
Yukkkk budayakan habis baca like, komen dan vote yang banyak yaaa biar makin semangat, makasih 🙏🙏💞
...*Selamat Membaca*...
“Kak, dimana Marvel? Katanya kakak menemukannya? Dia baik-baik saja kan?” cerocos Keira dengan segala kepanikannya. Kenny bersama Pak Ammar dan Cindy sedang duduk di ruang tengah.
“Kamu ini sampai rumah bukannya salam eh nylonong aja. Duduk dulu kek, sapa dulu. Udah semalaman nggak pulang, mau jadi apa kamu Kei?” kata Kenny sedikit kesal.
“Maaf Kak, aku kan menginap di rumah Laras.’’
“Duduk!’’ perintah Kenny dengan tegas. Keira menunduk lalu menuruti perintah kakaknya.
“Marvel ada di kamar kamu. Dia sedang tidur. Lebih baik kamu segera panggil walinya,” ketus Kenny.
“Sabar, Mas. Kamu jangan begitu sama Kei,” sahut Cindy.
“Nak, kenapa dia menyebutmu mama? Kamu tidak menikah diam-diam di belakang kami kan?” tanya Pak Ammar penuh selidik.
“Ya Allah, ya nggak lah, Ayah. Kalau Keira menikah diam-diam terus kapan hamilnya? Sementara badan Keira begini-gini saja,” ucap Keira yang berusaha membela dirinya.
“Siapa tahu kamu diam-diam menikah sama single father,” celetuk Kenny.
‘’Kakak juga ih pikirannya buruk sekali. Kalau Kei nikah tanpa ada ayah jelas nggak boleh dong, Kak.”
“Terus kenapa dia memanggil kamu seperti itu?”
“Aku sendiri tidak tahu, Kak. Yang jelas dia sudah tidak punya ibu dan ingin memanggilku mama hanya untuk satu minggu saja. Dia ingin merasakan kasih sayang seorang ibu. Dari semua guru yang ada di sekolah, dia memang sangat dekat dengan ku. Marvel itu seorang anak yang introvert. Dia pendiam dan sering menyendriri padahal dari segi akademis dia sangat cerdas. Itulah yang membuatku penasaran dan ingin membuatnya terbuka dengan dunia luar. Karena kami dekat, aku jadi menyayanginya dan saat hari ulang tahunnya dia meminta hadiah padaku, yaitu dia ingin memanggilku mama meskipun hanya satu minggu,” jelas Keira panjang lebar.
“Aku tidak tega Ayah-Kakak. Aku kasihan dan aku juga menyayanginya.’' Sambung Keira.
“Lalu bagaimana Ayahnya dan kenapa dia sampai bisa datang ke makam mamanya sendirian? Bahkan dia menolak untuk di antar pulang,” kata Pak Ammar dengan sejuta rasa penasaran.
“Aku tidak tahu, Yah. Biarkan saja dia disini dulu saja Yah, kalau dia belum mau pulang. Nanti Kei coba menghubungi walinya. Sekarang Kei, mau lihat Marvel dulu.” Pak Ammar dan Kenny hanya bisa menghela nafas panjang mendnegar semua penjelasan Keira. Saat masuk ke kamar, ternyata Marvel sudah terbangun dan duduk berselonjor di atas tempat tidur.
“Mama Keira!” seru Marvel dengan mata berbinar. Keira lalu memberikan pelukan untuk Marvel.
“Kenapa kamu pergi, Marvel? Papa mu sangat mengkhawatirkanmu.”
“Papa tidak sayang padaku, Mah. Aku hanya menjadi luka untuk papa. Mama meninggal karena aku . Lebih baik aku pergi meninggalkan papa supaya papa tidak merasa sedih lagi,’’ kata Marvel dengan polosnya.
“Papa tidak bermaksud mengatakan itu, Marvel. Papa sangat menyayangi kamu.”
