
''Sayangku, suamiku, ayo bangun!" kata Keira sambil mengelus wajah tampan suaminya itu.
''Aku masih ngantuk, sayang. Aku lelah sekali beberapa hari ini lembur terus.'' Jawabnya dengan nada malas.
''Sudah tahu lembur pulang malam, eh malamnya masih ngajakin bercocok tanam.''
''Kalau lembur yang itu, justru membuat aku lebih semangat sayang.'' Kevin kemudian menarik Keira, membawanya dekapannya.
''Mas, kamu ini di bangunin malah pelukin aku begini.''
''Memeluk kamu selalu membuatku nyaman, sayang. Kamu sudah harum sekali.''
''Iyalah gimana nggak harum, bangun tidur sudah pada basah semua. Bangun yuk, aku juga sudah membuatkan sarapan untuk kamu.''
''Sebentar lagi ya sayang, aku ingin memelukmu lebih lama lagi. Hmmmm istriku, kenapa aku begitu mencintaimu.''
''Masih pagi, Mas. Jangan banyak merayuku.''
''Gemes deh sama kamu, sayang.'' Kevin menciumi tengkuk Keira dengan gemasnya, sampai membiat Keira merasa geli.
''Mas, aku hari ini pingin jalan-jalan ke mall, boleh kan?''
''Boleh sayang, kemana saja boleh.''
''Nanti setelah menjemput Marvel, kita pergi bertiga ya.''
''Iya sayang.''
''Ya sudah kamu bangun yuk! Kasihan Marvel sudah menunggu.''
''Iya.'' Kevin kemudian melepaskan istrinya dan segera menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan bersiap, Kevin segera menyusul untuk sarapan pagi. Di ruang makan terlihat Keira sedang menyuapi Marvel.
''Marvel, kamu tidak bisa makan sendiri?''
''Maaf Pah, aku hanya ingin di suapi oleh Mama.''
''Sudahlah Mas, tidak apa-apa. Walau bagaimanapun Marvel kan tetap anak-anak.''
''Ya nanti dia jadi manja dan tidak mandiri. Dia kan anak laki-laki jadi tidak boleh manja dan harus berani, dia itu......,'' belum selesai bicara Keira dengan sengaja langsung menyuapkan penuh makanan ke mulut suaminya. Seketika Kevin terdiam, sedangkan Marvel dengan mulut penuh menahan tawanya.
''Sarapan Mas, jangan mengoceh.'' Tegur Keira dengan kesal.
''Kamu ini tega sekali,'' kata Kevim dengan wajah memelas.
''Habis kamu sih, anak lagi makan malah di omelin. Kalau mau ngasih nasihat, tunggu saat dia santai. Kalau dia pergi sekolah tapi moodnya sudah jelek, dia akan susah konsentrasi di kelas, Mas. Paham kamu, Mas?''
Kevin hanya mengangguk dengan mulut penuh makanan.
''Ayo Marvel, habiskan sarapannya ya. Oh ya nanti Mama jemput ya, kita jalan-jalan ke mall.''
''Oke Mah. Kebetulan sekali ada sesuatu yang ingin Marvel beli. Marvel ingin membeli tas dan sepatu.''
''Sepatu dan Tas kamu kan masih baru, sayang.''
''Bukan untuk Marvel, Mah. Tapi untuk Anrez. Aku melihat kemarin resleting tasnya rusak, terus Marvel melihat ujung sepatunya sudah sobek.''
''Ya ampun kasihan banget dia. Boleh deh nanti belikan untuk dia.''
''Terima kasih ya Mah.''
''Anrez bukannya calon anaknya si Johan ya, Kei?''
''Iya Mas.''
''Gimana sih dia jadi cowok nggak tanggung jawab? Itu kan calon anaknya, kenapa dia tidak perhatian sama sekali? Bagaimana bisa seorang calon Ayah mengabaikan calon anaknya. Keterluan juga si Johan, masa cuma mau sama Ibunya saja,'' cerocos Kevin. Keira lalu menempelkan jari telunjuknya pada bibir Kevin.
