Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 236 Bertemu


__ADS_3

Keira kemudian menuju sebuah toko baju khusus wanita. Keira meminta pengawalnya untuk menunggu di luar toko karena sebenarnya Keira sendiri tidak nyaman jika selalu di buntuti.


''Bagus-bagus banget. Jadi pingin beli juga untuk aku. Aku telepon Mas Kevin dulu.'' Keira mengeluarkan ponsel dalam tasnya dan menekan nama Kevin. Kevin yang kebetulan sedang berjalan menuju ruang meeting, merasakan ponselnya bergetar di saku celananya. Ia tersenyum melihat nama my lovely wife dalam layar ponselnya.


''Iya sayang ada apa?'' tanya Kevin dengan lembut.


''Mas, aku ada di toko baju dan ada daster lucu-lucu. Aku boleh beli kan?''


''Ya ampun kamu pakai tanya segala, tentu saja boleh sayang. Kamu bisa beli apapun yang kamu mau.''


''Ya sudah kalau begitu, aku akan beli beberapa daster. Selamat bekerja Mas.''


''Kamu menelepon hanya untuk tanya itu?''


''Hehehe iya Mas. Maaf ya Mas, ganggu kamu.''


''Dasar kamu ini ada-ada saja. Ya sudah hati-hati ya sayang, have fun.''


''Iya Mas, kamu juga semangat kerjanya. I love you.''


''I love you too sayang, muah! Muah!Muah!" ucap Kevin sebelum mengakhiri panggilannya.


''Kenceng amat muahnya, Tuan.'' Sahut Siska yang sedari tadi bersama Kevin. Kevin sampai lupa kalau Siska menggantikan posisi Krisna sementara.


''Iyalah kalau nggak kenceng mana terasa,'' celetuk Kevin asal.


Siska hanya bisa menahan tawanya melihat sikap Tuannya itu. ''Pak bos ini kalau sudah bucin suka lupa tempat.'' Batin Siska.


Kembali ke Keira yang sedang belanja. Kali ini mata Keira menjadi gelap melihat deretan daster cantik dan lucu. Saat Keira sedang asyik dengan dunianya, ada suara seseorang yang menyapanya.


''Kei!" panggil Ferdi. Keira lalu menoleh kebelakang dan ternyata itu adalah Ferdi. Keira memilih acuh dan berlalu meninggalkan Ferdi namun tiba-tiba saja Ferdi menarik tangan Keira, mencegahnya pergi.


''Lepaskan aku, Fer!"


''Kei, jangan salah paham dulu. Aku tidak akan berbuat aneh-aneh.''


''Tolong lepaskan tanganmu.'' Pinta Keira penuh dengan penekanan. Ferdi lalu melepaskan cengkramannya itu.


''Kamu sendiri saja?''


''Aku bersama dengan Mbak Cindy.''


''Oh begitu.''


''Ferdi, aku harap kamu jangan mengirim bunga lagi untukku. Ingat Fer, kamu sudah menikah, begitu juga denganku. Apalagi istrimu sedang hamil.''


''Maafkan aku, Kei. Aku terbawa perasaan setelah sekian lama tidak bertemu denganmu.''


''Tapi caramu salah, Ferd. Kamu yang memulai semua ini jadi kamu harus bertanggung jawab.''


''Iya aku tahu tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Apa kamu juga yang mengirimkan kembali bunga-bunga itu?''


''Iya, aku yang mengirimkannya beserta tulisannya.''


''Iya aku tahu dan aku masih hafal tulisan tanganmu.''

__ADS_1


''Aku harap ini yang terakhir kali, Fer. Jangan sampai kamu memancing kemarahan suamiku.''


''Kei tunggu, jangan pergi! Setidaknya bantu aku memilih daster untuk Lily. Aku ingin membelikan untuk Lily jadi tolong bantu aku. Sepertinya daster bisa membuat Lily lebih nyaman apalagi perutnya semakin membesar. Aku janji hubungan kita akan sebatas teman saja dan tidak lebih. Aku mohon maafkan aku.'' Ucap Ferdi memelas.


Keira menghela nafas panjang dan akhirnya ia mengiyakan permintaan Ferdi untuk membantunya memilih daster.


''Baiklah.'' Sebenarnya Keira juga tidak tega pada Ferdi tetapi sikapnya beberapa hari lalu, justru membuatnya menjadi risih. Akhirnya Keira membantu memilihkan beberapa daster untuk Lily.


''Kei, apa kamu bahagia?'' tanya Ferdi sembari mereka memilih daster.


''Iya aku bahagia, bahkan sangat bahagia, Fer. Aku berharap kamu juga bahagia dengan pilihanmu.''


''Aku awalnya bahagia tapi semakin lama, aku merasa terjebak karena kesalahanku sendiri.''


''Jangan pernah sesali yang terjadi, Fer. Semuanya sudah berlalu dan jangan berharap lebih dengan hubungan kita.''


''Iya.'' Singkat Ferdi. Setelah cukup lama memilih, Ferdi segara membayarnya dan Ferdi hendak membayar semua belanjaan milik Keira juga.


''Tidak usah, Fer. Suamiku sudah memberi uang belanja yang lebih untukku.'' Ucap Keira.


