
Malam pun semakin larut, Keira pun mulai merasa mengantuk.
''Tidurlah disini,'' kata Kevin sambil menepuk pahanya. Keira menurut lalu ia berbaring sambil meletakkan kepalanya di pangkuan Kevin. Kevin pun mengusap lembut kepala Keira.
''Kamu pasti sangat lelah melewati beberapa hari ini kan?''
''Iya Mas. Tapi bagaimana dengan Marvel? Apa dia makan dengan baik?''
''Kamu tidak usah khawatir soal itu. Rima dan Bi Nani menjaganya dengan baik. Dia juga sangat senang mendengar kamu bebas. Tadinya dia mau datang kemari tapi aku melarangnya.''
''Iya Mas, aku kasihan kalau Marvel harus disini. Sebaiknya besok pagi aku pulang dan menengoknya. Mas, apa Ayah akan sembuh? Apa saat Ayah sadar, Ayah akan marah padaku?''
''Ayah tidak akan marah padamu, Kei. Kamu anak yang baik dan berbakti kepada orang tua jadi aku jamin Ayah tidak akan marah. Aku yang akan bicara pada Ayah nanti. Sekarang kamu tidur dan semoga besok Ayah bisa segera sadar.''
''Iya Mas. Terima kasih ya Mas untuk semua bantuanmu.''
''Sudah menjadi tugas dan kewajibanku sebagai seorang suami melindungi istrinya.'' Kata Kevin sambil terus membelai kepala istrinya, sampai akhirnya Keira terlelap dalam pangkuan Kevin.
-
Haripun berganti pagi, Keira terbangun dari tidur malamnya.
''Kamu sudah bangun?''
''Kamu tidak tidur, Mas?''
''Tidur tapi hanya sebentar. Aku kahwatir kalau aku tertidur kamu akan jatuh.''
''Ya ampun, Mas. Seharusnya kalau mau tidur bilang, jadi gantian kamu yang tertidur di pangkuan ku.''
''Sudah tidak apa-apa.''
''Mas, aku mau melihat Ayah dulu. Apa Dokter Alan sudah memeriksanya?''
''Baru saja dia memeriksa Ayah. Dan katanya semuanya sudah normal. Kemungkinan hari ini Ayah bisa segera sadar.''
''Syukurlah, ayo kita lihat Ayah, Mas ''
''Iya.'' Keira lalu menggandeng tangan Kevin dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan ICU itu.
''Selamat pagi Ayah. Ayah, Kei ada disini bersama Mas Kevin. Ayah bangunlah.'' Ucap Keira sambil menggenggam tangan Ayahnya.
''Ayah, Kevin juga ada disini. Sebelum menikah dengan Keira, aku sudah tahu semuanya Yah. Ayah percayalah pada Keira, dia anak yang baik dan sangat menyayangi Ayah. Dia juga ibu sekaligus istri yang baik. Aku sama sekali tidak meragukannya, Yah. Keira bisa menjaga kehormatannya untuk ku, suaminya. Ayah harus segera kembali sehat, sebentar lagi Ayah akan mempunyai cucu dari Kenny dan doakan saja semoga Keira segera hamil.'' Ucap Kevin.
__ADS_1
''Bukankah Ayah ingin melihat dan mengajak cucu-cucu Ayah bermain di halaman rumah? Jadi Ayah harus semangat ya.'' Sambung Keira. Dan perlahan Pak Ammar membuka matanya. Air mata Keira yang tertahan pun akhirnya lolos juga, saat melihat Ayahnya membuka mata. Pak Ammar kemudian menoleh ke arah putri dan menantunya.
''Kei!" lirih Pak Ammar.
''Ayah,'' Keira lalu memeluk Ayahnya dengan erat.
''Ayah, kenapa Ayah tidur lama sekali? Apa Ayah tahu betapa sedihnya aku? Maafkan aku Ayah, aku tidak bermaksud membohongi Ayah. Aku melakukan semua ini untuk membantu Kak Kenny dan juga untuk Ayah. Maafkan kenakalan aku ini ya, Ayah. Aku sangat mencintai Ayah. Ayah jangan pernah meninggalkan aku ya. Aku masih sangat membutuhkan Ayah. Maafkan aku ya, Ayah.'' Cerocos Keira panjang lebar sambil sesenggukan.
''Kei, kamu berat sekali. Ayah merasa sesak,'' kata Pak Ammar. Keira lalu melepaskan pelukannya dan menatap kesal Ayahnya.
''Jadi aku gendut?'' Melihat wajah cemberut putrinya, membuat Pak Ammar tersenyum.
''Kamu kan sudah bukan anak kecil lagi, Kei jadi pasti berat.''
''Ayah,'' ucap Keira dengan manja.
''Ayah memaafkan Keira kan?''
