
Chika membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menangis sesenggukan karena merasa di bohongi oleh Nino. Apalagi Chika sudah mulai nyaman dengan Nino. Ia tidak menyangka kalau Nino sudah memiliki istri dan anak. Sebuah pesan masuk dari Nino.
Nino : Chika, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu. Sebenarnya aku mulai nyaman denganmu. Aku kagum dengan kerja keras dan ketulusanmu. Tapi beginilah kondisiku sebenarnya. Kalau kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku, aku bersedia melanjutkan hubungan ini. Sekali lagi maafkan aku Chika. Maaf.
"Dasar buaya! Mulutnya sangat manis tapi begitu menyebalkan." Marah Chika saat membuka pesan dari Nino.
Dari balik pintu kamar, Zidni mendengar suara Chika menangis. Bahkan mendengar Chika mengumpat sendiri. Zidni lalu mengetuk pintu kamar Chika.
"Chika! Are you okay?"
"No! Iam Not okay." Sahutnya dengan sesenggukan.
"Please, open the door!"
"Leave me alone!" sahut Chika.
"Aku tahu. Pasti si Nino sudah punya istri dan anak ya?" kata Zidni. Mendengar itu, Chika segera beranjak dari tempat tidurnya.
"Darimana Zidni tahu?" pikir Chika. Chika lalu berjalan membuka pintu kamarnya. Zidni melihat mata Chika yang basah dan memerah.
"Kenapa? Katanya mau kencan sama Mas Nino?"
"Darimana kamu tahu Mas Nino punya istri dan anak?" tanya Chika.
"Waktu aku mampir ke kantor Om Keenan. Aku tidak sengaja melihat dia vidio call dengan istri dan anaknya. Aku pikir kamu sudah tahu makanya kamu memilih melanjutkan hubungan itu." Mendengar ucapan Nino, Chika kembali meraung. Hua... hua... hua...
"Kamu pikir, aku wanita apa? Aku tidak sejahat itu. Aku bahkan baru tahu tadi. Jadi aku langsung pulang. Saat aku melihat istri dan anaknya kebetulan ada disana. Aku tidak mungkin merusak kebahagiaan istri dan anaknya. Aku bukan seperti itu."
"Aku pikir seleramu memang suami orang." Sindir Zidni. Chika yang kesal memukul dada Zidni.
"Auw sakit, Chika! Seharusnya yang kamu pukul itu si Mas Nino, bukannya aku."
"Karena kamu sangat menyebalkan." Kesal Chika sambil terus memukul Zidni. Zidni lalu menahan kedua tangan Chika. Keduanya lalu saling menatap. Tiba-tiba jantung Zidni berdetak kencang saat menatap mata indah Chika. Chika lalu menepis tangan Zidni. Zidni reflek menarik Chika dalam pelukannya. Chika terkejut dengan sikap Zidni.
"Jangan menangis lagi, Chika. Tidak ada gunanya menagisi pria seperti itu."
Chika lalu kembali menangis dalam dekapan Zidni. "Yang membuatku sedih kenapa dia bohong dan menutupi statusnya disaat aku mulai nyaman."
"Baguslah kalau kamu tahu disaat perasaanmu belum terlalu dalam. Karena kalau lebih jauh, kamu akan merasakan lebih sakit." Zidni lalu melepaskan pelukannya. Ia menyeka air mata yang membasahi wajah cantik Chika. Zidni tersenyum lalu mengelus kepala Chika. Dan kali ini Chika merasakan kehangatan dari sikap Zidni.
"Apakah kamu sebenarnya seperti ini Zidni?" gumam Chika dalam hati.
"Oh ya, mungkin bulan depan aku kembali ke Shanghai."
DEG! Ucapan Zidni itu, tiba-tiba membuat Chika sedih. Bahkan lebih sedih daripada di bohongi oleh Nino.
"Shanghai? Kembali?" Chika tergagap.
__ADS_1
"Iya. Sudah saatnya aku kembali. Om Miko semalam telepon. Perusahaan membutuhkan ku dan juga Mama. Terima kasih ya, kamu sudah menyadarkan ku tengang arti kerja keras." Zidni kemudian pergi dari kamar Chika. Chika tertegun, tidak bisa berkata apa-apa. Yang ia rasakan saat ini, hatinya terasa sugguh sedih mendengar ucapan Zidni.
Saat Chika tertegun di depan pintu ruang depan paviliun, Bibi menyapanya.
"Non!" sapa Bibi saat melintas di depan Chika hendak membuang sampah.
"Eh iya, Bi." Namun Chika melihat sebuah kertas jatuh, seperti kertas struk belanja. Chika memungutnya lalu melihatnya sebelum membuangnya. Dan benar dugaan Chika, itu adalah struk belanja semua pakaian dan sepatunya.
"Lho ini kan struk belanjaan pakaian dan sepatuku. Kenapa ada disini?" gumam Chika. Melihat Bibi yang hendak kembali ke dalam, Chika lalu bertanya pada Bibi.
"Bi, ini struk belanjaan siapa?" tanya Chika.
"Ini punya Den Zidni sepertinya, Non. Soalnya saya ngambilnya di tempat sampah kamar Den Zidni. Kamar Tuan dan Nyonya juga kosong, Non. Jadi pasti milik Den Zidni."
"Oh begitu, makasih ya Bi."
"Sama-sama Non."
