Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 175 Gairah Calon Pengantin


__ADS_3


Visual Kiss Krisna dan Laras 😍


****


Sesampainya di rumah Laras, Krisna mengantar Laras sampai masuk ke dalam rumahnya.


''Kamu benar-benar sendirian di rumah, Ras?''


''Iya Kak. Cuma ada Bibi saja sih.''


''Ya udah, ke kamar yuk?''


''Hah? apa? ke kamar? untuk apa?'' Krisna terkejut dengan mata membulat.


''Nonton film.''


''Laras, aku pulang saja ya. Kasihan Ibu.''


''Kak, lebih baik kamu cari pembantu deh. Kasihan Ibu kalau harus mengerjakan pekerjaan rumah setiap hari. Gaji kamu cukup kan untuk membayar pembantu?''


''Cukup-cukup saja. Tapi Ibu tidak mau.''


''Biar nanti aku bicara sama Ibu. Sekarang ayo ikut aku.'' Laras memaksa Krisna untuk ikut ke kamarnya.


''Nah, ini kamar aku.''


''Kamu suka warna putih?''


''Iya. Kalau warna putih kesannya lebih elegan dan bersih.''


''Karena sudah tahu kamar mu, aku pulang saja ya.'' Krisna mulai gugup lagi.


Laras tersenyum lalu memeluk Krisna. ''Kak, kenapa buru-buru? aku masih kangen. Aku sudah tidak sabar ingin segera menikah.''


''Iya Laras kan bulan depan kita sudah sah.''

__ADS_1


''Kakak mau icip nggak?'' goda Laras.


''Icip? icip apa? aku tidak mengerti.'' Jawab Krisna dengan gugup.


''Icipin aku?''


''Icipin kamu? memangnya kamu makanan di icip?'' ucap Krisna dengan polosnya.


''Ya ampun Kak Krisna benar-benar polos sekali. Jaman sekarang mana ada pria seperti ini? di godain bukannya tertantang tapi malah gugup?'' gumam Laras dalam hati. Dan entah kenapa Laras senang sekali menggoda Krisna, apalagi saat keringat dingin muncul di dahi Krisna.


Masih dalam pelukan Krisna, Laras mendongakan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya ke arah Krisna.


''Bibir kamu kenapa monyong gitu, Ras? kamu sariawan?''


''Ihhh kakak ini sama sekali tidak peka. Kita baru ciuman bibir dua kali lho. Yang pertama aku yang memulai dan yang kedua itu flat. Kakak tidak ada perkembangan kalau tidak aku yang memulainya duluan.''


''Ya, habis gimana?''


''Kakak pernah makan ice cream cone kan? nah anggap saja ini ice cream.'' Laras menunjuk bibirnya.


''Kakak boleh pulang kalau sudah menciumku. Aku akan semakin kuat memelukmu kalau kakak belum memberiku ciuman malam ini. Aku tidak akan bisa tidur kalau seperti ini. Atau aku cium pria lain saja?''


''Eh jangan, kamu kan calon istri aku. Masa iya minta ciumnya sama pria lain?''


''Makanya cium aku dulu,'' rengek Laras.


"Kak, kita kan sudah mau menikah. Aku pingin Kakak lebih berani lagi. Nggak mungkin kan saat malam pertama kita harus diskusi terongnya mau di ulek atau langsung di makan mentah?"


Lagi-lagi Krisna di buat bingung dengan ucapan Laras yang dari tadi menyinggung masalah terong dan ulekan.


"Laras, maaf sekali tapi apa hubungannya terong sama malam pertama? apa saat malam pertama nanti kamu ingin mukbang terong balado gitu ya?"


"Haduh, malah mukbang lagi," batin Laras dengan kesal.


Laras kemudian menangkupkan kedua tangannya pada wajah Krisna. "Kak, lihat mata aku. Bisa kan serius sedikit dan mengerti maksudku. Cobalah pelan-pelan dan buang rasa trauma mu itu."


"Laras, apa suatu saat kamu akan menyakiti dan meninggalkan aku? apakah kamu akan tetap mendampingi aku jika aku tidak memiliki apa-apa lagi?"

