akan terus mengajakmu bicara sampai kita sampai di kantor. Sangat membosankan kalau aku hanya diam saja. Oh ya aku punya cerita. Aku dulu punya cinta pertama tapi sayang dia tidak menyukai ku karena kata dia aku itu cerewet, tidak anggun bahkan tidak ada manis-manisnya sebagai seorang gadis. Tentu saja aku tidak bisa karena inilah diriku. Aku tidak bisa memakai topeng dengan berlagak sok manis dan sok anggun. Bukankah menjadi diri sendiri itu lebih menyenangkan? Jadi akhirnya aku maki-maki cowok itu karena dia mengatai aku seperti itu. Padahal aku suka dia apa adanya lho sekalipun dia itu punya bau ketiak. Kalau dia menerimaku, aku akan membuatnya lebih wangi. Ah, aku sungguh bodoh mencintai laki-laki seperti. Kalau mengingat itu, aku suka tertawa sendiri. Mentertawakan kebodohanku." Cerita Chika sambil tertawa. Sepanjang perjalanan, Zidni sebenarnya menahan senyumnya mendengar semua ocehan Chika tanpa Chika tahu. Bagi Zidni ocehan Chika itu adalah sebuah hiburan untuknya. Zidni yang biasanya selalu melamun dan pikirannya entah kemana saat berkendara, kini mau tidak mau, dia terfokus dengan semua ocehan Chika. Karena diam-diam Zidni mendengar dan menyimpan semua ocehan Chika.
Bersambung....