Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 204 Saling Memahami


__ADS_3

''Oke Kak, finish! Kalian bertiga memang fotogenic sekali. Aku akan mencetak foto kalian yang super besar dan akan aku tempel di studio ku, boleh kan?'' kata Gina.


''Tentu saja boleh, Gin. Biar semua orang tahu kalau kita itu semua istri. Terus masukkan semua foto kita di akun sosmed studiomu. Jangan lupa beri caption yang manis ya. Setelah itu kirim fotonya lewat ponselku, aku akan menggunakannya sebagai walpaper layar ponselku. Begitu juga Keira wajib memakai walpaper itu, jangan hanya ada foto pemandangan di layar ponselnya.'' Cerocos Kevin panjang lebar.


''Iya Kak. Tenang saja jangan khawatir.''


''Kamu juga Kei, jangan memancing kecemburuan suami mu. Sudah tahu dia sangat cemburu dengan Leon,'' timpal Miko.


''Maaf Kak. Habis mau gimana lagi? Aku juga tidak memintanya, dia yang menawarkan diri.''


''Aku lihat hasil vote tertinggi masih kamu dan Leon yang memegangnya. Tapi kalian bertiga memang serasi sih,'' celetuk Miko yang sengaja menjadi kompor untuk Kevin.


''Jangan membuat mood ku jadi jelek, Mik. Dasar adik kurang ajar!" kata Kevin dengan wajah kesalnya.


''Marvel, kamu juga harus jaga Mama ya. Jangan sampai ada pria lain yang mengambil Mama darimu.'' Kata Gina pada Marvel.


''Iya Tante, aku mengerti. Aku memang sengaja membuat kesal Papa dengan menerima tawaran Om Leon. Habisnya Papa terlalu sibuk sampai menunda janjinya mendadak. Lagi pula aku hanya tertarik dengan hadiahnya, Tante. Hanya itu saja tidak lebih.''


''Tante mengerti anak pintar,'' kata Gina sambil mengusap kepala Marvel. Mendadak Keira merasa mual dan ingin muntah.


''Huek!" Keira menutup mulutnya.


''Kei, kamu baik-baik saja?''


''Aku mendadak mual dan ingin muntah, Mas.'' Keira tidak tahan lagi dan muntah mengenai pakain Kevin. Kevin hanya bisa pasrah saat muntahan Keira mengenai pakaiannya.


''Maaf Mas, aku benar-benar tidak tahan. Kepalaku pusing juga.'' Kata Keira sambil memegangi perutnya dan kepalanya.


''Tidak apa-apa sayang.'' Kevin segera melepas kemejanya yang kotor itu. Dengan bertelanjang dada, Kevin menggendong Keira dan membawanya ke kamar.


''Oh so sweet.'' Kata Gina sambil menggigit jemarinya.


''Kamu ingin juga?'' tanya Miko.


''Hehehe nanti saja ya sayang, kalau sudah di rumah. Sebaiknya aku membuatkan Keira minuman.''


''Oke baiklah. Aku akan menemani Marvel.''


''Om, Mama baik-baik saja kan?''


''Mama baik-baik saja, Marvel. Itu dedek bayinya sedang rewel. Mungkin dia juga kecapekan soalnya kan habis di foto. Apalagi fotonya sampai tiga jam lebih. Jadi biar Papa mengurus Mama dulu ya.''


''Oke, Om.''

__ADS_1


Setelah sampai di kamar, Kevin merebahkan tubuh Keira di atas tempat tidur. Kevin lalu mengambil minyak angin dan membalurkan ke perut Keira.


''Baby sayang, kamu pasti capek ya. Sampai membuat Mama seperti ini. Kamu tenang ya.''


''Maaf ya Pah, aku harus mengotori pakaian Papa.''


''Tidak apa-apa sayang, kamu kan tidak sengaja. Ya sudah aku ganti pakaian dulu ya.''


''Sebentar Mas,'' kata Keira sambil menahan tangan suaminya.


''Ada apa lagi, sayang?''


Mendekatlah,'' kata Keira dengan suara manja. Kevin terseyum lalu mendekatkan tubuhnya pada Keira. Keira kemudian memeluk dada bidang suaminya.


''Aku ingin memelukmu seperti ini, Mas. Hmmmm harum sekali.'' Kata Keira sambil mengecup berkali-kali dada suaminya itu dengan gemas.


''Sayang, kamu jangan memancing ular yang sedang tidur ya. Nanti kalau di bangun, bisa bahaya. Dia akan memakan mangsanya sampai habis.''


''Sebentar saja, Mas. Sepertinya anak kita nanti perempuan deh. Soalnya kalau lihat papanya seoerti ini, dia sangat suka.''


''Anaknya atau Mamanya?'' goda Kevin.


''Dua-duanya, hehehe.''


''Permisi,'' suara Gina sambil membawa nampan berisi minuman hangat untuk Keira.


''Eh Mbak, tidak apa-apa.'' Kata Keira tanpa melepaskan pelukannya.


''Aku buatkan teh jahe hangat untuk meredakan mualmu, Kei.'' Kata Gina sambil meletakkan minuman itu di atas nakas.


''Terima kasih ya, Mbak.''


