
Laras yang kesal, akhirnya memutuskan untuk makan sendiri di restoran. Selama menikmati makanannya, Laras selalu merutuk. Ia benar-benar kesal dengan sikap Krisna.
''Kenapa sih Kak Krisna tidak bisa bersikap romantis? pingin juga deh sekali-kali di cemburuin. Dia sebenarnya cinta padaku atau tidak? sepertinya lempeng saja. Bahkan terkesan aku yang mengejar-ngejar dia. Kapan gitu giliran dia mengejar aku? oke dia pria yang baik tapi aku juga ingin merasakan di kejar. Mau ciuman pun harus aku yang memulainya. Terlalu pasif!"
Saat sedang makan, tiba-tiba ada seorang pria yang menghampirinya.
''Hai Laras, apa kabar?''
''Andy?'' Laras terkejut melihat Andy berada di hadapannya. Tapi ia mengabaikan Andy dan memilih melanjutkan makannya.
''Kamu sama siapa?''
''Menurutmu?'' ketus Laras.
''Masih ketus saja dengan ku setelah semuanya berlalu.''
''Sebaiknya kamu pergi karena melihat wajahmu, membuatku kehilangan selera makan.''
Andy tersenyum kecil. ''Laras, aku baru saja kembali dari Australi. Setelah menyelesaikan pendidikan ku disana, aku kembali hanya ingin menemuimu.''
''Untuk apa menemuiku? tidak ada gunanya lagi.''
Andy tersenyum, kemudian ia mengeluarkan sebuah cek senilai 100 juta dan memberikannya pada Laras. ''Ini untukmu, Laras.''
''Untukku? untuk apa?''
''Untuk membayar kerugian yang kamu terima selama kita pacaran. Aku masih ingat jelas, apa saja yang kamu berikan dan keluarkan selama setahun lebih bersama.''
''Tidak perlu. Ambil saja! aku tidak butuh.'' Laras menggeser kembali kertas itu ke arah Andy.
__ADS_1
''Aku tahu kesalahanku. Tidak seharusnya aku memanfaatkan kebaikanmu. Dan sejak berpisah denganmu, lalu mengambil beasiswa ke Australi, entah kenapa aku merasa bersalah. Aku bahkan berjanji pada diriku sendiri, saat aku lulus dan mendapatkan pekerjaan, aku akan mengembalikan semua uangmu bahkan akan memberimu lebih. Itu janjiku! kebodohan ku adalah aku tidak tahu diri, sudah miskin, parasit dan tidak tahu di untung lagi.'' Ucap Andy yang mengenang betapa buruknya sikapnya saat bersama Laras dulu.
''Padahal aku tahu kamu adalah gadis yang baik dan sangat tulus. Sekali lagi maafkan atas semua kebodohanku dulu. Sekarang aku sudah bekerja di sebuah perusahaan arsitektur terbaik di kota ini. Aku sudah 1 tahun bekerja disana paska lulus. Selama satu tahun itu pula, aku berusaha bekerja keras mengumpulkan uang untuk menebus semua kesalahanku. Aku bahkan menahan diri untuk tidak menemuimu, sebelum aku bisa mengganti semua kerugiaan yang aku lakukan.''
''Kamu pikir kerugian itu secara materi saja? kerugian yang aku alami itu secara batin. Setelah kamu dapatkan yang kamu mau, kamu pergi begitu saja dan mutusin aku. Hebat banget! dasar pengecut!''
''Kamu berhak marah dan mencaci aku. Jadi aku kesini berniat baik ingin meminta maaf dan memberikan check ini. Karena aku pernah memakai uangmu dengan alasan yang tidak mendasar.''
''Iya uang itu kamu berikan pada kekasihmu yang lain, iya kan?''
Andy menunduk, ia merasa malu akan perbuatannya dulu. ''Maaf aku dulu juga bodoh, aku di manfaatkan sampai aku tega memanfaatkanmu. Perempuan itu menangis, karena butuh biaya pengobatan Ibunya jadi aku terpaksa berbohong padamu. Padahal kenyataannya aku juga di tipu. Tapi apapun itu alasannya aku tetap salah. Dan hanya sekali itu saja aku selingkuh, bahkan aku merasa menyesak karena telah meninggalkanmu.''
''Sudah lah jangan bicara lagi, aku malas mendengarnya.''
