Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 272 AKU???


__ADS_3

Laras sudah menunggu di ruang makan, menanti kedatangan sang suami yang akan membawakan makanan yang ia minta. Nyonya Dewi yang baru saja dari halaman belakang, melihat menantunya sedang duduk seorang diri di ruang makan. Nyonya Dewi kemudian menghampiri.


''Laras, kamu sedang apa Nak? Mau Ibu buatkan sesuatu? Tadi kamu sarapannya sedikit sekali.''


''Tidak usah, Bu. Laras sedang menunggu Kak Krisna pulang. Laras sedang ingin makan bakso.'' Jawab Laras dengan senyum lebarnya.


''Kenapa kamu tidak bilang? Ibu kan bisa membelikan kamu bakso. Di ujung jalan sana ada kedai bakso.''


''Tapi Laras ingin bakso beranak di dekat butik Laras, Bu.''


''Bakso beranak? Bagaimana bakso bisa beranak?'' Nyonya Dewi merasa bingung.


Laras terkekeh mendengar ucapan Ibu mertuanya. ''Jadi maksudnya bakso beranak itu, di dalam baksonya itu ada bakso lagi, Bu. Bakso di dalamnya itu lebih kecil dari bakso yang diluar.''


''Oh begitu, Ibu baru denger lhi kalau bakso bisa beranak. Ada-ada saja makanan jaman sekarang namanya.'' Nyonya Dewi pun ikut terkekeh juga.


''Laras!" suara Krisna terdengar nyaring saat memasuki rumah.


''Akhirnya datang juga pesanan ku,'' kata Laras dengan wajah gembiranya saat Krisna datang.


''Ini pesanan kamu, dua porsi bakso beranak dan dua es jeruk.'' Kata Krisna.


''Terima kasih ya, Kak. Sumpah aku lagi pingin ini bakso. Aku ambil baskom dulu. Kalau di mangkok sudah pasti tidak muat.'' Laras kemudian mengambil sebuah baskom di dapur. Tak lama kemudian Laras kembali dengan membawa sebuah baskom. Krisna dan Ibunya saling melempar pandangan, melihat sikap aneh Laras. Laras menuang bakso dengan kuah pedas itu ke dalam baskom.


''Ibu mau?''


''Tidak usah, Nak. Ibu melihatnya saja sudah kenyang apalagi lihat sambal dan cabai utuhnya itu sudah sakit perut ''


''Kakak mau?''


''Kamu saja yang makan. Aku sudah makan siang. Tapi kamu yakin akan menghabiskannya? Ini pedas dan porsinya banyak banget lho, Ras. Nanti kamu bisa sakit perut.''


''Tidak apa-apa Kak. Kakak tenang saja ya. Kalau begitu aku makan dulu ya.''


Krisna dan Nyonya Dewi dengan kompak menyaksikan Laras mukbang bakso beranak dengan rakusnya.


"Bu, Laras tidak habis darimana-mana kan?" bisik Krisna.


"Tidak nak. Daritadi Laras di kamar kok. Memangnya kenapa?"


"Kenapa dia seperti orang kesurupan ya, Bu? Krisna melihatnya saja sudah kenyang tapi Laras makan dengan begitu lahapnya."


"Sama, Ibu juga. Ibu melihatnya sudah sakit perut."


Setelah selesai makan, Laras bersendawa begitu kerasnya.


''Ups, maaf Bu kelepasan.'' Ucap Laras seraya menutup mulutnya.


''Laras, itu habis sebaskom?'' tanya Krisna seolah tak percaya.


''Hehehe iya Kak.'' Kata Laras sambil menunjukkan baskom itu pada suaminya.


''Ya ampun kamu ini kesambet apa sih? Bisa-bisanya habis semua.''


''Namanya juga pingin, Kak. Masa tidak boleh. Ya sudah kalau begitu aku mau tidur siang dulu ya, Kak. Kakak balik kerja sana. Terima kasih untuk bakso dan es jeruknya suamiku sayang.'' Ucap Laras seraya berlalu begitu saja. Krisna menaikkan alisnya penuh rasa heran.


''Sabar ya Bu, kalau menantu Ibu mendadak aneh.''

__ADS_1


Nyonya Dewi pun terkekeh. ''Kenapa minta maaf? Laras kan tadi katanya capek terus tidak selera makan. Kalau bakso ini bisa membangkitkan selera makannya bagus kan? Daripada dia tidak makan terus sakit gimana? Ibu itu sudah menyanyangi Laras seperti anak sendiri. Jadi semua kekurangan dan kelebihannya sudah ibu terima, Nak. Lagi pula dia wanita pertama yang berhasil merubah kamu kan? Kalau bukan karena Laras, kamu pasti masih jomblo sampai sekarang. Sudah, kamu kembali ke kantor sana.''


''Iya apa yang Ibu katakan benar. Terima kasih ya Bu, sudah mencintai istriku apa adanya.''


''Sama-sama Nak.''


''Ya sudah kalau begitu Krisna kembali ke kantor ya. Kemungkinan Krisna lembur karena Tuan Kevin masih cuti.''


''Iya Nak. Ya sudah kamu hati-hati ya.''


''Iya Bu. Titip Laras ya, Bu.''


''Iya, kamu tenang saja dan jangan khawatir.''


...****************...


Disebuah restoran, Leon dan Nadia sedang menikmati makan siang bersama.


''Nadia, kamu mau menemani aku?''


''Menemani kemana Leon?''


''Menjenguk babynya Keira.''


''Oh Nyonya Keira sudah melahirkan?''


''Iya sudah, Nad. Kamu mau kan setelah ini membantuku mencari hadiah untuknya.''


''Tentu saja, Leon. Kenapa tidak pergi sendiri?''


