Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 81 Yakin, Masih Suci?


__ADS_3

Keesokan harinya....


''Mbak, Mama kemana ya? Kok saat aku bangun, Mama tidak ada di sampingku.'' Tanya Marvel pada Mbak Rima yang sedang membantunya bersiap untuk sekolah.


''Mbak juga belum lihat Mama sama sekali, Den. Papa juga bahkan belum terlihat. Biasanya Papa kan selalu bangun pagi.''


''Mmmm Mbak sepertinya ada kemajuan deh.''


''Kemajuan apa Den?'' tanya Mbak Rima.


''Kemajuan hubungan Papa dan Mama. Jangan-jangan mereka tidur bersama lagi,'' kata Marvel yang mencoba menebak.


''Bisa jadi sih, Den. Tapi Mbak juga senang kalau hubungan Papa dan Mama semakin dekat. Rencana kita selama ini berhasil.''


''Ya sudah Mbak, aku mau coba lihat ke kamar Papa ya. Mbak Rima tolong bawakan tas ku ke bawah sekalian dan siapkan sarapan untukku.''


''Siap Den!"


Marvel lalu keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar Papanya. Dengan perlahan Marvel membuka pintu kamar Papanya. Tapi kamar Kevin masih tampak rapi tidak ada tanda-tanda pergerakan di atas kasur.


''Tidak ada disini. Coba aku cek ke kamar Mama saja, di kamar tamu.'' Gumam Marvel. Marvel lalu turun ke bawah menuju kamar tamu.


''Hah!" Marvel terkejut, mulutnya menganga melihat Kevin dan Keira tidur satu ranjang. Bahkan posisi keduanya saling berpelukan di balik selimut. Marvel lalu menutup kembali pintu kembali namun sebelum itu, Marvel mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya.


Marvel menahan tawanya saat melihat keduanya yang tampak mesra itu. Marvel kemudian buru-buru menutup kembali pintu kamar dan segera menuju ruang makan.


''Mbak Rima-Bi Nani, kemarilah!" kata Marvel.


''Ada apa Den?'' kompak keduanya.


''Lihat ini!" kata Marvel sambil menunjukkan hasil jepretannya.


''Hah?'' kompak Bi Nani dan Mbak Rima saat melihat foto itu.


''Aduh Bibi senang sekali akhirnya mereka bisa akur. Bibi suka pusing kalau melihat mereka bertengkar.'' Kata Bibi Nani pelan suapaya suara gaduh mereka tidak mengganggu Kevin dan Keira.


''Ihhh mereka bisa romantis juga ya ternyata. Mbak suka senang kalau mereka akur. Habis kalau berantem, Mbak suka takut.''


''Terima kasih ya Mbak Rima-Bi Nani atas kerja samanya selama ini. Akhirnya aku bisa mendapatkan Mama Keira untuk menjadi Mamaku.''

__ADS_1


''Sama-sama Den.'' Kata Bi Nani dan Mbak Rima bersamaan.


''Tapi kalian diam ya dan pura-pura tidak tahu.''


''Siap Den!"


Sementara itu, Keira yang berada dalam dekapan Kevin pun terbangun. Perlahan ia membuka matanya. Mata Keira membulat saat ada tangan berotot memeluknya. Bahkan ia melihat tangannya sendiri tengah memeluk erat tubuh Kevin.


''Dimana aku? Tangan siapa ini? Dan tubuh siapa yang aku peluk?" gumamnya dalam hati. Perlahan Keira mendongakkan kepalanya dan itu adalah tubuh Kevin.


''Aaaaaaaaaaa!" teriak Keira memekik membuat Kevin juga terbangun.


''Apa yang Tuan lakukan di kamarku?'' kata Keira dengan suara meninggi. Kevin yang masih setengah sadar, hanya berusaha mengerjapkan mata sambil menguceknya. Keira yang kesal, lalu menendang tubuh Kevin sampai Kevin terjatuh bahkan kepalanya terbentur ujung meja nakas.


''Auw! Kei, kamu mau membunuhku? Sudah tau nyawa belum terkumpul kenapa menendangku?''


''Siapa suruh Tuan disini? Apa yang tuan lakukan padaku semalam?" Keira yang ketakutan memeluk tubuhnya sendiri. Kevin pun berusaha untuk berdiri namun kepalanya terasa pusing. Keira lalu melihat darah di pelipis Kevin.