''Aku hanya butuh uang untuk bertahan hidup di sini Laras, sekaligus aku butuh biaya untuk pergi ke Australi. Jadi saat aku cukup mendapatkan uang saku dan biaya hidup disana, aku memutuskanmu. Ya meskipun ada beasiswa, tetap saja aku butuh uang untuk bertahan hidup disana. Setelah sampai disana, aku bekerja paruh waktu di restoran sampai akhirnya aku lulus. Dan bodohnya aku, seharusnya aku juga bisa bekerja tanpa harus mengandalkanmu. Tapi saat itu yang ada di pikirkanku, aku ingin mendapatkannya secara instan. Jadi saat aku meminta di belikan pakaian dan sepatu branded, aku kembali menjualnya, Laras.''
PLAK! Laras melayangkan tamparan keras ke wajah Andy. Andy hanya diam karena ia sadar bahwa ia salah.
''Kamu berhak melakukan apa saja padaku, Laras. Tampar lagi saja kalau kamu mau.'' Ucap Andy dengan pasrah.
''Kamu memuakkan!" Laras beranjak dari duduknya dan pergi namun Andy menahannya.
''Jangan pergi Laras! ambil cek ini, aku mohon.''
''Aku tidak butuh!'' Laras menepis kasar tangan Andy lalu pergi.
''Aku akan menganggumu sampai kamu mau menerima cek ini.'' Teriak Andy pada Laras yang telah berlalu. Namun Laras sama sekali tidak menghiraukan ucapan Andy. Baginya Andy telah mati.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Laras kembali ke butiknya. Sesampainya disana, ia memilih menyibukkan diri untuk membersihkan butiknya itu. Menata dan mengecek kembali barang-barang yang akan ia jula nanti. Laras membunuh rasa kesalnya dengan menyibukkan diri. Kekesalannya semakin bertambah saat ia bertemu kembali dengan Andy.
__ADS_1
Setelah kembali ke kantor bersama Kevin, Krisna berusaha mencuri waktu di toilet untuk menelepon Laras. Namun Laras sama sekali tidak menerima panggilannya. Laras sendiri marah dan kesal dengan Krisna karena mendadak membatalkan janji jadi ia memilih mengabaikan panggilan Laras.
Krisna : Laras, apa kamu marah? maafkan aku ya. Tuan Kevin hari ini memintaku lembur untuk persiapan launching produk terbaru perusahaan. Tapi aku akan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin supaya kita bisa bertemu.
Mendapat pesan dari Krisna, Laras hanya membacanya saja.
"Aku memang tidak boleh egois dan marah tapi aku kesal karena kamu tidak memilih makan siang denganku. Tuan Kevin dan Keira juga pasti mengerti kalau kamu itu jujur ingin makan siang dengankum" Gerutu Laras sambil memukul-mukul layar ponselnya yang berisi pesan dari Krisna.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Karena terlalu fokus dan sibuk, Laras sampai tidak menyadari bahwa hari sudah malam.
"Ya ampun, sudah jam 8 ternyata. Aku lelah sekali dan perutku mulai lapar.'' Laras kemudian merapikan tasnya dan pulang. Laras sangat terkejut begitu ia keluar, sudah ada Andy di depan butiknya. Melihat Andy disana, Laras sangat kesal.
''Darimana elo tahu gue disini?'' ketus Laras yang kini bicara lebih kasar dengan Andy.
''Sangat mudah menemukanmu, Laras. Aku sudah bilang kalau aku akan menganggumu sampai kamu mau menerima cek dariku.''
''Gue nggak butuh, lebih baik elo pergi dan jangan ganggu gue.''
''Laras please, aku ingin menebus rasa bersalahku.''
''Sudah tidak ada gunanya, Andy. Sebaiknya elo pergi, sebelum gue teriak maling.''
''Teriak saja! aku rela di keroyok banyak orang demi mendapatkan maaf dari kamu.'' Andy kemudian berlutut di hadapan Laras. Bukannya tersentuh, Laras justru kesal melihat sikap Andy.
''Untuk apa berlutut? sudah terlambat. Kenapa tidak dari dulu saja berlutut? sekalipun elo nyium kaki gue, gua nggak bakal peduli.''
''Laras, apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan maafmu?''
''Tidak ada yang perlu di lakukan. Sebaiknya elo pergi jauh-jauh deh, gue males lihat muka elo. Jijik!" Laras kemudian berlalu dan segera masuk ke dalam mobilnya. Andy masih tetap berlutut sampai mobil Laras menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
''Laras sebelum kamu menerimanya, aku tidak akan menyerah. Besok pagi aku akan menemuimu lagi kalau perlu aku akan datang menemui orang tua mu untuk meminta maaf.''
Bersambung.....