Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 300 Dibawah Langit


__ADS_3

Setelah acara selesai, Leon menghampiri Kevin dan Keira.


''Tuan Kevin, Keira, terima kasih ya sudah hadir di acara pertunanganku.''


''Sama-sama Leon. Selamat ya, semoga di lancarkan semuanya.'' Ucap Kevin sambil menjabat tangan Leon.


''Selamat ya Leon. Aku ikut bahagia.''


''Terima kasih Tuan Kevin-Keira.''


''Selamat ya Om Leon! Bahagia selalu bersama Tante Nadia.''


''Hei Marvel, terima kasih anak tampan.'' Ucap Leong seraya mengelus kepala Marvel.


''Putri kecilmu lucu sekali, Kei. Sangat menggemaskan.'' Kata Leon sambil menyentuh lembut wajah baby Rachel. Bahkan baby Rachel pun tersenyum kearah Leon.


''Senyumnya bahkan sangat cantik. Dia pasti akan murah senyum seperti dirimu. Busana kalian juga yang paling kompak di antara semuanya.'' Ucap Leon. Kevin kembali meradang mendengar ucapan Leon.


''Iya, ini istriku yang memilihkannya Leon. Supaya kompak katanya.'' Sahut Kevin.


''Iya Tuan, makanya aku bilang kalian yang paling kompak. Keira ada saja idenya. Nanti saat aku punya anak juga akan sering memakai baju seperti ini. Seru saja kalau kembar. Supaya semua orang tau kalau aku sudah berkeluarga.''


''Tadinya Mas Kevin keberatan karena pink, Leon. Tapi kan bagus, sekali-kali buat yang beda.''


''Tapi warna pilihan kamu bagus kok, Kei. Apalagi ada kombinasi abu-abunya. Jadinya soft dan cocok saja di pakai pria. Jaman sekarang pria pakai pink tidak masalah.''


''Aku juga keberatan sih Om pakai pink. Terlihat seperti perempuan.'' Celetuk Marvel.


''Tapi kamu sangat tampan Marvel memakai pink. Tampan sekali. Membuat kamu semakin sweet. Ya sudah, kalau begitu aku permisi ya. Sekali lagi terima kasih untuk kedatangannya.'' Ucap Leon seraya berlalu.


-


Sesampainya dirumah, Keira pun segera menidurkan Rachel di keranjang bayinya. Kemudian Keira membantu Kevin melepas kemeja pink dan dasi kupu-kupu warna pink-nya. Kevin hanya diam tak bereaksi namun bibirnya sudah manyun sejak tadi.


''Kamu kenapa Mas? Bibirnya manyun gitu?''


''Menurut kamu?''


''Kamu hari ini sangat tampan dan manis, Mas. Aku suka kamu memakai warna ini. Kamu malu ya?''


''Kenapa ya Leon itu selalu mencari muka di hadapan kamu? Kamu senang kan karena Leon berpihak padamu. Leon menyukai baju desain kamu, sementara aku tidak menyukainya. Apalagi Leon memujimu di hadapanmu.''

__ADS_1


''Ayolah Mas, jangan membahas masalah itu. Itu tidak penting.''


''Aku merasa jahat untuk istriku di hadapan pria lain. Pria lain memuji tapi aku, malah sebaliknya.''


''Berarti masalahnya dimana? Di kamu kan, Mas? Makanya hargai istri kamu ini, jangan marah-marah. Kamu ketar-ketir ya istri kamu disanjung pria lain?'' Keira berusaha menggoda suaminya. Kevin yang kesal, menarik tubuh Keira dalam dekapannya. Kevin mengunci pinggang Keira, ditatapnya kedua mata yang indah itu.


''Sepertinya istriku sudah berani menantangku ya? Memangnya sebagai suami, aku kurang apa sayang jika dibandingkan dengan Leon ataupun Ferdi?''


''Mas, kalender sudah berganti tahun tapi kamu masih saja belum move on dengan semua itu.''


''Iya, itu karena kamu hanya milikku. Hanya aku yang berhak memuji dirimu. Sungguh tidak sopan memuji istriku di hadapanku.''


''Bagus dong Mas. Kamu seharusnya bangga mempunyai istri seperti aku. Karena semua orang memuji aku. Kalau aku dihina, kamu marah. Di puji pun kamu tetap saja marah. Terus, aku haru bagaimana?'' ucap Keira terkekeh. Kevin kemudian mengecup bibir Keira.


''Mas...., kamu membuatku kaget!"


''Kenapa sih, kamu semakin hari semakin cantik? Aku tidak rela kalau banyak pria yang memandangmu dengan tatapan ingin memiliki. Apalagi hanya sekedar memuji.''


''Aku seperti ini juga karena kamu, Mas. Kamu yang bisa membuatku bahagia, makanya aku jadi semakin cantik. Itu berarti kamu sukses membahagiakan istri kamu. Percayalah Mas, cinta ku hanya untuk kamu. Aku sudah melahirkan anakmu saja, kamu masih saja begitu.''


''Cintaku terlalu besar padamu, sayang.''


