Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 199 Masalah Rumah Tangga


__ADS_3

''Nona, permisi tadi ada G-food mengantar makanan untuk anda.'' Kata salah satu karyawan Gina.


''Dari siapa Nin?''


''Dari tulisannya ada nama Tuan Prince William.''


''Oh Tuan William, oke terima kasih ya. Kamu boleh kembali.''


''Iya Nona, permisi.''


Gina kemudian membuka paperbag itu. Ada satu porsi Laksa, choco dessert box dan jus sayur di dalamnya.


''Hmmmm sepertinya enak nih.'' Gumam Gina. Gina kemudian mulai menyantap makanannya.


''Emmmm ini enak banget. Dimana William membelinya ya? Tahu saja kalau sedang ingin makan Laksa.'' Gumam Gina sambil terus menikmati makanan di hadapannya. Miko sendiri baru tiba di butik Gina. Ia tadi merasa bersalah dan ingin meminta maaf pada Gina. Miko datang membawakan dua porsi nasi padang dan dua es cendol. Makanan dan minuman favorit mereka saat masih bersahabat dulu.


''Gina!" seru Miko seraya membuka pintu ruangan Gina.


''Eh Mas Miko. Maaf ya aku sedang makan siang.''


''Yah, aku baru saja mau ajakin kamu makan siang. Ini aku bawakan nasi padang sama es cendol.''


''Ya maaf banget, Mas. Kamu juga tadi kenapa tidak bilang?''


''Namanya juga mendadak. Memang kamu makan apa?''


''Ini Laksa, ada desert boxnya dan jus sayur juga, Mas.''


''Tumben kamu makan seperti itu. Beli dimana?''


''Nggak beli kok, ini di kasih.''


''Si-siapa yang memberi?''


''Tuan William, Mas. Cobain deh enak lho Laksanya. Aku dari tadi pingin banget makan Laksa eh ada yang ngirimin juga.''


''William- William- Willam! Aku benci dengan William. Mulai sekarang tidak usah berhubungan lagi dengannya.'' Kata Miko dengan suara meninggi.


''Kamu ini kenapa sih, Mas? Biasanya kamu tidak pernah seperti ini lho, Mas. Yang mengirim makan juga bukan cuma Tuan William. Kenapa kamu sensi begitu? Masa iya mantan playboy cemburu.''


''Memangnya playboy itu tidak punya perasaan apa? Lagipula playboy itu masa lalu.'' Gina tetap saja melanjutkan makannya tanpa mempedulikan kemarahan Miko.


''Jangan-jangan kamu punya fair ya di belakang aku?''


''Ya ampun Mas, kamu kok suudzon sih? Ya nggak mungkin lah.''


''Itu aku marah tapi masih tetap makan makanan dari si bule itu.''


''Ya masa di buang, Mas. Kan sayang kalau di buang.''


''Terun nasi padang dan es cendol aku bagaimana?''


''Kamu kasih sama karyawan aku saja tidak apa-apa, Mas. Ini sudah terlanjut aku makan.''

__ADS_1


''Kamu ya memang tidak bisa menghargai suami.'' Miko meletakkan makanannya di atas meja dengan kasar dan ia kemudian berlalu meninggalkan ruangan Gina.


''Mas Miko ini kenapa sih? Kenapa ngambeknya kayak cewek gitu? Ah biarin lah, aku mau makan dulu. Sayang kalau di buang. Nanti dia juga baik lagi. Heran deh, nggak biasanya marahnya kayak gitu.''


-


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kevin baru saja sampai di rumah. Ia sangat lelah sekali setelah seharian bekerja. Saat masuk kamar, ia mendapati Keira tampak tertidur pulas. Ia kemudian memberikan kecupan di kening istrinya itu. ''Maaf ya sayang, aku harus lembur sampai malam.'' Gumam Kevin pada dirinya sendiri. Kevin kemudian segera bergegas untuk mandi. Namun baru saja akan beranjak mandi, Kevin mendengar nada pesan masuk di ponsel Keira. Kevin melihat ada nama Leon disana. Dengan segera Kevin membuka isi pesan itu. Leon mengirimkan gambar mereka saat selfie bersama di toko.


