Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 157 Perjuangan Cinta


__ADS_3

Malam harinya di ruang makan, Laras mengutarakan keinginannya untuk menikah.


''Pah-Mah, Laras ingin menikah.'' Mendengar apa yang di ucapkan Laras, Tuan Handi dan Nyonya Dila merasa terkejut bagai di sambar petir di siang bolong. Bahkan keduanya kompak terbatuk. Tuan Handi dan Nyonya Dila buru-buru menyambar minuman di hadapan mereka. Mereka saling melempar pandangan sebelum menatap lekat ke arah putri semata wayangnya.


''Menikah dengan siapa? Siapa yang menghamilimu?'' suara Tuan Handi mulai meninggi.


''Ihh, Papa ini apaan sih. Siapa juga yang hamil. Aku masih perawan, Pah. Masa menikah harus ada alasan di hamili dulu,'' kesal Laras.


''Lalu kenapa kamu tiba-tiba ingin menikah? Lalu dengan siapa?'' sambung Nyonya Dila.


''Dia pria yang sangat baik, Mah. Tampan, karirnya mapan, sayang orang tua, pokoknya jauh sekali dari si Andy. Makanya Laras pepet terus biar Laras ceper di nikahin.''


''Astaga Laras, kamu ini merendahkan harga diri kamu saja sebagai perempuan. Jadi perempuan itu yang kalem, lemah lembut dan elegan. Jangan grasa-grusu. Bagaimana kalau dia ilfill sama kamu?'' kata Tuan Handi.


''Tidak akan, Pah. Dia juga cinta sama Laras dan Laras juga sudah kenal dengan Ibunya. Tadi Laras di ajak ke rumahnya, makan siang sama Ibunya. Terus dia bilang juga akan ke rumah untuk menemui Papa dan Mama secepatnya.'' Cerita Laras dengan wajah cerianya.


''Nyonya permisi, ini terong bakarnya maaf kelupaan.'' Sela Bi Ijah, pembantu di rumah Laras. Melihat terong, Laras menjadi teringat sesuatu.


''Bi, terongnya kok lembek dan keriput sih?'' tanya Laras. Bi Ijah pun menjadi bingung mendengar pertanyaan Laras termasuk kedua orang tuanya.


''Laras, namanya terong sudah di masak ya seperti itu. Kamu ini bagaimana sih membuat Bi Ijah bingung saja,'' tegur Nyonya Dila.


Mendengar jawaban Mamanya, Laras baru tersadar kalau memang begitulah terong. Yang ada dalam imajinasinya adalah pusaka milik Krisna. ''Oh iya lupa. Kalau masih mentah tegak dan keras ya, Mah. Hehehehe.''


''Dasar aneh kamu. Makasih ya, Bi. Bibi boleh kebelakang.''


''Permisi, Nya.'' Ucap Bi Ijah seraya berlalu.


''Lanjut pada topik awal, Laras. Memang apa pekerjaan pria itu? Terus siapa namanya?''

__ADS_1


''Dia itu sekretaris pribadi Tuan Kevin Sanjaya, suaminya Keira pemiliki Sanjaya Group. Dan namanya Krisna. Papa pasti tahu kan Sanjaya Group? Papa sudah pasti tahu reputasi perusahaannya seperti apa. Jadi sudah jelas kalau dia itu pria yang pas untuk Laras. Pokoknya Laras hanya mau Krisna dan tidak mau yang lain. TITIK.'' Cerocos Laras panjang lebar.


Mendengar penjelasan putrinya, Tuan Handi menghela nafas panjang. Tentu saja kalau berhubungan dengan Sanjaya Group, sudah pasti Krisna adalah pria yang mapan dari segi materi. Tentu saja itu menjadi poin utama Tuan Handi sebagai seorang Ayah. Ia tidak ingin putrinya menderita dan sengsara karena salah memilih calon suami. ''Baiklah, suruh dia secepatnya datang ke rumah kalau memang dia serius.''


Mata Laras berbinar, ia kemudian mendekat ke arah kursi Papanya dan memeluknya. ''Terima kasih Papaku sayang. Aku akan segera memberitahunya. Aku jamin Papa dan Mama akan menyukai karena dia adalah pria yang sangat langka.''


''Maksud kamu langka, dia bukan pria berumur kan, Ras?'' sahut Nyonya Dila.


''Ya nggak lah, Mah. Dia itu usianya sudah matang, hampir kepala tiga sih. Tenang Mah, dia itu gagah perkasa, badannya berotot terus perutnya kayak roti sobek, idaman banget deh, Mah.''


Mendengar ocehan putrinya, kedua orang tua Laras menatap curiga ke arah Laras.


''Bagaimana kamu tahu sedetail itu?'' selidik Nyonya Dila. Mendadak Laras menjadi tergagap, ia keceplosan karena ciuman siang tadi benar-benar menganggu pikirannya. ''E... apaan sih, Mah. Kan tadi Laras ke rumahnya, eh nggak sengaja lihat dia lepas baju.''


''Apa? Lepas baju?'' mata Nyonya Dila melotot tajam.


Laras memutar otak mencari seribu satu alasan. ''Eh bukan seperti itu, Mah. Ah Mama ini bikin Laras jadi gugup. Tadi di rumah juga ada Ibunya juga. Ya karena bajunya ketumpahan kuah sayur, dia buka baju gitu aja, Mah. Lihatnya dikit kok, Mah. Habis itu dia pergi ke kamar dan Laras tetap bersama Ibunya. Gitu Mah maksudnya.''


''Hehehe maaf Pah-Mah, aku bohong.'' Gumam Laras dalam hati.