''Mas, habiskan makanan dulu. Kita jangan menjudge orang dulu. Apalagi Johan dan Bu Tessa, sibuk mempersiapkan cafe baru mereka. Bisa jadi baru rusak tadi, iya kan? Jadi stop buruk sangka!"
''Iya deh mentang-mentang sahabat kamu, kamu jadi membelanya.''
''Sekalipun dia sahabat, kalau salah tetap aku tegur kok. Kamu yang suami aku saja, kalau kamu salah juga tetap aku tegur.''
''Iya-iya, maaf.''
''Sebaiknya kamu fokus makan ya, Mas. Nanti keselek!"
Setelah selesai sarapan, Marvel pun berangkat ke sekolah dengan di antar oleh Papanya. Tak lupa keduanya berpamitan dengan Keira.
''Mah, Marvel berangkat dulu ya.''
''Iya, Sayang.''
''Adek bayi, Kakak sekolah dulu ya. Kamu baik-baik ya di rumah sama Mama.'' Ucap Marvel sambil mengecup perut Mamanya.
''Aku juga berangkat dulu ya sayang,'' kata Kevin sambil memeluk dan mengecup kening istrinya.
''Iya Mas, kamu juga hati-hati ya.''
__ADS_1
''My baby bala-balanya Papa, kamu baik-baik ya di rumah. Papa kerja dulu ya dan jangan menyusahkan Mama.'' Ucap Kevin seraya mengecup perut istrinya.
''Apaan sih Mas, baby bala-bala,'' Keira terkekeh.
''Lucu saja kalau ada bala-balanya,'' kata Kevin seraya tertawa.
''Papa sama Marvel hati-hati ya. Semangat kerja dan sekolahnya.''
''Siap Mah!" jawab Marvel dan Kevin dengan kompak.
-
Setelah selesai menjemput Marvel, Keira hendak menuju kantor suaminya. Namun saat masih di tengah jalan, Kevin meneleponnya.
''Halo Mas, ada apa?''
''Sayang, maaf ya kalau aku tidak bisa menemani kamu ke mall. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Kamu tahu kan kalau proyek smart watchku baru saja kembali.''
Keira mendengus kesal. ''Kamu bagaimana sih, Mas? masa kamu batalin begitu saja.''
''Maaf sekali ya, sayang. Kan ada Marvel juga. Kalau kamu belanjanya banyak, minta tolong Pak Wahyu untuk menemani kamu saja. Ingat ya jangan bawa yang berat-berat.''
''Ya sudah kalau begitu, Mas.''
''Sekali lagi maaf ya, sayang. Dan nanti aku juga akan lembur lagi. Kamu nanti tidur saja tidak usah menunggu aku ya. Kasihan kalau kamu begadang untuk menunggu aku.''
''Kamu lembur sama siapa?''
''Sama Krisna dan staf yang lain juga. Kamu jangan lupa makan, minum vitamin dan susunya ya.''
''Kamu juga jangan lupa makan ya, Mas.''
''Oke sayang. I love you, muah, muah!"
''I love you too suamiku.'' Tut tut tut tut panggilan pun berakhir.
''Kenapa Mah?''
''Papa tidak bisa ikut bersama kita.''
''Papa memang suka begitu, Mah. Suka membatalkan janji tiba-tiba.'' Kesal Marvel.
''Papa memang sedang sangat sibuk, sayang. Ada dua proyek sekaligus yang harus Papa tangani langsung. Kita belanja saja berdua kan masih ada Mama.'' Kata Keira yang berusaha menghibur kekecawaan Marvel meskipun tak di pungkiri Keira merasa kecewa karena Kevin mendadak membatalkan rencananya.
''Iya deh Mah.'' Kata Marvel pasrah.
