Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 111 Kembali Bekerja


__ADS_3

Yukkkkk habis baca, like, komen dan votenya yaaa, makasih 🙏🙏❤️❤️


...*Happy Reading*...


 


“Marvel, akhirnya kamu pulang juga.” Kata Keira seraya memeluk Marvel yang baru saja pulang bersama Miko dan Gina.


“Mah, aku merindukanmu.”


“Mama juga merindukanmu, Marvel. Kak, maaf ya kalau kami selalu merepotkan.”


“Bukan kamu yang merepotkan, Kei. Tapi suamimu itu. Begitu berhasil belah durian, eh gangguin orang minta pagi-pagi jemput Marvel. Soalnya dia mau mabuk durian,” seloroh Miko.


“Papa ini bagaimana sih? Katanya mau membuatkan aku adik,  kenapa Papa malah ngajakin Mama pesta durian sih. Terus kapan adiknya jadi?’’ sahut Marvel dengan polosnya. Ucapan Marvel justru membuat Kevin, Keira, Gina dan Miko tertawa.


“Kamu tenang saja, Marvel. Adiknya sedang di proses. Tugas kamu adalah berdoa, supaya Tuhan mengabulkan permintaanmu.”


“Kalau itu pasti, Pah. Aku malam ini mau tidur bersama Papa dan Mama, boleh ya?”


“Tentu boleh, Marvel.” Sahut Keira.


“Marvel, kamu kan sudah besar. Jadi kamu tidur di kamar mu saja ya. Papa mau ngajakin Mama belah durian lagi.”


“Maaf ya, Mas. Sepertinya aku benar-benar mabuk durian dan terong, jadi aku akan pergi ke kamar bersama Marvel. Aku lelah karena kamu terlalu semangat untuk mencangkul.” Kata Keira sambil berlalu ke kamar bersama Marvel.


‘’Wah-wah, jurus apa yang kamu gunakan sampai Kiera mau, Kevin?”


“Mik, sebenarnya Keira adalah gadis yang menyelamatkan ku waktu itu. Gadis pemilik kalung itu.”


“Elo serius?”


“Iya. Dan hal itu yang buat perasaan gue semakin yakin dengan Keira.”


“Lalu, apa Keira mengingat sesuatu dengan kecelakaan itu?”


“Tidak, Mik. Dia mengalami trauma karena ledakan mobil yang menyebabakan kebakaran, dia bahkan sampai pingsan. Jadi, gue nggak mau maksa. Biar Keira mengingat dengan sendirinya. Apalagi saat itu dia masih berusi 9 tahun, sudah pasti ingatannya belum sesempurna itu. Di tambah dia harus menghadapi dan menjadi saksi kecelakaan tragis itu.”


“Iya sih. Apalgi saat itu dia masih 9 tahun, masih kecil juga ya. Ya semoga dengan seiring berjalannya waktu ada secercah harapan yang selama ini menjadi ganlan hati elo.”

__ADS_1


“Amin.”


“Ya udah kita pamit ya. Gue juga mau ngajak Gina belah durian sampai mabuk.”


“Sayang, malu sama Kak Kevin,’’ kata Gina.


“Tidak apa-apa. Kevin kalau udah bucin, urat malunya hilang.’’


“Sialan!” kata Kevin sambil meninju pelan bahu Miko.


 


Setelah Miko dan Gina pamit pulang, Kevin menysul ke kamar. Ia melihat Marvel sudah tertidur pulas dengan posisi di tengah, sementara Keira ada di ujung.


“Kei, cepat kamu pindah.” Pinta Kevin.


“Pindah kemana, Mas?”


“Kamu di tengah, biar Marvel di ujung. Nanti bagaimana caraku memeluk kamu kalau Marvel di tengah.”


“Astaga Mas, kamu ini. Bagus Marvel di tengah dong, di apit sama kita berdua.”


“Ya ampun Mas, manjanya kamu ngalahin Marvel deh” Keira akhirnya menuruti permintaan suaminya itu. Saat Keira sudah pindah, Kevin pun langsung naik ke atas ranjang. Keira pun memilih memunggungi Kevin karena ia ingin memeluk Marvel. Namun Kevin tidak kehilangan akal, ia memeluk Keira dari belakang sambil mengecup tengkuk Keira.


“Mas, jangan mulai ya. Nanti Marvel kebangun.”


“Aku hanya ingin memelukmu, jadi kamu jangan mesum dulu.” Kata Kevin.


“Dasar nyebelin banget.” Batin Keira.


 


-


 


Keesokan harinya di kantor, Kevin sudah mulai di sibukkan dengan segudang pekerjaan. Tumpukan berkas sudah memenuhi meja kerjanya.


“Selamat pagi Tuan Kevin!” suara seorang wanita mengagetkan Kevin pagi itu.

__ADS_1


“Mauren!” seru Kevin.


“Tuan Kevin, klien yang anda tunggu adalah Nona Maureen. Nona Mauren akan membantu kita memasarkan produk hingga ke benua Eropa.” Kata Siska yang berdiri di samping Mauren.


“Oh, baiklah. Kamu boleh keluar, Siska.”


“Baik Tuan, permisi.” Pamit Siska seraya undur diri.


“Untuk apa kamu datang kemari, Mauren?”


