
Kevin melangkahkan kakinya dengan wajah yang penuh amarah. Ia lalu membawa Keira masuk ke dalam mobil dan menancap gas mobilnya segera.
''Aku tidak suka sikapmu tadi, Kei.''
''Aku tidak berduaan saja dengan Leon. Itu juga di tempat terbuka.''
''Tapi kamu istriku. Itu rumah almarhum orang tuaku. Jadi aku tidak terima kalau kamu berbuat seperti itu dengan pria lain. Bisa-bisanya kamu mesra-mesraan bersama Leon di belakangku. Sedangkan suamimu sedang bekerja. Itu tidak pantas di lakukan oleh seorang wanita terhormat. Apalagi kamu tahu kalau Leon menyukaimu. Itu sama saja kamu memberi dia celah untuk mendapatkan kamu. Kamu boleh marah dan melampiaskan semua amarahmu padaku tapi jangan lampiaskan marahmu dengan menghibur dirimu, bersenang-senang dengan pria lain.'' Cerocos Kevin panjang lebar dengan penuh amarah.
''Siapa yang melampiaskannya? Aku duduk di taman dan dia yang menghampiriku. Lalu apa bedanya kamu saat bersama Mauren?''
''Jelas bedalah! Apa aku terlihat mesra bersama Mauren? Semua yang aku lakukan hanya sebatas pekerjaan. Kamu saja yang terlanjur negatif thinking dengan ku. Aku tahu batasanku, Kei. Aku tidak pernah mengobral diriku seperti itu. Kalau memang kamu cemburu, bilang! Tidak perlu gengsi. Kalau kamu tidak suka aku bekerja sama dengannya, aku tidak akan menerimanya dan aku akan membatalkan semua kontrak yang sudah aku tanda tangani, sekalipun aku harus mengganti rugi milyaran. Kedatangan dia pun sangat mendadak, bahkan aku pikir itu bukan dia.'' Jelas Kevin panjang lebar dengan emosi yang menggebu.
''Seharusnya mata kuliah psikolog yang kamu ambil, bisa membuatmu lebih mengerti perasaan dan tindakan orang lain. Bukan marah dan mengabaikan suami lalu bersenang-senang dengan pria lain. Kalau memang kamu merasa kebebasanmu terenggut, lakukan saja apa yang kamu mau,'' sambung Kevin. Keira hanya bisa terdiam, mendengar semua amarah Kevin. Ia bahkan merasa bersalah dengan apa yang sudah di lakukannya.
''Ma-maaf Mas. Aku tidak ada maksud seperti itu.'' Kata Keira dengan tergagap. Untuk pertama kalinya Keira melihat Kevin marah sebagai suaminya. Biasanya ocehan Kevin dan sikap judesnya, sama sekali tidak pernah Keira ambil pusing. Tapi sekarang, ia merasa sedih dengan kemarahan Kevin.
''Sepertinya, sekarang perasaanku sudah semakin dalam,'' batin Keira. Suasana dalam mobil pun mendadak hening.
Hening.
Hening.
Kruukkk... kruukkk... suara cacing di perut Kevin memecah keheningan.
''Perutmu, Mas? Apa kamu tidak sarapan?''
''Siapa yang bisa makan kalau istri tidak mau melayani. Bagaimana bisa makan? Kalau suasana hati sedang memanas,'' jawabnya ketus.
''Baiklah sekarang kita makan dulu. Nanti asam lambungmu bisa naik.''
''Kamu tahu hari ini aku menjemputmu ingin minta maaf sekaligus membelikanmu gaun untuk acara nanti malam.''
''Acara apa, Mas?''
''Gala dinner Tuan Armando, wedding anyversary ke 25 tahun. Sekaligus aku ingin memperkanalkan kamu sebagai istriku.''
''Baiklah aku malam ini akan memberikan penampilan terbaikku. Tapi jangan marah lagi ya. Aku minta maaf dan aku tidak akan mengulanginya lagi.'' Bujuk Keira sambil bergelayut di lengan Kevin.
''Asal kamu tahu, Kei. Dalam pernikahan, pantang bagiku sebuah perselingkuhan. Perselingkuhan sama artinya dengan semuanya berakhir. Dan tidak ada kata maaf untuk sebuah perselingkuhan.'' Kata Kevin dengan tegas.
''Iya Mas, aku mengerti. Aku juga tidak akan melakukan itu.''
Setelah makan siang, Kevin mengajak Keira menuju butik Gina. Gina cukup terkejut melihat Kevin dan Keira datang bersamaan. Karena sebelumnya Gina mendapat kabar dari Miko kalau mereka sedang bertengkar.
__ADS_1
''Hai, Mbak.'' Sapa Keira seraya memeluk Gina.
''Hai juga Kei, siang-siang kemari tumben nih. Ada apa?''
''Pilihkan gaun yang cocok untuk Keira, Gin. Aku ada gala dinner nanti malam.'' Kata Kevin tanpa basa-basi dan wajah dinginnya.
''Oh begitu, siap Kak!" kata Gina.
''Mas, Marvel sudah waktunya pulang kan?''