''Pak, langsung ke mall ya.''
''Baik Nyonya.'' Jawab Pak Wahyu.
''Mah, jangan lepaskan tanganku ya.''
''Iya pacar kecilnya Mama.'' Keira tersenyum karena di perlakukan seperti seorang ratu oleh putra sambungnya itu.
''Mama mau beli apa dulu?'' tanya Marvel.
''Kamu dulu saja, sayang.''
''No Mama! Ladies first.''
''Okay, thank you my boy.'' Kata Keira sambil mengusap kepala Marvel. Marvel dengan senang hati menemaninya belanja. Hal pertama yang Keira tuju adalah daster karena semakin hari, perutnya akan membesar. Setelah semua yang ia butuhkan sudah ia beli, Keira lalu mengajak Marvel toko sepatu dan tas.
''Marvel, kamu bebas memilih apapun untuk Anrez ya.''
''Oke Mah.'' Sembari menunggu Marvel memilih barang yang ia butuhkan, ia memilih duduk karena kakinya sudah mulai pegal. Ia pun mulai haus dan tidak mungkin meninggalkan Marvel sendirian.
''Untukmu,'' suara Leon mengagetkan Keira.
''Leon!" seru Keira.
''Hai Kei, bagaimana kabarmu? Apa aku boleh duduk di sini?''
''Silahkan Leon.''
''Oh ya ini minuman untukmu. Kebetulan aku sedang membuka bazar minuman disini. Perusahaanku mengeluarkan produk minuman. Aku disini untuk bazar sekaligus promo. Saat aku berkeliling menawarkan minuman, aku melihatmu dan Marvel. Jadi aku memutuskan untuk menghampirimu.'' Jelas Leon.
''Terima kasih ya, Leon. Aku tidak menyangka seorang bos terjun langsung.''
''Itu harus Kei, untuk tes market.''
''Kalau penjualnya tampan seperti kamu, pasti banyak yang laku.''
''Kamu bisa saja, Kei. Jadi ge-er, hehehe. Kamu coba saja, aku ingin mendengar reaksi kamu.''
''FresCoffe,'' Keira membaca brand botol minuman Leon.
''Nama yang keren, aku coba ya.''
''Biar aku bantu buka tutupnya,'' kata Leon. Keira mengangguk dan menerima bantuan Leon.
''Mmmmm enak. Rasanya creamy banget. Perpaduan antara kopi, susu dan creamer semuanya pas.''
__ADS_1
''Rupanya kamu bisa menebak bahan utamanya ya?''
''Hehehe iya, aku kan dulu anak cafe juga.''
''Mama, aku pilih ini ya.'' Sahut Marvel sambil menenteng tas dan sepasang sepatu.
''Oke sayang.'' Marvel kemudian memberikan tas dan sepatu pilihannya pada pelayan toko.
''Hai Marvel!" sapa Leon.
''Hai Om,'' balas Leon dengan senyum ramahnya.
''Marvel, kemarilah!" kata Keira. Marvel kemudian duduk di tengah-tengah Leon dan Keira.
''Kamu mau coba minuman ini? Ini produk terbaru milik Om.''
''Marvel boleh coba, Mah?'' tanya Marvel.
''Boleh kok.'' Setelah mendapat ijin Mamanya, Marvel kemudian meminumnya.
''Bagaimana Marvel?''
''Enka Om. Aku suka.''
''Apa aku boleh mengajak kalian foto? tapi kalian arahkan brand produknya di depan kamera ya. Hanya untuk sekedar testimoni saja kok.''
''Iya Leon, tentu tidak apa-apa.''
Leon sangat senang bisa berfoto bersama Keira, meskipun harus ada Marvel di tengah-tengah mereka. Leon memakai mode kamera depan untuk mengambil gambar mereka bertiga.
''Satu... dua... tiga...,'' ucap Leon. Cekrek! Cekrek! Cekrek! beberapa foto dan pose sudah berhasil Leon dapatkan.