''Sama-sama.''


''Terima kasih ya, Gin.'' Sahut Kevin.


''Sama-sama Kak. Baiklah aku keluar dulu karena sepertinya Ibu dan bayinya sedang ingin bermesraan.''


''Ya sepertinya memang begitu, Gin. Dia bahkan menahanku untuk berganti pakaian.''


''Namanya juga bawaan baby, Kak. Permisi Kak.'' Kata Gina seraya meninggalkan kamar Kevin.


''Ya Allah, semoga aku juga segera hamil. Ingin sekali merasakan nikmatnya menjadi Ibu hamil.'' Gumam Gina sambil mengelus perutnya.

__ADS_1


-


Di cafe, Johan sedang sibuk mengecek kelengkapan bahan baku untuk persiapan pembukaan cafenya, tampak Tessa menemaninya disana. Namun suasana tampak canggung di antara keduanya. Tessa merasa kalau Johan menjaga jarak dengannya. Bahkan Johan selalu terlihat sibuk untuk menghindari komunikasi dengan Tessa. Setelah persiapan bahan baku beres, Johan mengumpulkan tujuh karyawan untuk ia berikan pengarahan. Tessa hanya bisa menatap kesibukan Johan dari jauh.


Tessa yang lelah, memilih untuk duduk di dekat jendela.


''Kenapa Mas Rendy harus kembali? Sekarang Johan sangat menjaga jarak denganku.'' Gumam Tessa dalam hati. Setelah selesai memberi pengarahan, Johan melihat Tessa yang tampak melamun. Ada rasa bersalah dalam lubuk hatinya karena ia menjaga jarak dengan Tessa. Johan kemudian berjalan kearah Tessa lalu duduk di hadapannya.


''Tessa,'' panggil Johan.


''Eh Jo, sudah selesai?'' tanya Tessa yang tersadar dari lamunannya.


''Sudah. Anrez tumben tidak ikut?''


''Anrez bersama Papanya. Papanya mengajaknya jalan-jalan.''


''Oh...,'' singkat Johan. Tessa kemudian meraih tangan Johan dan menggenggamnya.


''Jo, maafkan aku ya. Aku tidak tahu kenapa Mas Rendy masuk dalam kehidupan kita. Bahkan sekarang Anrez ketergantungan sekali dengan Papanya. Aku sangat sedih kareja kamu menjaga jarak denganku.''


''Tessa, bagaimana perasaan kaku dengan Rendy? Apakah rasa itu muncul di hati kamu?''


''Tidak, Jo. Aku sudah mati rasa dengan Mas Rendy. Aku membiarkannya bersama Anrez karena dia sedang sakit. Itu juga dengan persetujuan kamu. Aku mohon kamu percaya sama aku ya, Jo.''


''Tessa, aku percaya denganmu. Tapi jujur saja melihat kebersamaan kalian bertiga, membuatku cemburu. Tapi aku juga tidak boleh egois jadi maaf kalau aku memilih me jaga jarak denganmu sementara. Aku juga sedih karena aku jauh dengan Anrez tapi aku sadar, kalau aku tidak bisa menggeser posisi Ayah kandungnya. Aku ingin Anrez mendapat kenangan indah sebelum Papanya benar-benar pergi. Setidaknya ingatan buruk Anrez tentang Papanya, terhapuskan dengan ingatan yang indah. Aku ingin kamu selesaikan dulu masa lalumu, Tessa.''


''Jo tapi kamu tidak akan meninggalkan aku kan?''


''Tidak ada alasan bagi aku untuk meninggalkan kamu, Tessa.''


''Jo, aku sebenarnya masih takut dan trauma berdekatan dengan Mas Rendy.''


''Lawab rasa takutmu, Tessa. Kamu cukup waspada saja dan jaga baik-baik Anrez.''


''Entah kenapa feelingku tidak enak dengan Mas Rendy. Perubahannya terlalu mendadak dan begitu drastis.''


''Kamu tetap waspada saja ya, Tessa. Kalau kamu menemukan sesuatu yang aneh, kamu segera hubungi aku dan pastikan bersikaplah tenang di hadapannya ya. Kamu pasti sudah paham dengan sifatnya jadi pasti mudah sekali melihat apakah dia tulus atau hanya berpura-pura.''


''Aku beruntung sekali memiliki kamu, Jo. Kamu lebih dewasa dari usiamu. Aku tidak tahu kalau saat ini tidak ada kamu disisi aku. Kamu bisa mengerti aku dan apa yang kamu ucapkan selalu menenangkan hati. Terima kasih ya, Jo.''


''Sama-sama Tessa. Maaf juga kalau aku terpaksa menjauhi kamu belakangan ini. Hal itu bukan membuatku baik-baik saja tapi justru membuatku semakin terluka.''


''Tidak apa-apa Jo. Aku ingin kita hadapi ini sama-sama ya.''

__ADS_1


''Iya Tessa.'' Kata Johan sambil membelai lembut wajah Tessa.


Bersambung.... Maaf ya baru up, next episod besok ya, authornya sedang sibuk dan ada pekerjaan lain 🙏🙏 Tapi like, komen dan votenye jangan berhenti ya, makasih 🙏😁😘


__ADS_2