
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kevin pergi meninggalkan kantor dan kembali ke rumah. Saat sudah sampai di rumah, lagi-lagi Bi Nani yang sedang membersihkan ruang tengah, terkejut melihat Kevin yang pulang sendrian.
“Pagi tuan!” sapa Bi Nani.
“Pagi Bi. Marvel masih tidur ya?” tanya Kevin sambil berlalu.
“Lho bukanya sama tuan ya? Atau memang di bersama tuan Miko?”
“Maksud Bibi apa?” tanya Kevin yang seketika menghentikan langkahnya.
“Kan dari semalam Den Marvel belum pulang tuan, bahkan Nona Keira juga belum pulang dari semalam.”
“Apa? Jadi mereka belum pulang dari semalam?” kata Kevin dengan mata membulat.
“I-iya tuan.” Jawab Bi Nani tergagap. Bi Nani pun ikut khawatir.
Kevin kemudian merogoh ponsel di sakunya dan menekan nama Miko. Miko yang sedang sarapan bersama Gina, segera menerima panggilan masuk dari Kevin dengan mode loudspeaker.
“Ada apa, Kevin?”
“Halo, Mik. Marvel sama Keira disana nggak?” tanya Kevin dengan suara yang terdengar panik. Miko dan Gina tersenyum kecut saat mendengar suara Kevin di seberang sana. Keduanya tak habis pikir, bagaimana bisa sekarang Kevin baru menanyakan keberadaan putranya.
“Bukannya udah sama elo ya? Soalnya pas elo pergi, Marvel juga pergi dan Keira mengejarnya. Ya gue pikir kalian udah ketemu dan ulang tahun Marvel happy ending,’’ sindir Miko.
“Kata Bibi mereka tidak pulang semalaman.”
“Ya elo coba aja telepon Keira. Gue udah nggak mau ikut campur, elo sendiri kan yang minta kalau gue nggak usah ikut campur urusan elo dan elo minta gue buat urus, urusan masing-masing. Jadi elo cari saja Marvel sendiri. Itu tanggung jawab elo sebagai seorang Ayah. BYE!” Tegas Miko panjang lebar sambil mengakhiri panggilannya begitu saja.
“Sekali-kali Kak Kevin perlu di kasih pelajaran,” sahut Gina.
“Bener banget sayang, biar kapok tuh si kepala batu.” Kata Miko dengan kesal.
-
“Miko benar-benar tersinggung dengan ucapanku kemarin, sialan tuh anak!” gerutunya. Kevin lalu mencari nama Keira di daftar kontak ponselnya namun tidak ada nama Keira disana.
“Kemarin Marvel kan menelpon Keira dan dia menyimpan nomor Keira tapi kenapa tidak ada di daftar kontak ya,” gumam Kevin sambil menscroll abjad K berkali-kali. Lalu Kevin mencoba melihat riwayat panggilan keluar dan Kevin sangat terkejut saat ada panggilan keluar dengan nama ISTRIKU dengan emoticon hati.
“Pasti ini perbuatan Marvel, bagaimana mungkin dia memberi nama kontak Keira seperti ini. Tapi aku coba saja. Mereka berdua benar-benar membuatku pusing.” Kevin terus mengoceh dengan segala rasa khawatir yang bersarang di benaknya. Kevin akhirnya mencoba menelepon Keira tapi tidak bisa karena ponsel Keira mati.
Sedangkan Keira sendiri sedang membuat sarapan untuk Marvel. Keira melihat ada roti dan selai coklat jadi ia memutuskan untuk membuat roti bakar. Tak lupa ia juga membuatkan sarapan untuk Ferdi, sebenarnya Keira malas sekali melakukannya tapi karena Ferdi sudah menolongnya jadi ia juga membalas kebaikan Ferdi.
Tiga porsi roti bakar, satu gelas susu hangat untuk Marvel, secangkir teh panas Keira dan vanilla latte panas untuk Ferdi. Keira tidak sadar kalau ia masih ingat minuman kesukaan Ferdi.
__ADS_1
Setelah semuanya siap, Keira kemudian membangunkan Marvel. Marvel benar-benar tidur dengan sangat lelap.
“Marvel, bangun sayang,” kata Keira dengan belaian lembutnya. Mendengar suara Keira, Marvel perlahan terbangun. Ia mengucek matanya dan pandangannya mengedar. Tempat yang asing untuk Marvel.