Ferdi tersenyum canggung. ''I-iya. Aku tidak bermaksud apa-apa.''


''Iya aku tahu.''


Setelah selesai berbelanja, Keira memanggil pengawalnya yang sedari tadi menunggu di depan pintu.


''Pak, tolong bawakan ya.'' Pinta Keira.


''Iya Nyonya.''


''Kamu bawa bodyguard?'' tanya Ferdi saat melihat pria dengan tubuh yang besar dan tegap itu.


''Suamimu pasti sangat mencintaimu.''


''Tentu saja, Fer. Ya sudah aku duluan ya.''


''Eh Kei, ini untukmu. Anggap saja ini hadiah kecil dariku. Hadiah sebagai seorang teman lama.'' Kata Ferdi sambil memberikan salah satu paperbag untuk Keira.


''Tapi aku sudah membeli juga Fer.''


''Itu kan beli tapi ini hadiah untukmu. Aku mohon, terimalah. Karena kita juga tidak setiap hari bertemu atau bahkan hanya beberapa tahun sekali.'' Ucap Ferdi sedikit memaksa. Akhirnya Keira memilih menerima hadiah dari Ferdi daripada harus banyak berdebat.


''Baiklah terima kasih.''


''Hati-hati ya Kei, semoga kamu dan calon anakmu sehat selalu.''


''Terima kasih.'' Keira kemudian berlalu meninggalkan Ferdi begitu saja. Ferdi hanya bisa menatap nanar kepergian Keira yang semakin jauh dari pandangannya.


-


''Mbak Gina!" seru Keira begitu Gina membuka pintu rumahnya.


''Keira! Ya ampun, kangen deh.'' Keduanya lalu saling berpelukan.


''Sama Mbak. Mas Kevin mengurungku beberapa hari.''

__ADS_1


''Ya begitulah kalau Kak Kevin sudah bucin,'' ucap Gina seraya tertawa.


''Cindy!" seru Gina seraya bergantian memeluk Cindy.


''Hai Gina, bagaimana kabarmu?''


''Aku baik. Masuk yuk!" Gina lalu mengajak Keira dan Cindy masuk kedalam menuju ruang tengah. Tak lupa ia meminta Bibi untuk membuatkan minuman.


''Gina, selamat ya untuk kehamilanmu. Maaf baru bisa menjenguk. Ini ada hadiah kecil dariku.''


''Ya ampun Cindy, kenapa malah repot-repot begini sih? Kamu kesini saja aku sudah sangat senang.''


''Ini juga hadiah kecil dari aku, Mbak. Maaf juga ya Mbak, baru bisa nengokin. Mas Kevin juga sibuk soalnya Pak Krisna masih cuti.''


''Iya Kei, tidak apa-apa. Kamu juga kenapa harus repot-repot sih. Tapi makasih ya.''


Cukup lama Keira dan Cindy bertamu di rumah Gina, sampai mereka hampir lupa waktu dan jam sudah menunjukkan pukul dua siang.


''Ya ampun udah jam segini, nggak kerasa ya.'' Kata Keira.


''Eh iya, ya udah Kei kita pulang yuk. Kasihan Ayah, aku tinggal pasti kelamaan.'' Kata Cindy.


''Iya Mbak. Marvel juga sudah pasti dirumah.''


''Sepertinya kita bertiga harus sering-sering hangout deh, supaya nggak jenuh di rumah terus.'' Sahut Gina.


''Setuju banget, Mbak. Salam buat Tante Rosa ya.'' Kata Keira.


''Iya Kei, nanti aku sampein. Tadinya aku yang mau belanja eh Mama nyuruh aku istirahat terus Mama sekalian mampir ke salon dan klinik untuk perawatan.''


''Aku bahagia sekali Mbak karena semuanya membaik. Tante Rosa juga sudah terbuka hatinya.''


''Iya Kei, aku juga bahagia sekali karena semuanya berakhir indah.''


''Gina, sehat-sehat ya Ibu dan babynya. Sekali-kali aku yang menjamu kalian.'' Sahut Cindy.


''Pasti Cindy. Kamu dan Keira mampir gitu ke klinik dan salon aku.''


''Boleh deh, aku mampir.''


''Kalau kamu malas keluar, mereka juga bisa kerumah kok.''


''Boleh deh Mbak, besok suruh merek kerumah.'' Sahut Keira.


''Oke beres Kei, kamu nanti kabarin ya. Kamu tidak sekalian, Cin?''


''Mmm semenjak hamil, entah kenapa aku malas dandan, Gin. Ini terpaksa saja karena mau keluar.'' Kata Cindy dengan tawa kecilnya.


''Iya sih bawaan orang hamil memang beda-beda.''


''Ya udah Mbak, kita pamit ya.'' Keira lalu memeluk Gina.


''Kita pamit ya, Gin.'' Sahut Cindy yang bergantian memeluk Gina.


''Iya, kalian hati-hati ya dan sekali lagi makasih untuk hadiahnya.''

__ADS_1


''Iya sama-sama,'' jawab Keira dan Cindy dengan kompak.


Bersambung...


__ADS_2