Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 243 ++


__ADS_3

''Mas, aku nanti boleh kan jemput Marvel? Sekalian mau nengokin Anrez di rumah sakit sama Laras.'' Ucap Keira sembari menuangkan nasi ke dalam piring suaminya.


''Lho memang Anrez kenapa?''


''Tadi dikabarin sama Laras kalau Anrez kena tipus jadi harus opname.''


''Mah, nanti aku ikut jenguk Anrez ya.'' Sahut Marvel.


''Iya sayang, makanya nanti setelah jemput kamu, kita langsung ke rumah sakit.''


''Iya Mah.''


''Yang penting harus ada body guard yang menjaga kamu.'' Sahut Kevin.


''Iya Mas. Oh ya gimana perkembangan kasusnya Johan, Mas?''


''Nanti Krisna dan Johan akan ke kantor polisi bersama pengacara, sayang. Kamu tenang ya, ingat kamu sedang hamil. Aku tidak ingin kamu stress.''


''Iya Mas.''


Selesai sarapan, Kevin segera berangkat ke kantor sekaligus mengantar Marvel ke sekolah.


Saat jam istirahat di sekolah, Marvel merasa kesepian karena tidak ada Anrez. Marvel memilih menghabiskan waktu untuk membaca buku di bangku taman. Saat pandangannya mengedar, Marvel melihat Luna juga sedang duduk sendiri di taman sekolah sambil membaca sebuah buku dongeng bergambar. Melihat Luna, Marvel lalu mencoba mendekati Luna.


''Hai Luna.'' Sapa Marvel. Luna hanya menatap Marvel sebentar setelah itu fokus kembali pada buku ceritanya. Marvel kemudian duduk disamping Luna.


''Sedang membaca buku apa?'' tanya Marvel. Namun Luna tetap diam dan tidak menjawabnya.


Marvel menghela. ''Kamu kenapa diam? Apa kamu tidak bisa bicara? Sekedar senyum juga tidak bisa? Atau kamu tidak bisa mendengar juga?'' cerocos Marvel dengan kesal. Luna lalu beranjak dari duduknya dan mendorong tubuh Marvel. Luna lalu pergi dan kembali ke kelasnya.


''Kenapa sih dia aneh sekali? Apa dia marah?'' gumam Marvel saat melihat Luna pergi begitu saja.


-


Kini Keira sudah berada di kamar rawat Anrez bersama Laras dan juga Marvel.


''Anrez!" seru Marvel.


''Hai, Marvel.'' Sapa Anrez. Marvel lalu memeluk sahabatnya yang masih terbaring itu.


''Aku kesepian tidak ada kamu di sekolah.'' Kata Marvel.


''Aku juga kesepian dan bosan dirumah sakit. Aku ingin segera kesekolah dan bermain denganmu, Marvel.'' Kata Anrez.


''Keira-Laras, duduk yuk!" ajak Tessa seraya menuju sofa. Mereka membiarkan Anrez dan Marvel untuk bercengkrama bersama.


''Iya Bu.'' Jawab Keira.

__ADS_1


''Seharusnya kalian tidak usah repot-repot segala membawa parsel seperti ini.'' Kata Tessa yang merasa sungkan dengan Keira dan Laras.


''Tidak apa-apa Bu Tessa,'' kata Laras.


''Oh ya terima kasih ya atas bantuan kalian berdua. Johan sudah cerita semuanya pada ku. Maafkan kami kalau malah merepotkan kalian.''


''Bu Tessa sudahlah, Johan adalah sahabat kami jadi Bu Tessa juga sahabat kami.'' Sambung Laras.


''Sekarang Johan mana Bu?'' tanya Keira.


''Katanya hari ini dia mau ke kantor polisi dengan sekretaris suami kamu, Kei. Lebih tepatnya dengan suami Laras.'' Kata Tessa.


''Semoga masalah ini cepat selesai ya, Bu.''


''Amin. Untung saja Johan memiliki teman yang begitu tulus pada kalian. Sampai suami kalian berdua ikut turun tangan.''


