
Sesampainya di panti, Keira begitu takjub dengan renovasi ulang itu.
''Wah, bagus banget ya, Mas.''
''Iya tapi tamannya belum jadi, sayang. Baru bangunannya saja yang sudah 100% jadi. Bu Rini merasa tidak enak kalau lama-lama berada di rumah ku. Begitu melihat bangunan sudah jadi dan layak huni, mereka buru-buru pindah. Leon yang baru saja tiba, langsung menghampiri Keira saat melihat Keira ada disana.
''Kei, bagaiamana kabarmu? Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Kei. Aku mendengar berita tentangmu. Tapi aku bersyukur karena kamu ternyata sudah ada disini.'' Cerocos Leon.
''Aku baik, Leon. Terima kasih ya untuk kekhawatiranmu.''
''Saat mendengar itu aku sangat khawatir. Tapi aku sadar, kalau aku bukan siapa-siapa untuk kamu.''
''Kamu kan temanku juga Leon.''
''Syukurlah kalau kamu sadar. Berteman boleh saja ya? Tapi ingat, Keira itu istriku. Dia milikku seutuhnya jadi jangan berharap lebih padanya. Sekalipun kita terlihat tidak akur tapi diatas ranjang kita sangat akur dan sangat panas.'' Kata Kevin dengan begitu percaya diri.
''Mas, kamu ini bicara apa sih? Yang lain kan denger.''
''Biarin aja lah. Kan memang benar adanya. Kita kan sedang semangat-semangatnya bercocok tanam supaya kamu segera hamil.''
''Mas, kamu ini. Di rem gitu mulutnya,'' kata Keira sambil mencubit perut Kevin.
''Ya, semoga kalian selalu berbahagia,'' kata Leon dengan senyumnya yang terpaksa. Ia kemudian berlalu dengan menahan luka di hatinya.
''Apa Keira benar-benar mengakhiri kontrak itu? Mereka memang terlihat saling mencintai. Ah, sudahlah Leon, masih banyak wanita di dunia ini,'' gumam Leon dalam hati.
''Wah, suaminya Keira los dol juga ya kalau ngomong,'' celetuk Johan.
''Begitulah Tuan Kevin kalau sedang bucin. Dia ingin menunjukkan kalau Nyonya itu miliknya seorang,'' sahut Krisna.
''Beruntung banget si Keira, di rebuti. cowok tampan dan tajir. Kalau gue jadi Keira, si Leon gue jadiin selir deh,'' seloroh Laras.
''Laras, Laras, untung aja elo itu Laras dan bukan Keira.'' Sahut Johan sambil menoyor kepala Laras.
''Maksud elo apaan sih? Nggak jelas deh,'' kesal Laras. Johan kemudian berlalu menyusul Keira yang sudah berjalan terlebih dahulu.
''Oh jadi kamu nanti akan selingku dan mencari yang lebih muda?'' tanya Krisna.
''Maksudnya apa Kak?''
__ADS_1
''Ya maksudnya kalau misal kita pacaran, kamu akan cari selingkuhan yang lebih muda, gitu?''
''Pacaran? Memang Kakak mau pacaran sama aku?'' kata Laras yang membalikkan ucapan Krisna. Krisna seketika menyadari apa yang di ucapkannta barusan. Krisna yang sudah terlanjur salah tingkah pun, kemudian pergi meninggalkan Laras.
''Cieee, serius nih Kak, kita pacaran?'' tanya Laras sambil menarik lengan kemeja Krisna. Krisna hanya diam dan pura-pura tidak mendengarnya.
''Cieeee, cemburu ya? Bilang dong,'' goda Laras lagi. Namun Krisna tetap teguh pada pendiriannya kalau dia tida merespon godaan Laras. Karena penyakit gugupnya menyerangnya tiba-tiba.
Miko dan Gina yang juga berada disana sangat senang melihat Kevin datang bersama Keira.
''Kei, aku senang sekali akhirnya kamu bebas,'' peluk Gina pada Keira.
''Terima kasih ya, Mbak. Ini semua juga karena dukugan kalian.'' Kata Keira.
''Kak Miko, makasih ya untuk dukungannya. Aku bahagia sekali mempunyai keluarga seperti kalian.'' Ucap Keira penuh rasa haru.
''Oh, rupanya ada mantan narapidana disini,'' sahut Nyonya Rosa dengan ucapan sinisnya saat melihat Keira.
''Eh, Tante Rosa ada disini juga. Terima kasih ya Tante untuk dukungannya juga.'' Kata Keira yang tetap berusaha sopan pada Nyonya Rosa.
''Jangan percaya diri terlalu tinggi, aku tidak pernah mendukungmu. Aku bahkan berharap Kevin menceriakanmu.''
