
Setelah menceritakan semuanya pada Keira, Kevin merasa sangat lega. Keira kemudian melepaskan pelukannya pada Kevin.
''Kei, apa aku boleh tanya sesuatu?''
''Tanya apa Mas?''
''Kemana kalung yang pernah kamu pakai di foto itu?'' tanya Kevin.
''Oh kalung itu. Itu kalung pemberian Bunda tapi aku lupa dimana kalung itu. Sepertinya terjatuh.''
''Memang kapan hilangnya Kei?'' tanya Kevin yang semakin penasaran.
''Aku juga sudah lupa, Mas. Tapi yang jelas saat aku sampai di rumah kalung itu sudah hilang.''
''Apa kamu pernah melihat sebuah kecelakaan yang sama dengan yang aku ceritakan?''
''Aku lupa juga, Mas. Yang jelas saat aku, Kakak dan Ayah pergi jalan-jalan, aku terpisah dengan mereka. Yang aku ingat hanya suara ledakan dan api berkobar begitu besar. Ayah dan Kakak menemukanku pingsan. Dan saat aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Aku lupa soalnya itu kan sudah terjadi 11 tahun lalu. Setelah itu aku seperti anak yang ketakutan saat melihat api dan suara ledakan, padahal aku sendiri takut gelap. Tapi Ayah dan Kakak merawatku dengan baik, bahkan mereka tidak pernah menceritakan apa yang pernah terjadi padaku. Mereka selalu memberikan kenangan indah dan menghapuskan kenangan buruk yang aku alami. Mereka sering mengajakku bermain petasan dan kembang api, jadi rasa takutku benar-benar hilang. Tapi anehnya dengan gelap, kenapa susah sekali di hilangkan? Apa karena aku perempuan ya, Mas? Jadi wajar kalau takut gelap,'' cerita Keira yang mengenang masa lalunya. Mendengar cerita Keira, membuat Kevin merasa kalau dia adalah gadis kecil yang pernah menolongnya.
''Kei, apa kalungmu sudah ketemu?''
''Tidak pernah ketemu, Mas. Sebenarnya aku sempat mencarinya tapi tidak pernah ketemu jadi ya sudahlah. Yang terpenting kasih sayang Bunda selalu terkenang di hati aku.''
Kevin kemudian mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan foto Kania saat memakai kalung itu.
''Apa kalung ini mirip dengan milikmu?''
''Lho Nyonya Kania juga punya?''
''Ini maksud ku, Kei. Kalung yang menjadi rahasia Kania. Setelah Marvel lahir, dia memilih menyimpan kalung ini.''
''Ini mirip sekali dengan milikku, Mas. Tapi ini pasti hanya mirip saja.''
__ADS_1
''Kei, kenapa kamu tidak mencoba mengingatnya lagi? Aku yakin kamu adalah gadis yang menolongku, Kei. Kania selalu berpesan untuk mencari pemilik kalung ini. Setidaknya untuk mengucapkan terima kasih atau memberi hadiah karena telah menyelamatkan nyawaku.'' Kata Kevin sambil mengguncang tubuh Keira.
''Tolong Kei ingat! Dimana kamu melihat api dan ledakan itu?'' paksa Kevin.
''Aku lupa Mas! Aku tidak ingat. Aku sendiri masih kecil. Aku tidak mau mengingat hal mengerikan itu lagi,'' marah Keira.
''Kei, kamu pasti gadis kecil pemberani itu Kei. Terima kasih kamu telah menyelamatkan naywaku Kei.'' Kevin dengan emosional dan mata berkaca-kaca memeluk erat Keira. Keira sendiri bingung dengan semua ini karena sungguh peristiwa itu membuatnya trauma dan ketakutan. Seorang gadis kecil berusia 9 tahun melihat kecelakaan tragis di depan mata.
''Aku harap kamu bisa mengingat kejadian utu kembali, Kei. Karena sejujurnya aku masih menyelidiki kematian orang tuaku yang mendadak.'' Kata Kevin yang semakin erat memeluk Keira. Keira bisa merasakan kesedihan yang di alami Kevin.
''Mas, maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak ingat apa-apa. Sebaiknya Mas tanya saja pada Ayah atau Kakak. Kalaupun ada sesuatu yang menjadi menimbulkan kejanggalan bertahun-tahun, aku siap membantumu, Mas.'' Kata Keira yang berusaha menenangkan Kevin.
''Setidaknya tenanglah dulu, Mas. Lebih baik kamu jemput Marvel dan aku akan menyiapkan makan siang untuk kita.'' Lanjut Keira.
