
"Sayang, kamu mau makan apa? kamu harus makan. Sejak tadi pagi kamu belum makan apa-apa.”
Keira terdiam berpikir. "Ummmm apa ya, Mas? setelah muntah, perutku menjadi kenyang."
"Lho kamu harus makan, sayang. Perut kamu kosong, nanti kamu bisa sakit." Ucap Kevin dengan sangat lembut.
"Tapi aku sedang tidak ingin makan apa-apa, Mas."
"Ayolah sayang sedikit saja. Ingat di perut kamu ada anak kita. Makanlah walau sedikit," bujuk Kevin.
"Ya sudah Mas, aku mau makan apa saja yang di masak Bibi."
"Ya sudah kalau begitu, aku ambilkan ya. Apa ada lagi sayang?"
"Tidak ada, Mas. Oh ya kamu tidak ke kantor?"
"Aku mau di rumah saja menemani kamu. Lagi pula aku bisa mengerjakannya di rumah. Ya sudah aku ke dapur dulu, ambilkan kamu makanan."
''Iya Mas.''
Beberapa saat kemudian, Kevin kembali ke kamar membawakan makanan untuk Keira.
''Sini, aku suapin ya sayang. Buka mulutnya, aaaa.'' Kata Kevin sambil mencontohkan Keira untuk membuka mulut. Namun bukanya membuka mulut, Keira justru tertawa.
''Kok malah ketawa,'' kata Kevin.
''Habis kamu lucu sih, Mas. Mas, aku bukan anak kecil kali. Aku bisa makan sendiri.''
''Sudah ya, kali ini kamu nurut. Biar aku yang menyuapi kamu makan. Pokoknya kamu harus istirahat dulu dan jangan capek-capek. Sekarang ayo makan dulu.''
Keira tersenyum lalu menuruti perintah suaminya untuk makan. Namun baru beberapa suap, Keira merasa mual lagi. Ia kemudian beranjak dari tempat tidur dan memuntahkan makanan yang baru ia telan. Kevin yang khawatir meletakkan makanan di atas meja lalu menyusul Keira. Kevin dengan lembut mengusap punggung Keira.
''Kei, kamu baik-baik saja kan? apa kita ke dokter sekarang saja? supaya kamu bisa dapat vitamin dan obat mual. Karena dulu Kania juga saat hamil muda persis seperti kamu, bahkan dia susah sekali untuk makan.''
''Tidak apa-apa, Mas. Sepertinya anak kita nanti akan manja sekali. Padahal saat kehamilan pertamaku, aku sama sekali tidak merasa mual, pusing atau apapun. Semuanya terasa normal saja.''
''Alan kan sudah menjelaskan, kalau bawaan orang hamil beda-beda.''
''Tapi aku makannya sudah ya, Mas. Beneran mual banget.''
''Iya-iya tidak apa-apa sayang. Ayo kamu rebahan saja ya.'' Kevin menuntun Keira menuju tempat tidur dan membantu Keira berbaring.
''Sebaiknya aku suruh Krisna beli susu hamil untuk kamu ya. Kita belum punya susu hamil.''
__ADS_1
''Kenapa tidak kamu saja yang pergi, Mas? kenapa harus Pak Krisna?''
''Aku tidak bisa meninggalkan kamu seperti ini sayang. Aku tahu susu hamil yang bagus, dulu saat Kania hamil Marvel, aku selalu membelikan itu untuknya.''
''Iya Mas, terserah kamu. Kamu yang lebih berpengalaman.'' Ucap Keira.
-
Sementara di kantor, Krisna berada di ruangannya sedang menikmati makan siang dengan bekal buatan Laras. Bukannya membuat selera makannya bangkit tapi justru membuat Krisna ingin muntah. Melihat ekspresi aneh Krisna, Laras menatap curiga. ''Kenapa Kak?''
''Tidak apa-apa. Ini serius masakan kamu sendiri?''
''Iya. Aku tadi belajar masak bikin nasi goreng.'' Jawab Laras nyengir.
''Sumpah ini nasi goreng apa garam?'' gumam Krisna dalam hati.
''Memangnya kenapa?'' tanya Laras lagi.
''Mmmm enak kok. Kamu sudah makan belum?''
''Kebetulan aku sedang diet. Aku ingin terlihat sempurna di acara pernikahan kita nanti.''
''Tapi diet bukan berarti tidak makan kan? hanya defisit kalori saja.''
''Iya Kak, aku mengerti. Ya sudah, Kakak habiskan sendiri ya nasi gorengnya. Nasi goreng spesial dengan bumbu cinta.'' Ucap Laras sambil menyatukan kedua tangannya membentuk hati. Sementara Krisna hanya bisa menahan rasa asin yang amat sangat. Sekali lagi Laras mengamati Krisna yang sedang makan karena cara makan Krisna bukan lahap seperti menikmati. Dan hal itu membuat Laras penasaran untuk mencicipinya.
