
Biarkan Kevin dan Keira menikmati bulan madu ya, kita cussss ke topik percintaan tokoh yang lain, semoga Keira segera hamil hehehehe... Jangan lupa like, komen dan votenya ya, makasih 🙏🙏😘😘
...-Selamat Membaca-...
Siang itu di sebuah cafe, Mauren tampak kesal karena Kevin mendadak pergi bulan madu tanpa pamit padanya. Seharusnya ia bisa menggagalkan rencana itu. Ia sedari tadi hanya mengaduk minuman di hadapannya sambil melihat media sosial Kevin yang memposting foto bulan madunya dengan Keira.
''Setelah Kania pergi, eh nongol lagi yang lagi. Tapi tenang Mauren, masih banyak jalan menuju Roma. Seharusnya saat dulu aku tidak menyerah dan memutuskan pulang. Tapi ya sudahlah, setidaknya Kevin tidak sejutek dulu padaku. Pelan tapi pasti.'' Kata Mauren yang sedang berbicara pada dirinya sendiri.
''Selamat siang Nona Mauren,'' sapa Leon tiba-tiba. Leon pun langsung duduk di hadapan Mauren.
''Kamu rupanya.'' Ucapnya sinis.
''Sendirian saja, Nona?''
''Menurutmu?''
''Wah, judes sekali. Senang bisa bertemu kamu disini. Sepertinya kamu sedang kesal.''
''Tidak juga. Kamu disini untuk apa?''
''Aku hanya ingin minum kopi saja sambil menikmati makan siang. Kamu sudah makan?''
''Aku sedang diet jadi minum jus saja.''
''Oh begitu. Oh ya bagaimana kabar Keira? Aku sudah lama tidak melihatnya.''
''Dia dan suaminya sedang pergi bulan madu.''
''Ohh...,'' singkat Leon. Ia lalu menundukkan pandangannya penuh dengan rasa kecewa. Mauren mengamati ekspresi wajah Leon yang menyiratkan sesuatu.
''Apa Keira sudah mulai mencintainya?'' gumam Leon dalam hati.
''Kenapa wajahmu mendadak berubah?'' selidik Mauren.
''Tidak apa-apa.'' Jawabnya.
''Nah, akhirnya kopi ku datang juga," kata Leon saat melihat pelayan datang mengantar kopinya.
''Terima kasih,'' ucapnya pada pelayan itu.
''Apa sebenarnya kamu dan Keira adalah teman? Atau mungkin punya hubungan di masa lalu?'' selidik Mauren.
''Oh tidak, Nona. Aku pertama kali bertemu dengannya saat di panti jompo itu. Dia kebetulan sedang magang, sudah itu saja. Hanya sebatas itu perkenalan kami.''
''Oh, aku pikir kalian pernah hubungan.''
''Kalau Nona dengan Tuan Kevin? Sepertinya kalian memang dekat.''
''Iya kami teman lama dan pernah satu sekolah. Jadi kedekatan kami memang sudah lama bahkan sebelum dia menikah untuk yang kedua kalinya. Jadi aku cukup tahu banyak tentang kehidupan pribadnya. Tapi sayang sekali untuk pernikahan keduanya, dia sama sekali tidak mengundang. Aku kembali bukan hanya untuk bisnis saja tapi untuk memarahinya karena dia tidak mengundangku,'' kata Mauren dengan tawa kecilnya.
''Oh begitu rupanya. Aku saja tidak mendapat undangan, sekalipun kami baru saling mengenal.''
__ADS_1
''Oh ya apa pekerjaanmu selain mengurus panti?''
''Pekerjaanku ya seperti itu. Beraksi di berbagai bidang sosial,'' jawab Leon dengan senyum kecilnya.
''Maksudnya? Aku tidak mengerti. Kamu bekerja di dinas sosial?''
''Hahaha ya terserah kamu menyebutnya apalah.''
''Dari mobil yang kamu tumpangi, sepertinya kamu seorang pengusaha.'' Tebak Mauren. Mendengar ucapan Mauren, Leon hanya mengangkat bahunya saja sambil menyesap kopinya.
''Hhhh sok misterius banget.'' Gumam Mauren dengan senyum sinisnya.
''Supaya membuat orang penasaran. Nona sudah menikah?''
''Kalau aku sudah menikah, aku pasti datang kemari dengan suamiku.''
''Oh belum rupanya. Pacar mungkin?''
''Tidak ada.''
''Wah, wanita secantik anda masih single. Why? Terlalu pemilih kah atau memang sedang menunggu seseorang?'' selidik Leon.
''Memang apa urusan mu anak kecil?''
''Hah? Anak kecil? Berarti aku memanggil Nona dengan sebutan Tante, bagaimana? Sepertinya cocok,'' gurau Leon dengan tawanya.
''Menyebalkan sekali,'' marah Mauren sambil berlalu meninggalkan cafe. Leon pun hanya tertawa melihat sikap Mauren yang judes itu. Namun senyumnya lenyap saat ia teringat ucapan Mauren yang mengatakan bahwa Keira sedang pergi bulan madu dengan Kevin.
-
''Halo Kakak Krisna!" sapa Laras yang masuk begitu saja ke ruangan Krisna.
''Ka-kamu! Kenapa kesini lagi?''
