Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 235 Protektif


__ADS_3

Ferdi terbangun dari tidur malam panjangnya. Tampak Lily masih tertidur pulas di sampingnya. Angannya menerawang, di hantui oleh bayang-bayang wajah Keira. Ferdi membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


''Astaga, semalam aku hampir saja kelepasan memanggil nama Keira saat menjamah tubuh Lily. Bagaimana mungkin saat berhubungan dengan Lily, Keira ada dalam pikiranku? Bahkan aku membayangkan sedang bercinta dengan Keira.'' Gumam Ferdi dalam hati. Ferdi meraih ponselnya, dalam ponselnya ada file tersembunyi yang ia beri password dan hanya dirinya yang bisa membuka file itu. Di dalam file itu ada foto-foto Keira dan ada juga beberapa fotonya bersama Keira saat masih sekolah dulu. Ferdi masih menyimpannya dengan rapi. Ngidamnya Lily yang ingin pulang ke Indonesia, justru membuat perasaan Ferdi bangkit lagi saat bertemu Keira kembali.


''Kei, aku ingin sekali memelukmu seperti dulu. Ibu selalu menanyakan kabarmu, Kei. Ibu ingin sekali bertemu denganmu, begitu juga dengan aku. Rinduku benar-benar memuncak. Aku tidak peduli, hari ini aku harus bertemu denganmu.'' Ucapnya lagi dalam hati sambil menatap foto Keira.


''Sayang,'' suara Lily yang terbangun, membuat Ferdi terkejut. Ia langsung letakkan ponselnya kembali di nakas samping tempat tidurnya.


''Hei my Lily, kamu sudah bangun? Apa tidurmu nyenyak?''


''Tentu saja nyenyak sekali karena ada kamu.'' Liliy lalu memeluk manja suaminya.


''Kamu mau sarapan apa?'' tanya Ferdi.


''Aku ingin sarapan bubur ayam. Sudah lama sekali aku tidak makan bubur ayam.''


''Oke baiklah. Sekarang kamu mandi gih.''


''Mandi bareng ya?'' pinta Lily dengan suara manja.


''Oke sayang.'' Ferdi lalu menggendong Lily dan mengajaknya mandi bersama.


Perasaan Ferdi semakin gamang, pertama kali bertemu Lily, Lily sangatlah cantik, mempesona dan sangat seksi. Sikapnya yang baik pada Ibunya, membuat Ferdi dengan mudahnya jatuh hati. Apalagi saat itu tentu saja penampilan Lily lebih menggoda jika di bandingkan dengan Keira yang saat SMA masih lugu. Di tambah Lily adalah wanita yang agresif, pria mana yang menolak jika di sodorkan wanita seperti Lily. Apalagi keluarga Lily yang mau menerima Ferdi apa adanya dan justru membantu Ferdi menjadi seperti sekarang ini. Ferdi semakin bingung dengan perasaannya pada Lily, apakah semua ini cinta atau n..a..f..su duniawi untuk mengejar kepuasan? Karena n..a..f..su yang membuat Ferdi terjerat dengan Lily. Karena dalam hatinya yang terdalam, masih tersimpan nama Keira dan tersimpan sebuah penyesalan. Entahlah, Ferdi kini benar-benar bingung untuk memahami perasaannya. Namun disisi lain dia juga tidak ingin menyakiti lain tapi di lain sisi, perasaannya pada Keira tidak bisa di bohongi.


Lily dan Ferdi tengah bercumbu di kamar mandi. Lily memang sangat pintar memuaskan hasratnya sebagai seorang laki-laki. Namun saat sedang mencumbu Lily, Ferdi melihat Keira yang sedang ia cumbu, bukan Lily. Gairah Ferdi semakin meningkat, saat bibir yang mel..um..atnya adalah bibir Keira dalam benaknya. Lily tidak menyimpan rasa curiga apapun pada Ferdi saat pertemuannya kembali dengan Keira. Karena bagi Lily, Keira sudah menikah dan memilik suami jadi tidak mungkin, Ferdi akan mengganggu Keira lagi.


-


''Mas, nanti pulang jam berapa?'' tanya Keira sambil memakaikan dasi di kerah kemeja Kevin.


''Kamu maunya jam berapa? Aku bisa lembur di rumah.''


''Aku pinginnya kamu di rumah. Aku tidak mau lama-lama jauh dari kamu.''


''Baiklah, karena Nyonya besar menginginkan aku lembur di rumah, jadi semua pekerjaanku akan aku bawa pulang.'' Ucap Kevin seraya mengecup bibir istrinya.


''Lalu makan siangnya kamu mau minta apa?''


''Terserah kamu saja, sayang.''


''Jangan terserah dong, Mas. Aku akan marah kalau kamu jawabnya terserah.''


''Oke baiklah. Ummm aku ingin perkedel kentang, udang asam manis, sayurnya buncis sama wortel di tumis sedikit pedas.''


''Oke lalu minumnya minta di buatkan apa?''


''Jus buah naga sepertinya segar diminum siang hari.''

__ADS_1


''Oke. Lalu desertnya?''


''Puding coklat.''


''Oke siap! Pesanan sudah di keep., billnya nanti aku selipin saat makanannya di antar ya.''


''Oke sayang. Berapapun pasti akan aku bayar.'' Kevin lalu menciumi seluruh wajah Keira dengan gemasnya.


''Ya ampun, hilang deh bedakku.'' Protes Keira dengan bibirnya yang cemberut.