__ADS_1


"Iya Kak. Kita akan bangkit sama-sama. Jangan takut dan ragu dengan apapun. Aku sangat tulus mencintai Kakak. Aku ini wanitamu, calon istrimu yang akan menjadi milikmu. Jadi belajarlah, Kak. Aku juga ingin di puaskan." Kata Laras dengan jujur dan apa adanya. Laras kemudian memejamkan matanya, memancing Krisna untuk bereaksi atau tidak. Tangan Krisna yang sedari tadi tegap seperti saat upacara, mulai meraih tengkuk Laras, sementara tangan kiri Krisna meraih pinggang Laras. Perlahan Krisna memiringkan wajahnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Laras. CUP! Krisna mendaratkan bibirnya pada bibir Laras. Krisna mengingat pesan Laras bahwa cara berciuman seperti memakan ice cream cone. Yang pertama kali Krisna lakukan adalah melahap pucuk ice cone lalu memainkan lidah menjilati ice cream cone itu. Laras terkejut saat Krisna menjilat bibirnya dengan lembut. Laras lalu melingkarkan tangannya pada leher Krisna. Laras yang sudah terlanjur bergairah, membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Kedua lidah keduanya saling bergelut. Krisna mulai merasakan jantunya berdegup semakin cepat dan adrenalinnya terpacu semakin kuat. Krisna lalu mel..u..m..a..t bibir Laras dengan lahapnya. Gairahnya sebagai pria normal mulai bergejolak. Ia menuntun Laras kearah sofa dan membaringkan tubuh Laras di atas sofa. Ciuman pun semakin panas nafas keduanya semakin memburu. Laras yang mulai merasakan nikmat, meraba dan menancapkan jemarinya pada punggung Krisna. Lidah keduanya saling membelit di dalam bahkan keduanya telah saling bertukar saliva. Ciuman itu semakin dalam dan semakin menuntut. Laras yang memakai midi dress, merasakan sesuatu yang mengeras menindihnya. Krisna sendiri merasakan bahwa juniornya menegang di balik celananya. Terasa seperti batang kayu yang menusuk perut rampingnya. Hampir sepuluh menit ciuman itu berlangsung, Krisna lalu melepaskan ciumannya. Ia melihat bibir Laras memerah karena hisapannya yang begitu kuat. Cara ciuman Krisna memang aneh bagi Laras namun Laras menyukai keanehan itu.


"Bibirmu memerah," ucap Krisna lirih sambil menyeka bibir Laras dengan lembut menggunakan ibu jarinya. Karena bibir Laras terlihat basah karena l...u...m...a...t..a...nnya yang terlalu dalam.


"Tidak apa-apa Kak, aku menyukainya."


"Apa aku boleh pulang?"


"Mmm aku minta sekali lagi, boleh?" pinta Laras dengan tatapan memelas. Krisna mengangguk pelan dan kembali melahap bibir Laras dengan penuh gairah. Kini Krisna mengangkat tubuh Laras dan mendudukkan Laras di pangkuannya. Laras sangat terkejut dengan tenaga Krisna yang begitu kuat dan perkasa. Duduk di pangkuan Krisna dengan kaki membelit pinggang Krisna, membuat Laras semakin merasakan desakan junior di dalam sana. Ciuman mereka semakin menuntut kala Krisna berani meremas b..o..k...o...ng milik Laras.


"Ahh," dan tiba-tiba ******* itu keluar dari bibir Laras. Laras yang memakai midi dress, membuat paha mulusnya terekspos jelas. Entah apa yang merasuki Krisna, tiba-tiba kedua tangannya meraba kedua paha Laras dengan sangat lembut. Dan itu semakin membuat Laras terangsang hebat. Tangan Laras tiba-tiba membuka satu persatu kancing kemeja Krisna. Krisna lalu menghentikan ciumannya dan mencegah tangan Laras.


"Jangan Laras! belum waktunya."


"Tidak apa-apa, Kak. Kita tidak akan melakukan itu. Ini hanya pemanasan saja." Kata Laras dengan entengnya.


"Laras, sebaiknya aku pulang. Aku takut kalau aku bertindak jauh. Cukup sampai disini tidak apa-apa kan? apa kamu sudah puas? apa aku sudah pandai berciuman?" tanya Krisna dengan tatapan polosnya seperti seseorang yang hendak di nodai.


"Kak, aku mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu tapi aku harus menjagamu. Apalagi di rumahmu sedang tidak ada orang tuamu. Itu tidak sopan, Laras."


Mendengar ucapan polos Krisna, Laras tersenyum geli. "Tapi apa kakak menikmatinya?"


"Iya, aku menikmatinya. Tapi cukup disini dulu sampai saatnya kita sudah menikah nanti."


"Baiklah Kak, aku mengerti." Laras kemudian turun dari pangkuan Krisna. Krisna pun segera berdiri dan merapikan kembali pakaiannya yang berantakan. Krisna kemudian memeluk Laras dan mengecup keningnya.


"Aku pulang dulu ya. Kamu baik-baik di rumah. Kalau kamu butuh teman, setelah aku sampai rumah, kita vidio call-an sampai kamu bisa tidur. Oke?"


"Iya Kak. Kakak hati-hati ya, begitu sampai rumah, langsung kabari aku."


"Iya kamu jangan khawatir." Krisna kemudian berlalu meninggalkan kamar Laras.


"Kak Krisna memang beda. Coba saja bukan Kak Krisna, mungkin aku sudah eng ing eng," ucapnya sambil tersenyum sendiri mengingat bagaimana adegan panasnya bersama Krisna tadi.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2