''Ayah sudah memaafkanmu. Sebenarnya saat kamu dan nak Kevin masuk, Ayah sudah sadar. Jadi Ayah mendengar semua yang kalian katakan.''
''Ayah menyebalkan sekali malah mengerjai kami.'' Ucap Keira.
''Syukurlah kalau Ayah sudah sadar dan kembali sehat. Aku lega sekali mendengarnya.''
''Nak Kevin, terima kasih ya sudah mau menerima Keira dengan segala kekurangannya.''
Tiba-tiba ponsel Kevin berdering. Satu panggilan dari Krisna.
''Aku angkat telepon dulu ya, Kei.''
''Iya Mas.''
Kevin lalu keluar dari ruangan itu dan menerima telepon dari Krisna.
''Halo Kris, ada apa?''
''Sebaiknya Tuan segera ke kantor. Karena ada masalah yang sangat genting tentang proyek baru kita.''
''Apa? Baiklah aku kesana.'' Kevin lalu mengakhiri panggilannya. Kevin bergegas menemui Keira dan Pak Ammar kembali.
''Keira-Ayah, aku harus ke kantor karena ada masalah di kantor.''
''Masalah tentang proyek baru kita.''
__ADS_1
''Ya sudah Mas pergi saja.''
''Iya nak Kevin, Ayah juga sudah membaik.''
''Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu ya.'' Ucap Kevin seraya mencium punggung tangan Pak Ammar dan mengecup kening Keira.
''Hati-hati ya Mas.''
''Iya sayang.''
Kevin kemudian buru-buru berlalu meninggalkan rumah sakit dan menuju kantornya.
-
Sesampainya di kantor, Kevin segera menuju ruangannya. Disana sudah ada Mauren, Krisna dan Siska.
''Kevin, syukurlah akhirnya kamu datang juga. Ada masalah, Kevin.'' Kata Mauren.
''Masalah apa?''
''Mendadak Tuan Steven dan Tuan Michael membatalkan kerja sama.'' Kata Mauren dengan raut wajah sedihnya.
''Apa? Bagaimana bisa? Apa itu benar Kris?'' kata Kevin sambil melemparkan pandangannya pada Krisna.
''I-iya Tuan.''
''Ini semua karena berita itu, Tuan. Berita tentang penangkapan Nyonya Keira. Mereka merasa di bohongi dan menganggap Nyonya Keira bisa membawa pengaruh buruk. Mereka mengambil semua uang yang sudah mereka investkan karena belum apa-apa, banyak tim mereka yang mundur karena berita ini. Mereka tidak mau merugi dan mengambil kembali uang mereka.'' Jelas Mauren.
''Yang lebih parah Tuan, diam-diam mereka sudah memproduksi smarwatch yang sangat mirip dengan milik kita. Hanya nama saja yang berbeda. Jadi kesimpulannya mereka menyabotase ide dan memproduksi lebih awal dari milik kita.'' Imbuh Siska sambil menunjukkan desain smartwatch lewat layar ipadnya. Kevin sungguh tidak menyangka kenapa mereka mendadak berubah drastis, padahal sebelumnya mereka sangat baik dengannya.
''Kenapa mereka malah menghianatiku? Kenapa kerja kerasku harus berbuah seperti ini? Produksi di hentikan, uang di ambil lagi dan sekarang mereka mencuri ideku. SIAL!" Kevin sangat marah mendengar semua itu.
''Lalu apa yang harus kita lakukan Tuan?'' tanya Krisna.
''Hubungi mereka dan tanyakan apa maksud semua ini,'' kata Kevin debgan suara meninggi.
''Ba-baik Tuan.'' Krisna dan Siska segera meninggalkan ruangan Kevin. Kevin berteriak kesal kenapa ini semua harus terjadi.
''Kevin, tenanglah. Maafkan aku, Kevin. Aku pikir Tuan Steven dan Tuan Michael tidak akan terpengaruh dengan berita buruk ini tapi ternyata itu sangat berpengaruh pada mereka. Aku merasa bersalah karena sudah mengenalkanmu pada mereka dan sekarang mereka malah bersikap sebaliknya. Aku pikir mereka tulus tapi ternyata malah memanfaatkan kesempatan ini dan sekarang perusahaan kita mengalami kerugian yang cukup besar.'' Kata Mauren panjang lebar yang berusaha menenangkan Kevin. Mauren lalu menepuk lembut punggung Kevin.
''Kevin, kita masih bisa membuat smartwatch baru dengan nama dan desain yang berbeda.'' Bujuk Mauren.
''Sebaiknya kamu pergi! Aku hanya ingin sendiri.'' Pinta Kevin dengan suaranya yang terdengar kasar.
__ADS_1
''Baiklah. Kamu baik-baik ya.'' Kata Mauren sembari berlalu meninggalkan ruangan Kevin.
Bersambung....