
Masih di restoran bersama Leon dan Nadia.
''Pelan-pelan makannya, Nad.'' Ucap Leon.
''Maafkan aku ya Leon. Kini kesan anggun dalam benakmu tentang diriku sirna sudah.'' Kata Nadia dengan mulut penuh makanan.
Leon terkekeh. ''Tidak masalah Nadia. Jadi diri sendiri itu lebih menyenangkan daripada harus berpura-pura. Ya intinya kita berusaha menempatkan sikap dimana kita berada.''
''Terima kasih ya sudah menjadi teman baik untukku.''
''Sifatmu yang seperti ini sangat mirip dengan Keira, Nadia.'' Gumam Leon dalam hati. Leon kemudian mengambil sehelai tisu lalu menyeka bibir Nadia yang belepotan. Nadia terkesiap dengan sikap Leon.
''Cara makanmu seperti anak kecil saja, Nad.''
Nadia lalu merebut tisu itu dari tangan Leon dan Nadia melanjutkan menyeka bibirnya sendiri.
''Terima kasih.'' Jawab Nadia yang berusaha santai di hadapan Leon. Untuk pertama kalinya, setelah berharap pada Miko ada pria yang yang bersikap hangat padanya.
Selesai makan siang, Leon dan Nadia keluar bersama dari restoran. Namun Leon tidak melihat mobil Nadia.
''Nadia, dimana mobilmu?''
''Kebetulan mobilku di bengkel. Makanya tadi aku terlambat karena menunggu taksi.''
''Kalau begitu, aku antar kamu ke apartemen saja ya.''
''Tidak usah Leon. Aku tidak mau merepotkanmu. Aku tahu kalau masih sibuk.''
''Tidak apa-apa Nadia. Bukankah kita teman? Kalau hanya sekedar tumpangan saja bukankah itu sebuah hal yang kecil.''
''Baiklah kalau begitu, Leon. Tapi benar ya tidak merepotkanmu?''
''Tidak Nadia. Ayo!" Leon kemudian mengajak Nadia menuju mobilnya dan segera mengantar Nadia menuju apartemennya.
''Oh ya nanti aku jemput kamu ya?''
''Oke, asal kamu tidak keberatan.''
''Tentu saja tidak, Nadia.'' Keduanya lalu saling tersenyum.
-
Sementara di kantor, Kevin tampak gusar. Ia bahkan melewatkan makan siangnya karena Keira mengabaikan pesan dan telepon darinya.
''Tuan!" suara Krisna mengetuk pintu ruangan Kevin.
''Masuk!" sahut Kevin dengan nada malas.
''Oh ya Tuan, ini beberapa berkas yang harus tanda tangani. Dan ini proposal kerja sama dari perusahaan elektronik yang tertarik dengan produk baru kita.'' Jelas Krisna seraya meletakkan tumpukan dokumen dihadapan meja Kevin. Bukanya merespon tapi Kevin justru melamun. Pandangan Kevin justru kosong dan melihat lurus ke arah pintu.
Krisna merasa bingung dan heran. Krisna memiringkan kepalanya lalu menaik turunkan telapak tangannya di depan wajah Kevin.
''Tuan! Tuan!"
Kevin pun akhirnya tersadar dari lamunannya. ''Iya ada apa Kris?'' ucapnya sambil mendongak kearah Krisna. Krisna pun mengulangi ucapannya tadi pada Kevin.
__ADS_1
''Apa ada masalah Tuan?''
''Mmmm aku mau tanya sesuatu padamu, Kris.''
''Tanya apa Tuan?''
''Apa kamu pernah cemburu pada istrimu?''
''Pernah Tuan, memangnya kenapa?''
''Hal apa ya membuatmu cemburu?''
''Saat mantan kekasihnya berusaha mendekatinya. Hal itupun terjadi sebelum kami menikah.''
''Lalu apa yang kamu lakukan pada Laras?''
''Saya tidak melakukan apapun, Tuan. Saya katakan saja padanya kalau saya tidak suka dengan mantan kekasihnya. Tapi saya sepenuhnya percaya padanya dan saya tidak pernah membahasnya atau sekedar menyindirnya dengan menyangkut pautkannya dengan mantan kekasihnya. Karena bukti pun sudah nyata kalau Laras lebih memilih saya untuk dijadikan suaminya. Intinya kami saling percaya Tuan. Cemburu itu wajar saja asal jangan berlebihan. Secinta-cintanya kita dengan pasangan kita, kita harus berpikir rasional Tuan. Kalaupun rasa cemburu itu berlebihan dan terjadi terus menerus apalagi selalu menyangku pautkan, tentu saja itu membuat pasangan kita menjadi tidak nyaman. Karena kita dianggap tidak mempercayainya.'' Jelas Krisna panjang lebar.
''Wah, pemikiranmu dewasa sekali Kris, sekarang.''
''Saya bicara seperti itu karena saya pernah merasakannya, Tuan. Mmmm apa Tuan sedang ada masalah dengan Nyonya Keira?'' Krisna mencoba menebak isi hati Kevin.
''Sebenarnya bukan masalah berat. Ya mungkin aku yang terlalu mencintainya, sampai aku bersikap yang menyakiti perasaannya.''
