Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 70 Cepat Naik ke Punggungku!


__ADS_3

''Tuan, aku mau bertemu dengan Ferdi dulu. Aku sudah membuat janji dengannya.''


''Sudah di campakkan tapi masih mau menemuinya? Dasar bodoh!" sinis Kevin.


''Aku bertemu untuk mengembalikan kalung ini,'' kata Keira sambil menunjukkan kotak perhiasan berisi kalung itu.


''Baguslah! Lebih baik kamu lupakan dia dan jangan ingat-ingat dia lagi.''


''Lagi pula darimana Tuan tahu masalah ku sih?''


''Siapa yang tidak tahu saat kamu dan Ferdi bertengkar hebat di kantor. Aku tahu semuanya lah karena kalian berdua sangat berisik.'' Ketus Kevin. Keira hanya terdiam karena merasa tidak pada Kevin.


''Kalian janji bertemu dimana?''


''Di Mango Cafe. Tapi Tuan jangan ikut masuk ya. Tuan tunggu saja di mobil.''


''Iya-iya. Lagi pula siapa yang mau ikut campur urusanmu,'' jawabnya sinis.


Akhirnya keduanya sampai di cafe yang di tuju oleh Keira.


''Tuan tunggu disini, aku masuk dulu dan cuma sebentar saja.''


''Hmmmmm,'' ucap Kevin dengan malas. Keira lalu melepas sabuk pengaman dan segera masuk ke dalam cafe. Ternyata Ferdi sudah berada disana. Ferdi sangat senang melihat Keira sudah tiba disana.


''Hai, Kei. Sama siapa?'' tanya Ferdi dengan wajah sumringahnya.


''Aku naik taksi online.''


''Kei, aku senang sekali kamu berada disini. Jujur saja aku tidak bisa tidur memikirkan kamu. Kei, aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Aku yakin kamu datang kemari untuk mencegah aku bertunangan dengan Lily kan?'' kata Ferdi dengan begitu antusias. Ia berharap jika Keira memiliki jalan pikiran yang sama dengannya.


''Tidak Fer! Aku tidak datang untuk itu. Aku hanya ingin mengembalikan ini.'' Keira kemudian mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari tasnya.


''Tidak pantas kamu memberikan ini padaku, Fer. Kamu sebentar lagi akan menjadi suami orang lain. Aku pun sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi padamu. Sekali lagi pesan ku, mantapkan hati kamu untuk Nona Lily. Jaga dia dan jangan sakiti dia.'' Ucap Keira yang berusaha tegar di hadapan Ferdi. Ferdi kemudian meraih tangan Keira dan menggenggamnya.


''Kei, sejak bertemu kembali dengan mu, juur saja aku goyah. Tapi aku mohon terima hadiah ini. Aku hanya berusaha menepati janjiku.''


''Lepaskan tanganku, Fer!" kata Keira yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ferdi.


''Jangan Kei, ijinkan aku menggenggamnya untuk terakhir kali.'' Kata Ferdi yang berusaha meraih kembali tangan Keira namun lagi-lagi Keira luluh dan membiarkan Ferdi untuk menggenggamnya sebentar.


''Oh jadi ternyata kamu disini!" suara Lily bena-benar mengagetkan Ferdi dan Keira. Keira buru-buru menepis tangan Ferdi.


''No...Nona Lily!" ucap Keira tergagap.


''Sayang, kamu kenapa disini?'' kata Ferdi sambil merangkul Lily.


''Aku sengaja mengikutimu karena kamu menolak ajakan ku,'' ketus Lily.


''Jadi kamu diam-diam masih bertemu dengannya? Aku sudah percaya padamu tapi kamu tega melakukan ini?''

__ADS_1


''Tidak sayang, aku tidak diam-diam bertemu tapi dia yang memaksaku untuk bertemu.'' Mendengar ucapan Ferdi, Keira tidak menyangka kalau Ferdi akan mengucapkan kalimat itu.


''Akhirnya Tuhan menunjukkan kalau kamu ini lelaki macam apa,'' ucap Keira dengan penuh rasa kecewa.


