Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 176 Melamar Tessa


__ADS_3


Di lain tempat, tepatnya di kontrakan Tessa, Johan sedang duduk di lantai teras kontrakan Tessa. Sudah ada secangkir teh yang menemaninya.


''Jo, maaf ya menunggu lama. Aku harus menidurkan Anrez.''


''Tidak apa-apa, Tessa. Anrez kan memang masih sangat membutuhkan kamu.''


''Oh ya jadi kapan keputusan cafe akan di buka? aku akan bantu mempromosikan ke teman-teman aku.''


''Mmmmm menurut kamu bagaimana?''


''Kok tanya aku? kamu kan yang punya.''


''Tessa, apa yang aku lakukan sekarang adalah untuk masa depan kita. Jadi aku harus tanya pendapat kamu.''


''Jo, kalau aku bilang besok, apa kamu sudah siap? ya kamu lihat dulu, apakah semuanya sudah siap? ada yang kurang apa tidak? apa kamu sudah promo? kan ada soft opening dan grand opening juga, Jo.''


Johan tertawa sambil menggaruk tengkuknya. ''Iya ya, kenapa pikiranku tidak sampai kesana? kalau cafe sih sudah siap, tinggal bahan bakunya saja.''


''Ya sudah kalau begitu besok aku temani kamu beli bahan baku setelah mengantarkan Anrez sekolah ya.''


''Iya deh, terima kasih ya Tessa.''


''Sama-sama Jo. Oh ya kamu kasih nama apa cafenya?''


''Ah, aku bahkan belum memikirkan namanya sama sekali. Apa ya enaknya?'' Johan berfikir sambil melihat ke arah langit yang bertabur bintang itu. Tiba-tiba munculah ide di kepala Johan.


''Mmmm bagaimana kalau EXO Cafe, yang kepanjangannya extraordinary dan memiliki arti luar biasa. Bagaimana Tes?''


''Bagus Jo, keren! namanya unik, fresh apalagi artinya luar biasa. Bisa menjadi doa juga kan, semoga usaha kamu kedepannya semakin berkembang dan semakin luar biasa.''

__ADS_1


''Amin, semoga ya. Aku kan bekerja keras untuk itu semua. Oh ya aku ada sesuatu untukmu.'' Johan kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak merah berisi cincin.


''Apa itu Jo?'' tanya Tessa.


''Tessa, maaf kalau aku tidak bisa bersikap romantis seperti pria-pria lain tapi dengan cincin ini aku ingin melamar kamu.''


Tessa terkejut sekaligus tidak menyangka bahwa Johan akan melamarnya secepat ini.


''Jo, kamu yakin dengan aku?''


''Yakin 100% Tessa. Kamu lah cinta pertama dan terakhir untukku. Jadi apakah kamu mau menjadi istriku?''


Tessa mengangguk malu.


''Jadi jawabannya iya?'' tanya Jogan meyakinkan.


''Iya,'' jawab Tessa pelan. Johan lalu berdiri dan melompat kegirangan seperti anak kecil.


''Setelah kita punya rumah, aku akan menikahi kamu. Kamu doakan aku, suapaya semuanya di lancarkan ya.''


''Amin, aku selalu mendoakanmu, Jo. Tapi sekarang turunkan aku, aku pusing karena kamu berputar tadi.''


''Hehehe maaf ya. Aku terlalu bersemangat,'' kata Johan sambil menurunkan Tessa dari gendongannya. Tessa dan Johan lalu berdiri saling berhadapan, keduanya saling menatap dengan senyum malu. Johan kemudian menggenggam kedua tangan Tessa.


''Mmm Tessa, apa aku boleh mencium keningmu?'' tanya Johan tergagap.


''Boleh, kenapa harus ijin?'' Tessa mengernyitkan dahinya.


''Nanti kalau aku tidak meminta ijin, aku takut kalau kamu tersinggung.''


Tessa tertawa kecil melihat kepolosan Johan. ''Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan Jo, termasuk menciumku.'' Tessa kemudian memejamkan matanya dan siap menerima kecupan dari Johan. Dengan ragu-ragu dan gugup, Johan mengecup kening Tessa dengan sangat dalam sambil menggenggam kedua tangan Tessa. Setelah beberapa detik Johan melepaskan kecupan di kening Tessa.