“Mah, kita diamana?”
“Kita di apartemen Om Ferdi. Kan kamu sendiri yang memaksa untuk ikut,” kata Keira berusaha mengingatkan.
“Ayo bangun, mama sudah membuat sarapan untukmu.” Lanjut Keira.
“Terima kasih ya, mah.”
“Iya sama-sama.” Keira kemudian mengajak Marvel keluar dari kamar. Di luar rupanya Ferdi sudah bangun dan sedang memotong buah.
“Selamat pagi Keira! Selamat pagi, Marvel!” sapa Ferdi dengan senyum lebarnya. Marvel hanya menatap dingin Ferdi tanpa meresponnya.
“Ini aku sudah memotong buah untuk kalian. Maaf ya aku bangun terlambat, seharusnya aku yang menyiapkan sarapan untuk kalian tapi malah kamu Kei yang membuatnya.”
“Tidak apa-apa. Lagi pula aku disini kan numpang,” jawabnya ketus.
“Terima kasih juga kamu masih ingat minuman kesukaanku,” kata Ferdi seraya menyesap vanilla latte itu sambil menatap kearah Keira.
“Sial! Kenapa aku masih ingat sih? Seharusnya aku membuatkannya kopi sianida saja,” gerutunya dalam hati.
“Aku tahu Kei kamu masih ingat. Kamu bisa saja membuatkan aku jus, teh atau susu tapi kamu memilih vanilla latte,” gumam Ferdi dalam hati.
“Dasar pria plin-plan. Sudah menyakiti tante Keira tapi juga bisa merayunya.” Batin Marvel dengan kesal.
“Mah, setelah ini aku mau pulang saja.”
“Baiklah tapi habiskan dulu sarapannya.”
“Iya mah.”
“Biar setelah ini aku antar kalian ya.”
“Tidak perlu, Fer. Kami akan naik taksi saja. Terima kasih untuk semua kebaikanmu Selama ini dan maaf kalau kami merepotkanmu. Aku hanya tidak ingin terjadi salah paham apalagi kalau tunangan kamu sampai tahu.”
Mendengar ucapan Keira, Ferdi hanya bisa mengangguk dengan memaksa senyumnya. Ia tidak bisa melawan ucapan Keira karena ia sadar kalau ia memang salah. Setelah selesai sarapan, Keira dan Marvel segera pulang dengan menggunakan taksi.
-
__ADS_1
Di rumah, Kevin pun panik bahkan ia sampai menelpon polisi tapi polisi menolak adaunnya karena belum 2x24 jam. Bi Nani dan Mbak Rima pun juga ikut khawatir. Bahkan mereka juga berusaha menelepon Keira tapi tetap tidak bisa.
“Miko pasti tahu sesuatu tapi dia sengaja menyembunyikannya dariku,” gumam Kevin. Satu jam sudah Kevin di landa rasa panik dan khawatir. Duduk, berdiri, mondar-mandir sampai mencoba menghubungi Keira berkali-kali tapi tetap tidak bisa.
“Bi, aku akan keluar mencari mereka. Aku tidak bisa menunggu seperti ini.”
“Baik tuan. Semoga mereka segera di temukan,” kata Bi Nani dengan suara bergetar menahan tangis. Belum sempat Kevin melangkah keluar, Marvel dan Keira pun datang.
“Den Marvel-Nona Keira!” seru Bi Nani dan Mbak Rima bersamaan. Mereka lalu mendekat dan saling bergantian memeluk Keira dan Marvel.
“Syukurlah Den Marvel dan Non Keira baik-baik saja. Kami semua sangat khawatir,” kata Mbak Rima.
“Darimana saja kalian? Ponselmu juga kenapa tidak bisa di hubungi?'' suara Kevin pun mulai meninggi.
“Ponselku mati kehabisan baterai,” singkat Keira.
“Marvel, darimana kamu? Kenapa main pergi begitu saja? Kamu mau menjadi pembangkang? Iya?” emosi Kevin tak terkontrol lagi. Keira menggenggam erat tangan Marvel, berusaha menenangkan Marvel untuk tidak terpengaruh oleh amarah papanya.
“Bisakah anda bicara lebih pelan tuan?” sahut Keira.
“Semua ini pasti karena kamu yang mengajari kan? Sejak mengenalmu dia menjadi pembangkang dan berani melawanku.” Marah Kevin sambil menunjuk Keira.
