
Keesokan harinya seperti biasa, Keira menyiapkan pakaian Kevin sebelum berangkat ke kantor. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Ada nama Leon di layar ponsel Keira, Keira pun segera mengangkat teleponnya.
''Halo Kei, sedang apa?''
''Halo Leon. Sedang melakukan apa yang seharusnya istri lakukan setiap hari. Ada apa Leon? Tumben pagi-pagi sudah menelepon?''
''Maaf ya sebelumnya aku mengganggu. Toko tas yang waktu itu, kita memenangkan kontes fotonya. Kita diminta datang hari ini ke toko tersebut untuk menerima hadiah.''
''Kamu serius Leon? Wah, Marvel pasti senang sekali. Memang acaranya jam berapa?''
''Nanti sore jam 4, Kei. Aku harap kamu bisa datang ya bersama Marvel. Marvel pasti akan sangat mendengarnya.'' Ucap Leon.
''Iya Leon, aku pasti akan datang. Terima kasih ya sudah memberiku kabar.''
''Iya Kei, baiklah kalau begitu sampai bertemu nanti.''
''Iya Leon.'' Keira mengakhiri panggilannya disaat Kevin baru saja keluar dari kamar mandi.
''Siapa sayang?''
''Oh Leon, Mas.''
''Cecunguk itu lagi? Ada apa dia menelepon pagi-pagi?'' ketus Kevin.
''Jangan marah dulu dong, Mas. Dia hanya memberi kabar kalau kita memang kontes foto. Kontes foto di toko tas waktu itu. Dan pengambilan hadiahnya nanti jam 4 sore. Aku boleh pergi kan, Mas?'' Keira berusaha membujuk suaminya namun Kevin tetap diam sembari memakai bajunya.
''Ayolah Mas, ini juga untuk Marvel. Marvel sangat menantikan hadiah ini. Hadiahnya pun akan dia sumbangkan ke panti asuhan.'' Keira terus merengek sambil bergelayut di lengan suaminya.
''Baiklah aku ijinkan tapi nanti aku akan datang juga. Karena mereka disana pasti menganggap kalian pasangan suami istri.'' Ucapnya dengan nada cemburu.
''Iya Mas tentu saja kamu boleh datang. Nanti kita bertemu disana ya.''
''Hmmmm.''
''Terima kasih ya, Mas.'' Ucap Keira seraya mengecup pipi suaminya.
''Kamu terlihat bahagia sekali? Bahagiamu bukan karena ingin bertemu dengan si Leon itu kan?''
''Ya ampun, Mas. Masih saja cemburu dengan Leon. Dan kenapa kamu berpikir seolah aku menyukainya, Mas? Sudah jelas aku nikahnya sama kamu, hamilnya juga sama kamu. Masih saja menyangkut pautkan sama Leon. Aku senang karena Marvel. Marvel begitu menginginkan hadiah ini untuk membantu yatim piatu. Kamu menyebalkan sekali, Mas. Pagi-pagi sudah membuat moodku rusak.'' Kesal Keira sambil menghentakkan kakinya. Keira kemudian berlalu meninggalkan kamar.
''Sayang, kok marah sih? Jangan marah dong,'' ucap Kevin. Namun Keira tidak peduli karena dia terlanjur kesal.
Keira kemudian pergi ke kamar Marvel untuk memberitahukan berita bahagia ini.
''Marvel!" seru Keira.
__ADS_1
''Eh Mama, aku sudah siap Mah.'' Ucap Marvel yang baru saja selesai menyisir rambutnya.
''Anak Mama semakin tampan saja. Terus wangi lagi.'' Ucap Keira yang mencium aroma parfum di pakaian Marvel.
''Hehehe kata Mama kan kita harus selalu rapi, bersih dan wangi.''
''Ya, tentu saja. Oh ya, Mama ada kabar baik untuk kamu.''
''Kabar apa Mah?''
''Kita memenangkan kontes foto itu, sayang.''
''Maksud Mama kontes foto di toko tas itu, Mah?''
''Iya sayang. Kita dapat vote terbanyak. Nanti sore kita diundang kesana untuk menerima hadiah.''
''Yeay! Aysik! Aku senang sekali, Mah. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin kesana, Mah.''
''Begitu juga dengan Mama. Baiklah kalau begitu, sekarang kita sarapan dulu ya.''
''Siap Mah."
Selama di meja makan, Keira bersikap acuh pada Kevin. Keira masih kesal pada suaminya yang selalu berprasangka buruk padanya. Di tuduh tanpa ada bukti bukankah itu menyakitkan? Itulah setidaknya yang dirasakan oleh Keira. Saat Kevin berpamitan, Keira yang biasanya membalas kecupan suaminya kali ini memilih untuk acuh. Kevin jadi merasa bersalah karena rasa cemburunya selalu membuat Keira kesal.
-
''Leon, maaf ya aku terlambat.''
''Tepat sepuluh menit, Nad.''
''Im so sorry. Sidang hari ini benar-benar melelahkan dan menyita waktuku. Kamu tidak lihat kantong mataku. Aku berusaha menutupinya dengan make up ku.'' Jelas Nadia. Leon kemudian menyodorkan segelas orang juice untuk Nadia.
''Minumlah dulu, Nad. Dan atur dulu nafasmu.''
