
Setelah sarapan, Keira membantu Marvel bersiap untuk pergi ke sekolah. Sementara Kevin sedang asyik ngobrol bersama Pak Ammar.
''Nak Kevin, maaf sekali kalau saya harus mengembalikan ini. Ini sangatlah berlebihan. Hadiah yang nak Kevin berikan untuk Kenny dan istrinya itu lebih cukup. Daripada uang ini untuk saya, lebih baik nak Kevin sumbangkan saja pada yang membutuhkan misalnya panti sosial. Sekali lagi maaf sekali dan saya paham dengan niat baik nak Kevin.''
''Tapi saya ikhlas memberikan ini untuk Ayah jadi tidak masalah.''
''Saya juga ikhlas merawat Marvel disini. Saya sudah menganggap Marvel seperti cucu sendiri jadi untuk keluarga tidak ada yang namanya kasih sayang itu di hitung. Lebih baik berikan kepada yang membutuhkan saja nak Kevin. Mewakili Kenny, dia juga mengucapkan terima kasih atas tiket bulan madu yang nak Kevin berikan.''
''Kalau begitu terima kasih atas semua kebaikan anda, Ayah.''
''Sama-sama nak Kevin.''
''Pah, aku sudah siap!" seru Kevin.
''Oh baiklah ayo berangkat!" kata Kevin seraya beranjak dari duduknya.
''Marvel kamu baik-baik ya di sekolah,'' pesan Keira sambil mengusap kepala Marvel.
''Mama tidak berangkat ke panti?''
''Iya habis ini juga berangkat.''
''Mah kenapa kita tidak berangkat bersama saja? aku ingin nanti kita makan siang bersama juga. Please, aku mohon!" pinta Marvel sambil mengatupkan kedua tangannya. Keira melirik kearah ayahnya dan Pak Ammar mengangguk.
''Baiklah kalau begitu, mama ambil tas dulu ya.''
''Hore... kita berangkat bersama!" seru Marvel sambil melompat kegirangan.
''Kakek, aku berangkat sekolah dulu ya.'' Kata Marvel sambil mencium punggung tangan Pak Ammar. Marvel memberi kode kedipan mata pada papanya untuk mencium punggung tangan Pak Ammar.
''A... ayah, saya juga permisi dan terima kasih untuk sarapannya.'' Kata Kevin yang kemudian mencium punggung tangan Pak Ammar juga. Disaat yang bersamaan, Keira melihat hal itu.
''Si kepala batu sopan juga ternyata,'' gumam Keira dalam hati.
''Sama-sama nak Kevin, kalian hati-hati ya.''
''Ayah, Kei pamit ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi Kei.''
''Iya kamu tenang saja.'' Keira kemudian memeluk serta mencium punggung tangan Ayahnya.
-
Kini mereka bertiga sedang dalam perjalanan. Kevin duduk di depan bersama Marvel, sementara Keira memilih duduk di belakang. Suasana hening terjadi di dalam mobil.
''Dimana panti tempat kamu magang, Kei?'' tanya Kevin dengan suara dinginnya.
__ADS_1
''Di Jl. Pahlawan No.35 tuan,'' kata Keira. Tiba-tiba ponsel Keira berbunyi tanda panggilan masuk dari Leon. Senyum Keira tersungging saat melihat nama Leon di layar ponselnya. Sementara Kevin menatap penuh selidik dari kaca sunvisornya.
''Halo, iya Leon ada apa?''
''Kei, kamu sudah berangkat?''
''Iya aku sudah di jalan. Memangnya ada apa Leon?''
''Tadinya aku mau menjemput kamu tapi aku lupa bertanya dimana kamu tinggal.''
''Oh begitu. Memangnya kamu ada dimana sekarang?''
''Aku sudah di panti kok. Oh ya aku sudah bawa beberapa tukang untuk memperbaikai atap yang bocor di panti. Aku ada rencana mau merenovasinya, Kei. Aku tidak tega melihat kondisi panti ini.''
''Leon, kamu ternyata sangat baik. Bersyukur sekali panti kedatangan seorang dermawan seperti kamu. Sedangkan aku hanya bisa membantu tenaga dan waktu saja.''
''Kamu juga sangat baik Kei, kamu sangat lembut dan telaten merawat mereka.''
''Kan memang sudah seharusnya kita harus bersikap lembut pada mereka. Kamu berlebihan Leon, nanti aku bisa besar kepala,'' ucap Keira terkekeh.