“Mama Keira tidak salah! Papa yang salah! Papa jahat! Aku benci papa!” Marvel pun marah dan meluapkan kekesalannya. Ia kemudian berlari menuju kamarnya. Bi Nani dan Mbak Rima pun memilih menyusul Marvel daripada mendengar pertengkaran antara Kevin dan Keira. Keira menatap sinis kearah Kevin. Keira benar-benar tidak bisa lagi sabar menghadapi sikap keras kepala dan egois Kevin. Keira lalu menarik lengan Kevin dengan kuat dan membawanya ke kamar tamu di lantai bawah. Ia tidak ingin petengkarnnya di lihat oleh Marvel.
“Kenapa kamu membawaku kesini? Kamu mau mencoba merayuku supaya aku memaafkanmu? Iya?”
Keira menghela nafas panjang, tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kevin.
“Dimana sih perasaan kamu sebagai seroang ayah? Apa kamu tidak memikirkan perasaan Kevin? Bertahun-tahun kamu membuatnya kecewa. Tidakkakh kamu berpikir untuk anak seusia Marvel sangat membutuhkan kasih sayang seorang Ibu. Dan bagaimana perasaan Marvel yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu? Pikirkan itu tuan! Aku heran dengan pola pikirmu. Apa salah MARVEL? Dia hanya kecil yang tidak tahu apa-apa.’’ Marah Keira yang sudah tidak bisa tertahan.
“Kamu tidak berhak ikut campur! Kamu hanya orang luar yang masuk ke dalam kehidupan kami.”
“Aku berhak ikut campur untuk waktu satu minggu ini karena aku mamanya. Apa kamu bisa merasakan betapa sakitnya hati Marvel? Kamu sudah menanamkan rasa sakit yang luar biasa padanya. Memangnya apa yang membuatmu bersikap sinis bahkan menolak merayakan ulang tahunnya/ apa tuan? Jangan salahkan aku kalau aku berkata kasar,” kata Keira sambil menarik kerah kemeja Kevin. Kevin tidak menyangka kalau Keira berani bersikap seperti itu padanya.
“Kenapa? apa kamu tidak menyangka aku bisa melakukan hal seperti ini? Bahkan aku pun bisa melayangkan tinju ini pada wajahmu TUAN KEVIN.”
“Kamu pikir, aku tidak merasa sakit? kamu pikir aku tidak merasa tersiksa dengan semua ini? Seharusnya sampai detik ini Kania masih bisa aku pertahankan untuk hidup. Selama ini Kania bukan meninggal karena sakit tapi karena kecelakaan disaat rasa sakitnya kambuh tiba-tiba. Dan itu semua karena apa? Karena Marvel yang memaksa minta membuatkan kue ulang tahun. Kania memaksa pergi keluar hanya untuk membeli bahan kue tapi apa? di tengah jalan, saat akan berjalan menuju mobil, sakitnya kambuh dan ia tertabrak mobil. Dan dia meninggal sesaat setelah aku tiba di rumah sakit!” mendengar cerita Kevin yang begitu emosional bahkan dengan air mata yang membasahi wajahnya, membuat Keira melonggarkan cengkramannya di kerah kemeja Kevin.
“Sejak saat itu aku tidak pernah mau merayakan ulang tahun Marvel. Aku menyembunyikan ini semua sendirian. Aku tidak ingin Marvel tahu kalau mamanya meninggal karena kecelakaan, apalagi di saat hari ulang tahunnya. Bahkan aku berbohong pada Marvel dengan alasan mamanya meninggal karena sakit mamanya kambuh. Kamu pikir aku tidak terluka? Disisi lain aku bahagia tapi di satu sisi hatiku sangat hancur mengingat semua kejadian buruk itu. Seandainya hari itu aku menemaninya pergi, seandainya hari itu rengekan Marvel tidak menyusahkan Kania dan seandainya Kania tidak memaksaku pergi ke kantor, itu semua tidak akan terjadi! Aku masih bisa membantu memperjuangkan hidup Kania yang menderita kanker Rahim. Setidaknya dia masih bisa bertahan lebih lama disisiku,” cerita Kevin panjang lebar dengan mata yang memerah dan suara bergetar. Mendengar semua kesakitan Kevin, tak terasa air mata Keira jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
Bersambung……Yukkk tinggaljan jejaknya yaa, terima kasih 🙏🙏❤️❤️