Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 197 Cemburu


__ADS_3

Akhirnya Anrez luluh dengan bujukan Papanya. Setelah menidurkan Anrez, Rendy berniat untuk pulang. Namun melihat wajah lusuh dan pucat Rendy, Tessa menjadi tidak tega. Akhirnya Tessa berusaha menawari Rendy makan.


''Kamu sudah makan?''


''Kebetulan belum.''


''Lalu makanan di tanganmu tadi?''


''Itu untuk Anrez saja. Anrez kan sangat menyukai ayam krispi.''


''Kalau begitu duduk dan makanlah sebentar.'' Kata Tessa yang tampak gugup menghadapi mantan suaminya itu. Akhirnya Rendy menerima tawaran dari Tessa karena ia merasa kasihan melihat Rendy.


''Terima kasih karena kamu masih baik padaku, Tessa. Mengingat apa yang pernah aku lakukan dulu. Sekarang aku benar-benar kehilangan semuanya.''


''Kenapa tidak meminta pacar-pacarmu saja untuk mengurus dirimu? Bukankah mereka lebih dari segalanya jika di bandingkan dengan ku dan Anrez.'' Sindir Tessa dengan nada sinisnya.


''Sekarang setelah tidak berdaya, baru kamu mengingat anakmu. Aku tidak habis pikir kenapa ada pria seperti dirimu.''


''Apapun yang kamu katakan, akan aku dengarkan. Karena aku memang pantas mendapatkan semua ini. Dapatkan aku meminjam uangmu?''


''Maaf aku tidak bisa. Aku sendiri baru di pecat dan aku tidak bekerja. Kamu tahu kebutuhan Anrez itu banyak belum lagi kebutuhan sekolahnya. Saat ini Johan yang membantu ku mengurus semuanya.''


''Kamu beruntung sekali akhirnya mendapatkan pria yang tepat.''


''Iya, aku memang beruntung sekali. Makanmu kan sudah selesai, sebaiknya kamu pergi saja. Dan berjuanglah untuk dirimu sendiri. Kalimat yang selalu kamu katakan saat aku sedang membutuhkanmu.''


Rendy menangguk, ia kemudian beranjak dari duduknya dan hendak berpamitan.


''Terima kasih untuk makanannya. Aku besok akan datang menemui Anrez kembali.''


Tessa tidak menjawab dan ia memilih memalingkan wajahnya dari Rendy. Ia benar-benar tidak mau lagi melihat Rendy di hadapannya.


-


''Nona Gina,'' suara pria yang tidak asing cukup mengejutkan Gina.


''Tuan Prince William! Ada perlu apa? Ini sudah malam dan saya juga mau pulang.'' Ucap Gina yang sedang merapikan tumpukan kain yang berserakan.


''Kebetulan aku lewat dan melihat butik anda masih buka jadi aku mampir. Jangan terlalu formal Nona, kita menjadi partner kan sudah lama.'' Kata Tuan William.


''Karena anda klien VIP saya, Tuan.'' Ucap Gina sambil tersenyum.


''Tapi bersikaplah biasa saja Nona. Kita sudah berkeja sama selama bertahun-tahun kan. Panggil saja aku Willi. Aku tidak ingin ada canggung di antara kita.''


Gina tersenyum. ''Baiklah Willi.''


''Oh ya mana suamimu?''


''Kebetulan Mama mertua sedang tidak enak badan di rumah dan suamiku harus menemaninya. Jadi aku harus pulang sendiri.''


''Baiklah kalau begitu aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah malam pasti susah mencari taksi.''

__ADS_1


''Tidak usah Willi, aku sudah pesan taksi online tadi. Aku tidak mau merepotkanmu.''


''Terlalu bahaya kalau kamu naik taksi sendirian, Gina. Tenang saja aku tidak akan berbuat macam-macam.''


''Aku hanya tidak ingin merepotkan Tuan saja.''


''Tentu tidak Gina. Oh ya aku ingin pesan setelan kemeja untuk menghadiri gala dinner di Paris. Aku akan memperkenalkan karyamu disana. Siapa tahu kamu bisa mengikuti Paris Fashion Week.''


''Sungguh Willi?'' mata Gina membulat bahagia.


''Yes, of course. Semua karyamu patut di apresiasi Gina. Apalagi aku sempat melihat wawancaramu kemarin. Kamu sangat cantik, berkarisma dan luar biasa sekali.''


''Terima kasih untuk pujiannya Willi. Terima kasih juga untuk tawarannya. Untuk stelan jasnya aku akan membuatnya sebaik mungkin.''


''Baiklah kalau begitu mari aku antar.''


Gina melihat ke arah jam tangannya, sebenarnya dia masih di butik untuk menunggu taksi online yang sudah 30 menit namun tak kunjung datang. Karena takut kemalaman, akhirnya Gina menerima ajakan Tuan William dan ia mengcancel orderannya.