“Aku tidak mau pulang! Aku disini saja. Aku ingin bersama Mama Keira disini. Jangan beritahu papa kalau aku disini.” Kata Marvel yang semakin mempererat pelukannya pada Keira.
__ADS_1
“Iya Marvel, tenanglah.” Kata Keira mengecup pucuk kepala Marvel.
“Sekarang Marvel justru menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya aku menutup rapat pintu itu supaya Marvel tidak mengetahui semuanya. Tapi tetap saja, cepat atau lambat Marvel akan tahu semuanya.” Gumam Keira dalam hati.
“Mama masak air panas dulu untuk kamu mandi ya. Kalau kamu tidak mau keluar, kamu bisa disini saja, oke.”
“Oke mah.”
******
Hari semakin larut dan Kevin tetap saja belum menemukan Marvel. Kevin akhirnya memutuskan bermalam di SPBU dan tidur di dalam mobilnya. Sedangkan Miko dengan tenang menikmati makan malamnya bersama Gina.
“Sayang kenapa kamu tidak memberitahu Kak Kevin saja? Kasihan dia.”
“Sudah biarkan saja dia, sayang. Dia pantas mendapatkan semua itu. Biarkan saja dia menderita. Kita hukum si kepala batu. Kita tunggu 2x24 jam baru kita kembalikan Marvel. Karena kalau sudah melewati 2x24 jam, dia pasti akan lapor polisi. Yang penting Marvel aman bersama Keira. Kasihan sekali Marvel. Untung pas dia kabur tidak ada yang menculiknya. Coba saja kalau di culik? Aku tidak bisa membayangkannya dan yang pasti aku akan memaki Kevin sampai mulutku berbusa,” ucap Miko dengan geram.
“Sabar, Miko. Nanti tekanan darahmu naik.”
“Habis gimana? Ada gitu orang tua yang egois dan keras kepalanya minta ampun.”
-
Dirumah, Keira sedang menyiapkan makan malam bersama. Semuanya sudah duduk tenang di ruang makan. Namun Marvel hanya mau duduk bersebelahan dengan Keira. Pandangan Marvel melihat satu-persatu kearah Kenny, Pak Ammar dan juga Cindy yang sudah disana.
“Kakek Ammar?” ucap Marvel dengan terbata.
“Iya, Kakek Ammar. Ayo makanlah, nak. Kamu mau apa? Biar kakek ambilkan.”
Marvel menatap kearah Keira dan Keira tersenyum sambil mengangguk pelan. Marvel kemudian menunjuk kearah ayam goreng. Pak Ammar dengan senang hati mengambilkannya untuk Marvel.
“Makan sayur juga ya, supaya kamu semakin sehat. Ini sayurnya memetik sendiri di kebun kakek jadi sudah pasti bebas pestisida.” Marvel hanya mengangguk tanpa berekspresi.
“Te-ri-ma kasih, Kek.’’ Kata Marvel.
“Sama-sama anak baik.”
“Ken, coba kamu dan Cindy nikahnya usia 20an pasti kalian sudah punya anak sebesar Marvel dan Ayah punya hiburan di rumah.” Kata Pak Ammar seraya tertawa kecil.
“Ayah tahu sendiri usia 20 kehidupan kita seperti apa. Ayah ini ada-ada saja. Ayah tenang saja setelah ini Kenny dan Cindy gaspol deh,” ucap Kenny dengan tawa lebarnya.
“Kamu ini bicara apa sih Mas, kan malu sama ayah.”
__ADS_1
“Iya nih Kak Kenny, apalagi ada anak kecil disini.” Sahut Keira.
“Oh ya Mbak Cindy tidak mengenal Marvel? Kan Mbak Cindy mengajar disana juga.”
“Mbak Cindy kan pegang kelas 5 dan 6 jadi sudah pasti Mbak tidak tahu apalagi mengenal Marvel. Apalagi kelas 5 dan 6 di gedung utara kan? Apalagi ada kelas A-D.”
“Ya aku pikir tahu semuanya, Mbak.”