''Baiklah kalau begitu aku akan menjemput Marvel.'' Kevin kemudian melepaskan pelukannya. Sebelum pergi menjemput Marvel, Kevin mengecup kening Keira. Mengetahui hal ini, membuat Kevin berharap bahwa Keira adalah gadis itu.
...****************...
''Hai sayang, kamu sudah pulang? Bagaimana dengan sekolahmu?'' ucap Keira seraya memeluk Marvel.
''Semuanya baik, Mah. Meskipun temanku hanya Anrez, hehehe.''
''Baiklah kalau begitu cepat ganti baju, cuci kaki dan tangan, setelah itu kita makan siang. Kamu nanti tidur di kamar Om Kenny ya.''
''Oke Mah.'' Kata Marvel seraya berlalu.
''Kamu juga sebaiknya cuci kaki dan tangan setelah itu makan siang ya, Mas.''
''Oke. Lalu kamar ku dimana?'' tanya Kevin.
''Menurutmu dimana Mas? Di kandang ayam saja sana,'' jawab Keira sembari berlalu menuju dapur. Namun tiba-tiba Kevin menarik Keira dan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
''Kei, ijinkan aku memelukmu. Memeluk malaikat kecil yang pernah menyelamatkan ku dulu.''
''Mas, belum tentu itu aku.'' Kata Keira.
''Kenapa kamu menyangkalnya?''
''Aku tidak menyangkalnya. Aku hanya tidak mau kamu salah sangka lagi.''
''Tapi naluriku mengatakan itu kamu.'' Kevin kemudian menunjukkan kalung itu di hadapan Keira.
''Ini milikmu kan Kei? Ada inisial huruf K di belakang bandul koin ini.''
Keira terbelalak tidak percaya bahwa kalung yang selama ini ia cari ada bersama Kevin. Kevin lalu memberikan kalung itu pada Keira. Keira kemudian memegang kalung itu untuk meyakinkan bahwa itu adalah miliknya. Kalung yang selama ini dia cari.
''Mas, ini memang benar milikku tapi maaf aku tidak ingat kejadian itu.''
''Tidak masalah kalau kamu belum mengingatnya yang penting kalung ini sudah kembali kepada pemiliknya. Dan Kania juga sekarang bisa semakin tenang karena aku sudah menemukan pemilik kalung ini. Kalung ini memang terlalu panjang jika di kenakan oleh anak berusia 9 tahun waktu itu jadi saat itu, aku benar-benar mengingat dengan jelas bandul kalung ini. Aku tidak mungkin salah, Kei.'' Kevin kemudian melepaskan pelukannya lalu membalik tubuh Keira untuk menghadapnya.
''Kei, mungkin ini yang dinamakan oleh takdir. Takdir membuat kita akhirnya bertemu kembali setelah 11 tahun berlalu.'' Mata Kevin pun tampak berkaca-kaca. Ia merasakan perasaan haru dan bahagia luar biasa.
''Mas, sudahlah jangan ada drama seperti ini. Aku justru senang kalau kita selalu berdebat dan beradu argumen.'' Kata Keira yang berusaha menahan air mata harunya. Kevin kemudian tersenyum dan melahap bibir Keira. Kevin pun menggiring Keira kearah dapur tanpa melepaskan lumatannya. Tubuh Keira yang sudah terhimpit di dinding, membuat Keira melepaskan lumatannya dan mendorong pelan tubuh Kevin.
''Mas, sebaiknya kita makan siang dulu. Nanti keburu dingin, kasihan Marvel.''
''Kei, ijinkan aku ********** kembali,'' kata Kevin yang langsung melancarkan lumatannya tanpa meminta persetujuan Keira. Tak di pungkiri, ciuman Kevin membuat Keira merasa ketagihan tapi ia tetap berusaha sedikit jual mahal supaya tidak terkesan murahan. Ciuman itu semakin dalam, membuat Kevin merengkuh tubuh Keira semakin dalam dan ciuman itu turun ke leher. Membuat Keira menahan desahahannya.
''Mama-Papa!" panggil Marvel. Suara Marvel menghentikan Kevin untuk menikmati romansa cinta bersama istrinya. Keduanya lalu saling melepaskan diri dan tersenyum kecil. Keira tampak panik dan salah tingkah. Ia lalu buru-buru merapikan pakaian dan rambutnya kembali, yang mulai berantakan karena ulah Kevin.
''Iya Marvel,'' sahut Keira. Ia kemudian berjalan kembali menuju ruang makan. Sementara Kevin tersenyum karena aksi agresifnya bisa memancing Keira untuk membalas ciumannya.
''Aku tidak akan menyerah, Kei. Malam ini aku harus menjadikanmu istriku seutuhnya,'' batin Kevin dengan senyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Bersambung.....