
''Sayang,'' ucap Kevin saat bertemu Keira di ruangan David. Kevin lalu memeluk erat Keira.
''Kamu baik-baik saja kan?''
''Aku baik-baik saja, Mas. Disini ada Johan dan Laras juga. Bagaimana kondisi Ayah? Lalu Marvel? Dia sekolah kan hari ini?''
''Iya dia sekolah. Kata Kakakmu, kondisi Ayah masih sama.''
''Ya Allah, Mas. Aku adalah penyebab semua ini.''
''Jangan salahkan diri kamu ya.''
''David, apa sebelumnya kamu yang memerintahkan anak buahmu untuk menangkap Keira?''
''Tidak, Kevin. Aku sungguh tidak tahu tentang penangkapan ini. Karena saat itu aku sedang tidak di kantor. Ada seseorang yang melaporkan hal ini dengan membawa foto-foto itu.''
''Lalu siapa orang itu?''
''Dia bilang mantan karyawan Tyan Sanjaya. Dengan alasan dendam dia melakukan itu.''
''Apa? Dendam? Kenapa istriku yang di jadikan umpan?''
''Ya karena tujuan dia menterormu. Anak buahku sudah membawanya ke sel tahanan. Bukti yang kamu kirimkan, serta vidio pelecahan yang di lakukan pria bule itu, sangat membantu istrimu lepas dari tuduhan ini.''
''Oh syukurlah, terima kasih ya Dav. Untung saja ada kamu dan Pak Henry.''
''Iya. Dia memang sangat cekatan sebagai pengacara. Berkas yang kamu minta masih aku bawa, aku tidak berani memberikannya Pak Henry tanpa persetujuanmu.''
''Iya David. Aku akan memeriksanya ulang.''
''Kevin, semoga semuanya segera membaik. Dan aku akan melakukan penyidikan terhadap perusahaan dan gembong mafia itu.''
''Sekali lagi terima kasih untuk bantuanmu.''
''Tuan David, sekali terima kasih atas bantuan anda.''
''Sama-sama Nyonya. Aku senang bisa membantu kalian semua.''
''Jangan panggil aku Nyonya, Tuan. Panggil namaku saja. Aku hanyalah seorang mahasiswi yang nakal,'' ucap Keira dengan senyum kecilnya.
''Kami juga mengucapkan terima kasih karena telah membebaskan kami. Kami janji tidak akan membuka bisnis ini lagi,'' kata Johan.
''Iya. Saya mengerti kalian memang segerombol mahasiswa yang sedang mencari uang tambahan kan? Ya, sekalipun cara yang kalian lakukan itu memang sangat aneh. Rela membahayakan diri kalian demi uang. Untung saja kalian tidak terjebak di dunia prostitusi sungguhan atau terjebak dengan dunia hitam yang lain. Meskipun banyak sekali klien yang terbantu. Setelah kalian lulus, bekerjalah sesuai dengan passion kalian. Berbisnislah yang sehat supaya tidak memancing kejahatan. Apalagi untuk kamu Keira, ilmu psikologi yang kamu pelajari, banyak sekali membantu klienmu. Seharusnya kamu bisa melanjutkan kuliah untuk memperdalam ilmu yang kamu miliki saat ini.'' Kata David yang memberikan nasihat pada mereka bertiga.
''Aku sudah memintanya, Dav. Aku bahkan akan mengkuliahkan dia ke luar negeri. Tapi dia bilang ingin menyelesaikan S1-nya saja. Kalaupun suatu saat dia berubah pikiran, aku tetap akan mendukungnya.'' Ucap Kevin.
''Sudah seharusnya kamu lakukan sebagai seorang suami, Kevin.''
__ADS_1
''Apa kami boleh pergi?''
''Iya tentu saja. Kamu tenang saja, aku akan mengurus semua yang kamu risaukan selama ini.''
''Sekali lagi terima kasih ya, Dav.'' Kevin dan David lalu berpelukan.
''Jaga istrimu baik-baik ya. Dia sangat cantik dan mempesona. Wajar saja dia membuka bisnis itu,'' bisik David saat keduanya berpelukan.
''Sialan! Aku akan melaporkanmu pada Nadia, kalau suaminya mata keranjang.'' Balas Kevin. Mereka berdua lalu saling tertawa seraya melepaskan pelukan.
Kevin, Keira, Laras dan Johan lalu pergi meninggalkan ruangan David dan berjalan keluar.
''Tuan, maafkan kami. Maaf karena kami membuat Keira dalam masalah.'' Kata Johan.
''Iya Tuan, maafkan saya juga.'' Sahut Laras.
''Semuanya sudah terjadi dan bersyukurlah karena masalah ini sudah selsai. Bagaimana kalau masalah ini terjadi sebelum kalian bertemu dengan ku? Bisa jadi kalian bertiga mendekam di balik jeruji besi. Kalian bertiga ini kan mahasiswa, tugasnya belajar yang bener, boleh cari kerja tapi kerjanya juga jangan yang aneh-aneh. Paham kalian?'' ucap Kevin seperti seorang Ayah yang memarahi ketiga anaknya.