“Marvel, setelah makan malam kita tidur ya.” Lanjut Keira.
“Iya mah.''
''Dan maaf ya mau pakein baju kamu saja mama sampai pinjam ketetangga.”
“Tidak apa-apa, Mah.” Jawab Marvel dengan tatapan polosnya.
Pak Ammar, Kenny dan Cindy tidak percaya kalau Keira mempunyai sisi keibuan yang seperti itu. Keira yang suka seenaknya, manja, bawel bahkan sering kali ceroboh tapi bisa mendadak kalem saat bersama Marvel. Setelah selesai makan malam, Keira menemani Marvel tidur.
“Kamar mama beneran warna pink ya. Dan memang lebih besar kamar ku.'’ Kata Marvel dengan senyuman polosnya.
“Ya iyalah, kamar kamu kayak lapangan bola. Apa kamu tidak merasa nyaman disini?”
“Aku merasa nyaman sekali kok, Mah. Aku bahkan sangat senang bisa makan bersama Om Kenny, Tante Cindy dan juga Kakek Ammar. Biasanya aku selalu makan sendirian di rumah, hanya Bibi dan Mbak Rima yang menemaniku. Makan bersama papa bisa di hitung jari.”
“Lalu kapan kamu mau pulang? Tadi papa menelepon dan memina mama untuk mencari kamu. Apa mama harus menelepon papa sekarang?”
“Tidak perlu mah. Aku mau bersama Mama Keira saja. Percuma saja kan aku di rumah tapi sikap papa seperti itu padaku.”
“Marvel, papa sangat menyayangi kamu bahkan dia sangat khawatir. Apa kamu tidak ingin menemuinya?”
“Aku ingin disini saja, Mah. Tolong jangan beritahu papa. Lebih baik kita tidak bertemu dulu, supaya hati papa sedikit tenang tanpa aku.”
“Kenapa kamu bsa bisara seperti itu?”
“Karena aku yang menjadi penyebab utama mama meninggal.”
“Tidak Marvel! Mama kamu meninggal itu sudah menjadi kehendak dan takdir Tuhan. Karena pada akhirnya kita semua akan meninggal, hanya saja kita semua sedang menunggu giliran. Semua itu sudah takdir dan menjadi ketentuan Tuhan. Karena kita tidak pernah bisa menghindari kematian dan cara Tuhan memanggil kita pun berbeda. Ada yang meninggal saat sakit, kecelakaan, jatuh atau bahkan ada yang meninggal disaat sedang tertidur. Kita tidak bisa tahu kapan Tuhan akan mengambil nyawa kita karena itu bisa terjadi kapan saja. Kita meninggal besok pun tidak akan ada yang tahu. Jadi kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Mama Kania itu sangat baik jadi mama Keira yakin kalau mama Kania sudah bahagia di surga sana.” Mendengar apa yang di ucapkan oleh Keira, Marvel benar-benar tersentuh. Ia merasakan sosok Kania dalam diri Keira. Marvel lalu berbaring miring seraya melingkarkan tangannya pada tubuh Keira.
“Terima kasih ya Mah. Mama Keira sangat baik seperti Mama Kania. Aku berharap kalau Mama Keira bisa benar-benar menjadi mama sungguhanku suatu saat nanti. Bukan hanya sekedar mama sewaan saja.”
“Sampai kapan pun kamu boleh kok menganggap mama Keira ini mama, sekalipun nanti mama menikah dengan orang lain.”
“Terima kasih ya, mah.”
__ADS_1
“Sama-sama Marvel, sekarang tidurlah.” Keira lalu mengusap lembut kepala Marvel dan memberikan kecupan di kening anak itu. Perasaan Keira terhadap Marvel semakin dalam. Namun ketika ingat siapa Ayah dari Marvel, seketika membuat Keira merasa kesal. Dan sebenarnya Marvel sangat sedih saat mendengar kalimat terakhir Keira. Marvel tidak rela kalau Keira menikah dengan orang lain selain papanya.
Bersambung.....