
''Kak, bangun." Rengek Laras sambil mengguncang tubuh Krisna yang sudah terlelap.
''Hmmmm,'' jawab Krisna yang tidak bisa membuka matanya.
''Kak, bangun! Ayo buka matanya.'' Laras terus mengguncang tubuh Krisna. Akhirnya Krisna pun terbangun.
''Apa Laras?'' tanya Krisna dengan nada malas.
''Aku lapar, Kak.''
''Ya ampun, kamu lapar rupanya. Ya sudah, ayo aku temani makan di bawah.''
''Aku tidak mau makan di rumah. Aku pingin makan pecel lele, Kak.''
Krisna menguap sambil mengucek matanya. ''Hooaamm!! Mau makan pecel lele? Tapi ini jam berapa?''
''Jam 1." Jawab Laras. Mata Krisna pun membulat, seketika kantuknya hilang.
''Jam 1 mau cari pecel lele dimana, Laras? Itu di kulkas ada ikan gurami, aku masakin ya.''
''Tidak mau, Kak. Aku bener-bener pingin makan pecel lele. Masih ada yang buka kok di angkringan jam segini.''
''Ya sudah, kamu tunggu di rumah aku belikan ya.''
''Aku ikut, Kak. Aku mau makan disana, aku tidak mau makan di rumah. Kalau dimakan di rumah, beda rasanya.''
''Huft, kamu ini ada-ada saja. Jam segini lapar minta pecel lele.''
''Namanya juga lagi pingin, kalau kamu tidak mau aku pergi sendiri saja deh.''
''Eh jangan sayang, ini sudah larut malam. Bahaya kalau pergi sendiri.''
''Kamu sih mendumel saja.'' Ketus Laras.
''Iya, aku tidak akan mendumel. Ya sudah aku cuci muka dulu ya, kamu ambil jaket sana biar tidak dingin.''
''Oke suamiku sayang.'' Jawab Laras dengan senyum sumringahnya.
Akhirnya Laras dan Krisna keluar jam 1 dini hari hanya untuk membeli pecel lele. Setelah hampir dua puluh menit mencari angkringan, akhirnya ada juga yang masih buka. Laras dengan antusias turun dari mobil dan segera memesan dua porsi pecel lele beserta dua gelas es teh manis.
''Kakak makan juga ya? Aku sudah pesan.''
''Kamu saja yang makan ya, aku sudah kenyang.''
''Ya sudah kalau begitu.'' Jawab Laras. Tak lama kemudian pesanan pun datang. Dua porsi pecel lele dan dua gelas es teh sudah tersaji di hadapan Laras.
''Kakak serius tidak mau?''
''Aku masih kenyang sayang. Sudah, kamu saja yang makan.''
''Oke.'' Akhirnya dua porsi pecel lele habis di lahap oleh Laras, begitu pula dengan dua gelas es teh manis, habis tak bersisa. Krisna hanya bisa melongo melihat istrinya yang begitu rakus.
__ADS_1
''Laras ini kenapa? Katanya kemarin bilang mau diet. Lah ini dua porsi pecel lele amblas begitu saja,'' gumam Krisna dalam hati.
''Alhamdulillah, kenyang.'' Kata Laras sambil mengelus perutnya. Mata Laras kemudian tertuju pada penjual angsle.
''Eh Kak, itu ada angsle. Malam-malam begini paling pas makan angsle, Kakak mau?''
''Mmmm kalau itu sepertinya boleh.''
''Ya sudah, kamu duduk sini saja biar aku yang pesan.''
''Oke suamiku. Oh ya aku pesen dua porsi ya?''
''Kan memang dua porsi sayang.''
''Khusus aku dua porsi, Kak. Jadi kalau sama Kakak jadi tiga porsi.''
''Kamu makannya udah banyak lho tadi.''
''Kakak tidak mau membelikannya? Aku pulang nih, telepon Ibu.'' Ancam Laras
''Eh iya-iya, ya ampun pakai mau ngadu segala. Sabar, aku pesankan dulu.''
Akhirnya Krisna memesan tiga porsi angsle. Lagi-lagi Laras membabat habis dua porsi angsle itu dengan begitu lahapnya. Krisna hanya bisa menggaruk kepalanya melihat tingkah aneh istrinya yang mendadak rakus.
...****************...
''Laras mana Kris?'' tanya Nyonya Dewi yang sedang menyiapkan sarapan.
''Apa dia baik-baik saja? Kenapa bangun siang terus?'' tanya Nyonya Dewi perasaan khawatir.
''Baik-baik saja kok, Bu. Katanya masih pingin tidur saja. Krisna tidak tahu kenapa Laras jadu aneh. Biasanya dia yang paling semangat membuatkan Krisna sarapan, meskipun dia masak sebisanya tapi akhir-akhir ini suka malas.''
''Mungkin dia sedang capek saja, Kris. Terus semalam Ibu dengar kalian keluar tengah malam, apa terjadi sesuatu?''
''Nah itu Bu, Laras lapar pingin makan pecel lele. Krisna suruh tunggu di rumah tidak mau, dia maunya ikut dan akhirnya kita makan di angkringan. Dan Ibu tahu, dia makan sampai dua porsi, es tehnya juga dua gelas terus masih minta angsle habis dua mangkok. Kemarin saja bakso beranak habis lho, Bu. Krisna heran dengan permintaan aneh-aneh Laras. Di tambah beberapa haru ini dia suka bangun siang. Kadang Krisna juga kangen di masakin dan di layani Laras setiap pagi.''