''Nanti kan bisa bedakan lagi,'' ucap Kevin terkekeh. Keira lalu membawakan jas dan tas kerja milik suaminya. Mereka kemudian turun menuju ruang makan.


''Selamat pagi tampannya Mama.'' Keira menyapa Marvel seraya memberikan kecupan di kening putra sambungnya itu.


''Selamat pagi juga Mama cantiknya, Marvel.'' Balas Marvel dengan senyum lebarnya. Kevin juga tak lupa menyapa dan memberi kecupan di kepala putranya itu. Saat sedang sarapan, ponsel Keira berdering. Ada nama Mbak Cindy, di layar ponselnya.


''Siapa sayang?'' tanya Kevin penasaran.


''Mbak Cindy, Mas. Aku angkat dulu ya.''


''Iya.''


Keira lalu menerima panggilan dari Cindy.


''Halo Mbak, ada apa?''


''Tidak Mbak, ada yang bisa Kei bantu?''


''Mau minta buat temani Mbak belanja. Kebetulan Mas Kenny hari ini keluar kota. Sekalian aku ingin menjenguk Gina. Aku ingin memberinya selamat, sekaligus hadiah kecil untuk kehamilannya.''


''Boleh-boleh, Mbak. Kebetulan Kei juga belum sempat ke rumah Mbak Gina.''


''Ya sudah nanti Mbak jemput ya.''


''Tidak usah Mbak, biar Kei saja yang jemput. Mas Kevin memintaku pergi bersama supir dan beberapa pengawal.''


Cindy terkekeh mendengar ucapan Keira. ''Seposesif dan seprotektif itukah suamimu, Kei?''


''Hehehe ya begitulah, Mbak.'' Kata Keira sambil melirik ke arah suaminya.


''Oke baiklah, aku tunggu kamu di rumah ya. Hati-hati ya Kei.''


''Iya Mbak. Sampai ketemu nanti.'' Keira mengakhiri panggilannya.


''Mas, Mbak Cindy memintaku untuk menemaninya belanja soalnya Kak Kenny mau keluar kota urusan pekerjaan. Sekalian kita mau kerumah Mbak Gina, mau kasih hadiah untuk kehamilannya. Boleh kan Mas?''


''Boleh sayang tapi harus diantar sama supir dan pengawal ya. Kalau tidak, kamu tidak boleh pergi.''

__ADS_1


''Oke baiklah.'' Keira hanya bisa pasrah dengan sikap suaminya yang baginya itu sangat berlebihan.


''Papa juga akan meminta pengawal untuk menjaga kamu juga, Marvel.''


''Tidak usah Pah, aku kan laki-laki jadi aku bisa jaga diri.''


''Ini demi keamanan kamu, Marvel. Supaya hati Mama juga tenang.''


''Oke baiklah, Pah. Tapi jangan dekat-dekat denganku, mereka cukup menjagaku dari jauh saja.''


''Oke baiklah.''


-


Kini Keira dan Gina sudah sampai di mall.


''Kei, maaf ya harus merepotkanmu. Tadinya mau pergi dengan Bibi tapi kasihan Ayah.''


''Iya Mbak tidak apa-apa.''


''Ngomong-ngomong kenapa harus ada pengawal di belakang kita?''


''Itu semua atas perintah Mas Kevin, Mbak. Katanya biar aku tidak capek saat membawa belanjaan. Sekaligus mereka bisa menjagaku. Maaf ya kalau Mbak tidak nyaman.''


Lagi-lagi Cindy di buat terkekeh dengan sikap unik suami Keira itu. ''Tidak masalah Kei. Tandanya suamimu sangat mencintaimu. Pasti dia trauma dengan kejadian waktu itu ya.''


''Itu juga Mbak salah satu penyebabnya. Dia terlalu khawatir sampai memberiku dua pengawal seperti ini. Berasa jadi artis dan istri presiden saja.'' Gurau Keira dengan tawanya.


''Ya sudah Kei, bersyukur ada pengawal jadi ada yang bantuin kita.''


''Benar juga sih, Mbak. Oh ya Mbak mau cari apa untuk Mbak Gina?''


''Apa ya, aku juga bingung. Dia juga sudah punya semuanya. Dia desainer iya, punya salon dan klinik kecantikan juga iya, jadi bingung mau ngasih apa.''


''Iya juga sih, Mbak. Aku mau cari daster saja deh untuk Mbak Gina. Perutnya semakin hari pasti semakin besar jadi kalau pakai daster kan enak tuh, sekalian beli snack yang banyak buat Mbak Gina. Biasanya bumil kan suka ngemil kayak aku.''


''Ya sudah kalau begitu aku beli sandal dan flat shoes saja untuknya. Soalnya bumil juga lebih aman dan nyaman dengan sandal dan flat shoes.''


''Ide bagus, Mbak. Kalau begitu kita mencar dulu ya, Mbak. Nanti kita bertemu di sini lagi. Soalnya aku juga mau beli snack, stok snack di rumah habis.''


''Oke baiklah. Kamu hati-hati ya, Kei.''


''Mbak juga ya, biar satu pengaaal aku temenin Mbak. Soalnya perut Mbak sudah makin besar, kasihan kalau bawa banyak.''


''Ya sudah kalau begitu, terima kasih ya Kei. Kamu pengertian sekali.''


''Sama-sama Mbak.'' Keira dan Cindy kemudian pun berpencar. Keira juga meminta satu pengawalnya untuk menemani Cindy belanja.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2