Chika kembali masuk ke kamar, mencoba mencocokkan belanjaan itu dengan struk itu. Dan semuanya sama.
"Jadi apa Zidni yang memberikannya? Apa Mr. X itu Zidni?" Chika teringat saat mereka sedang makan dan Zidni pamit ke toilet. Dan disana juga Zidni mengomentari pakaian Chika yang dianggapnya kuramg modis sebagai sekretaris.
Chika lalu bergegas menuju ke kamar Zidni. Namun saat sampai disana, Zidni tidak ada disana. Zidni mencari ke setiap ruangan tapi tidak menemukan Zidni. Chika lalu bertanya pada Bibi yang sedang di dapur.
"Bi, Bibi lihat Zidni kemana?"
"Kemana Bi?"
"Tidak tahu Non."
"Makasih ya, Bi."
"Iya Non, sama-sama."
"Kemana ya Zidni?" gumam Chika dalam hati.
Zidni sendiri sedang pergi mencari Nino. Ia ingin memberikan Nino pelajaran. Akhirnya Zidni menemukan alamat apartemen Nino. Sesampainya disana, Zidni langsung menuju kamar Nino. Mendengar bel pintu berbunyi, Nino langsung membuka pintu apartemennya. Tanpa banyak bicara, Zidni langsung menyeret Nino keluar.
"Siapa kamu?" kata Nino. Zidni sendiri menutup wajahnya dengan masker hitam dan juga topi hitam. Nino tentu saja tidak mengenal bahkan tidak tahu siapa Zidni.
"Dasar laki-laki brengsek!" Zidni menarik kerah baju Nino lalu melayangkan pukulan ke wajah dan perut Nino. Setelah puas memberi pelajaran pada Nino, Zidni kemudian pergi begitu saja. Nino terduduk di lantai menahan sakit di perut dan wajahnya. Ia bahkan tidak bisa berpikir apa maksud pria itu memukulinya.
...****************...
Chika duduk di teras depan memunggu Zidni pulang. Karena ponsel Zidni bahkan tertinggal di kamar.
''Apa sih yang membuat Zidni buru-buru pergi? Apa dia menemui pacarnya kali ya untuk mengucapkan salam perpisahan mungkin.'' Gumam Chika. Setelah menunggu hampir dua jam, akhirnya seseorang yang dinanti oleh Chika datang juga.
__ADS_1
''Sedang apa disana?'' tanya Zidni begitu ia turun dari motornya.
''Aku menunggumu. Kamu darimana? Kata Bibi, kamu katanya pergi buru-buru.''
''Ada sesuatu yang penting saja.'' Singkat Zidni. Chika lalu memberikan struk belanja itu pada Zidni.
''Apa itu milikmu?''
''Iya. Ini bekasku belanja.'' Jawab Zidni.
''Jadi kamu yang memberikan baju dan juga sepatu itu?''
''Iya.''
''Kenapa kamu tidak bilang? Kenapa kamu membuatku bertanya tentang siapa Mr. X itu? Bahkan aku mengira Mr. X itu adalah Mas Nino.''
''Ya, aku takut kamu tersinggung. Niatku baik tapi belum tentu baik untuk kamu juga kan?''
''Kenapa sih tidak jujur saja? Oh, jangan-jangan kamu diam-diam menyukai ku ya? Kalau memang tidak ada apa-apa kenapa pakai inisial segala.''
''Sudah aku bilang kan? Kalau aku khawatir kamu marah dan malah mengembalikannya lagi. Aku mau istriahat.'' Ucap Zidni seraya berlalu namun tiba-tiba Chika memeluk Zidni dari belakang. Zidni terkejut dan tertegun, detak jantungnya seperti tidak bisa di kendalikan lagi.
''Terima kasih ya. Kamu sudah baik kepadaku. Aku tahu kamu sebenarnya sangat baik. Kalau aku gajian nanti, aku akan membayarnya meskipun itu mencicil.''
''Tidak perlu kamu bayar. Tapi kamu harus membayar dengan cara yang lain.'' Ucap Zindi yang berusaha menahan debaran jantungnya yang seperti tidak karuan. Chika lalu melepaskan pelukannya. Ia memutar tubuh Zidni dan menatap penuh selidik kearah Zidni.
''Apa aku harus membayar tubuhku?'' tanya Chika dengan polos.
''Bodoh!" ucap Zidni sambil mendorong kening Chika dengan telunjuknya.
''Syukurlah, biasanya orang kaya kan seperti itu.''
''Aku tidak seburuk itu. Tubuhku hanya untuk istriku nanti.''
''Hahaha aku pikir kamu sudah tidur dengan banyak wanita.''
''Jaga ucapanmu ya. Aku tidak seburuk itu.'' Kesal Zidni.
''Lalu? Bagaimana aku harus membayarmya?''
''Oke baiklah. Selama satu bulan sebelum aku kembali ke Shanghai, luangkan waktumu untukku. Kita sarapan sama-sama, makan siang sama-sama, makan malam sama-sama, berangkat dan pulang kerja juga sama-sama. Apa kamu bisa membayarnya?''
''Baiklah. Aku akan membayar dengan memberikan waktuku.''
''Oke, deal!" Zidni lalu mengajak Chika berjabat tangan. Setelah saling berjabat tangan, Zidni kemudian berlalu masuk ke dalam. Entah kenapa hati Chika malah menjadi sedih. Kebersamaannya dengan Zidni akan berakhir begitu saja.
Bersambung.....
__ADS_1