Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 250 Double Date


__ADS_3

Keira dan Marvel baru saja sampai di pelataran mall.


''Keira! Marvel!" suara lantang Leon memanggil keduanya. Leon sendiri juga baru saja tiba. Keira melambaikan tangannya pada Leon yang tak jauh dari tempat parkirnya. Leon dan Nadia kemudian menghampiri Keira dan Marvel.


''Ada Nona Nadia juga?'' tanya Keira.


''Iya Kei, aku sengaja mengajaknya. Tidak apa-apa kan?''


''Tidak apa-apa Leon, aku justru sangat senang.''


''Kamu semakin cantik dengan gaya rambut barumu, Kei.'' Ucap Leon.


''Terima kasih.'' Singkat Keira.


''Halo Marvel, bagaimana kabarmu?'' tanya Leon sambil mengajak Marvel tos.


''Hai Om, aku baik kok. Om bagaimana?''


''Om juga baik.'' Ucap Marvel sambul mengusap kepala Leon.


''Senang sekali bisa bertemu dengan anda disini Nyonya.'' Ucap Nadia sambil mengulurkan tangannya.


''Aku juga senang sekali kita berjumpa disini, Nona. Kalian berdua cocok sekali lho.'' Ucap Keira. Mendengar ucapan Keira, Nadia hanya memberikan senyum kecilnya.


''Marvel, kenalkan ini Tante Nadia.'' Kata Leon.


''Halo Tante Nadia. Nice to meet you.''


''Halo juga Marvel. Nice to meet you too.''


''Oh ya Kei, mana suamimu?''


''Mas Kevin katanya mau nyusul, katanya juga sudah di jalan.''


''Ya udah kita tunggu di dalam saja. Kita cari tempat duduk di dalam. Kamu sedang hamil jadi biar kamu tidak capek kalau kelamaan berdiri.'' Sahut Leon.


''Oke baiklah.'' Jawab Keira. Keira lalu menggandeng Marvel dan mengajaknya masuk ke dalam.


Tiga puluh menit kemudian, Kevin akhirnya sampai. Dengan langkah terburu Kevin memasuki mall dan segera menuju toko tersebut. Sesampainya disana, tepat disaat Leon, Keira dan Marvel menerima hadiah. Tentu saja melihat itu, Kevin merasa cemburu sekali. Seharusnya dia yang berada disana bukan Leon.


''Tenang Kevin, kendalikan perasaanmu.'' Gumam Kevin dalam hati.


''Tuan Kevin." Suara Nadia menyapanya.


''Lho Nona Nadia, anda disini juga?'' Kevin merasa terkejut melihat Nadia juga ada disana.


''Iya Tuan. Saya bersama Leon. Dia meminta saya untuk menemaninya.''


''Oh begitu.'' Singkat Kevin.


''Senang berjumpa dengan anda disini Tuan.''


''Begitu juga sebaliknya, Nona.'' Jawab Kevin dengan memaksa senyumnya. Hati Kevin semakin panas, saat Keira, Leon dan Marvel melakukan sesi foto. Setidaknya hati Kevin sedikit lega karena Leon datang bersama Nadia.


Akhirnya acara penerimaan hadiah pun selesai. Kevin melambaikan tangannya pada Keira. Begitu melihat Kevin, Keira membalas lambaian tangan suaminya dengan senyum kecilnya.

__ADS_1


Akhirnya acara itupun selesai. Marvel senang sekali mendapatkan hadiah itu. Melihat Papanya sudah berada disana, Marvel lalu berlari kecil memeluk Papanya.


''Papa!"


''Wah anak Papa hebat sekali ya, kamu memenangkan lomba ini.''


''Iya Pah. Semua ini berkat bantuan Om Leon juga.'' Ucap Marvel seraya melepaskan pelukannya. Kevin kemudian memeluknya istrinya dan memberikan kecupan di kening Keira.


''Maaf ya sayang, aku tadi terlambat.''


''Tidak apa-apa Mas.''


Kevin kemudian mengulurkan tangannya pada Leon. ''Selamat ya untuk kemenangan kalian. Terima kasih juga sudah membantu Marvel untuk mendapatkan hadiah ini, Leon.''


Leon tersenyum dan menyambut hangat uluran tangan Kevin. ''Sama-sama Tuan. Saya senang bisa membantu. Maafkan saya, seharusnya anda yang berada disana bukan saya. Semua itu terjadi tanpa terencana.'' Jelas Leon.


''Iya tidak apa-apa. Keira sudah cerita semuanya.'' Kevin berusaha tetap tenang dan bersikap biasa, meskipun tak di pungkiri ia merasa cemburu.


''Bagaimana kalau kita merayakan kemenangan kita dengan makan-makan?'' sahut Keira.


''Setuju Mah!" sahut Marvel.


''Kebetulan disini ada Nona Nadia juga, jadi Nona Nadia ikut sekalian.'' Kata Keira.


''Baiklah, saya setuju.'' Jawab Nadia.


''Kamu mau makan dimana sayang?'' tanya Kevin.


''Aku ingin makan sushi, Mas. Boleh kan?''


''Baiklah, aku juga setuju.'' Sambung Leon.


