Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 307 Kebenaran


__ADS_3

Dan untuk juara kedua di raih oleh Luna. Luna dengan langkah kaki kecilnya berjalan menuju panggung. Saat orang tua Luna di panggil, tidak ada yang naik keatas panggung.


''Kasihan Luna. Dimana orang tua nya?'' Gumam Keira dalam hati yang merasa kasihan pada Luna. Tak lama kemudian munculah seorang pria yang mengaku sebagai supir Luna. Supir itu mengatakan jika orang tua Luna berhalangan hadir. Keira merasa lega, setidaknya Luna tidak sendiri menerima hadiah itu.


Dan untuk juara umum ketiga, diraih oleh Anrez. Johan dan Tessa sangat bangga dengan prestasi Anrez. Dengan langkah semangat mereka bertiga naik keatas panggung untuk menerima hadiah.


Acara hari itupun berjalan dengan lancar. Saat hendak pulang, Keira melihat Luna bersama supirnya masuk ke dalam mobil. Keira tersenyum, ia lega karena Luna sudah ada yang menjemputnya.


Untuk merayakan kemenangan, Kevin mengajak keluarga Johan untuk makan bersama disebuah restoran. Tentu saja Johan tidak menolak dan menerimanya dengan senang hati.


''Terima kasih Tuan sudah mengajak kami merayakan hari ini.'' Ucap Johan.


''Sama-sama Jo. Ini untuk merasakan prestasi anak-anak kita. Semoga kedepannya mereka semakin sukses.''


''Amin.''


...****************...


Sementara itu pagi yang berbeda untuk Zidni. Pagi itu Chika mengantar sarapan ke kamar Zidni. Chika terkejut karena Zidni baru saja selesai mandi. Seketika ia menutup matanya karena kedua tangannya memegang piring dan segelas air.


''Maaf-maaf, seharusnya aku mengetuk pintu dulu.''


''Tidak masalah. Lagi pula aku juga pakai handuk. Apa kamu tidak pernah melihat pria bertelanjang dada?'' ucap Zidni seraya memakai pakaiannya.


''Sudah, jangan banyak tanya. Kamu sudah pakai baju belum? Mataku ini masih suci.''


Zidni menarik sudut bibirnya mendengar ucapan Chika. ''Iya sudah.''


Chika menghela lalu membuka matanya. Zidni bahkan sudah memakai celana.


''Ini sarapanmu. Bagaimana perutmu?'' tanya Chika.


''Sudah membaik.'' Jawab Zidni.


''Syukurlah. Ya sudah, aku letakkan disini ya. Aku mau pergi.''


''Pergi kemana?''


''Ini kan hari libur jadi Mas Nino mau mengajakku keluar.''


''Keluar kemana?'' tanya Zidni penasaran.


''Belum tahu juga sih, hehehe. Aku mau siap-siap dulu.'' Kata Chika dengan wajah cerianya.


''Auw, auw!" rintih Zidni tiba-tiba.


''Zidni, kamu kenapa?'' Chika tampak panik.


''Perut ku rasanya sakit lagi. Tolong buatkan aku air lemon ya.'' Pinta Zidni dengan akting kesakitannya.

__ADS_1


''I-iya, tunggu sebentar.'' Chika lalu membantu Zidni untuk berbaring di tempat tidur. Setelah itu Chika keluar menuju dapur untuk membuatkan Zidni air lemon.


''Aku tidak akan membiarkan Chika keluar dengan si Nino itu.'' Gumam Zidni. Tak lama kemudian, Chika kembali dengan membawa air lemon hangat untuk Zidni.


''Ini minumlah.'' Kata Chika.


''Terima kasih.''


''Aku akan menunggumu sampai makananmu habis dan obatmu juga masuk ke dalam perutmu.'' Ucap Chika sembari menyeret kursi kecil dan ia dekatkan disisi ranjang Zidni. Zidni tidak bisa mengelak. Ia lalu memakan bubur ayam yang di buatkan oleh Chika.


''Mmm ini buatanmu?''


''Iya. Memang kenapa?''


''Enak.''


''Iyalah enak. Masakanku selalu enak. Ya sudah, habiskan. Jangan seperti anak kecil. Kenapa tidak kekasihmu saja yang kamu suruh untuk merawatmu.''


''Kekasih yang mana?''


''Banyaklah. Koleksimu kan banyak.''


''Kalau sudah bosan, ya aku tinggal.'' Celetuk Zidni asal. Chika lalu menggeplak keras bahu Zidni.


''Aduh sakit!"


''Makanya jangan mempermainkan perasaan wanita. Pukulan ku masih kurang sakit jika dibandingkan dengan perasaan mereka.''


