
''Johan!" panggil Tessa sambil mengetuk pintu rumah Johan. Tessa menggendong Anrez yang tampak lemas. Mendengar suara Tessa, Johan pun keluar.
''Jo, badan Anrez panas sekali. Tolong antar aku bawa Anrez ke rumah sakit ya.'' Kata Tessa dengan wajahnya yang begitu panik.
''Anrez kenapa Tes?''
''Dia demam sejak tadi, Jo. Aku sudah coba kasih obat penurun panas, tapi demamnya belum juga turun. Aku khawatir sekali.'' Ucap Tessa dengan mata berkaca-kaca.
''Ya Allah, kasihan Anrez. Ya sudah aku ambil kunci mobil dulu.'' Ucap Johan dengan tergesa-gesa. Setelah mengambil kunci mobil, Johan segera membawa Anrez ke rumah sakit.
''Kamu sudah menghubungi Papanya Anrez?'' tanya Johan.
''Dia tidak bisa di hubungi, Jo. Bahkan sejak dua hari yang lalu setelah menyicil membayar uangmu, batang hidungnya sudah tidak tampak lagi.'' Kata Tessa.
''Maaf ya Jo, aku merepotkanmu.''
''Kamu ini bicara apa sih, Tes. Anrez kan anakku juga, sudah sewajarnya aku melakukan itu untuk Anrez.'' Kata Johan pada Tessa.
''Aku kasihan denganmu, Jo. Aku membebanimu. Seharusnya Rendy yang bertanggung jawab, bukannya kamu.''
''Mungkin kondisi Rendy juga belum membaik jadi dia juga butuh waktu istirahat.'' Kata Johan mencoba menenangkan Tessa.
Sesampainya di rumah sakit, Anrez segera ditangani oleh dokter.
''Bagaimana dokter?'' tanya Tessa yang sudah berada diruang pemeriksaan.
''Putra anda mengalami gejala tipus Nyonya. Sebaiknya dirawat beberapa hari di rumah sakit ya. Setelah ini akan kami pindahkan keruang rawat inap.''
''Apa tidak bisa rawat jalan saja dokter?'' tanya Tessa. Tessa menanyakan itu karena ia sungguh tidak ingin membebani Johan yang sedang kesusahan.
''Dokter, lakukan saja yang terbaik sampai putra kami sembuh.'' Sahut Johan.
''Jo, tapi kan.....,''
''Tidak apa-apa Tessa. Untuk saat ini kesembuhan Anrez yang paling penting. Kamu tenang ya.'' Kata Johan pada Tessa.
''Tolong ya dokter, berikan perawatan yang terbaik.'' Sambung Johan.
''Pasti Tuan. Kalau begitu saya permisi.''
''Iya dokter, terima kasih.'' Ucap Johan. Dokter kemudian berlalu meninggalkan ruangan.
''Johan, kamu sedang mengalami kesulitan. Aku tidak ingin membebani kamu.''
''Tessa, aku ada uang. Uang dari Laras dan Keira juga masih belum aku gunakan. Lihatlah wajah Anrez pucat sekali, demamnya saja tinggi sekali kata dokter. Kamu jangan memikirkan itu Tessa. Pikirkan saja kesembuhan Anrez.'' Ucap Johan sambil merangkul bahu Tessa.
''Ya Allah, Johan. Kenapa kamu baik sekali? Bahkan kamu begitu menyayangi Anrez dengan tulus. Aku hanya bisa berdoa, semoga masalah kamu secepatnya selesai. Aku semakin mencintaimu, Jo.'' Gumam Tessa dalam hati.
-
__ADS_1
''Mah, terima kasih ya. Kamarku bagus sekali. Lampu ini mirip sekali dengan kunang-kunang.'' Kata Marvel yang kini sedang berada di kamarnya bersama Mama dan Papanya.
''Sama-sama sayang. Apa kamu menyukainya?''
''Suka sekali Mah.''
''Mama memang kreatif sekali,'' puji Kevin sambil memberikan kecupan di pipi Keira.
''Iya Mama memang hebat.'' Marvel pun ikut mengecup pipi Mamanya.
''Kalau lampunya aku matikan tidak akan menjadi gelap seperti biasanya ya, Mah. Aku merasa ada kunang-kunang menemaniku disini. Mama memang yang terbaik.''
''Baiklah sayang, sekarang kamu pergi tidur ya. Besok kan kamu harus sekolah.''
''Oke Mah. Aku mau cium dedek bayi dulu.'' Kata Marvel seraya mengecup perut Mamanya.
''Dedek bayi, selamat malam dan selamat tidur. Tidur yang nyenyak ya, jangan nakal supaya Mama tidurnya juga nyenyak.''
''Iya Kakak Marvel,'' jawab Kevin dengan seny lebarnya. Kevin dan Keira lalu bergantian memberikan pelukan dan juga kecupan untuk Marvel. Setelah itu mereka kembali ke kamar.
Setelah sampai di kamar, tiba-tiba perut Keira terasa lapar.
''Mas, aku kok lapar lagi ya.''
''Lapar lagi? Kamu mau makan apa sayang?''
''Ya sudah aku minta Bibi buatkan ya?''