''Kak, ayo kita makan di luar.'' Kata Laras seraya jalan mendekat ke arah meja Krisna.
''Pekerjaanku banyak, Laras. Maaf ya.''
''Ayolah, jangan menolak. Tuan Kevin juga sedang pergi bulan madu jadi kita refreshing sebentar lah.'' Bujuk Laras sambil mengedipkan matanya. Kali ini Krisna mencoba mendengarkan apa yang di katakan oleh Keira beberapa waktu lalu. Sekaligus ia ingin menebus kesalahannya pada Laras beberapa waktu lalu.
''Baiklah.'' Kata Krisna.
''Nah, gitu dong Kak. Masa iya sih cewek secantik aku di tolak.'' Laras dengan percaya dirinya, menggandeng lengan Krisna. Seluruh karyawan kantor menatap Krisna dengan penuh arti. Bahkan sesekali mereka menggoda Krisna.
''Cieeee, Pak Krisna. Akhirnya punya pacar juga.''
''Gitu dong Pak, pacaran. Masa iya kerja terus.''
''Sssttt kalian ini,'' tegur Krisna dengan sikap tegasnya.
''Kita mau makan siang dimana?'' tanya Laras.
__ADS_1
''Terserah kamu saja.'' Kata Krisna sambil berjalan menuju tempat parkir bersama Laras. Krisna kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya.
''Kak, aku siap membantu Kakak.''
''Membantu apa?''
''Aku sudah mendengar semua cerita Kakak dari Keira.''
''Nyonya Keira cerita sama kamu?''
''Iya lah. Lebih baik aku tahu kan daripada aku salah paham dengan sikap Kakak. Kakak tidak usah malu dan aku tidak mempermasalahkannya.'' Kata Laras.
''Memangnya kamu tidak ada kegiatan lain?''
''Aku sebenarnya sedang magang tapi berhubung jam makan siang, jadi aku kabur kesini. Lagi pula tempat magangku dengan kantor Kakak tidak terlalu jauh.''
''Memangnya magang dimana?''
''Di butik. Soalnya aku mengambil jurusan fashion. Karena aku sangat suka sama yang namanya shoping dan memadu padankan pakaian. Dan aku suka dandan juga. Jadi aku salurkan bakatku kesana. Karena setelah lulus, aku ingin membuka butik dan salon. Aku juga ingin menjadi MUA. Kebetulan sekarang sedang proses pembangunan gedungnya. Gedungnya juga aku desain sendiri, Kak. Aku ingin semuanya perfect seperti keinginan dan selera ku,'' cerocos Laras panjag lebar yang membuat Krisna mengernyitkan dahinya.
''Kamu cerewet juga ya,'' ceplos Krisna.
''Apa? Kakak bilang aku cerewet? Lalu Kakak sendiri apa? Punya mulut tapi ngomongnga irit banget,'' judes Laras.
''Ya maaf. Aku memang hanya berbicara untuk sesuatu yang penting.''
''Oh, jadi aku tidak penting? Makanya Kakak diam saja dan tidak mau bicara padaku. Ngomong irit, tanya apa juga nggak? Pasif banget sih.'' Kesal Laras.
''Kamu kan sudah mendengar cerita ku dari Nyonya Keira, seharusnya kamu paham.''
''Paham sih paham tapi Kakak juga usaha dong.''
''Iya ini aku juga usaha. Makanya aku menerima ajakan kamu. Kamu tidak tahu rasanya melawan rasa trauma yang menghantui aku.''
''Makanya Kakak itu harus melawan. Masa iya cowok lemah sih? Jadi cowok itu harus kuat! Jangan lemah! Apalagi untuk manusia rendahan seperti itu. Buktikan bahwa Kakak itu bisa dan berubah! Lagian kenapa bisa suka sama cewek seperti itu sih? Aku tidak suka yang namanya penindasan. Awas saja kalau aku sampai ketemu, aku akan menjambaknya.'' Kata Laras sambil mengepalkan kedua tangannya seraya mengeratkan giginya. Mendengar Laras yang begitu cerewet, membuat senyum kecil Krisna mengembang.
''Laras, aku memang tidak bisa bersikap kasar pada perempuan. Bahkan aku terlihat lemah di hadapan mereka. Misal saja seperti sekarang ini, aku tidak bisa melawan kamu. Karena wanita itu selalu benar dan pria tempatnya salah.''
''Oh jadi Kakak menganggapku seperti itu? Aku kalau memang salah terima kok. Aku juga tidak pernah menindas orang lain apalagi cowok.''
''Sudah jangan marah-marah lagi. Kita mau makan dimana?''
''Itu di depan ada restoran Itali, kita makan disana saja. Kakak punya uang kan? Jangan pura-pura nggak bawa dompet ya?''
''Ya nggak lah. Aku bukan pria seperti itu, Laras. Dan kemarin kebetulan aku dapat bonus dari Tuan Kevin.''
''Wah, asyik nih di traktir.''
''Terserah kamu mau makan apapun, Ras.''
''Horeee, akhirnya aku merasakan yang namanya di traktir cowok.'' Kata Laras melonjak kegirangan seperti anak kecil. Krisna hanya bisa tersenyum melihat tingkah Laras yang seperti anak kecil itu.
__ADS_1
Bersambung....