''Paham!" jawab mereka bertiga dengan kompak.
''Laras!" panggil Krisna yang baru saja tiba di kantor polisi.
''Kakak!" seru Laras dengan senyumnya.
''Ras, sejak kapan elo punya kakak?'' tanya Johan dengan heran.
''Tuan!" sapa Krisna.
''Untuk apa kamu disini, Kris?''
''Saya khawatir dengan Laras, jadi saya menyusul kemari. Tapi saya janji setelah ini akan kembali,'' kata Krisna.
''Kakak sungguh khawatir dengan ku? Oh, so sweet deh,'' ucap Laras sambil menjewer kedua pipi Krisna. Keira, Kevin dan Johan pun menahan tawa melihat sikap Laras yang konyol pada Krisna.
''Ya sudah Kris, kamu antar mereka pulang. Saya mau ke panti untuk meresmikan bangunan panti yang baru.''
''Tuan, kami boleh ikut? Kami akan membantu anda.'' Sahut Laras.
''Ya sudah, itu lebih baik. Ya hitung-hitung kalian harus balas budi dengan ku.'' Ucap Kevin sembari berlalu dengan menggandeng tanga istrinya.
''Suaminya Keira, perhitungan juga ya,'' ceplos Johan.
''Ehem...!" suara Krisna berdehem. Menyadarkan Johan, bahwa dia adalah sekretaris Kevin.
''Hehehe, maaf.'' Kata Johan sambil menggaruk kepalanya.
''Kamu baik-baik saja kan?'' tanya Krisna.
__ADS_1
''Aku baik-baik saja kok.''
''Aku tidak menyangka kalau kalian bertiga ini komplotan.'' Celetuk Krisna.
''Komplotan? Komplotan apa? Kita bukan perampok kali.'' Sahut Johan dengan kesal.
''Udah Jo.'' Kata Laras.
''Iya mentang-mentang gebetan baru, elo belain deh.'' Sindir Johan sambil berlalu menuju mobil Krisna seenaknya.
''Dia siapa?'' tanya Krisna.
''Dia Johan. Aku, Keira dan Johan adalah sahabat, Kak.''
''Apa dia menyukaimu?''
''Dia? Hahahaha, tentu saja tidak. Dia seleranya sama seperti Keira. Keira suka sama duda, nah si Johan lagi deketin janda juga,'' cerita Laras dengan gaya ceplas-ceplosnya.
''Dasar kamu! Ya sudah, ayo kita panti.''
''Ayo!" kata Laras sambil memeluk lengan Krisna dengan kuat. Namun Krisna berusaha untuk melepasnya tapi Laras tidak menyerah. Saat Krisna berusah melepasnya, Laras memeluknya lagi, begitu terus sampai mereka berdua masuk ke dalam mobil.
-
''Mas, makasih ya sudah menolongku. Semalam Bibi ke kantor polisi, membawakan aku baju dan makanan. Bibi bilang kamu tidak di rumah dan pergi. Memangnya kamu pergi kemana?''
''Aku pergi ke rumah Papa dan Mama. Aku berusaha mencari bukti baru tentang semua kejadian 11 tahun lalu. Sepertinya semua peristiwa itu berkaitan. Yang jelas saat ini kamu fokus pada kesehatan Ayah. Kamu tidak perlu ke kantor, aku akan mengurus semuanya.''
''Lalu bagaimana dengan pemberitaan di media?''
''Biar Pak Henry yang mengurusnya. Lagipula pemberitaan itu tidak benar.''
''Kamu percaya padaku, Mas? Sekalipun aku pernah di sewa beberapa pria?''
''Iyalah. Memangnya kamu lupa, kalu aku pria pertama yang berhasil merampas kesucianmu. Aku kan sudah berpengalaman jadi aku tahu mana yang masih ori dan bekas.'' Kata Kevin dengan senyum nakalnya.
''Idih, memangnya apa bekas-bekas segala. Jujur Mas, saat ini yang aku khawatirkan adalah Ayah.''
''Kita perbanyak berdoa, semoga Ayah cepat sembuh. Dan aku berharap kamu segera mengingat kecelakaan waktu itu, Kei. Karena kamu satu-satunya saksi mata. Nanti saat semuanya sudah membaik, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.''
''Sekarang saja, Mas.''
''Tidak bisa, Kei. Terlalu banyak masalah yang datang secara bersamaan. Jadi kita selesaikan satu persatu ya.''
''Baiklah kalau begitu, Mas. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya, Mas.'' Ucap Keira seraya memeluk erat lengan suaminya. Kevin pun tak melewatkan untuk mengecup pucuk kepala Keira.
Bersambung....
__ADS_1