''Hei, jangan menghina dia. Dia ini calon suamiku. Kamu saja yang tidak tahu diri. Mau jadi pelakor kamu? hah?''


''Sudah jangan marahi dia, sayang. Aku hanya takut kalau dia akan bunuh diri. Makanya dia mengancamku untuk datang.'' Kata Ferdi dengan segala kepalsuannya. PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi Ferdi dari Keira.


''Maaf Kei, maaf. Aku terima tamparan ini,'' gumam Ferdi dalam hati.


''Kamu lihatkan? Dia menamparku! Sudah sayang, ayo kita pergi dari sini.'' Kata Ferdi yang berusaha mengajak Lily pergi.


''Berani-beraninya kamu menampar calon suamiku! Kamu yang menggodanya tapi kamu berlagak seolah kamu di goda. Dasar wanita murahan!" Kemarahan Lily tak terbendung bahkan tangannya terangkat hendak menampar Keira namun ada Kevin disana yang mencengkeram kuat tangan Lily.


''Jangan sentuh dia!" Kata Kevin dengan marah sambil mengeratkan rahangnya.


''Tuan Kevin,'' gumam Keira saat melihat Kevin berada di hadapannya untuk menahan tangan Lily.


''Siapa kamu? Jangan ikut campur!" kata Lily dengan puncak kemarahan di ubun-ubun. Kevin lalu menurunkan tangan Lily kemudian memberikan kotak perhiasan yang tergeletak di meja pada Lily.


''Aku calon suaminya. Dia datang bersamaku untuk mengembalikan hadiah dari calon kekasih anda, Nona. Bukan Keira yang murahan tapi kekasih anda yang murahan, rela menggadaikan cinta demi harta dan balas budi. Tanyakan saja padanya!"


Kevin kemudian menggandeng tangan Keira lalu mengajaknya pergi dari sana. Ferdi hanya bisa terdiam dengan apa yang terjadi.


Selama dalam perjalanan, Keira hanya bisa menangis dan Kevin membiarkan Keira menangis sepuasnya.


''Kasihan juga Keira. Apalagi setelah aku mendengar cerita Marvel, yang memergoki Keira menangis tengah malam.'' Kata Kevin dalam hati. Kevin merasa kalau Keira butuh menenangkan diri, ia lalu memutar balik mobilnya ke arah pantai.


''Kenapa kesini Tuan?'' tanya Keira yang masih saja sesenggukan.


''Lihat saja dirimu. Bagaimana kalau nanti semua orang melihatmu dengan keadaan seperti ini? Mereka pasti akan berburuk sangka padaku. Sebaiknya kita turun dan mendekat di bibir pantai sana, supaya hatimu tenang.''


''Terima kasih Tuan atas pengertianmu.'' Kata Keira. Keira pun segera lari untuk menuju bibir pantai. Kevin tersenyum melihat langkah Keira yang berlari, dalam benaknya ternyata gadis yang di pikirnya kuat dan pemberani itu tidak bisa menangis seperti ini.


''Lepaskan saja, Kei. Teriak sekeras mungkin. Disini tidak akan ada yang mendengarmu. Untuk apa kamu menangisi dia. Air matamu terlalu beharga untuknya.'' Kata Kevin yang berusaha membantu Kei mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya.


Keira kemudian mengambil nafas dalam-dalam lalu berteriak sekeras mungkin.


''Aaaaaaaaaa...........!" Teriak Keira memekik seolah membelah lautan.


''Aku bukan wanita ******! Aku bukan wanita murahan!" teriaknya lagi dengan penuh amarah yang memuncak. Kevin berdiri di kejauhan sambil melipat kedua tangannya di dadanya, melihat Keira seperti itu, seperti melihat dirinya dulu yang begitu terpuruk karena di tinggalkan oleh Kania. Kehilangan memang sakit tapi kehilangan karena di hianati itu lebih sakit. Kevin berusaha mengerti perasaan Keira karena kesetiaannya selama ini di hianati begitu saja. Setelah melihat Keira yang cukup tenang dengam nafas terengah-engahnya setelah meluapkan segala emosi, Kevin lalu mendekat dan berdiri tepat di samping Keira.