__ADS_1


CUP! Johan semakin terkejut, matanya membulat kala Tessa membalas kecupannya dengan mengecup pipinya. Pipi Johan memerah dan ia sangat malu.


''Kenapa pipi mu memerah?'' tanya Tessa.


''Eee..., ini pertama kalinya aku di cium wanita selain Ibuku.'' Jawab Johan dengan polosnya.


''Hah? kamu serius Jo? apa kamu tidak pernah pacaran sebelumnya?'' selidik Tessa.


''Ti-tidak pernah, bel-belum pernah.'' Mendadak Johan jadi gugup.


Tessa lalu tertawa sambil memukul bahu Johan. ''Kenapa kamu jadi aneh sih? kok jadi gagap begitu.''


Johan benar-benar salah tingkah setelah mendapat kecupan dari Tessa.


''Maaf ya, Tes. Mungkin aku memang pria yang bodoh. Perasaanku terlalu dalam untukmu, sampai aku tidak berpikir untuk mencari gadis lain. Ya, lebih tepatnya tidak ada yang mau denganku karena kata mereka wajah saja yang tampan tapi kantong kering. Baru mau suka saja sudah di tolak duluan.'' Mendengar pengakuan Johan, Tessa hanya bisa tertawa. Namun ia juga merasa terharu dan tidak menyangka bahwa Johan memendam perasaan padanya hingga detik ini.


Tessa kemudian bergantian meraih tangan Johan. ''Jo, sekali lagi terima kasih untuk cinta kamu. Aku tidak menyangka kamu akan bertahan sampai sejauh ini. Bahkan mau menerima aku yang tidak sempurna ini. Aku beruntung sekali bertemu dengan pria sebaik kamu dan setulus kamu. Apalagi kamu juga sangat mencintai Anrez bahkan Anrez pun dengan mudahnya menerima kamu. Sekali lagi terima kasih.''


''Sama-sama Tessa. Aku sangat mencintaimu.''


''Aku juga mencintaimu, Jo.'' Keduanya pun saling menatap dalam, Tessa kemudian berjinjit dan memberanikan diri memberikan sebuah ciuman tepat di bibir Johan. Johan terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang di lakukan oleh Tessa. Ciuman pertama dari Tessa untuk Johan. Johan dengan ragu memberanikan membalas ciuman Johan. Tubuh Johan mulai memanas, detak jantungnya semakin kencang. Nalurinya sebagai seorang pria normal pun bergejolak. Perlahan Johan meraih tengkuk Tessa, sementara tangan satunya meraih pinggang Tessa. Tessa juga merasakan hal sama dengan Johan. Keduanya mulai menikmati ciuman itu, ciuman itu semakin dalam dan semakin menutut di tengah dinginnya angin malam yang berhembus membelah kesunyian. Bibir keduanya kini telah menyatu dengan saliva yang saling bertukar. L..u...m...atan demi l...u...ma...tan semakin menggairahkan keduanya. Hingga rintik gerimis datang, menyudahi ciuman pertama yang begitu panas itu. Keduanya saling tersenyum sebelum akhirnya keduanya saling berpelukan.


''Terima kasih Tessa. Sekarang masuk dan istirahatlah.''


''Kamu juga ya istirahat ya. Aku juga terima kasih untuk semuanya.''


Johan tidak bisa membendung rasa bahagianya malam itu. Bahkan sesampainya di rumah, ia berdiri di hadapan cermin, mengusap bibirnya. Ia tak percaya bahwa cinta pertamanya lah yang juga mendapatkan sekaligus menerima ciuman pertama darinya.


''Janda memang lebih menggoda dan berpengalaman,'' gumamnya sambil senyum-senyum sendiri di depan cermin. Johan yang salah tingkah dengan sendirinya, lalu membanting tubuhnya di atas tidur. Di peluknya guling yang ada di sampingnya itu dengan erat.


''Tuhan, terima kasih. Terima kasih telah menyatukan aku dengan Tessa. Meskipun aku tidak bisa menjadi yang pertama tapi setidaknya aku bisa menjadi yang terakhir untuknya. Akhirnya penantianku selama ini tidak sia-sia. Meskipun aku harus menunggu selama bertahun-tahun.'' Celoteh Johan sebelum akhirnya ia tertidur dan terbang dalam mimpi indahnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2