Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 302 Dua belas jam


__ADS_3

Tak terasa mereka menghabiskan waktu bersama seharian penuh. Langit pun semakin gelap namun tak menyurutkan kebersamaan Zidni dan Chika.


''Bagaimana kalau kita pergi ke taman hiburan?'' usul Chika.


''Mmmm ide bagus.'' Ucap Zidni. Tanpa pikir panjang keduanya lalu pergi menuju taman hiburan. Kali ini Chika yang mengajak Zidni mencoba semua wahana disana. Yang membuat Zidni terkejut, saat Chika menggandeng tangannya untuk mengajaknya naik ke salah satu wahana yang ada disana.


Setelah puas bermain disana, Chika mengajak Zidni untuk membeli ice cream.


''Oh ya kamu tunggu disini. Aku akan membeli ice cream.'' Kata Chika.


''Tidak usah, biar aku saja yang membeli. Tetap disini dan jangan kemana-mana, oke?'' ucap Zidni.


''Iya-iya, aku bukan anak kecil Zidni.''


Zidni tersenyum kemudian berlalu untuk membeli ice cream. Beberapa menint kemudian Zidni kembali dengan membawa dua ice cream cone.


''Aku tidak tahu apa yang kamu suka jadi aku beli rasa coklat.''


''Tidak apa-apa, aku menyukai semuanya. Terima kasih ya.'' Kata Chika.


''Sama-sama.'' Keduanya lalu menikmati ice cream sembari berjalan mengelilingi taman hiburan. Dan munculah ide jahil di kepala Chika. Chika mengoleskan ice cream ke wajah Zidni.


''Chika, apa maksudmu?'' ketus Zidni.


''Ups, aku tidak sengaja. Habis tanganku mendadak belok ke wajahmu.'' Jawab Chika asal sambil cengengesan.


Zidni menyeringai. Zidni lalu mengoleskan ice cream ke hidung Chika.


''ZIDNI!" seru Chika dengan kesal.


''Apa? Mau marah? Satu sama.''


''Awas ya, aku akan membalasmu.'' Ancaman Chika membuat Zidni mengambil langkah kaki seribu. Chika tidak mau kalah dan ia mengejar Zidni.


''Ayo kerja aku.'' Teriak Zidni dengan senyum lebarnya.


''Akhirnya aku bisa membuatmu tersenyum lagi,'' gumam Chika dalam hati. Zidni terus berlari namun Chika justru sengaja sembunyi. Zidni terkejut saat menoleh kebelakang, Chika tidak ada disana.


''Chika, dimana dia?'' gumamnya dengan panik. Zidni lalu kembali ke tempat semula sambil mencari Chika namun Chika tidak ada.


''Chika, dimana kamu?'' teriak Zidni. Zidni mulai panik karena tidak menemukan Chika.


''Chika! Chika!" Zidni terus berteriak memanggil Chika sembari berkeliling mencari Chika. Nafas Zidni terengah. Sampai akhirnya langkah kaki Zidni terhenti disebuah kerumunan. Yaitu kerumunan orang yang menyaksikan musisi jalanan bermain musik. Zidni lalu memutuskan mencari Chika ditengah kerumunan itu. Akhirnya Zidni menemukan Chika disana. Zidni yang kesal, langsung menarik Chika dari kerumunan. Chika terkesiap karena Zidni menariknya dengan kasar.


''Kamu darimana saja? Kenapa menghilang?''


''Siapa yang menghilang? Tadinya mau sembunyi tapi saat melihat ada kerumunan, aku penasaran jadinya kesini.''

__ADS_1


''Kamu sudah membuatku khawatir Chika. Aku merasa tanggung jawab untuk menjagamu. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan memaafkan diriku. Jangan pernah melakukan hal konyol seperti ini lagi. Ini bukanlah sebuah lelucon! Kamu membuatku jantungan saja.'' Cerocos Zidni dengan perasaan kesal dan marahnya.


Bukannya marah, Chika justru tertawa melihat Zidni marah.


''Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu? Hah?'' sambung Zidni.


''Kamu kalau marah itu lucu. Hidungmu kembang kempis.'' Celetuk Chika dengan tawanya.


''Aku sedang marah, Chika! Aku tidak sedang membuat lelucon.''


''Tapi bagiku itu lucu. Ayo pulang!" ucap Chika seraya berlalu.


Zidni mendesis. ''Baru kali ini aku marah tapi malah ditertawakan.'' Gumamnya kesal.


Akhirnya Chika dan Zidni memutuskan untuk pulang. Namun ditengah perjalanan, Chika merengek karena lapar.


''Zidni, makan yuk! Aku lapar.''


''Baiklah, mau makan dimana?''


''Terserah kamu saja. Aku makan apa saja oke.''


Zidni lalu membelokkan motornya kearah restoran. Keduanya segera masuk ke dalam dan memesan makanan.


''Terima kasih ya sudah mengajakku jalan-jalan. Hampir 12 jam kita bersama.'' Ucap Chika.


''Oh ya, apa benar kamu mengkhawatirkan aku?''


''Jangan ge-er dulu ya. Aku khawatir karena kamu keponakan Tante Gina. Apalagi di rumah cuma ada kita dan Bibi, kalau sampai kamu kenapa-kenapa, aku pasti yang di salahkan. Jadi, jangan salah paham apalagi ke ge-eran.''


