
Keesokan harinya, Kevin mengajak Keira dan Marvel untuk jalan-jalan menikmati indahnya pagi di jalanan sekitar vila. Kabut tebal pun masih menyelimuti indahnya pegunungan dan area perbukitan.
“Dingin ya, Mas.”
“Makanya tadi aku memintamu memakai mantel sayang.” Ucap Kevin sambil menggenggam erat tangan istrinya. Sementara Marvel sudah melangkah di depan dengan cerianya.
“Lihat Marvel, Mas. Dia sangat bahagia dan ceria sekali.”
“Iya sayang, aku sudah tidak sabar menunggu anak kita yang masih di perut kamu. Nanti kita kesini lagi sudah berempat.''
“Kira-kira cewek apa cowok ya, Mas?”
“Mau cewek atau cowok sama saja, sayang. Yang penting dia sehat.”
“Iya Mas tapi aku berharapnya cewek biar aku ada temannya tapi kalau cowok lagi juga tidak masalah karena sudah pasti aku yang paling cantik, hehehe.”
“Tentu saja kamu selalu menjadi yang tercantik. Kita ke danau ya, ada perahu rakit bambu disana.”
“Boleh Mas.”
“Marvel, kita ke danau ya nak!” teriak Marvel.
“Iya Pah!” jawab Marvel dengan berteriak juga. Karena Marvel sudah berada cukup jauh di depan Kevin dan Keira.
Setelah sampai di danau, mereka bertiga lalu naik perahu rakit bambu sambil menikmati pemandangan pagi yang begitu indah. Terdengar jelas suara kicauan burung yang begitu merdu.
“Jam segini perahunya sudah ada ya Mas?”
“Sudah dong sayang. Kalau weekend gini mereka jam 6 pagi sudah stand by di danau.”
“Wah Pah, ini keren banget! Sudah lama sekali kita tidak kemari.”
“Iya Marvel, maafkan Papa ya yang baru bisa mengajakmu kesini setelah bertahun-tahun.”
“Tidak apa-apa Pah. Yang jelas aku bahagia sekali, terima kasih ya Pah.”
“Sama-sama, Marvel. Oh ya setelah ini bagaimana kalau kita memancing?”
“Setuju Pah!”
“Memang ikan di danau ini boleh di pancing, Mas?”
“Bukan disini sayang tapi ada tempat pemancingan. Kita bisa memancing bebas dan ikannya besar-besar.”
“Mas, ngomongin ikan, aku malah ingin makan ikan bakar. Kita makan ikan bakar yuk.” Rengek Keira.
__ADS_1
“Waduh! Salah ngomong nih.” Batin Kevin.
“Iya sayang, habis ini ya. Kebetulan tempat pemancingannya itu jadi satu dengan rumah makannya jadi kita bebas pilih ikan soalnya hasil pancingan kita bisa langsung dimasak disana.”
“Cocok itu, Mas. Ikannya fresh.”
“Iya tapi bukanya jam 9. Sedangkan ini baru setengah 7.”
“Yah masih lama, padahal aku pingin banget lho, Mas. Ayolah Mas, buktikan kekuasaanmu. Aku sudah tidak sabar ingin makan ikan bakar. Menunggu 2,5 jam itu lama sekali. Nanti dedeknya nangis lho.”
“Aduh, kalau sudah seperti ini aku harus bagaimana? Seharusnya aku tidak membahas ikan. Kalaupun di tempat lain, mana ada restoran jam segini yang sudah buka.” Gumam Kevin dalam hati.
“Mas ayo!” rengek Keira sambil mengguncang lengan suaminya.
Kevin mendengus. “Baiklah ayo! Kita lihat dulu sudah buka apa belum. Tapi kalai masih tutup kamu jangan marah ya?”
“Ya harus cari di tempat lain.”
“Tuh kan benar dugaanku,” batin Kevin.
“Marvel, ayo kita beli ikan bakar. Mama ngidam ikan bakar.” Kata Kevin.
“Oke Pah. Kebetulan perutku sudah lapar juga. Daritadi dengan Papa dan Mama membahas ikan bakar, aku juga jadi pingin, hehehe.”
Kevin merutuk dalam hati. “Ini lagi si Marvel malah ikut-ikutan Mamanya.”
“Tuh kan masih tutup sayang,” ucap Kevin.
“Terus gimana Mas? Aku beneran pingin banget.” Rengek Keira sambil bergelayut di lengan suaminya.
“Kita makan yang lain saja ya?” bujuk Kevin.
