
Selesai makan malam, Krisna mengajak jalan-jalan Laras di pantai. Laras sengaja berjalan dengan menyembunyikan tangannya ke belakang. Ia benar-benar ingin menguji ke pekaan Krisna sampai sejauh mana. Namun tiba-tiba ia merasakan dinging yang begitu menusuk tulangnya. Laras yang saat itu mengenakan dress selutut lengan pendek berkerut, merasa kedinginan sekali. Kedua tangannya memeluk tubuhnya sambil mengusap-usap lengannya. Krisna memperhatikan Laras yang tampak kedinginan. Ia kemudian melepaskan jaketnya, lalu memakaikannya untuk Laras. Laras terkejut namun juga bahagia.
''Seharusnya tadi kamu memakai jaket, Laras.'' Kata Krisna dengan lembut.
''Aku pikir kita hanya makan malam saja, Kak.''
''Ya walaupun begitu kamu harus tetap memakainya karena angin disini kencang sekali. Apa masih dingin?''
''Ya sudah tidak terlalu, Kak.''
''Dua poin untuk Kak Krisna.'' Gumam Laras dalam hati. Krisna kemudian memberanikan untuk menggandeng tangan Laras. Laras di buat terkejut kembali dengan sikap Krisna.
''Tanganmu dingin sekali,'' kata Krisna.
''Ya karena aku memang kedinginan, Kak.''
Krisna kemudian menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya lalu ia genggamkan pada kedua tangan Laras. Krisna juga menempelkan kedua tangan Laras pada lehernya, supaya Laras tidak merasa dingin. Krisna mencoba berbagai cara untuk menghangatkan tangan Laras. Laras kini bisa melihat sisi lain dari Krisna yang sebenarnya begitu hangat.
''Sepertinya sikap acuhku ampuh untuk memancing Kak Krisna.'' Ucap Laras dalam hati.
''Sebaiknya kita segera kembali ke hotel. Kamu sudah sangat kedinginan.''
''Iya Kak.''
Mereka berdua kemudian berjalan beriringan. Krisna tampak menggandeng erat tangan Laras namun Laras tetap bersikap biasa saja dan tidak menunjukkan sikap agresifnya seperti biasa.
''Tiga poin untuk Kak Krisna,'' kata Laras dalam hati.
''Laras kenapa ya? Kenapa mendadak kalem seperti ini? Apa ada orang lain di hatinya?'' gumam Krisna dalam hati.
Sesampainya di hotel, Laras segera naik ke atas tempat tidur tanpa menggoda Krisna seperti biasanya.
__ADS_1
''Kak, aku sangat mengantuk. Aku tidur dulu ya.''
''Iya sebaiknya kamu segera tidur karena besok jam 11 pesawat kita sudah berangkat. Jadi kita bisa mempersiapkan semuanya.''
''Oke, baiklah.'' Jawab Laras dengan santainya. Ia kemudian menarik selimut dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Sementara Krisna memilih duduk di sofa dan membuka laptopnya untuk memeriksa pekerjaannya. Selama memerika pekerjaannya, Krisna merasa tidak fokus. Ada hal yang mengganjal di hatinya dengan sikap Laras. Sesekali Krisna menatap Laras yang tampak tertidur pulas. Krisna mencoba menarik nafas lalu menghembuskannya, berusaha untuk menenangkan perasaannya yang gamang itu.
Krisna kemudian beranjak dari duduknya, mendekat ke arah Laras yang tampak tertidur pulas itu. Krisna tersenyum lalu mengecup kening Laras cukup dalam. Laras tercekat dalam diamnya saat mendapat kecupan dari Krisna. Karena Laras sendiri hanya pura-pura tidur saja. Ia ingin melihat bagaimana sikap Krisna padanya saat ia tertidur. Setelah mengecup Laras, Krisna kembali duduk di sofa. Baru juga duduk, Krisna mendengar ponsel Laras berdering di dalam tasnya. Krisna yang penasaran segera mengambil ponsel Laras, ia sangat terkejut ketika ada nama Andy di layar ponsel Laras.
''Andy? Untuk apa dia masih menghubungi Laras,'' gumam Krisna. Krisna kemudian me-reject panggilan Andy. Namun tak berselang lama, Andy menelpon Laras kembali. Krisna sangat kesal karena Andy terus menelepon Laras, sampai akhirnya Krisna menerima telepon dari Andy.
''Halo Laras, kamu dimana? Kenapa butikmu tutup? Aku ingin memesan setelan jas.'' Kata Andy di seberang sana.
''Bukankah kamu ingin pergi dari hidup Laras setelah Laras menerima uang itu? Kenapa masih menghubunginya?'' terdengar suara Krisna tampak berat menahan kesal.