“Apa kamu tidak mempersilahkan aku duduk?”


“Duduklah,’’ singkat Kevin.


“Kamu tenang saja, Kevin. Aku bukan Mauren yang dulu. Aku sudah berubah dan sekarang sedang berbisnis. Aku dengar kamu sedang meluncurkan produk baru jadi aku datang kemari untuk membantu sekaligus mengajak kerja sama dengan perusahaanmu. Aku jauh-jauh dari Jerman, bukan tanpa alasan.” Kata Mauren berusaha meyakinkan.


“Lalu apa maumu sekarang?”


“Ayolah Kevin, jangan kaku-kaku. Melihatku seperti sedang melihat hantu saja. Aku datang kemari untuk urusan pekerjaan bukan untuk yang lain. Aku bukan Mauren yang pernah kamu kenal dulu. Aku sudah berubah. Aku sudah membaca proposal produk smart watch yang sedang kamu rancang. Tentu saja dengan koneksi yang aku punya dari luar, bisa membantu kamu mempromosikannya.” Mauren kemudian mengambil sebuah kursi supaya bisa duduk bersebelahan dengan Kevin. Mauren kemudian mengeluarkan ipadnya dan ia menunjukkan rancangan kerjanya pada Kevin. Untuk sejenak Kevin memberikan kesempatan pada Mauren untuk mempereesntasikan ususalnnya itu.


“Sebaiknya pasar yang kamu tuju jangan hanya orang dewasa saja apalagi kalangan menengah keatas tapi juga kalangan pelajar. Karena sudah pasti saat sekolah, mereka tidak di perbolehkan membawa ponsel jadi smart watch ini sangat memudahkan mereka untuk berkomunikasi dengan orang tua. Misal saja untuk menelepon orang tua saat mereka sudah tiba saatnya untuk pulang. Apalagi saat mendadak sekolah pulang pagi, itu sangat memudahkan mereka untuk komunikasi. Bayangkan saja jika smart watch ini bisa menjangkau seluruh pelajar di Indonesia, kamu bisa menghitung keuntungannya. Fungsinya hampir sama dengan smart phone. Ada SIM Card di dalamnya, mereka bisa mengisinya dengan pulsa atau kuota seperti ponsel biasa. Proyek inilah yang membawaku kembali, sekaligus aku ingin membuktikan kalau aku bukan Mauren yang dulu. Yang bukan hanya bisa mengejar cintamu saja.’’ Jelas Mauren panjang lebar. Kevin terdiam karena tidak menyangka kalau Mauren benar-benar berubah dan mempunyai ide yang brilian.


“Aku setuju dengan idemu.” Jawab Kevin.


“Serius?” tanya Mauren seolah tak percaya.


“Iya. Sebaiknya kamu juga terlibat langsung dalam proyek ini. Idemu mengejutkan, Mauren.”


“Rasanya aku bahagia sekali. Baiklah kalau begitu mari kita kerjakan.” Kata Mauren dengan semangat. Kevin hanya menanggapinya dengan senyuman.


“Sebaiknya kita pindah saja di sofa.”


“Oke.” Jawab Mauren dengan wajah sumringahnya. Bagi Mauren, Kevin adalah cinta pertamanya. Pertemuan itu terjadi saat orang tua mereka menghadiri gala dinner, disanalah awal pertemuan mereka. Saat itu keduanya masih duduk di bangku SMA.  Orang tua Mauren berencana menjodohkan Kevin dengan  Mauren dengan maksud, supaya bisnis keluarga Mauren bisa ikut berkembang karena sudah pasti, orang tua Mauren akan mendapatkan saham yang sangat besar jika Mauren menikah dengan Kevin. Namun orang tua Kevin tidak meresponnya. Apalagi saat orang tua Kevin mengetahui kalau bisnis yang di jalani oleh orang tua Mauren adalah bisnis illegal. Belum sempat mengungkap fakta itu pada Kevin, orang tua Kevin sudah terlebih dahulu meninggal. Kekecewaan orang tua Mauren semakin dalam, saat mengetahui kalau Kevin menikahi wanita lain, bukannya Mauren. Mauren sempat mengusi kehidupan rumah tangga Kevin dan Kania namun itu taak berselang lama karena Kevin dengan tegas mengatakan tidak memiliki rasa apapun pada Mauren. Akhirnya Mauren memilih melanjutkan kuliah di Amerika di tengah kabar Papanya sakit dan perusahaan Papanya sedang dalam masalah. Beberapa aset di sita karena orang tua Kevin lah yang melaporkan kebusukan bisnis orang tua Mauren. Namun orang tua Kevin sudah meninggal sebelum siding di mulai, hingga kasus itupun di tutup dengan cara menyuap jaksa serta hakim supaya orang tua Mauren bebas dari tuntutan. Bahkan sampai detik ini pun Kevin belum mengetahui masalah itu. Dengan beasiswa pendidikan yang ia dapat, Mauren sungguh-sungguh untuk meneruskan pendidikannya dan melupakan Kevin sejenak dalam hidupnya. Dan setelah lima tahun berlalu, Mauren pun kembali untuk mendapatkan hati Kevin dengan cara yang lebih elegan.


Visual Mauren



 

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2