Leon dan Nadia berjalan di belakang Kevin dan Keira. Tentu saja terlihat jelas kemesraan dan keharmonisan rumah tangga mereka.


''Apa yang kamu lihat, Leon?'' bisik Nadia.


''Jalan lah, memangnya apa Nad?''


''Oh jalan. Mereka harmonis sekali ya. Kalau melihat pemandangan seperti itu, aku ingin sekali menikah. Memiliki suami dan memiliki anak. Keluarga kecil yang bahagia, yang di dambakan semua orang. Jadi iri melihat kebersamaan Tuan Kevin dan Nyonya Keira.''


''Menikah saja, Nad.'' Celetuk Leon.


''Iya tahu menikah tapi jodohnya belum ada, Leon. Kalau jodohku sudah ada, aku juga tidak mungkin mau menemanimu.''


Leon terkekeh mendengar ucapan Nadia. ''Bagaimana kalau kita menikah?'' goda Leon.


''Apa? Menikah denganmu? Oh tidak! Aku tidak mau menikah dengan seseorang yang masa lalunya belum selesai.''


''Wah, sombonh sekali kamu, Nad. Memang masa lalu siapa yang belum selesai?''


''Masa lalumu dengan Nyonya Keira lah. Aku tidak mau dijadikan pelampiasan.''


''Hahahaha, kamu ini serius sekali. Aku hanya bercanda.'' Kata Leon sambil mengelus kepala Nadia.


''Mau bercanda atau serius tetap saja sama. Seharusnya kamu ini memanggilku Kakak. Usia kita terpaut empat tahun.''

__ADS_1


''Apalah arti sebuah usia dalam pertemanan, Nadia.''


''Dasar!" kesal Nadia sambil mencubit pinggang Leon.


''Oww sakit,'' rintih Leon sambil meringis.


-


Makanan pun sudah memenuhi meja mereka berempat.


''Kamu yakin akan memakannya sayang?'' tanya Kevin.


''Iyalah Mas. Aku sedang ingin masakan Jepang.''


''Padahal kamu tidak terlalu suka makanan seperti ini.''


''Sepertinya anak kita deh Mas yang mau, hehehe.'' Ucap Keira sambil mengelus perutnya.


''Ya sudah kalau begitu kamu makan yang banyak ya.''


''Iya Mas.''


''Marvel, kamu butuh bantuan?'' tanya Kevin.


''No Papa, aku sudah bisa makan sendiri.'' Kata Marvel.


''Good boy. Baiklah makan yang tenang ya.'' Ucap Kevin.


''Saya sangat iri melihat keharmonisan keluarga anda Tuan-Nyonya.'' Kata Nadia yang berusaha membuka obrolan.


''Kami juga kadang-kadang juga sering bertengkar Nona, tidak semuanya mulus.'' Jawab Keira.


''Justru pertengkaran itu adalah bumbu dalam rumah tangga Nyonya, untuk semakin mempererat hubungan kalian.''


''Anda benar juga Nona. Yang jelas aku yang lebih sering membuatnya kesal. Melihat wajahnya menjadi kesal, membuatku semakin mencintainya. Wajahnya sangat lucu saat marah.'' Ucap Kevin sambil menatap istrinya.


''Dan aku senang sekali melihat wajahnya yang panik karena aku marah padanya, Nona. Apalagi saat dia memohon meminta maaf.'' Ucap Keira terkekeh. Kevin lalu merangkul istrinya dan mengecup pucuk kepalanya bertubi-tubi.


''Oh romantis sekali. Kalian sweet sekali. Kalian adalah pasangan favoritku.'' Kata Nadia dengan tatapan penuh rasa bahagia.


''Om Leon, apa Tante Nadia ini pacarnya Om Leon? Kenapa Om Leon dan Tante Nadia tidak menikah saja? Supaya bisa seperti Papa dan Mama.'' Celetukan Marvel kompak membuat Leon dan Nadia tersedak saat makan.


''Iya lho, kalian ini cocok sekali. Ayolah Leon, Nona Nadia itu paket komplit. Cantik, pintar, mandiri dan seorang jaksa yang hebat pula. Dan Leon juga adalah pria yang baik Nona. Dia itu hangat dan penyayang sekali.'' Kata Keira.


''Kei, kamu ini seperti sales marketing aja. Saling mempromisikan kami,'' ucap Leon terkekeh.


''Aku sebagai saksi bahwa kamu pria yang bukan hanya sekedar baik, Leon. Aku jamin Nona, bahwa Leon adalah pria yang terbaik untuk anda.''


''Baiklah Nyonya, saya akan mempertimbangkannya.'' Nadia terkekeh sambil melihat kearah Leon.


''Aku tidka bisa membayangkan memiliki istri seorang jaksa, Kei. Pasti setiap pulang kerja atau darimana, aku langsung disidang dan di dudukkan di meja hijau.'' Celetuk Leon dengan tawa kecilnya.


''Iya sekalian aku panggil Pak Hakim untuk mengadili kamu.'' Timpal Nadia sambil memukul lengan Leon. Kevin dan Keira tersenyum melihat tingkah keduanya.


''Semoga kamu dan Nona Nadia bisa bersatu, Leon. Kamu harus bahagia, Leon.'' Gumam Keira dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2