''Kalau suamiku Bu, tentu saja dapat perintahnya dari suami Keira,'' seloroh Laras dengan tawa kecilnya.


''Oh ya Bu, ada yang ingin aku beritahukan pada Bu Tessa.'' Kata Keira.


''Sebentar, sebaiknya jangan panggil aku Bu lagi ya. Kita kan sekarang teman, terlalu formal kalau kalian memanggil dengan Bu. Panggil nama saja.'' Ucap Tessa.


''Janganlah kami tidak enak. Kami panggil Mbak Tessa saja ya kan usia Mbak diatas kami,'' sahut Laras.


''Iya tidak apa-apa kalau Bu terlalu formal. Ya sudah kamu mau bicara apa, Kei.'' Ucap Tessa. Keira kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Rendy saat di restoran.


''I-iya Kei, benar sekali. Ini Rendy.''


''Jadi hari yang lalu, aku bertemu dengannya di sebuah restoran. Bisa dibilang itu restoran mewah. Aku tidak sengaja melihat Pak Rendy, keluar dari toilet bersama seorang wanita. Kata Johan, Pak Rendy sedang sakit tapi saat melihatnya sama sekali tidak menunjukkan sedang sakit. Justru terlihat bugar dan segar.'' Jelas Keira.


''Pantas saja beberapa hari ini dia tidak menemui Anrez. Bahkan sudah jarang. Dan beberapa hari ini ponselnya tidak bisa di hubungi. Apa dia berbohong dengan penyakitnya itu?'' kata Tessa berusaha menerka-nerka.


''Kalau sampai iya, berarti dia telah menipuku dan Johan juga. Johan meminjamkan uang 6 juta pada Rendy. Rendy memohon pinjaman untuk biaya berobat dan baru di kembalikan 1 juta saja.'' Sambung Tessa dengan perasaan penuh sesal.


''Kita jangan ambil kesimpulan buruk dulu, Mbak. Sebaiknya kita cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi pada Pak Rendy.'' Kata Laras.


''Iya Bu. Ya menurutku Pak Rendy bersama siapapun memang hak dia karena sudah tidak terikat dengan Mbak Tessa lagi. Tapi yang jadi masalah katanya sakit parah tapi kenapa bisa jala-jalan. Apa yang di katakan Laras ada benarnya juga. Sebaiknya kita cari tahu dulu.'' Sahut Keira.


''Iya kalian benar. Aku sebaiknya memang harus mencari tahu dulu tentang keberadaan Mas Rendy. Tapi saat ini aku akan fokus untuk kesembuhan Anrez dulu dan juga membantu Johan dalam menghadapi masalahnya ini. Aku tidak mau nanti justru akan membenaninya,'' jelas Tessa.


''Iya Mbak Tessa benar. Sebaiknya kita fokus itu dulu dan semoga ada titik terang.'' Kata Laras.


Setelah bercengkrama cukup lama, akhirnya Keira, Laras dan Marvel pamit pulang.


-


Jam 9 malam, Krisna baru saja tiba di rumah.

__ADS_1


''Hei suamiku, baru pulang ya?'' sapa Laras saat membuka pintu untuk Krisna.


''Kamu belum tidur, Ras?'


''Belum Kak. Aku masih menunggumu pulang. Kamu sudah makan malam belum?''


''Belum.Tolong kamu siapkan ya, aku lapar sekali.''


''Iya. Ya sudah Kak Krisna mandi ya, aku siapkan makan malamnya.''


''Iya. Oh ya Ibu mana?''


''Ibu sudah tidur. Makanya aku ngomongnya bisik-bisik.'' Kata Laras.


''Iya. Ya sudah aku ke kamar dulu ya.'' Ucap Krisna seraya memberikan kecupan di pipi Laras. Krisna segera menuju kamarnya untuk mandi. Sementara Laras, menyiapkan makan malam untuk Krisna. Lima belas menit kemudian, Krisna turun kebawah menyusul Laras yang sedang berkutat di dapur.