Nyonya Dewi tersenyum kecil mendengar cerita putranya. ''Kamu sudah tanya Laras belum, dia sudah telat apa belum?''
''Telat apa Bu?''
''Telat menstruasi. Sepertinya istri kamu seperti itu bawaan hamil. Dulu Ibu waktu hamil juga seperti itu, suka ngidam aneh-aneh.''
''Hamil? Ayo Bu, kita ke kamar. Kita bangunkan Laras,'' ucap Krisna dengan antusias.
''Iya-iya, ayo Ibu temani.'' Kata Nyonya Dewi yang juga penasaran.
Sesampainya di kamar, Krisna memanggil menepuk pelan bahu Laras.
''Sayang, ayo bangun! Kamu cepetan tespek gih. Kamu sudah telat belum?'' cerocos Krisna. Mendengar ucapan suaminya, seketika mata Laras terbuka lebar.
''Telat? Aku bahkan bulan ini belum mengeceknya, Kak. Aku takut kecewa lagi.''
__ADS_1
''Laras, kamu coba saja, Nak. Filling Ibu bilang kalau kamu sudah isi.''
''Baiklah Bu, Laras akan cek.'' Laras kemudian beranjak dari tempat tidur dan segera menuju kamar mandi.
Krisna dan Nyonya Dewi harap-harap cemas menunggu. Keduanya kompak berdoa semoga hasilnya positif.
''Krisna deg-degan, Bu. Tapi Krisna takut kalau ini membuat Laras kecewa.''
''Apapun hasilnya yang penting kan kita sudah mencobanya. Meskipun Ibu juga deg-degan sekali.''
Lima menit kemudian Laras keluar memasang raut wajah sedihnya. Krisna kemudian memeluk istrinya.
''Tidak apa-apa sayang kalau memang belum positif. Maaf ya kalau aku dan Ibu memaksamu melakukan ini.'' Ucap Krisna penuh sesal.
''Ibu juga minta maaf ya, Nak. Jangan di masukkan hati ya. Ibu tidak akan memaksa dan menuntut cucu dari kamu. Ibu meminta kamu tes karena filling Ibu mengatakan itu. Kalaupun hasilnya masih negatif, Ibu ikhlas kok.'' Kata Nyonya Dewi sambil mengelus kepala Laras. Laras tiba-tiba menangis sesenggukan dalam pelukan suaminya. Krisna semakin merasa bersalah membuat Laras menangis, begitu juga dengan Nyonya Dewi.
''Sayang, sudah ya jangan menangis. Kita coba lagi ya. Aku selalu sabar dan tidak akan menuntut kamu. Sudah ya, kita lupakan kekacauan ini.''
''Maafkan Ibu ya Laras, maafkan Ibu. Kalau kamu menangis begini, Ibu merasa bersalah sama kamu. Sudah nak jangan menangis lagi ya. Ayo kita duduk dulu.'' Kata Nyonya Dewi. Krisna kemudian melepaskan pelukannya, ia lalu menyeka air mata Laras dan mengajaknya duduk di atas tepi ranjang. Nyonya Dewi dengan sigap menuangkan air minum untuk Laras.
''Laras, ayo minum dulu. Tenangkan diri kamu.'' Kata Nyonya Dewi. Laras kemudian menerima minuman dari Ibu mertuanya, lalu menenggaknya sampai habis. Laras masih sesenggukan dengan menggenggam hasil tespek di tangannya.
''Kak Krisna, Ibu....,'' Laras terdiam tidak melanjutkan ucapannya.
''Sudah tidak apa-apa sayang. Kamu jangan sedih lagi.'' Kata Krisna. Namun Laras kemudian tertawa terbahak, membuat Krisna dan Nyonya Dewi terheran.
''Nak, kamu baik-baik saja kan?'' Nyonya Dewi khawatir takut menantunya mendadak stres karena tak kunjung hamil.
''Sayang, kamu jangan membuat aku dan Ibu khawatir? Kamu tidak gila kan?''
''Ih Kakak ini jahat banget, masa aku di katain gila. Aku masih waras.'' Kesal Laras.
''Oh syukurlah, Ibu tadi juga berpikir seperti itu. Maaf ya, Ibu khawtir kamu tertekan.''
''Kak Krisna, Ibu, lihat ini!" seru Laras sambil menunjukkan hasil tespeknya.
''Hah? Positif?'' ucap Krisna dan Nyonya Dewi dengan kompak.
''Iya. Tadi aku cuma pura-pura sedih padahal aku menangis bahagia. Aku akan jadi Mama, Kakak akan jadi Papa dan Ibu akan jadi nenek.''
''Selamat ya Nak. Ibu senang sekali mendengarnya. Alhamdulillah.'' Nyonya Dewi pun memberikan pelukan serta mencium kening dan juga pipi Laras.
''Laras juga bahgia sekali, Bu.''
''Terima kasih ya sayang, aku bahagia sekali mendengarnya. Kamu sehat-sehat ya.'' Kini giliran Krisna yang memberikan pelukan serta kecupan di wajah Laras.
''Sebaiknya kalian sarapan setelah itu segera periksa. Jangan lupa beri kabar pada Papa dan Mama kamu ya, Laras.'' Kata Nyonya Dewi.
''Iya Ibu. Laras bahagia sekali. Akhirnya Laras hamil juga. Kau akan menjaganya dengan sangat baik.'' Ucap Laras sambil mengelus perutnya. Pagi itu benar-benar menjadi pagi yang bahagia untuk Laras, Krisna dan juga Nyonya Dewi. Akhirnya penantian Laras terjawab sudah.
Bersambung....
__ADS_1