-


Malam hari di rumah Kevin, Keira sedang melamun di teras balkon kamar. Ia menatap ke arah langit dan melihat ada salah satu bintang paling terang disana. Keira kemudian mengelus perutnya.


''Maafkan Mama ya, Nak. Mama tidak bisa menjaga kamu. Seandainya kamu masih ada, kebahagiaan Mama akan semakin lengkap. Sekali lagi maafkan Mama.'' Kevin kemudian datang dan memeluk Keira dari belakang. Ia mendengar semua curahan hati istrinya. Ia pun ikut mengelus perut istrinya.


''Maafkan Papa juga ya, Nak. Papa tidak bisa menjaga kamu dan Mama. Seandainya saat itu Papa ikut menemani Mama, kamu pasti akan selamat.''


''Mas, jangan menyalahkan diri kamu. Ini memang sudah menjadi takdir untuk kita.''

__ADS_1


''Kamu juga jangan menyalahkan diri kamu, sayang. Sebaiknya kamu fokus dengan kesehatan kamu ya, setelah kamu sudah pulih total, kita bikin lagi deh.''


''Sekali maaf ya Mas kalau aku tidak langsung bilang padamu. Aku hanya ingin memberikanmu kejutan aja. Tapi janji kalau Tuhan memberikan kita amanah lagi, aku akan langsung memberitahukan kamu.''


''Iya tidak apa-apa, sayang. Kita nikmati saja kebersamaan kita ini sekarang. Mungkin saat ini, ini yang terbaik untuk kita. Kamu fokus pada skripsi dan sidangmu, lalu wisudamu. Aku tidak akan membebanimu dengan masalah kantor ataupun yang lain dulu. Kamu cukup di rumah saja, tunggu aku dan Marvel pulang.''


''Mas, aku nanti bosan kalau di rumah terus.''


''Ya kamu perginya sama supir atau nggak, aku yang akan mengantar kamu. Yang jelas jangan pergi sendiri. Aku akan menyewa bodyguard untuk menjaga rumah, kamu dan Marvel.''


''Jadi maksudnya kemana-mana harus pakai bodyguard gitu, Mas?'' ucap Keira seraya mengajak Kevin untuk duduk di kursi kayu yang panjang.


''Iyalah. Itu demi keamanan kamu dan Marvel.''


''Mas, tidak perlu berlebihan seperti itu. Aku baik-baik saja kok. Lagi pula aku juga tidak akan pergi kemana-mana. Paling ke sekolah Marvel, cafenya Johan sama ke kantor.''


''Kalau kamu tidak nyaman di dekat mereka, biar mereka mengawasi kamu dari jauh ya. Yang jelas aku akan meminta David membantuku untuk mengawasi rumah, kamu dan Marvel untuk berjaga-jaga. Karena jujur saja kejadian yang menimpa kamu, semakin membuatku trauma dan sangat ketakutan. Kamu tahu sendiri orang tuaku meninggal karena di rencanakan, lalu sekarang musibah menimpa keluarga kita secara beruntun dan kenapa harus kamu yang mengalaminya? Kenapa tidak langsung denganku saja?'' Kevin yang selama ini Keira anggap kuat ternyata rapuh juga. Keira lalu menggenggam erat tangan suaminya. ''Mas, aku akan selalu berada disisimu. Jangan pernah takut menghadapi apapun. Serahkan hidup dan mati kita pada Tuhan.''


''Iya aku tahu tapi aku tidak sanggup kehilangan kamu dan Marvel. Sepertinya mereka ingin aku menderita dan hidup sebatang kara.'' Keira merasa sangat teriris mendengar curahan hati suaminya. Keira kemudian memberi pelukan hangat untuk suaminya.


''Mas kuatlah untuk aku dan Marvel. Kamu tidak sendirian. Ada aku, Marvel, Ayah, Kak Kenny, Kak Miko, ada sahabat-sahabat kamu yang baik seperti Dokter Alan dan Tuan David. Jadi apalagi yang kamu kahwatirkan, Mas. Semakin kamu tepruruk, mereka akan semakin bahagia. Jadi tunjukkanlah bahwa kita selalu bahagia dan kita selalu bisa bangkit sekalipun kita sedang terpuruk. Tujuan mereka memang merusak mental kamu, Mas. Dan aku tidak akan membiarkan itu. Mereka itu hanya manusia yang di penuhi rasa dendam. Cepat atau lambat, dendam itu akan menghancurkan mereka sendiri. Kamu harus menjadi Kevin yang seperti biasanya. Jangan sampai masalah ini membuat kamu berkecil hati.''


''Terima kasih ya sayang. Maafkan aku, kalau aku membuatmu menderita dan membuatmu terlinat dalam banyak masalah.''


''Mas, Tuhan memang sedang menunjukku untuk mendampingimu. Aku akan bersamamu hingga akhir. Aku dan Marvel sangat mencintaimu. Jadi kuatlah demi kami.''


''Iya sayang. Terima kasih selalu menenangkanku.''


''Sama-sama suamiku, sayang.'' Keira sama sekali tidak melepaskan pelukannya, ia terus menepuk punggung Kevin supaya Kevin merasa nyaman dan rileks. Sampai tak terasa, Kevin justri tertidur dalam pelukan Keira seperti seorang bayi yang tenang dalam gendongan Ibunya. Keira lalu merebahkan tubuh Kevin dan meletakkan kepala Kevin di pangkuannya. Keira mengusap lembut kepala suaminya sambil sesekali ia menguap.

__ADS_1


''Tidur yang nyenyak ya, Mas. Lepaskan semua bebanmu. Yakinlah bahwa hari esok akan lebih baik.''


Bersambung....


__ADS_2