Chika memicingkan matanya. ''Idih, siapa juga yang kege-eran. Biasa aja lagi. Sebaiknya kita habiskan makanannya, aku ingin secepatnya sampai rumah dan tidur.''


Zidni mendecih. ''Dasar!"


''Tapi sejujurnya, aku sangat khawatir denganmu, Chika. Aku merasa sepertinya aku mulai aneh.'' Gumam Zidni dalam hati.


...****************...


Akhirnya mereka sampai juga di rumah.


''Zidni, sekali lagi terima kasih untuk hari ini dan semuanya. Aku bahagia sekali. Aku kembali ke paviliun dulu ya. Selamat malam dan selamat beristirahat.''


''Iya sama-sama,'' singkat Zidni. Chika dengan langkah cerianya berlalu menuju paviliun.


Namun sesampainya disana, Chika melihat beberapa paperbag diatas tempat tidurnya.


''Apa ini?'' gumam Chika. Chika yang penasaran, segera membukanya. Isi paperbag itu adalah semua barang yang telah dibeli oleh Zidni.

__ADS_1


''Wah, bagus sekali. Sepatunya juga sangat cantik. Tapi ini dari siapa?'' Chika berusaha mencari pengirimnya. Akhirnya Chika menemukan sebuah kertas kecil di dalamnya.


Semoga kamu menyukainya. Aku ingin besok kamu memakainya saat pergi ke kantor, Chika.


-Mr. X-


"Hah, apa ini? Mr. X? Siapa dia? Apakah aku punya penggemar rahasia?" Chika bergumam penuh tanya.


"Sebaiknya aku mandi dulu, nanti aku pikirkan lagi siapa pengirimnya." Ucapnya seraya berlalu menuju kamar mandi. Sembari mandi pun, Chika mencoba menerka siapa pengirim barang-barang itu.


"Apa mungkin teman kantor ya? Aku akhir-akhir ini mulai berteman dengan Reni. Tapi tidak mungkin Reni mengirimkan ini untukku. Dia saja nasibnya sama seperti aku. Lalu siapa? Apa Nino? Tapi tidak mungkin. Aku dan Nino hanya berteman, meskipun aku mengaguminya. Tapi sepertinya tidak mungkin juga. Baiklah besok aku akan memakai ini. Pasti yang mengirim ini juga akan bereaksi saat aku memakai pemberiannya.


Keesokan harinya, Chika bersiap ke kantor. Ia memakai pakaian dan sepatu baru. Setelah selesai bersiap, ia lalu pergi menuju ruang makan. Chika terkejut karena Zidni sudah ada disana. Zidni terpesona melihat penampilan Chika yang lebih fresh dan modis baju itu.


"Baju baru ya?" tanya Zidni.


"Iya."


"Duduklah kita sarapan. Nanti kita berangkat bersama saja."


Chika terkejut mendengar ajakan Zidni. "Hah? Berangkat bersama? Aku tidak salah dengar?"


"Tidak Chika. Selama Om Miko dan Tante Gina belum pulang, penanggung jawab dirumah ini adalah aku. Pastikan kamu tidak membuat masalah."


"Membuat masalah? Bukannya kamu yang selalu membuat masalah?" Chika membalikkan ucapannya pada Zidni.


"Karena disini ada kamu, mau tidak mau aku juga harus menuruti perintah Om Miko. Kalau aku disini tinggal sendirian, aku juga pasti akan sesuka hatiku. Nanti kalau ada apa-apa denganmu, bisa habis aku. Sudah cepat makan."


"Kumat lagi deh galaknya." Gerutu Chika.


"Ngomong-ngomong, penampilanmu bagus seperti ini. Tapi kamu bilang belum gajian, kenapa bisa membeli baju baru?"


"Aku juga tidak tahu. Saat pulang semalam, sudah ada di kamar. Dan saat aku coba, semuanya pas bahkan sampai sepatu."


"Kok tidak tahu?"


"Tidak ada nama jelas pengirimnya. Masa iya pengirimnya Mr. X? Ini seperti teka-teki yang sulit di pecahkan. Kalau waktu aku sekolah dan mengalami cinta monyet, biasanya seseorang yang mengirim sesuatu seperti benda atau apapun kepada si penerima hadiah, pasti si pengirim ini ada hati dengan si penerima hadiah. Kalau memang si pengirim tidak ada hati pasti di tulis nama terangnya, iya kan?"


Sontak ucapan Chika membuat Zidni tersedak sampai terbatuk. Zidni menyambar minuman dihadapannya, lalu menenggaknya sampai habis. Mendadak ia dibuat panik sendiri.


"Memang bisa di simpulkan seperti itu?"


"Ya bisalah. Malah jaman dulu di kertasnya di tulis pemuja rahasia segala, norak banget kan? Kalau memang suka seharusnya bisa gentle kan? Apalagi jaman sekarang. Ya kalaupun memang tidak ada perasaan apapun, juga tidak ada salahnya kita memberi hadiah. Setidaknya si penerima bisa mengucapkan terima kasih. Bukankah begitu?"


"I-iya." Itulah jawaban singkat Zidni. Namun Chika sama sekali tidak curiga pada Zidni.


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2