''Andy? Untuk apa sih dia masih meneleponku? Seharusnya aku memblokir saja nomornya,'' gumam Laras dalam hati.
''Ini siapa?'' tanya Andy di seberang sana.
''Maaf tapi bukan berarti aku tidak bisa menjadi temannya kan? Aku memesan baju padanya juga untuk membantunya, aku ingin menunjukkan bahwa aku benar-benar berubah dan bisa bersikap baik padanya.''
''Kamu tidak perlu menunjukkan itu padanya. Sebaiknya jangan ganggu Laras lagi.'' Tut tut tut tut, Krisna mengakhiri panggilannya begitu saja.
''Ini orang ngapain sih? Masih saja suka menganggu,'' gerutu Krisna. Krisna kemudian melihat ke arah Laras yang dianggapnya sudah pulas tertidur. Krisna kemudian menutup laptopnya dan ia memberanikan diri tidur satu ranjang dengan Laras. Ia kemudian berbaring miring mengamati wajah Laras. Di singkirkannya beberapa helai rambut yang menutupi wajah Laras.
''Maaf ya kalau aku bukan pria yang romantis dan aku mungkin jauh dari ekspetasi kamu tapi percayalah, aku sangat mencintai kamu Laras. Aku jujur sangat takut kehilangan kamu, aku terkadang juga takut kalau kamu tidka tulus denganku. Terkadang masa lalu yang buruk itu masih sering menghantuiku. Aku akan berusaha menjadi yang lebih baik untukmu. Maafkan aku ya.''
Mendengar untaian kalimat dari Krisna, Laras merasa tersentuh sekali. Laras mendengar semua apa yang di katakan oleh Krisna karena memang Laras sendiri belum tertidur. Tangan Laras kemudian memeluk tubuh Krisna, yang ia anggap sebagai guling. Krisna tersenyum, kemudian ia membalas memeluk Laras hingga keduanya benar-benar tertidur satu ranjang. Malam yang begitu hangat untuk Laras tertidur dalam pelukan sang kekasih.
--
Malam yang panjang masih Leon nikmati bersama Nadia. Mereka duduk di sebuah bangku sembari menikmati letupan-letupan kembang api yang sangat indah. Namun angin malam itu cukup kencang, membuat Nadia yang hanya mengenakan blouse tipis merasa kedinginan. Leon kemudian melepas mantelnya dan memakaikannya pada Nadia.
__ADS_1
''Leon, tidak perlu repot-repot.'' Ucap Nadia merasa tidak enak.
''Sudah tidak apa-apa pakai saja. Angin malam ini dingin sekali. Disana ada penjual minuman, aku akan beli kopi. Apa kamu mau?''
''Boleh.'' Singkat Nadia.
''Baiklah tunggu disini sebentar.'' Nadia mengangguk dan Leon segera pergi untuk membeli minuman.
Di tempat yang sama Kevin, Keira dan Marvel juga berada disana. Marvel tampak sudah mengantuk karena malam sudah semakin larut. Marvel sendiri sudah berada dalam gendongan punggung Papanya.
''Mas terima kasih ya sudah mengajakku kesini. Aku senang sekali melihat kembang api. Tapi sayangnya Marvel sudah mengantuk jadi kita tidak bisa melihatnya sampai selesai.''
''Lain kali kita bisa melihatnya lagi atau aku akan membelikanmu kembang api jadi kamu dan Marvel bisa bermain sepuasnya di rumah.''
''Boleh juga sih, Mas. Tapi lebih seru disini banyak orang dan ramai sekali.''
''Kamu ajak aja warga komplek ke rumah atau kita mainnya di taman komplek biar seru.''
''Ide bagus juga sih, Mas. Oh gara-gara kamu sering bawa jajanan kerumah sama gerobaknya, para warga pada nanyain lho, Mas. Mereka bilang Nyonya Keira kapan nyidam jajanan lagi? mereia bercanda seperti itu setiap bertemu denganku, Mas.'' Cerita Keira dengan tawa kecilnya.
''Kan disana memang jarang sekali ada jajanan seperti itu sayang. Apalagi kan itu termasuk komplek perumahan mewah jadi tidak boleh sembarangan masuk apalagi untuk pedangan seperti itu. Baru aku ini yang pertama kali bawa jajanan sama gerobaknya ke rumah itu juga karena istriku ini sedang ngidam.'' Ucap Kevin seraya mengecup pipi istrinya, Keira pun tersipu.
''Eh Mas, itu Nona Nadia bukan?'' kata Keira sambil menunjuk kearah Nadia yang tengah duduk sendiri.
''Iya. Sama siapa ya dia?''
''Kita samperin yuk Mas, boleh kan?''
''Ya sudah ayo kita samperin sebentar.''
Bersambung....
__ADS_1