''Tidak mau, Mas. Aku maunya kamu yang membuatkan. Boleh ya Mas?'' rengek Keira sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
Kevin menghela. ''Baiklah istriku sayang. Kamu tunggu disini ya.''
''Aku ikut nanti kamu curang lagi minta bantuan si Bibi.''
''Ya ampun masa tidak percaya sih.''
''Iya aku tidak percaya, Mas. Sekalian buatin es teh manis ya, Mas. Kayaknya seger deh.''
''Iya sayang. Ya sudah ayo kita turun kedapur. Kamu ini ada-ada saja. Tinggal tidur saja malah lapar lagi.''
''Ya maaf, Mas. Namanya juga keinginan mendadak. Untuk cuma mie instan kalau aku mintanya mie yang belinya di Jepang, repot kamu.'' Ucap Keira terkekeh.
Akhirnya Kevin dengan mata yang menahan kantuk, membuatkan mie dan juga es teh manis untuk istrinya. Keira menatap punggung suaminya yang tampak gagah dari belakanh. Keira lalu beranjak dari duduknya dan memeluk suaminya dari belakang.
''Kei, kamu mengagetkanku saja.''
''Vibes kamu saat memasak itu keren banget, Mas. Jadinya aku gemes pingin nemplok.''
''Kalau begini terus, kapan aku selesai membuat mienya? Yang ada aku bikin adonan yang lain.'' Seloroh Kevin.
__ADS_1
''Ya udah kamu cepetan bikinnya nanti aku kasih jatah deh sebelum bobo, Mas.''
''Mmmm aku suka itu,'' ucap Kevin dengan senyum lebarnya.
''Yang enak ya, Mas. Terus jangan over cook ya.''
''Iya-iya sayang.''
Setelah mie jadi, Keira memakannya dengan sangat lahap.
''Kamu mau Mas?''
''Tidak usah. Aku masih kenyang sayang. Kamu saja ya yang menghabiskannya.'' Kata Kevin sambil mengelus kepala Keira.
''Ya sudah, aku habisin ya kalau begitu.''
''Iya. Jangan lupa setelah makan gosok gigi.''
''Iya-iya Mas. Kayak anak kecil deh diingetin segala.'' Ucap Keira terkekeh. Setelah makan malam dua kali, Keira dengan manja meminta gendong sampai di kamar. Sesampainya di kamar, Kevin mendudukkan Keira di sofa.
''Mas, aku gosok gigi dulu ya. Kamu siap-siap.''
''Beneran nih dapat jatah?''
''Iya dong, Mas. Kalau kamu tidak mau, juga tidak apa-apa.'' Ucap Keira seraya berlalu menuju kamar mandi.
''Mau dong sayang, aku siap-siap deh.'' Kata Kevin dengan semangat. Kevin lalu melepas pakaiannya dan hanya menyisakan celana berbentuk segitiga saja di tubuhnya. Kevin lalu naik keatas tempat tidur menunggu Keira keluar dari kamar mandi. Setelah beberapa menit, Keira keluar dari kamar mandi. Ia sangat terkejut melihat suaminya yang sudah menunggunya di atas tempat tidur.
''Mas, kamu gercep banget.'' Kata Keira.
''Iya, biar nanti pas on tidak perlu repot melepas baju, hehehe.''
''Mas tapi aku kok tiba-tiba mengantuk ya,'' kata Keira sambil menguap.
''Yah sayang, jadi dong. Aku udah lepas pakaian tinggal cd aja. Dia juga sudah tegang nih begitu mendengar kata jatah.'' Kata Kevin memelas. Keira menahan senyumnya melihat tingkah konyol suaminya itu.
''Maaf ya Mas, besok saja ya. Aku ngantuk banget. Perut aku rasanya penuh.''
''Kamu dibawah aja deh, biar aku yang kerja.'' Ucap Kevin yang sudah tidak sabar. Kevin lalu beranjak dari tempat tidur dan memeluk istrinya yang sedang duduk di depan meja riasnya.
''Kamu tidak bisa menolak sayang. Aku bikin mata kamu merem melek deh.'' Kata Kevin sambil merapa dua bukit kembar dari Keira. Otomatis Keira pun ter...ang...sang sangat tangan Kevin bermain di pucuk bukit kembar itu.
''Mas, aku ngantuk,'' ucapnya sambil menggeliat.
''Ya udah kamu tidur saja rebahan, biar aku yang kerja. Masa kamu tega sama aku.'' Rengek Kevin memelas.
''Iya deh, kamu udah bikin basa juga.'' Kata Keira dengan suara mende...sah. Karena kedua tangan Kevin sudah mencapai liang senggama milik Keira. Keira pun tak kuasa menolak saat Kevin menyentuh titik rang...sangnya. Dan malam itu Keira hanya bisa pasrah sambil menikmati permainan suaminya. Meskipun hanya satu ronde saja, Kevin sudah puas. Setidaknya hasratnya sudah tersalurkan. Setelah melayani suaminya, Keira pun tertidur tanpa mengenakan sehelai benangpun. Kevin pun menyusulnya dengan mendekap tubuh istrinya dari belakang.
Bersambung.... Maaf ya upnya cuma 1, seharian ini crazy up di My Perfect Husband 😁 yang belum baca, melipir kesana juga ya makasih 🙏🤗💖
__ADS_1