''Tuan minta maaf saja.''
''Aku sudah minta maaf tapi Keira mengabaikan pesan dan teleponku.''
''Kalau sudah seperti itu, berarti Tuan mengulang kesalahan yang sama. Apalagi Nyonya sedang hamil, moodnya pasti tidak tentu.''
''Tuan kan sudah pengalaman dalam pernikahan masa iya tanya sama saya.''
''Ya tetap saja aku butuh saran, Kris? Apalagi Kania dan Keira itu memiliki sikap dan watak yang berbeda.''
''Coba saja Tuan kirimkan maaf lewat buket bunga. Jangan lupa tulis pesan romantis untuk Nyonya.''
''Ide bagus Kris. Kalau begitu cepat belikan aku bunga dan kirimkan ke rumah ya. Aku akan menulis pesan cintaku untuk istriku.''
''Siap Tuan!"
''Terima kasih ya, Kris. Kamu sudah semakin pintar saja soal urusan begini.'' Kata Kevin sambil menepuk-nepuk lengan Krisna. Setelah menuliskan pesan untuk Keira dalam secarik kertas, Kevin lalu menyerahkan tulisan itu untuk Krisna.
''Kirimkan buket bunga yang paling cantik dan paling bagus.''
''Baik Tuan. Kalau begitu saya pemisi.'' Ucap Krisna seraya berlalu.
''Iya silahkan.''
Krisna terkekeh membaca isi pesan dari Kevin untuk Keira.
"Tuan Kevin, Tuan Kevin, bucinnya sungguh terlalu," gumam Krisna dalam hati.
-
Keira yang baru saja tiba dirumah setelah menjemput Marvel, segera pergi menuju kamarnya. Saat sampai di kamar, Keira di kejutkan dengan sebuah buket mawar merah yang sangat cantik diatas tempat tidurnya.
__ADS_1
''Buket bunga? Jangan sampai di Ferdi lagi,'' gumam Keira. Keira lalu membaca kartu di buket bunga tersebut.
...Untuk istriku tercinta. Maafkan aku ya sayang atas ucapanku tadi. Aku sungguh tidak tenang karena kamu marah. Aku bahkan melewatkan makan siangku karena terus memikirkanmu....
...Aku harap buket bunga ini bisa meredakan amarahmu. I love you istriku sayang. Jangan marah lagi ya, muach! Muach! Muach!...
...-Suamimu, Kevin-...
Keira tersenyum membaca pesan dari Kevin.
"Makanya Mas, jangan membuat gara-gara. Leon bahkan tidak pernah menggodaku. Kami bertemu dan menelepon juga karena memang ada kepentingan saja. Dari dulu masih saja cemburu dengannya." Gumam Keira. Keira memang sengaja mengabaikan pesan dari suaminya itu, supaya suaminya sadar dan tidak selalu berprasangka buruk padanya.
Keira kemudian menelepon Kevin, ia khawatir jika penyakit maag suaminya kambuh karena telat makan.
Kevin yang masih melamun dan menatap layar ponselnya, sangat bahagia melihat nama my lovely wife di layar ponselnya.
''Halo sayang, apa buketnya sudah kamu terima?''
''Iya Mas, aku sudah menerimanya. Terima kasih ya.''
''Aku yang terima kasih karena kamu sudah meneleponku. Maafkan aku ya sayang.''
''Kamu beneran belum makan, Mas?''
''Belum sayang. Selera makanku hilang karena kamu marah denganku. Kamu mengabaikan telepon dan juga pesanku.''
''Mau aku kirimkan makanan?''
''Tidak usah sayang. Nanti aku makan di kantin kantor saja. Lega sekali akhirnya aku mendengar suaramu.''
''Ya sudah Mas kalau begitu sebaiknya kamu makan ya. Aku tidak mau kamu sakit.''
''Iya sayang. Sekali lagi maafkan aku ya. Aku terlalu di butakan oleh cintamu.''
''Makanya Mas kalau cinta itu melek jangan merem, kalau merem kamu nabrak-nabrak jadi tidak tahu mana jalan buntu, jalan berkelok dan tikungan tajam.'' Kesal Keira.
''Iya-iya maaf ya sayang.''
''Kurangi over thinkingmu ya, Mas. Aku senang kalau kamu cemburu tapi kalau selalu dengan Leon, aku juga kesal. Leon juga tidak pernah menggangguku. Kami berhubungan juga karena ada hal yang penting. Lagi pula sudah nyata kalau aku mencintaimu, Mas. Kalaupun aku mencintai Leon, sudah pasti dari awal aku memilih Leon.''
''Iya-iya maaf sayang, aku salah. Maaf ya, kamu jangan marah.''
''Ya sudah kamu cepetan makan dan nanti jangan terlambat ya, aku tuggu disana bersama Marvel.''
''Iya istriku. Sampai ketemu nanti, kamu juga jangan lupa makan, minum obat dan vitaminnya ya.''
''Iya Mas.''
''Baiklah sayang, i love you.''
''Iya, i love you too.'' Panggilan pun berakhir.
''Dasar Mas Kevin! Sudah tua tapi kadang masih suka kekanak-kanakan juga,'' gumam Keira.
bersambung....
__ADS_1