''Aduh, kepalaku pusing sekali. Kamu sendiri yang menahanku disini! Kamu menggandeng dan membawaku ke kamar ini. Aku bahkan sampai ketiduran karena tidak bisa bergerak. Tangan dan kakimu mengunci tubuhku. Kamu tidak mau aku tinggalkan karena kamu bilang takut gelap dan petir. Sudah di tolong malah menyiksa orang. Kepalaku pusing dan pantatku sakit.'' Cerocos Kevin dengan kesal bahkan ia tidak mengetahui kalau pelipisnya berdarah. Keira lalu mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Ia pun merasa bersalah dan buru-buru beranjak dari tempat tidurnya.


''Maaf Tuan. Itu pelipismu berdarah.'' Kata Keira pelan karena merasa bersalah.


''Sebenarnya kamu ini laki-laki atau perempuan sih? Belum menikah saja sudah melakukan KDRT. Aku bisa melaporkanmu kepada polisi.'' Ancam Kevin.


''Apa di kamar ini, ada kotak P3K?''


''Ada di dalam sini,'' kata Kevin sambil menunjuk laci nakas di samping tempat tidur.


''Maaf ya Tuan. Aku benar-benar menyusahkanmu semalam. Tapi benar kan semalam tidak terjadi apa-apa?'' kata Keira sembari membersihkan dan mengobati pelipis Kevin.


''Tidak terjadi apa-apa. Siapa juga yang menyentuhmu? Aku sendiri memelukmu juga pasti menganggapmu hanya sebuah guling saja. Jadi jangan pernah ge-er ya?''


''Siapa juga yang ge-er? Aku hanya memastikan kalau aku masih suci dan orisinil.''


''Yakin masih suci? Kenapa aku tidak percaya ya? Apalagi dengan pekerjaan anehmu itu,'' kata Kevin dengan tatapan sinis.


''Ya sudah kalau tidak percaya. Aku juga tidak butuh Tuan percaya padaku. Biar suamiku saja yang nanti menikmatinya.''


''Berarti aku dong yang akan menikmatinya?''

__ADS_1


''Hahahaha Tuan ini lucu. Ya tidak lah! Pernikahan kita kan hanya hitam di atas putih.''


Mendengar ucapan Keira, membuat Kevin sadar dan teringat akan kontrak itu.


''Baiklah sudah selesai. Sekali lagi maaf dan terima kasih ya Tuan.''


''Tapi kenapa rasanya kepalaku pusing ya?'' kata Kevin sambil memegangi kepalanya.


''Tuan baik-baik saja kan? Apa kita perlu ke dokter? Atau aku panggilkan Dokter Alan?'' kata Keira dengan cemas.


''Tidak perlu!" jawabnya ketus. Kevin lalu beranjak dari duduknya dan segera keluar dari kamar Keira.


''Dasar judes! Dibaikin salah, di jahatin salah!" gerutunya.


''Apa katamu?'' tanya Kevin yang mendengar ocehan Keira.


''Ti... tidak apa-apa. Aku mau mandi dan bersiap ke panti.'' Kata Keira yang meralat kembali ucapannya.


-


Beberapa saat kemudian, Kevin yang sudah bersiap segera menuju ruang makan. Disana sudah ada Marvel yang sibuk membaca sebuah buku. Dan di saat yang bersamaan Keira juga keluar dari kamarnya.


''Pagi jagoan Papa,'' sapa Kevin sambil mengecup pucuk kepala Marvel.


''Pagi Pah. Papa darimana saja? Kenapa siang sekali?''


''Mmmm Papa hanya kecapekan saja. Kamu bukannya sarapan malah baca buku.''


''Aku sudah selesai sarapan karen menunggu Papa dan Mama lama sekali. Pelipis Papa kenapa di plester?''


''Oh ini hanya terbentur.''


''Pagi Marvel!"


''Pagi juga Mah. Mama juga kenapa terlambat? Kenapa semalam tidak menemaniku tidur?'' selidik Marvel berharap keduanya mengaku.


''Mmmm maaf ya, semalam Mama ketiduran. Mama takut gelap jadinya Mama tidak berani kemana-mana. Maaf ya.'' Kata Keira dengan gugup.


''Oh begitu. Ya sudah kalian sarapan saja, aku akan menunggu.''

__ADS_1


''Terkadang sulit sekali memahami perasaan orang dewasa. Melarang anak kecil berbohong tapi justru mereka sendiri yang berbohong.'' Kata Marvel dalam hati.


Bersambung....


__ADS_2