''Pantas saja rasanya seperti ini,'' gumam Krisna dalam hati. Setelah mencoba masakannya sendiri, dahi dan hidung Laras kompak mengkerut. Laras pun langsung melepehnya begitu saja.
''Kak, ini asin banget dan nggak karuan. Kenapa kakak bilang enak?''
''Ya memang enak, Laras.''
''Sudah lah ternyata Kakak bohong. Bilang saja kalau masakanku tidak enak.''
''Nanti kamu bisa belajar masak lagi, kan. Kalau bumbu instan seperti itu biasanya sudah ada campuran garam dan penyedapnya, Laras. Sudah jangan sedih lagi.'' Krisna berusaha menenangkan suasana hati Laras. Tiba-tiba ponsel milik Krisna berbunyi, ada nama Kevin di sana.
''Halo Tuan? Tuan dimana? kenapa tidak ke kantor dan tidak ada kabar? saya ingin menghubungi anda tapi takut menganggu Tuan. Tuan baik-baik saja kan? Tuan dan Nyonya tidak senang bertengkar kan? apa Nyonya masih menolak anda? suasana hati Nyonya sudah membaik kan?'' cerocos Krisna panjang lebar bak reporter infotainment.
''Kris, apa mulutmu bisa di rem? apa tidak bisa bertanya satu persatu?'' ucap Kevin dengan suara meninggi.
''Ma-maaf Tuan. Saya hanya khawatir karena Tuan tidak memberi kabar sama sekali.'' Kekhawatiran Krisna sama seperti kekhawatiran terhadap kekasihnya.
''Kantor baik-baik saja kan Kris? apa ada masalah?''
__ADS_1
''Semuanya baik-baik saja, Tuan. Lalu bagaimana dengan Tuan dan Nyonya?''
''Kami juga baik-baik saja, malah semakin baik. Karena istriku sedang hamil Kris.''
''Apa Tuan? Nyonya Keira hamil? wah, selamat ya Tuan. Saya senang sekali mendengarnya.'' Laras yang duduk di samping Krisna, sangat terkejut mendengar berita itu. Ia sangat bahagia mendengar sahabatnya itu hamil lagi. Laras yang kepo, meminta Krisna untuk me-loudspeaker suara Kevin.
''Lalu apa yang bisa saya bantu, Tuan?''
''Tolong belikan susu hamil untuk istriku ya.''
''Loh kok saya, Tuan? saya mana tahu. Kenapa tidak Tuan sendiri saja yang beli?''
''Aku memerintahmu tapi kenapa kamu membalik perintah itu?'' ucapnya dengan suara meninggi.
''E.. maaf Tuan. Ya maksud saya anda suaminya dan saya sendiri tidak paham masalah susu hamil.''
''Nanti aku kirim merek susunya lewat pesan saja. Aku tidak bisa meninggalkan istriku karena kondisinya masih lemah.''
''Baik Tuan, setelah ini saya akan pergi ke supermarket.''
''Terima kasih, Kris. Segera bawa ke rumah kalau sudah selesai.'' Tut tut tut tut Kevin mengakhiri begitu saja panggilannya. Namun hal seperti itu sudah bias bagi Krisna.
''Kak, serius Keira hamil?''
''Ya kamu sendiri dengar kan Tuan Kevin bilang apa. Sekarang aku harus ke supermarket untuk belanja susu hamil.''
''Aku ikut ya, Kak. Sekalian nanti aku ikut ke rumah Keira. Boleh ya? aku ingin memberinya selamat. Ya siapa tahu aku bisa membantu Kakak.''
''Iya boleh kok.''
Akhirnya Krisna dan Laras pergi ke supermarket. Sesuai dugaan Krisna, bukan hanya susu kehamilan yang di pesan Kevin, melainkan kebutuhan rumah yang lainnya.
''Hmmm sudah ku duga,'' gumam Krisna.
''Memangnya kenapa sih, Kak?''
''Lihat saja list belanja Tuan Kevin, bukan hanya susu Ibu hamil tapi keperluan yang lain. Mana aku tahu, Ras?'' ucapnya sambil menunjukkan list belanja Kevin di ponselnya.
''Oh kalau itu aku tahu semua, Kak. Jadi tenang saja masih ada aku.''
''Ya aku bersyukur kamu ikut, kalau tidak ada kamu mungkin aku tidak akan pulang,'' ucapnya sambil tertawa kecil.
''Aku kan sudah feeling kalau Kakak pasti butuh bantuan. Baiklah ayo kita kerjakan tugas dari Tuan Kevin, supaya cepat selesai. Karena aku sendiri tidak sabar ingin bertemu Keira.''
__ADS_1
''Okay, lets go!" ucap Krisna dengan semangat.
Bersambung.... Next Bab besok ya 🙏❤️ Terima kasih untuk dukungannya. Like, komen dan votenya juga ya, gasskeennn!!! 😁😁😍🎉