''Aku serius Kei. Ya udah kalau gitu kamu hati-hati ya. Sampai ketemu di panti.''
''Iya Leon, sampai ketemu di panti.'' Keira mengakhiri panggilannya dengan senyum lebarnya.
''Siapa mah? mama terlihat ceria sekali,'' kata Marvel penuh selidik. Rupanya sedari tadi Marvel menoleh kebelakang, menatap penuh selidik ke arah Keira yang sedang bicara dengan Leon lewat sambungan telepon.
''Oh begitu. Ganteng nggak mah?''
''Namanya cowok ya gantenglah. Yang jelas kita seumuran. Memangnya kenapa sih? kok tanya-tanya? kapan-kapan mama kenalin ga. Dia baik banget.'' Kata Keira dengan wajah sumringahnya.
''Boleh deh mah. Aku juga boleh kan kapan-kapan ikut ke panti?''
''Tenti boleh dong.''
''Hmmm gampangan banget deket sama cowok. Baru tiga hari juga udah genit-genit kayak gitu, dasar modus,'' kata Kevin dengan senyum sinisnya.
''Gampangan gimana maksud tuan? namanya teman magang, masa iya aku mau jutek dan ketus. Kenapa sih hobinya buruk sangka melulu? bisa nggak sih berfikir positif sedikit saja,'' kata Keira dengan kesal.
''Siapa yang buruk sangka? kan cara bicara kamu sudah terlihat sok genit.''
''Lebih baik turunkan aku disini! bersama dengan tuan selalu membuatku naik darah.''
''Mah, jangan dong. Udah cuekin aja papa. Papa sebenarnya cemburu, makanya begitu,'' sahut Marvel.
''Cemburu? cemburu atas dasar apa Marvel? kamu ini ngaco deh.'' Kata Kevin yang mendadak salah tingkah.
__ADS_1
''Kalau papa tidak cemburu, seharusnya santai saja dong. Kenapa harus memarahi mama?''
''Siapa yang marah? masa ngomong gitu doang marah. Cuma mau kasih pesen aja kalau jadi cewek jangan gampangan. Biasanya cewek yang masih muda pikirannya suka labil.''
''Tuan yang labil, bukan aku!"
''Sepertinya aku harus ekstra kerja keras untuk menyatukan mereka,'' gumam Marvel dalam hati.
Akhirnya mereka sampi juga di panti. Disana sudah tampak Leon yang benar-benar menunggu kedatangan Keira.
''Apa ini tempat mama magang?''
''Iya Marvel. Beginilah keadaannya, bagunannya sudah mulai tua. Nah itu yang bersandar di mobil namanya Leon. Hari ini dia memanggil beberapa tukang untuk mengatasi atap yang sering bocor.'' Jelas Keira.
''Kasihan sekali ya mah mereka. Sudah tua bukanya di rawat sama anak tapi malah di tinggal disini.''
''Baiklah mama turun dulu ya.''
''Keira serius magang disini? kasihan juga kalau para lansia tinggal di tempat ini,'' batin Kevin.
''Iya mah tapi peluk dulu,'' kata Marvel. Keira tersenyum lalu memeluk Marvel dari belakang.
''Kamu baik-baik ya di sekolah.''
''Mah nanti janji makan siang bersama ya?''
''Pasti Marvel. Oh ya terima kasih untuk tumpangannya tuan.''
''Hmmmm.'' Kata Kevin yang malas berbicara. Keira kemudian segera turun dari mobil, tak lupa melambaikan tangannya untuk Marvel. Keira pun segera masuk ke dalam dan menghampiri Leon.
''Kamu kok disini?''
''Iya aku sengaja untuk menunggu kamu. Tadi siapa?'' tanya Leon.
''Oh tadi tetangga aku. Aku nebeng sih soalnya motor aku mogok, hehehe,'' kata Keira yang terpaksa berbohong.
''Ya udah ayo masuk!" ajak Leon.
''Aku senang sekali kamu bisa membantu mereka. Aku bahkan belum sempat membuka donasi untuk panti ini.''
''Ya udahlah kamu santai saja. Lagi pula kan kamu juga sibuk dan baru bergabung juga. Aku pasti bantu kamu kok, Kei.''
''Makasih ya, Leon.''
''Sama-sama Kei.''
__ADS_1
Bersambung......