''Aku sudah meminta Pak Wahyu untuk menjemputnya,'' jawabnya yang masih tetap saja sinis. Gina lalu mengajak Keira untuk memilih gaun.
''Kei, gaun merah ini sepertinya sangat cocok untuk kamu. Kamu akan semakin cantik dan paling menonjol di pesta itu.'' Kata Gina yang begitu antusias.
''Aku nurut saja Mbak, mana yang bagus.''
''Ya udah, kamu coba aja terus habis itu tunjukkin sama Kak Kevin.''
''Oke.''
Keira kemudian menuju ruang ganti dan segera memakai dress warna merah itu. Sebuah mermaid dress dengan bahu yang terbuka, membuat lekuk tubuh Keira terlihat sangat jelas. Apalagi bagian dada Keira yang tampak lebih menonjol dan berisi.
''Mmmm kenapa dadaku jadi mengembang ya? Sebelum tidak semengembang ini,'' batin Keira sambil berlenggak-lenggok di hadapan cermin.
''Kei, aku buka tirainya ya?'' kata Gina.
Taraaaaa.......!!!! Kevin di buat terpukau dengan dress warna merah itu. Tampak seksi dan pas di tubuh Keira. Kevin menelan ludah dan salah tingkah, melihat istrinya yang semakin hari semakin menawan itu.
''Gimana Kak?'' tanya Gina.
''Bagus kok. Bungkus, Gin.'' Kata Kevin.
''Siap!" Gina begitu bersemangat karena keduanya sudah akur meskipun rasa kesal di mata keduanya masih terlihat jelas.
Setelah selesai membeli gaun, Kevin mengajak Keira menuju toko perhiasan. Kevin membelikan perhiasan untuk Keira.
''Kamu pilih yang mana?'' tanya Kevin yang masih tetap bersikap dingin.
''Terserah saja. Dari tiga pilihan kamu, semuanya bagus.'' Kata Keira.
''Mbak, saya ambil ke-tiganya.'' Kata Kevin tanpa pikir panjang.
''Mas, itu mahal lho? Satu set sudah berapa ratus itu?'' kata Keira.
''Makanya, kamu aku beli dengan mahal jadi jangan macam-macam atau aku meminta semua ganti rugi.'' Ketus Kevin.
__ADS_1
''Galak amat sih. Lagi pula aku juga tidak minta di belikan,'' gerutu Keira.
Setelah membeli perhiasan, Kevin lalu mengajak Keira pulang supaya segera bersiap. Setelah sampai di kamar, Kevin melepas jasnya dan melemparnya dengan kasar. Kevin sangat kesal kalau mengingat kejadian di panti tadi.
''Mas, masih marah ya?''
''Menurutmu?''
Keira kemudian mendekat dan memeluk Kevin dari belakang.
''Maaf ya, Mas. Aku tidak bermaksud selingkuh atau bersenang-senang dengan pria lain. Kalau memang kamu tidak suka, aku lebih baik pindah magang saja. Tidak apa-apalah jika harus berpindah berkali-kali.'' Kata Keira yang berusaha membujuk Kevin.
''Bersiaplah Kei, ini sudah sore. Jangan sampai kita terlambat.'' Kata Kevin sambil melepaskan pelukan Keira. Sekarang giliran Keira yang merasa sedih dengan sikap dingin Kevin.
''Kamu sudah membuat Mas Kevin terluka, Kei.'' Gumam Keira.
Keira kemudian keluar menuju kamar Marvel.
''Marvel, kamu sudah makan siang?''
''Sudah Mah. Bagaimana dengan Papa? Apa kalian sudah baikan?''
''Mmmm belum. Mama yang justru membuat masalah. Papa marah sekali.'' Kata Keira dengan sedih.
''Memang apa yang Mama perbuat?''
''Mmm tadi Mama hanya bermain saja dengan Om Leon. Ya colek-colekan ice cream. Mama lagi duduk di samperin, eh ketahuan deh sama Papa.''
''Mama juga sih. Sudah tahu Papa itu cemburuan, masih saja dekat-dekat dengan Om Leon. Siapapun juga pasti akan marah. Aku juga marah sama Mama karena Mama membuat Papa kecewa.''
''Maafin Mama ya, Mama hanya berusaha bersikap baik saja dengan orang lain.''
''Tapi Mama harus tahu batas. Aku juga tidak suka dengan Om Leon!"
''Lalu apa yang harus Mama lakukan?''
''Mama bersikap baiklah dengan Papa. Nanti Papa dan Mama ada acara kan? Sebaiknya kalian berdua saja, aku akan di rumah. Itu kesempatan Mama untuk berbaikan dengan Papa.''
''Baiklah. Maafkan Mama ya Marvel, Mama salah.'' Kata Keira sambil memeluk Marvel.
''Iya, aku maafkan. Tapi sebenarnya Mama mencintai Papa atau tidak sih?''
''Mama mencintai Papa, Marvel. Makanya Mama sedih, kalau di cuekin Papa.''
''Baiklah Mah, semangat meluluhkan hati Papa ya.''
__ADS_1
''Terima kasih ya, sayang.''
''Sama-sama, Mah.''