“Tidak mau! Aku maunya ikan bakar, Mas. Aku hanya mau makan dengan ikan bakar titik!”
Kevin mengacak rambutnya, frustasi dan bingung apa yang harus di lakukan. Namun tiba-tiba Keira melihat asap di salah satu vila di dekat bukit yang tak jauh dari rumah makan itu. Lalu ia mencium aroma ikan bakar.
“Mas, disana ada yang jual ikan bakar!” tunjuk Keira dengan sangat antusias.
“Sayang, disana villa pribadi milik orang, bukan rumah makan.”
“Iya tapi ayo kesana, Mas! Kita minta makan sama mereka.”
“Minta makan? Astaga sayang, minta makan sama mereka seperti aku tidak memberimu makan saja.” Keluh Kevin.
“Ya, kita beli deh makanan mereka Mas. Ayolah Mas, bilang saja kalau aku sedang ngidam, mereka pasti mau berbagi.”
“Pah, ayolah kasihan Mama. Aku tidak apa-apa makan nanti saja yang penting Mama dan adik dulu.” Sahut Marvel. Ucapan Marvel adalah sebuah dukungan untuk Keira namun beban untuk Kevin. Setelah diam beberapa saat, Kevin menghela nafas panjang dan akhirnya setuju dengan permintaan istrinya.
__ADS_1
“Oke baiklah, kita coba ke villa itu.”
“Terima kasih ya suamiku.” Ucap Keira seraya memberikan kecupan di pipi suaminya.
Kevin, Keira dan Marvel kemudian menuju villa tersebut.
“Permisi!” ucap Kevin yang sudah berdiri di depan pintu gerbang villa itu.
“Permisi!” sambung Keira dengan suara lebih kencang. Tak lama kemudian penjaga villa tersebut pun keluar.
“Iya Tuan-Nyonya, ada yang bisa saya bantu?”
“Maaf Pak, apakah di dalam ada yang sedang membakar ikan?”
“Iya Tuan, kebetulan majikan saya dan keluarganya sedang berakhir pekan disini.”
“Begini Pak, istri saya sedang hamil dan sedang mengidam ingin ikan bakar. Tadinya mau beli, tapi rumah makan disana masih tutup dan kami mencium aroma ikan bakar dari sana. Kalau boleh saya ingin membeli untuk istri saya.” Jelas Kevin.
“Oh begitu, sebentar ya Tuan, saya panggil majikan saya dulu.”
“Iya Pak, saya tunggu.”
Penjaga villa itu kemudian segera pergi untuk memanggil majikannya. Dan setelah menunggu sekitar lima menit, penjaga villa itu kembali dengan majikannya yang tak lain adalah Leon. Seketika ekspresi wajah Kevin berubah masam dan ia mendengus kesal.
“Leon!” seru Keira dengan mata berbinar.
“Keira, kamu disini?” ucap Leon yang tidak percaya bahwa yang di maksud penjaga villanya adalah Keira.
“Pak, buka gerbangnya.” Pinta Leon.
“Baik Tuan.”
“Ayo silahkan masuk!” kata Leon.
“Tuan Kevin, apa kabar?” sapa Leon sambil mengulurkan tangannya pada Kevin.
“Baik. Jadi ini villa milikmu.” Ucap Kevin seraya menerima uluran tangan Leon.
“Iya tapi baru tiga tahun yang lalu kami membelinya.”
“Halo Marvel!” sapa Leon sambil mengusap kepala Marvel.
“Halo juga, Om. Oh ya apa di villa Om ada kolam ikannya juga?”
“Kebetulan iya. Hanya kolam ikan pribadi saja jadi kita bisa memasak ikan kapan saja disini. Ayo kita kebelakang.” Leon menyambut ramah kedatangan Keira dan Kevin di villanya.
“Syukurlah kalau villa ini milikmu, Leon. Tapi aku juga tidak enak karena terus merepotkanmu.” Kata Keira.
“Tidak masalah Kei, bukankah kita teman? Jadi apa salahnya kita saling membantu.”
__ADS_1
“Kenapa pemilik villa ini dia sih? Kenapa harus dia? Aku berusaha menjauhkan Keira dari manusia ini tapi selalu saja serba kebetulan seperti ini? Kenapa selalu saja berhubungan dengan Leon? Tidak bisakah villa ini milik orang lain saja? Setelah ini aku akan membuat kolam ikan juga, supaya saat aku kesini dan istriku meminta ikan, bisa mengambil di villa sendir tanpa harus meminta dari Leon ataupun beli di luar.” Kevin benar-benar merutuk dalam hati.
--->>