''Laras, i miss you.'' Ucap Krisna sambil memeluk Laras dari belakang.


''Kak, kamu mengagetkanku saja. Tiap hari juga ketemu masa udah i miss you.''


''Ya pacaran setelah menikah, memang selalu membuat rindu, Laras.'' Kata Krisna sambil mengecupi tengkuk Laras.


''Kak, geli ah. Nanti aku masaknya nggak kelar-kelar nih.''


''Aku capek banget jadi butuh asupan susu dari kamu.''


Laras tertawa mendengar ucapan suaminya itu. ''Sepertinya suamiku semakin bucin nih. Dulu aja takut tiap disentuh, sekarang nempel melulu.''


''Itu karena aku bahagia bersama kamu, Laras. Aku semakin hari, semakin cinta dan sayang sama kamu. Apalagi Tuan Kevin selalu menyuruhku lembur sejak kita pulang honeymoon. Belum lagi tugas tambahan bantuin Johan. Kadang aku pulang, kamu sudah tidur. Jadi kalau jauh dari kamu, rasanya rindu dan pingin ketemu. Kamu juga sejak pulang honeymoon nggak ngajak gituan lagi.''


''Kenapa kamu tidak minta, Kak? Kalau Kakak minta, aku juga kasihlah. Aku pikir Kakak capek jadi ya istirahat dulu, hehehe.''


''Memang tidak apa-apa aku minta duluan?''


''Ih Kakak ini masih polos aja. Sejak kita menikah sampai sekarang, aku terus yang minta. Sekali-kali aku juga pingin Kakak minta duluan. Kalau Kakak minta duluan, aku jadi semakin semangat goyangnya.''


''Baiklah setelah makan malam, aku minta ya istriku.''


''Iya Kak. Makannya makan yang banyak setelah ini aku goyang. Mau goyang apa? Goyang ngebor, goyang gergaji, goyang patah-patah atau goyang ngecor?'' seloroh Laras dengan tawanya.


''Semua goyangan deh aku mau.''


''Aku senang lho kalau Kakak yang mulai duluan. Apalagi kalau peluk sama ndrusel begini." Kata Laras.


Setelah selesai makan malam, Krisna menggendong dan membawa Laras ke kamar. Laras senang sekali karena Krisna yang berinisiatif memulainya. Baru juga sampai di kamar, Krisna buru-buru mengunci pintu. Krisna langsung me..lu..mat bibir Laras dengan rakusnya. Tangannya mulai aktif menelusup kedalam piyama milik Laras, menerobos masuk ke dalam bukit kembar yang kenyal itu. Laras sampai dibuat sesak dengan ciuman ganas Krisna. Krisna yang sudah tidak sabar melucuti semua pakaian Laras hingga Laras polos tanpa busana. Laras juga tak mau kalah dengan melucuti pakian Krisna. Krisna membalik tubuh Laras menghadap tembok. Kedua tangannya mengunci kedua tangan Laras. Krisna mengecup leher dan punggung Laras dengan menggila. De...sa...han pun lolos dari bibir Laras. Setelah puas mengecup punggung Laras. Krisna membalik tubuh Laras untuk menghadapnya dengan tubuh yang masih menempel pada tembok kamar. Krisna bergantian mengecup bagian depan tubuh Laras. Krisna mencium dan melahap bukit kembar itu dengan rakus. Laras sampai mengigit bibirnya merasakan nikmat yang luar biasa. Krisna bahkan meninggalkan jejak merah disana. Laras semakin menggeliat dan de..sa..hannya tak terkendali, saat lidah Krisna sudah bermain-main di liang senggamanya.


"Oughhhh...!" de...sah Laras semakin tak terkontrol kala Krisna membuatnya menggelinjang kenikmatan. Malam itu Krisna benar-benar menggila. Laras begitu menyukai dan menikmati kebuasan Krisna pada malam itu karena suaminya itu berhasil membuatnya mencapai puncak berkali-kali.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2