Nadia mengangguk lalu menenggak orange juice yang di berikan Leon sampai habis. Leon melongo melihat Nadia yang sepertinya sangat kehausan.
''Nadia, kamu sungguh kehausan?''
''Bukan hanya haus tapi otakku rasanya ingin mengeluarkan asap.''
''Serumit itukah kasus yang kamu tangani?''
''Iya Leon. Karena disini aku harus memperjuangkan sebuah keadilan.''
''Memangnya kasus apa?''
__ADS_1
''Kasus pembunuhan.''
''Wow, seram juga ya. Ya sudah, kita pesan makan dulu, nanti kita lanjut.''
''Iya baiklah. Karena aku juga sudah lapar.'' Jawab Nadia. Leon lalu memanggil pelayan dan segera memesan beberapa menu untuk dirinya dan juga Nadia.
''Nadia, kasus pembunuhan dengan motif apa?'' sambung Leon.
''Tentang perselingkuhan. Jadi ada sepasang suami istri, nah istrinya ini kepergok selingkuh oleh si suami. Terus si suami ini dikuasai amarah sampai membunuh selingkuhan istrinya. Ah sudahlah jangan membicarakan kasus ku saat ini. Aku benar-benar tidak ingin membahasnya. Kamu tahu, aku masuk ke ruang sidang jam 7 pagi dan satu jam yang lalu baru selesai. Astaga, aku sangat lelah.''
Leon terkekeh melihat sikap Nadia. ''Aku pikir seorang Nadia itu tidak punya rasa lelah, anggun dan selalu sempurna tapi nyatanya kamu telrihat lucu saat mengeluh seperti ini.''
''Aku juga manusia biasa, Leon. Mungkin keseharianku tampak seperti itu karena terbawa keseriusan saat sedang menghadapi sidang. Padahal keseharianku ya begini saja. Maklum saja, karena kesibukanku aku hampir tidak punya teman. Jadinya semua orang yang pertama kali mengenalku, menganggapku seperti itu. Dan temanku baru kamu saja, Leon.'' Jawab Nadia dengan apa adanya.
''Iya juga sih. Profesimu itu sedikit banyak membentuk karaktermu. Oh ya nanti jam 4 sore kamu ada waktu luang?''
''Ada dan sepertinya setelah ini aku akan pergi tidur. Memangnya kenapa? Kamu butuh bantuan ku?'' selidik Nadia.
''Iya. Aku tidak ingin hari ini menimbulkan kesalah pahaman. Apalagi mengingat kasus yang kamu bicarakan tentang perselingkuhan. Aku jadi takut di bunuh.'' Seloroh Leon dengan tawanya.
''Memangnya siapa yang akan membunuhmu, Leon? Kamu ini ada-ada saja.'' Nadia terkekeh.
''Tuan Kevin, Nadia. Dia bisa saja mencekikku.''
''Tuan Kevin? Memang ada masalah apa? Apa kamu dan Nyonya Keira memiliki affair?''
''Husss, jaga ucapanmu! Tentu saja tidak Nadia.''
''Lalu masalah apa?''
''Jadi aku dan Keira juga Marvel memenangkan kontes foto keluarga di sebuah toko. Nah kebetulan saat itu aku sedang menggelar bazar produk baruku. Eh aku lihat Keira dan Marvel belanja. Terus aku tawarin deh minuman. Terus tidak lama kemudian, pegawai toko itu menjelaskan ada event dan hadiahnya uang yang lumayan lah. Nah Marvel, putranya Tuan Kevin tertarik untuk ikut karena kalau menang, dia akan menyumbangkan uang itu ke panti asuhan. Dan hari ini tepatnya nanti sore kita di undang kesana karena foto kami mendapat vote terbanyak alias kita juara 1.'' Jelas Leon panjang lebar. Nadia pun sudah bisa menangkap apa yang Leon katakan.
''Jadi kamu ingin aku menemanimu, supaya Tuan Kevin tidak salah paham kan? Karena bagi Tuan Kevin kamu adalah penggoda. Jadi Tuan Kevin cemburu melihat kedekatanmu dengan Nyonya Keira. Iya kan?'' tebak Nadia.
''Iya benar sekali, hehehe.''
''Padahal Nyonya Keira sudah jelas menjadi milik Tuan Kevin, kenapa masih saja cemburu denganmu? Pasti dulu terjadi persaingan sengit yang akhirnya kamu harus mengalah kan? Makanya sampai detik ini Tuan Kevin masih saja menganggapmu sebagai penggoda? Tapi caramu memandang Nyonya Keira tidak bisa di bohongi Leon. Kalau aku di posisi Tuan Kevin, aku akan melakukan hal yang sama. Aku bahkan akan memasukkan namamu kedalam blacklist ku.''
Leon mendengus kesal. ''Aku ini sungguh-sungguh meminta bantuanmu tapi kamu malah memojokkanku, Nad.''
Nadia terkekeh melihat ekspresi kesal Leon. ''Iya-iya aku pasti membantumu. Tapi apa kamu masih menyimpan rasa untuk Nyonya Keira?''
''Sudahlah Nadia, jangan menginterogasiku seperti itu. Aku merasa seperti terdakwa di hadapanmu.''
''Move on Leon!" ucap Nadia sambil menepuk lengan Leon dengan tawa lebarnya. Leon hanya bisa terdiam mendengar ledekan Nadia.
__ADS_1
Bersambung....