
Keesokan harinya, Kevin sangat senang akhirnya Keira tersadar. Perlahan Keira membuka matanya, ada Kevin dan Marvel yang menyambutnya. Keira menyunggingkan senyum kecilnya saat melihat dua pria yang begitu mencintainya, ada di hadapannya.
''Mama, akhirnya Mama bangun juga. Mama lama sekali tidurnya? Apa Mama benar-benar lelah?'' tanya Marvel dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.
''Iya, sayang. Mama lelah sekali, makanya Mama bobonya lama.'' Marvel kemudian memeluk Keira yang masih terbarig lemah itu.
''Mah, aku sangat takut kalau Mama akan meninggalkan aku. Aku takut kalau Tuhan mengambil Mama dari sisiku. Aku takut sekali, Mah.'' Ucap Marvel terisak.
''Maafkan Mama ya karena sudah membuat khawatir.'' Kata Keira sambil mengecup pucuk kepala Marvel. Keira lalu melepaskan pelukannya sambil menyeka air mata putranya. Kini giliran Kevin yang memeluk erat Keira sambil menangis sesenggukan.
''Kei, maafkan aku. Maaf karena aku tidak bisa menjaga kamu. Aku semakin takut kehilangan kamu, Kei. Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu benar-benar pergi meninggalkan aku dan Marvel.''
''Mas, aku baik-baik saja. Ini semua berkat doa kalian. Jangan menangis lagi ya, Mas. Karena aku ada kabar bahagia untukmu.'' Ucap Keira sambil melepaskan pelukan suaminya.
''Kabar apa sayang?''
''Kabar kalau aku sedang mengandung anak kamu, adiknya Marvel.'' Kata Keira sambil mengusap perutnya. Keira sendiri belum tahu jika ia mengalami keguguran. Marvel dan Kevin saling pandang dengan tatapan sedih. Kevin lalu menggenggam tangan istrinya erat.
''Sayang, kamu harus kuat ya kalau ternyata Tuhan belum memberikan amanah itu untuk kita.''
''Maksud kamu apa Mas?'' ucap Keira dengan mata berkaca-kaca.
''Anak kita tidak bisa di selamatkan.'' Ucap Kevin dengan pelan dan terbata. Ia seolah tidak sanggup mengatakan kebenaran itu pada Keira.
''Kamu pasti bohong kan Mas? Kamu jangan bercanda ya?'' kata Keira yang tidak terima dengan ucapan Kevin.
''Mah, adik sudah tenang di surga.'' Sahut Marvel lirih. Mendengar ucapan Marvel, tangis Keira pun pecah. Kevin hanya bisa terdiam sambil memeluk istrinya.
''Mas, maafkan aku. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga calon anak kita.''
''Tidak sayang. Kamu tidak salah, mungkin saat ini belum waktunya.'' Ucap Kevin.
''Mama jangan sedih ya. Aku tidak akan memaksa Mama lagi untuk memberikan aku adik. Aku akan menunggu sampai Tuhan sendiri yang memberikannya.'' Mendengar ucapan Marvel, membuat hati Keira semakin perih.
''Maafkan Mama ya Marvel, Mama belum bisa memberikan kamu adik. Mama tidak bisa menjaganya dengan baik. Maafkan Mama ya, sayang.''
''Tidak Mah. Dengan atau tanpa adik, aku akan tetap mencintai Mama.'' Ucapan tulus Marvel, begitu menyentuh relung hati Keira.
''Begitu juga denganku, sayang. Apapun yang terjadi aku tetap mencintai kamu dan selalu bersama kamu.'' Sambung Kevin.
''Sekarang Mama fokus untuk kesembuhan Mama ya. Mama harus sehat lagi.''
''Iya sayang, terima kasih ya. Kamu kenapa tidak sekolah?''
''Aku mau disini menjaga Mama sampai Mama sembuh, sama seperti Mama yang selalu menjaga aku.''
__ADS_1
''Marvel, tapi kamu harus sekolah, Nak.''
''Dia tidak mau sekolah, Kei. Sejak semalam dia bersamaku disini. Bi Nani dan Rima pun tidak berhasil membujuknya.'' Sahut Kevin.
''Ya ampun, Mama terharu dan bahagia sekali memiliki dua pria yang begitu mencintai Mama. Tapi besok kamu harus sekolah ya, sayang.''
''Karena Mama sudah bangun dan bisa tersenyum lagi, aku akan sekolah.'' Jawab Marvel dengan senyumnya yang menggemaskan.
''Permisi!" suara Leon menyapa pagi itu. Sebuah buket bunga dan parsel buah ada di tangannya.