Leon : Terima kasih ya Kei untuk hari ini. Terima kasih juga telah membeli produk terbaruku.


Kevin mengeratkan rahangnya saat melihat foto kebersamaan Keira, Leon dan Marvel.


''Apa-apaan ini? Ini kenapa Marvel juga akrab dengan si Leon itu. Benar-benar keterlaluan, baru sehari saja aku absen menemani istriku, dia sudah memanfaatkan kesempatan. Dia ini bagaimana sih? Sudah tahu Keira ini bersuami tapi masih saja mendekati istriku.'' Gerutu Kevin dengan penuh amarah. Kevin benar-benar tidak bisa memejamkan matanya malam itu. Ia terus melihat foto kebersamaan Keira dan Leon.


Kevin kemudian keluar dan mencari Pak Wahyu yang sedang asyik nonton bola di pos satpam.


''Pak Wahyu tadi Nyonya pergi kemana saja?''


Suara Kevin benar-benar mengagetkan Pak Wahyu dan membuatnya sampai tergagap. ''Tu-tuan, saya sampai kaget.''


''Sudah cepat jawab pertanyaanku,'' kata Kevin yang tidak sabaran.


''Tadi setelah menjemput Den Marvel, Nyonya langsung mengajak ke mall, Tuan.''


''Apa kamu tidak ikut masuk ke dalam?''


''Tidak Tuan. Soalnya tadi Nyonya belanjanya cuma sedikit.''


''Hampir tiga jam Tuan.''


''Apa ada orang lain selain Nyonya dan Marvel?''


''Tadi saya melihat ada seorang pria yang mengantar Nyonya dan Den Marvel menuju tempat parkir.''


''Siapa namanya?'' Kevin terus mencecar Pak Wahyu dengan setumpuk pertanyaaan.


''Aduh siapa ya? Mmmm tadi Den Marvel memanggilnya Om Leon.''


''Apa mereka bergandengan tangan dan bermesraan?''


''Tidak Tuan. Hal itu sama sekali tidak terjadi. Sepertinya itu salah satu teman Nyonya juga.''


''Setelah ke mall Nyonya kemana lagi?''


''Tidak kemana-mana, Tuan. Setelah dari mall Nyonya langsung pulang.''


''Lain kali kalau Nyonya masuk mall ikuti dia, jangan biarkan dia sendiri. Nanti ada kuyang yang menganggunya.''


''Kuyang? Memang di mall ada kuyang, Tuan? Apa Tuan pernah melihat penampakannya?''


''Pernah! Makanya jaga Nyonya jangan sampai pulang di kintilin kuyang.'' Ketus Kevin. Selama menginterogasi Pak Wahyu, Kevin sungguh tidak merasa tenang. Ia benar-benar tersulut amarah.


''Si-siap Tuan. Atau perlu saya panggilkan Pak Ustadz Tuan?'' tanya Pak Wahyu dengan polosnya.

__ADS_1


''Perlu sekali untuk mengusir bala-balanya yang lain,'' ucapnya dengan kesal sambil kembali masuk ke dalam.


''Ini Tuan kenapa malam-malam marah? Jangan-jangan Tuan di kintilin setan juga nih,'' gumam Pak Wahyu.


Setelah sampai di kamar, Kevin melihat foto itu lagi. Ia melihat nama toko dalam foto itu.


''Sepertinya aku harus bertanya langsung dengan pemilik toko yang berada di mall itu. Tidak bisa di biarkan si Leon itu. Sudah jelas-jelas Keira ini milikku, masih saja berani menggodanya. Awas saja kamu, Leon!" Kevin mengepalkan tangannya seolah-olah siap beradu otot dengan Leon.