''Terima kasih ya Marvel, Keira. Oh ya dimana Tuan Kevin? Aku dari tadi tidak melihatnya.''
''Mas Kevin sedang sibuk mengurus proyeknya yang sempat tertunda.''
''Oh begitu tapi kamu tidak menyetir sendiri kan?''
''Tidak kok. Aku ada supir.''
''Permisi Tuan-Nyonya, ini struk belanjanya.'' Kata pelayan toko itu saat memberikan barang milik Marvel.
''Terima kasih, Mbak.'' Kata Keira sambil menerima struk, sekaligus membayarnya.
''Oh ya Tuan-Nyonya, boleh meminta foto kalian bertiga. Kebetulan toko kami sedang ulang tahun ke-10 jadi kami sedang mengadakan kontes foto keluarga. Nanti pemenangnya akan mendapatkan beasiswa pendidikan senilai 20 juta.'' Leon dan Keira saling melempar pandangan merasa bingung harus berbuat apa. Namun tiba-tiba Marvel justru menyahutnya.
''Mah, aku mau! Ayo Mah, hadiahnya ingin aku sumbangkan ke panti asuhan.''
Mendengar apa yang Marvel ucapkan, membuat Leon terharu. Karena Marvel memiliki hati yang sangat baik.
''Baiklah aku setuju!" sahut Leon.
''Tapi Le, kita kan bukan....''
''Sssttttt tidak apa-apa. Niat mulia Marvel harus kita wujudkan, Kei. Anggap saja aku pamannya Marvel.'' Kata Leon dengan senyum lebarnya.
''Mah, bolehkan?'' tanya Marvel lagi.
''I-iya boleh kok.'' Kata Keira.
''Baiklah Tuan-Nyonya dan juga putranya silahkan berpose ya. Kalian bebas berpose ya. Jadi hasil foto ini akan kita share di akun media sosial toko kami. Pemenang akan di pilih dari jumlah like terbanyak.''
''Baiklah Mbak, kami siap!" sahut Leon. Mereka bertiga ternyata sangat kompak untuk berpose. Bahkan canda tawa mewarnai pemotretan mereka bertiga. Leon sangat bahagia bisa bersama Marvel dan Keira.
''Kei, begini saja aku sudah bahagia. Kenapa sangat sulit melupakanmu Kei?'' gumam Leon dalam hati.
''Wah, hasil fotonya bagus sekali. Kalian benar-benar keluarga yang kompak. Semoga menang ya Tuan-Nyonya.''
''Terima kasih ya, Mbak.'' Kata Leon dengan ramah.
''Sama-sama Tuan. Semoga keluarga Tuan dan Nyonya beruntung.'' Kata Pelayan toko itu dengan ramah. Keira, Marvel dan Leon kemudian meninggalkan toko tersebut.
''Baiklah Marvel, ayo kita pulang, Nak.''
''Tapi aku lapar Mah,'' kata Marvep sambil menepuk perutnya.
''Mama kan juga belum makan siang. Nanti kasihan dedek bayinya.''
Mendengar ucapan Marvel, Leon terkejut. ''Kei, kamu hamil lagi?''
''Iya Le, aku juga tidak menyangka akan di beri titipan secepat ini.''
''Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya. Baiklah kalau begitu, kamu harus makan Kei. Jam makan siang sudah lewat.''
''Marvel, kamu ingin makan apa? Biar Om yang traktir.''
''Serius nih, Om?''
''Iya dong.''
''Mmmm apa saja deh, Om. Aku sudah sangat lapar.''
__ADS_1
''Oke baiklah.'' Akhirnya Leon mengajak Marvel dan Keira makan bersama. Di sisi lain Keira tidak enak menolak ajakan Leon, namun disisi lain ia juga tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Apalagi ia sadar bahwa Leon menyimpan rasa untuknya.
Bersambung....