''Mmmm baiklah kalau begitu.'' Akhirnya malam itu Gina di antar oleh Tuan William. Selama perjalanan pulang, mereka tampak banyak bicara dan sesekali tertawa. Tuan William begitu mengagumi sosok wanita di sampingnya itu. Bukan hanya cantik tapi pekerja keras, pintar dan mandiri. Sudah lama sekali Tuan William mengagumi Gina namun Gina tidak sadar akan hal itu. Karena kiriman bunga dan hadiah yang selama ini Gina terima hanyalah ungkapan terima kasih sebagai seorang klien.


Akhirnya Gina sampai juga di rumah.


''William terima kasih untuk tumpangannya. Sangat aneh memanggilmu dengan sebutan nama.''


''Tidak masalah, sepertinya kita juga seumuran kan. Mulai hari ini kita teman kan?''


''Iya kita teman sekaligus partner bisnis.'' Ucap Gina seraya tersenyum.


''Okay.''


Gina melepas seat beltnya dan segera turun dari mobil William. Setelah William menghilang dari pandangannya, Gina baru masuk ke dalam rumahnya. Begitu Gina masuk, sudah ada Miko yang duduk di kursi ruang tamu.


''Diantar pulang siapa?'' tanya Miko dengan tatapan cemburu.


Gina tersenyum. ''Oh itu Tuan Prince William.''


''Pria bule itu?''


''Iya Mas. Tadi dia tidak sengaja lewat terus dia mampir ke butik sekalian untuk pesan setelan jas. Terus dia menawari tumpangan.''


''Apa tidak bisa naik taksi?''


''Aku sudah menunggu setengah jam tapi taksinya tidak datang, Mas. Jadi daripada aku kemalaman akhirnya aku menerima tawaran itu. Aku kepikiran juga sama kamu daj Mama.'' Jelas Gina. Miko dengan wajah cemberutnya, kemudian berlalu menuju kamar.


''Mas, kamu marah?''


''Pikir saja sendiri.'' Ketus Miko. Gina lalu mengejar Miko menuju kamar. Miko yang marah, langsung menuju teras balkon. Gina mendekat lalu memeluk suaminya itu dari belakang.


''Kamu cemburu ya?'' goda Gina.


''Menurutmu?''

__ADS_1


''Ya ampun, Mas. Cuma di kasih tumpangan saja kamu marah. Aku nggak ngapa-ngapain lho.''


''Aku ini cowok Gina. Aku tahu gerak-geriknya kalau dia bukan sekedar klien atau pelanggan. Lihat saja ucapan dan kiriman bunga juga hadiahnya, dia seperti mengagumi kamu.''


''Semua pelangganku selalu mengagumi ku, Mas. Kamu kemana saja sih? Sudahlah Mas, aku tidak mau kita bertengkar. Aku hari ini lelah sekali. Aku mau mandi dulu ya.'' Gina kemudian melepaskan pelukannya dan berlalu menuju kamar mandi. Sementara Miko masih berkutat dengan rasa cemburunya.


Keesokan harinya seperti biasa, meskipun berkarir, Gina tetap bisa menyempatkan waktu membuat sarapan untuk suami dan mertuanya itu.


''Pagi suamiku,'' sapa Gina saat melihat Miko berjalan menuju ruang makan.


''Pagi juga,'' balas Miko dengan wajah juteknya. Tak lupa Gina menyediakan minuman yang telah dibuatkan oleh Ibunya.


''Ini Mas minuman ajaibnya, stoknya tinggal sedikit. Nanti aku tinggal telepon Ibu, supaya Ibu segera mengirimkannya.''


Miko hanya memilih diam karena ia masih marah dengan Gina.


''Pagi Mah,'' sapa Gina saat melihat Ibu mertuanya.


''Pagi juga sayang,'' balas Nyonya Rosa.


''Gina, kamu tidak lupa membuat tumis kecambah kan?''


''Tidak kok, Mah. Aku selalu memasak ini untuk Mas Miko.''


''Terus ramuan dari Ibumu apa masih?''


''Tinggal sedikit, Mah.''


''Ya sudah kamu telepon Ibu mu ya supaya segera di kirimkan. Kamu sebaiknya juga meminumnya juga.''


''Iya Mah, Gina selalu ikut minum kok.''


''Mas, kamu mau apa?'' tanya Gina sambil menuangkan nasi ke dalam piring Miko.


''Semua saja kecambahnya taruh di piring,'' ketus Miko.


''Miko, kamu ini kenapa sih? Kenapa ketuus gitu sama Gina?'' tegur Nyonya Rosa.


''Mama dan Gina sama saja.'' Miko kemudian beranjak dari duduknya dan memilih pergi ke kantor begitu saja. Gina merasa sedih dengan sikap Miko kali ini.


''Gina, ada apa dengan Miko? Kalian tidak sedang bertengkar kan?''


''Tidak Mah, kami baik-baik saja. Mungkin Mas Miko merasa bosan karena setiap hari selalu makanan dan jamu ini yang sering ia temui.''


''Ya sudah biarkan saja dia. Sebaiknya kamu sarapan saja. Nanti ART baru juga akan datang jadi kamu tidak terlalu capek juga.''


''Iya Mah, terima kasih ya.''


''Apa Mas Miko benar-benar masih marah? Dia tidak biasanya sensitif seperti ini,'' gumam Gina dalam hati dengan penuh tanya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2