''Aku sudah memutuskan kalau aku juga tidak akan datang ke acara pertungan si Ferdi.''


Keira terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Kevin. Ia lalu menoleh melihat Kevin yang memandang lurus kedepan kearah pantai.


''Memangnya kenapa Tuan?''


''Ya, aku tidak suka saja dengan pria pengecut seperti itu. Sebaiknya kamu juga tidak usah datang kesana. Sudah pasti itu akan membuang energimu.''

__ADS_1


''Tuan benar juga, tidak ada gunanya aku datang kesana. Pasti kedatanganku hanya akan menambah masalah saja.''


''Apa kamu sudah merasa cukup tenang?''


''Iya. Setidaknya aku merasa lega setelah berteriak seperti tadi.''


''Baiklah kalau begitu, ayo kita kembali ke kantor. Miko sudah mengirimkan pesan beruntun untuk segera membuat vidio klarifikasi.''


''Marvel bagaimana?''


''Aku sudah meminta Pak Wahyu, supir rumah untuk menjemputnya.''


''Baiklah kalau begitu tapi sebentar Tuan, aku lepas sepatu dulu. Sepatuku basah, karena aku terlalu dekat dengan pantai. Aku sampai tidak sadar kalau aku sudah terlalu dekat disana.'' Ucap Keira sambil berusaha melepas sepatunya.


''Dasar bodoh! Gara-gara cinta membuat kamu jadi seperti ini. Untung saja kamu tidak sampai ke tengah lautan.'' Gerutu Kevin.


''Ya maklumlah Tuan, namanya orang patah hati. Memangnya Tuan, yang tidak pernah merasakan patah hati seperti aku?''


''Ya masalahnya nanti mobilku nanti kotor. Terus kamu mau jalan ke mobil pakai apa?''


''Nyeker-lah. Ya sudah Tuan pergi saja dulu, aku naik taksi saja.'' Ketus Keira. Kevin menghela nafas panjang melihat sikap bodoh Keira. Kevin kemudian berlutut melipat satu kakinya, membelakangi Keira dan Keira tampak bingung dengan apa yang di lakukan oleh Kevin.


''Tuan kok malah duduk di bawah? Mau ngapain?''


''Jangan cerewet! Cepat naik kepunggungku!" pinta Kevin.


''Hah? Tuan serius? Kakiku kan kotor.''


''Sudah jangan banyak bicara, Miko sudah mengirim pesan seperti sedang meneror. Cepat naiklah!" Ketusnya.


''Iya-iya, judes amat sih!" Keira kemudian perlahan naik ke punggung Kevin.


''Sepatuku Tuan!"


''Sudah buang saja! Sepatu butut juga.''


''Bagi Tuan butut tapi bagiku tidak.''


''Iya cerewet! Sudah biar aku saja yang bawa.'' Kata Kevin. Kevin kemudian berdiri kembali setelah Keira naik ke punggungnya sambil membawa sepasang sepatu Keira. Keira kemudian melingkarkan kedua tangannya pada leher Kevin.


''Ternyata berat juga ya,'' kata Kevin.


''Kalau begitu turunkan aku!" ketus Keira.


''Sudah diam! Lebih baik seperti ini daripada mobilku kotor. Karena aku baru saja selesai mencucinya di salon.''


''Bawel banget sih ngalahin emak-emak di kampung gue. Eh tapi dia bisa baik juga, pakai gendong segala lagi,'' gumam Keira dalam hati sambil senyum-senyum sendiri di balik punggung Kevin.


''Kenapa jantungku tiba-tiba berdetak tak beraturan seperti ini ya? Apa kesehatanku terganggu? Masa menggendong Keira saja, jantungku seperti ini.'' Kata Kevin dalam hati.

__ADS_1


Bersambung..... Yukkkk like, komen dan votenya yaaaa di gempurrr, hhehehe makasih 🙏❤️😘


__ADS_2