-


Keesokan harinya, Keira yang terbangun meraba sisi kasur yang kosong namun ia tidak mendapati suaminya.


''Mas Kevin kemana? apa dia sudah bangun?'' gumam Keira sambil menguap. Perlahan Keira beranjak dari tidur dan ia sangat terkejut melihat suaminya yang duduk di sofa dengan memandangi ponselnya.


''Mas, kamu sudah bangun?'' tanya Keira sambil mendekat kearah suaminya. Saat Keira berusaha memeluk, tiba-tiba Kevin menghindar. Keira merasa aneh dengan sikap suaminya.


''Mas, kamu kenapa? Kenapa menghindar?''


''Kemarin kamu kemana saja? Kenapa sama sekali tidak memberi aku kabar?''


''Lho Mas, aku kan sudah cerita kalau mau ke mall.''


''Terus kamu ke mall bertemu dengan siapa?''


''Tidak bertemu siapa-siapa, Mas. Aku hanya sama Marvel saja. Memangnya kenapa?''


''Kamu sudah berani bohong sama aku?''


''Aku tidak bohong, Mas.'' Kevin dengan geram menunjukkan fotonya bersama Leon.


''Ini apa? Apa maksud semua ini? Kamu bersenang-senang dengan pria lain? Iya?'' kata Kevin dengan suara meninggi.


''Mas tenang dulu. Ini aku tidak sengaja bertemu Leon. Dia membuka stand bazar di mall untuk produk terbarunya. Dia duluan yang nyamperin aku, Mas. Dia meminta foto untuk testimoni produknya saja, Mas. Demi Tuhan aku tidak bohong.''


''Lalu apalagi yang kalian lakukan?'' selidik Kevin dengan tatapan mata yang membuat Keira takut.


''Kami hanya makan siang biasa, setelah itu aku beli produknya dan aku menbagi-bagikan minuman itu.''


''Oh baik sekali ya hati kamu. Suami kerja dari pagi sampai malam, kamu malam senang-senang di luar sana. Kamu sudah tahu kan kalau Leon itu punya rasa sama kamu? Paham nggak sih kamu? Semakin kamu ramah dengannya, semakin terbuka jalan untuk mengambil celah. Kamu suka sama dia iya?'' amarah Kevin benar-benar memuncak.


''Mas maaf, tidak seperti itu. Aku sudah menganggapnya teman biass seperti aku dengan Johan.''


''Kalau dengan Johan, aku sama sekali tidak cemburu tapi kalau dengan Leon?''


''Mas, apa aku harus bersikap buruk padanya. Aku saja hanya berteman biasa. Dia juga tanyain kamu kok. Mas, kenapa kamu harus marah seperti ini? aku saja bisa memahami posisimu, saat Mauren seenaknya menggoda kamu. Meraba kamu, menindih kamu bahkan sampai membuka dadanya di hadapan kamu. Seandainya posisi aku seperti itu, apa kamu masih bisa berpikir secara logis?'' Kini giliran Keira yang marah dan mengungkit itu semua.


''Tapi beda cerita dengan Mauren, dia ada niat jahat.''


''Apapun alasannya itu lebih menjijikkan! Padahal kamu bisa saja menolak dan melawannya. Leon saja selalu sopan dan sangat menghargai aku. Saat aku terkena ledakan gas, dia juga membantu kita Mas, ingat itu! Kamu juga begitu membatalkan janji mendadak. Apa gunanya kamu punya banyak karyawan, Mas? Sekarang aku bisa merasakan kesepian yang Marvel rasakan selama ini.'' Keira meluapkan segala amarahnya pada suaminya. Ia kemudian beranjak pergi dan meninggalkan kamarnya.


''Kenapa malah Keira yang marah sih? seharusnya aku yang marah tapi kenapa situasi malah berbalik menyerangku? Aku semalaman tidak tidur karena memikirkan ini semua. Dasar wanita!" gerutunya sambil mengacak rambutnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2