''Karena kamu sudah makan dan minum obat. Jadi aku pergi ya, kalau ada apa-apa telepon aku.'' Chika segera berlalu begitu saja meninggalkan kamar Zidni.


''Ah, aku gagal mencegahnya. Zidni, kamu mencegah Chika tentu bukan karena ada sesuatu yang aneh di hatimu kan?'' gumam Zidni sambil menyentuh dadanya.


Hari itu Nino mengajak Chika menghabiskan waktu ke taman hiburan. Namun justru saat Nino mengajaknya kesana, Chika justru teringat Zidni. Karena Zidni pernah mengajaknya kesana.


''Sadar Chika! Kamu sedang pergi bersama Mas Nino.'' Gumam Chika dalam hati. Nino kemudian memberanikan diri menggandeng tangan Chika. Chika terkejut karena Nino menggandeng tangannya tiba-tiba. Keduanya saling pandang lalu saling tersenyum.


''Sudah lama sekali aku tidak jalan-jalan seperti ini.'' Ucap Nino.


''Aku bahkan tidak pernah kemana-mana, Mas. Aku sibuk kuliah dan kerja saja.''


''Kamu kan memang pekerja keras, Chika.'' Kata Zidni.


Namun saat keduanya bergandengan tangan, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Nino dengan sebutan Papa.


''Papa!" tentu suara itu tidak asing oleh Nino. Nino lalu menghentikan langkahnya dan berbalik arah. Seorang anak kecil berusia lima tahun berlari kearah Nino lalu memeluknya. Chika bingung dengan apa yang ia lihat.


''Mas, anak kecil ini siapa?'' tanya Chika. Nino menunduk dan akhirnya mengakuinya.


''Maafkan aku Chika. Dia anak aku.''

__ADS_1


''Apa? Anak?''


''Iya Chika. Jadi kamu sudah menikah?''


''Iya.''


Mendengar kenyataan dari bibir Nino, Chika sungguh tidak percaya. Ia merasa di permainkan oleh Nino.


''Mas Nino!" seru seorang wanita yang notabene adalah istri Nino. Wanita itu lalu mendekat kearah Nino dan memeluknya.


''Mas, kamu ada disini? Aku tadinya mau mengejutkanmu.'' Ucap wanita bernama Kirana.


''Kamu kapan kemari sayang?'' tanya Nino


''Kamu ngapain disini, Mas? Oh ya aku tadinya mau datang ke rumah malam-malam. Tapi Nando memaksa mengajak kemari. Aku sudah menyiapkan hadiah kecil untuk hari jadi pernikahan kita.'' Kata Kirana. Chika merasa sebagai figuran di tengah-tengah kebersamaan Nino dan keluarnya. Perlahan Chika mundur dan memilih pergi. Chika tidak percaya kalau Nino akan membohonginya seperti itu. Saat ini bisa saja Chika memarahi Nino bahkan mempermalukannya tapi Chika tidak tega. Chika tidak tega jika harus membuat istri dan anak Nino kecewa dengan Papanya. Chika juga tidak mau dianggap sebagai orang ketiga apalagi pelakor. Jadi lebih baik Chika pergi daripada menambah suasana semakin panas.


Akhirnya Chika pulang naik taksi sambil terus menangis.


''Memang ya pria dimana saja sama. Yang mulutnya manis bahkan ucapannya tidak bisa di percaya. Aku tidak menyangka kalau Mas Nino sudah punya istri dan anak. Kenapa dia tega melakukan itu pada istri dan anaknya? Padahal istrinya juga cantik dan anaknya sangat menggemaskan. Kalau memang dia sudah beristri, kenapa dia merayuku juga? Untung saja perasaanku ini belum terlalu dalam pada Mas Nino. Ya Tuhan, maafkan aku. Aku hanpir saja merusak rumha tangga orang lain.'' Gumam Chika dalam hati.


Setelah sampai dirumah, Chika segera berali menuju paviliun. Dari balkon atas kamarnya, Zidni tidak sengaja melihat Chika sudah pulang.


''Lah, katanya mau jalan-jalan sama si Nino? Kenapa tuh anak sudah pulang?'' gumam Zidni penuh tanya.


**Bersambung.... Tinggal beberapa bab lagi ya udah END. Untuk Chika dan Zidni, menurut kalian judul yang bagus yang mana kira-kira ya? Komen dibawah ya, sebutin angkanya saja, makasih 🙏❤️




Mr. Arrogant Vs Chatty secretary (sekretaris cerewet)




Find me on your memory




Mr. Arrogant VS Noisy Girl




Crazy Love**

__ADS_1




__ADS_2