''Hmmm dia lagi,'' batin Kevin.
''Masuklah!" kata Kevin.
''Selamat pagi Tuan Kevin-Marvel.'' Sapa Leon.
''Pagi Om,'' balas Marvel.
''Kei, kamu sudah sadar?''
''Iya Leon. Kamu pagi sekali.''
''Iya aku hanya mampir sebelum ke kantor. Ini ada buah dan buket bunga untukmu. Semoga kamu segera sehat kembali ya, Kei.'' Belum sempat Keira menerima parcel dan buket bunga itu, Kevin menyambarnya terlebih dahulu.
''Oh ya terima kasih juga ya kemarin sudah membantuku.'' Ucap Kevin.
''Sama-sama Tuan. Memang sudah seharusnya seperti itu.''
''Seperti itu apanya? Kamu kan menyukai istriku, makanya kamu sok perhatian,'' gerutu Kevin dalam hati.
''Leon membantu apa Mas?''
''Leon membantu aku membawa kamu menuju rumah sakit. Kalau menunggu ambulan datang, aku khawatir kamu terlambat mendapat pertolongan. Jadi dia yang membantuku.'' Jelas Kevin.
''Oh begitu. Leon, terima kasih ya kamu sudah membantu kami.''
''Sama-sama Kei.''
''Katanya kamu mau ke kantor, ini sudah jam 9. Apa kamu tidak ada meeting?'' tanya Kevin dengan tatapan cemburu. Keira menarik lengan kemeja suaminya, untuk menjaga sikapnya.
''Oh iya Tuan. Aku memang hanya sebentar. Melihat Keira sudah sadar dan bisa tersenyum kembali, sudah cukup membuatku lega.'' Kata Leon tanpa melepaskan pandangannya pada Keira.
''Ya sudah, kamu silahkan pergi.'' Kata Kevin.
''Mas....,'' lirih Keira sambil menarik ujung kemeja suaminya.
__ADS_1
''Baiklah Kei, aku pergi dulu ya. Jangan lupa buahnya di makan, supaya kamu segera sehat dan cepat pulih.''
''Iya Le. Kamu hati-hati ya, sekali lagi terima kasih untuk semuanya.''
''Sama-sama. Tuan, aku permisi.''
''Iya pergi sana. Hati-hati.'' Sinis Kevin.
''Marvel, Om pergi ya. Jaga Mama baik-baik ya.'' Pesan Leon sambil mengusap pucuk kepala Marvel.
''Iya Om, itu pasti.'' Jawab Marvel. Leon kemudian pergi meninggalkan ruangan.
''Mas, kamu ini apa-apaan sih? Jaga sikap dong,'' tegur Keira.
''Ya habis dia itu sok-sokan mencari perhatian. Aku tidak suka! Dia kan tahu kalau aku suami kamu tapi dia masih saja seperti itu.''
''Kamu ini Mas ada-ada saja. Mas, aku mau buahnya. Sepertinya segar sekali.''
''Jangan makan buahnya. Siapa tahu ada peletnya.''
''Ya ampun, Mas. Kamu ini suudzon saja. Marvel mau?''
''Boleh Mah. Aku mau jeruknya ya, Mah. Buahnya memang terlihat segar.''
''Marvel juga sekarang ikut-ikutan.'' Protes Kevin.
''Maaf Pah, aku netral saja. Karena Om Leon sudah baik membantu Mama.''
''Sudah ya kalian jangan bertengkar. Mama baru juga sadar bukannya di bikin happy, malah kalian ribut seperti ini.''
''Iya maaf sayang.'' Kata Kevin.
''Mas, kamu dan Marvel sudah sarapan?''
''Belum. Tapi aku sudah meminta Bibi untuk membawakan sarapan untuk kita.''
''Ya sudah kalau begitu. Meskipun menjagaku, kamu juga jangan mengabaikan kesehatan kamu ya, Mas. Apalagi kesehatan Marvel, dia kan masih kecil untuk ikut begadang.''
''Iya sayang, aku mengerti. Ya sudah aku kupasin buah apelnya ya. Tapi aku coba dulu, nanti kalau ada racunnya bagaimana? Atau ada peletnya.''
''Ihhh kamu ini. Jaman sekarang masih aja percaya pelet-pelet. Leon itu baik, dia tidak seperti itu.'' Kata Keira.
''Dariapa banyak bicara apalagi membahas Leon, ini lebih baik kamu diam dan mengunyah buah ini saja.'' Kata Kevin sambil menyuapi Keira potongan apel. Keira hanya bisa tersenyum melihat kecemburuan suaminya itu.
Bersambung....
__ADS_1