''Mama! Cukup! Mama keterlaluan sekali ya. Ucapan Mama bisa di dengar oleh banyak orang,'' tegur Miko dengan suara sedikit meninggi.
''Ihhh nenek lampir, mulutnya pingin deh gue lempar sama parutan kelapa,'' celetuk Laras dengan kesal.
''Iya nyebelin banget Mamanya Tuan Miko. Ya ampun dia juga seorang Ibu, seharusnya kan dia bisa bersikap bijak,'' sambung Johan.
''Sssttt tolong ya kalian jangan rumpi,'' sahut Krisna.
''Itu kenyataan, Kak. Aduh, amit-amit deh punya mertua macam itu. Bisa mati tekanan batin,'' seloroh Laras
''Sstttt, Tuan Kevin mau menyampaikan sambutannya. Jadi kamu diam,'' kata Krisna sambil menutup bibir Laras dengan jari telunjuknya.
''Ya ampun tangannya Kak Krisna wangi banget, tempelin aja jarinya disitu,'' batin Laras.
Dan acara hari itupun berjalan dengan lancar. Keira pun sangat bahagia, akhirnya para lansia itu mendapatkan tempat yang layak huni.
''Terima kasih ya, Mas. Berkat kamu mereka bisa tidur dengan nyenyak tanpa kehujanan. Kamu juga sudah meminta Dokter Alan untuk membawa beberapa suster disini. Aku bahagia sekali, Mas. Melihat senyum mereka hatiku rasanya tenang banget.''
__ADS_1
''Sama-sama istriku, sayang. Kalau bukan karena kamu, aku tidak mungkin melakukan ini. Tapi aku juga ikhlas karena bisa membantu mereka semua. Semua ini karena bantuan Alan dan Miko juga.''
''Circle pertemanan kamu itu lengkap ya, Mas. Dokter ada, arsitek ada terus polisi juga ada. Kamu harus jaga persahabatan itu, Mas.''
''Oh ya, aku sudah bicara pada Kakakmu, kalau aku akan memindahkan Ayah di rumah sakit milik keluarga Alan. Supaya Alan bisa memantau keadaan Ayah secara intens.''
''Apapun keputusan kamu, aku yakin itu yang terbaik. Setelah ini aku ingin menjenguk Ayah, Mas.''
''Kamu bisa kan pergi bersama Laras dan Johan. Aku bersama Miko dan Krisna ada urusan yang sangat penting. Kamu bawa mobil aku, suruh Johan untuk menyetirnya.''
''Memang urusan apa?''
''Nanti aku akan cerita kalau semuanya sudah beres ya.'' Kata Kevin.
''Baiklah kalau begitu. Kamu hati-hati ya, Mas. Jangan lupa beri aku kabar.''
''Iya istriku sayang.'' Mereka berdua kemudian saling berpelukan dan saling mengecup bibir sebelum berpisah.
-
Kini Keira sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
''Widih, mobil orang kaya enak banget ya. Kapan ya bisa punya mobil sebagus ini?'' seloroh Johan yang begitu bahagia di percaya Kevin untuk membawa mobil mewahnya.
''Norak amat sih, Jo. Kerja yang rajin.'' Kata Laras. Johan dan Laras terus mengoceh panjang lebar. Namun Keira hanya terdiam dalam lamunannya. Ia memikirkan bagaimana kondisi Ayahnya saat ini. Keira merasa gagal menjadi seorang anak. Tentu saja semua masalah ini adalah kesalahannya. Membuat malu keluarga, membuat kesehatan Ayahnya terganggu dan sekarang membuat nama suaminya tercemar. Johan dan Laras lalu kompak menoleh kebelakang, melihat Keira yang sedari tadi tidak menyahut obrolan keduanya.
''Kei, elo baik-baik aja kan?'' tanya Laras.
''Iya, gue nggak apa-apa kok. Gue lagi mikirin Ayah.''
''Sorry ya, Kei. Semua ini salah kita.''
''Gue sama sekali nggak nyalahin kalian kok. Gue sadar cepat atau lambat, Ayah akan tahu semuanya. Tapi ini lah hal yang gue takutin, Ayah drop.''
''Gue juga nggak tahu kalau nanti bokap dan nyokap pulang dari luar kota, bakalan habis gue. Tapi ya mau gimana lagi, kita berani berbuat harus berani bertanggung jawab.'' Kata Laras.
''Apapun itu, kita akan hadapi sama-sama. Gue juga berharap semoga Om Ammar segera sadar. Elo harus kuat ya Kei, kita akan selalu ada buat elo apapun tang terjadi.'' Ucap Johan.
''Thanks ya, kalian selalu ada buat gue.''
__ADS_1
''Sama-sama Kei.'' Sahut Laras.
Bersambung....