''Kalau aku pergi sendiri, kamu pasti sudah tahu bagaimana respon Tuan Kevin?''


''Cewek, Nad.''


''Oke ayo kita berangkat!" kata Nadia dengan penuh semangat.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Nadia dan Leon pergi menuju sebuah mall. Nadia langsung mengajak Leon ke toko khusus perlengkapan bayi.


''Ya ampun, ini menggemaskan sekali.'' Gumam Nadia sambil memeluk sebuah kaos kaki bayi. Dari kejauhan Leon mengamati Nadia yang tampak antusias melihat semua perlengkapan bayi.


''Melihat ini kenapa perasaan ku berbeda ya? Aku tahu usiaku sudah matang untuk menikah.'' Gumamnya lagi.


''Ehem!" Leon berdehem membuyarkan angan Nadia. Nadia pun terkejut.


''Leon, kamu mengagetkanku saja.''


''Kenapa Nad? Sedang memikirkan sesuatu?''


''Iya Leon. Melihat perlengkapan untuk bayi, membuatku merasa gemas dan bahagia sekali. Kamu lihat kan? Ini lucu sekali, Leon. Ada stroler, baju, mainan, boneka, popo dan yang lainnya membuatku mulai memikirkan masa depan.''


''Oh begitu rupanya. Aku pikir Bu Jaksa akan terus mengejar karir sampai bisa menjadi seorang kepala jaksa yang hebat dan terkenal.''


Nadia tersenyum kecil tanpa rasa tersinggung. ''Ada kalanya saat aku sendiri, aku memikirkan bagaimana kehidupanku kedepannya Leon. Apalagi kalau aku sedang sendiri, itu mendadak membuatku berpikir, apa tujuan hidupku yang sebenarnya?''


''Apa yang kamu katakan ada benarnya juga, Nad. Lalu apa yang kamu inginkan?''


''Ummm aku berpikir untuk menikah,'' celetuk Nadia. Leon pun kemudian tertawa.

__ADS_1


''Kenapa tertawa?'' sinis Nadia.


''Lucu saja, Nad. Seorang Ibu jaksa mendadak ingin menikah. Memang kamu sudah yakin? Mengurus rumah tangga bukanlah hal yang mudah.''


''Aku tahu itu tapi semua itu bisa di kerjakan sama-sama kan? Biasanya aku banyak mengambil kasus tapi setelah menikah, aku bisa menguranginya.''


''Memang sudah ada calonnya?'' selidik Leon.


''Hehehe belum sih. Itu juga yang membuatku bingung. Aku yang sangat sibuk sampai tidak sempat bergaul selain dengan dirimu, Leon. Itupun kamu yang selalu berinisiatif mengajakku keluar. Aku memang terlalu fokus pada karir dan impianku.''


''Nah gitu dong, Nad. Kamu seorang wanita jadi kodrat kamu sudah pasti menjadi seorang istri dan seorang Ibu.''


''Lalu bagaimana denganmu? Kamu tidak punya pacar?''


''Aku? Ya tentu pasti ada kearah sana. Aku masih belum punya pacar, Nad.''


''Belum punya pacar atau belum bisa move on?'' goda Nadia.


''Hhh move on? Mmmm sepertinya move on ku berhasil, Nad.''


''Sungguh? Wah, hebat dong. Sejak kapan kamu move on? Pasti ada seseorang yang sudah membuatmu move on ya?'' goda Nadia.


Leon tersenyum sembari menatap dalam Nadia. ''Iya. Dan kehadirannya membuatku melupakan perasaanku begitu saja.''


''Kenalin dong?'' ucap Nadia dengan senyum kecilnya. Entah kenapa ada rasa aneh di dalam hati Nadia saat mendengar Leon move on dengan hadirnya wanita lain.


''Kamu yakin ingin berkenalan dengannya?''


''I-iya.'' Jawab Nadia tergagap. Padahal di dalam sudut hatinya, ia tidak sanggup mendengar itu. Leon kemudian menggandeng tangan Nadia dan mengajaknya berjalan kearah sebuah cermin. Leon lalu menghadapkan tubuh Nadia kearah cermin.


''Sekarang kamu lihat kearah cermin itu?''


''Cermin? Untuk apa Leon? Kamu ini ada-ada saja.'' Kata Nadia yang merasa bingung.


''Sudah, kamu lihat saja kearah cermin itu.'' Pinta Leon. Nadia pun menurut dan melihat bayangan dirinya dan juga Leon di dalam cermin itu.


''Bukannya kamu ingin tahu siapa sesorang yang membuatku move on?''


''Iya tapi kenapa harus lihat cermin?''


''Karena jawabannya ada di dalam cermin itu, Nadia.''


''Maksudnya?'' Nadia masih tidak paham juga.


''Ya ampun, Ibu jaksa ini ya, masa tidak mengerti.''


''Aku memang terbiasa memecahkan teka-teki kasus tapi untuk teka-teki soal hati, aku tidak paham.''


''Jadi, seseorang yang membuatku move on adalah kamu, Nadia.''


Nadia terkejut dengan apa yang di katakan oleh Leon. ''AKU?''


''Iya kamu.''


''Jangan bercanda Leon! Ah sudah lah, kita lanjutkan saja memilih hadiahnya.'' Kata Nadia yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau berharap lebih apalagi dengan Leon yang selalu saja suka menggodanya.


''Aku tidak bercanda, Nad. Aku serius, kalau seseorang itu kamu.'' Ucap Leon dengan menatap lekat mata Nadia. Nadia terdiam dan tertegun mendengar apa yang Leon ucapkan. Antara percaya dan tidak.

__ADS_1


''Aku? Apakah benar itu aku?'' gumam Nadia dalam hati.


Bersambung....


__ADS_2