''Begitu juga denganku, Mas. Oh ya Mas, bulan depan anniversary kita pertama. Aku ingin kita merayakannya seperti kita menikah dulu. Kamu tahu kan hubungan kita awalnya bagaimana? Jadi aku ingin kita melakukannya seperti pasangan pada umumnya.''


''Karena dulu kita hanya berpura-pura tapi kalau sekarang kita sudah saling mencintai satu sama lain. Apalagi hadirnya Rachel semakin membuat kebahagiaan kita lengkap.''


''Apapun yang kamu minta, akan aku kabulkan istriku. I love you so much.''


''I love you more suamiku.'' Keira membalas mengecup bibir suaminya.


''Sekarang, kamu harus di hukum. Puaskan aku diatas ranjang.'' Pinta Kevin dengan tatapan menggoda. Keira mengangguk dengan senyum malu-malu.


...****************...


Malam terasa sunyi di rumah Miko dan Gina. Karena Miko, Gina dan Sheeva pergi ke Shanghai. Sepulang kerja Chika langsung menghabiskan waktunya di kamar. Chika kini merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sembari membaca sebuah novel. Namun tiba-tiba suara petikan gitar memecah konsentrasinya. Chika menutup novelnya, ia lalu beranjak dari tempat tidur dan melihat kearah keluar jendela.


Chika melihat Zidni sedang duduk di bangku taman sembari memainkan gitarnya. Tampak ada sebua buku dan bolpoin dihadapannya.


''Sedang apa dia? Sepertinya sedang membuat lagu. Kalau seperti itu, dia memang terlihat tampan. Eh-eh Chika, apa yang kamu pikirkan? Dia tidak mungkin tertarik denganmu. Dia sangat mencintai kekasihnya bahkan dengan tegas, kamu bukan tipenya.'' Chika berdialog dengan dirinya sendiri.


Chika kemudian menyusul Zidni ke taman dengan membawa beberapa camilan.

__ADS_1


''Hai, sibuk ya? Boleh kan aku duduk disini?'' tanya Chika. Zidni tidak merespon dan fokus pada petikan getiranya. Tanpa menunggu ijin dari Zidni, Chika duduk begitu saja.


''Ini camilannya. Sepertinya asyik kalau sambil makan, iya kan? Kamu sedang menulis lagi ya?''


Zidni hanya mengangguk saja untuk menjawab pertanyaan Chika.


''Ah aku tahu, kamu pasti membuat lagu untuk pacar kamu kan? Pasti pria sepertimu sangat pintar merayu dan meluluhkan hati banyak wanita. Memang rencanamu memiliki berapa banyak wanita Zidni? Kasihan lho kalau kamu mempermainkan hati mereka. Bagaimana kalau mereka ada yang tulus sama kamu? Mereka pasti terluka karena tiba-tiba kamu tinggalkan begitu saja.''


''Jaman sekarang mana ada yang tulus? Mereka hanya persinggahan saja untukku.'' Akhirnya Zidni bersuara juga.


''Ya, apapun itu Zidni. Kalau kamu tidak menggoda, mereka juga tidak akan terpengaruh, begitu juga sebaliknya. Wanita mana yang tidak terpengaruh dengan pesonamu. Kamu pastilah sosok pria yang romantis. Apalagi dengan lirik lagu yang kamu tulis.'' Ucap Chika sambil mencuri pandang tulisan Zidni.


''Aku sangat menyukai musik. Romantis atau tidak, itu tidak ada hubungannya. Musik sudah seperti separuh nafas bagiku. Dan musik juga yang bisa mengerti suasana hatiku seperti apa. Aku bisa menumpahkan semuanya disana.''


''Sama seperti lirik lagumu itu. Aku hanya bisa menumpahkan segala rasa cintaku lewat tinta hitam ini, begitu juga dengan beribu sesalku. Begitulah caraku mencintaimu, begitulah caraku untuk mengenangmu. Sungguh sebuah lirik lagu yang dalam. Pasti wanita itu sangat beruntung karena sosoknya menjadi bagian dari hidupmu."


"Iya, dia segalanya bagiku." Singkat Zidni.


"Lalu dimana dia sekarang? Kenapa dia tidak pernah menyusulmu?" Chika penasaran. Padahal sebenarnya Chika sudah tahu apa yang terjadi pada Zidni.


"Tuhan lebih mencintainya daripada aku," jawab Zidni sambil menatap kearah langit.


"Wah, dia sangat beruntung sekali ya. Tapi dia juga pasti sedih karena kamu malah membagi cintanya dengan banyak wanita."


"Aku tidak pernah membaginya. Aku hanya singgah sebentar, barang kali aku menemukan sosoknya di persinggahan itu."


"Sampai kapanpun, kamu tidak akan menemukannya, Zidni. Karena dia itu dia. Kalau kamu terus berusaha mencari sosoknya, kamu tidak akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya." Ucap Chika. Zidni terdiam sesaat mencoba mencerna apa yang Chika ucapkan.


"Ah, mending makan ini, keripik pisang. Ini buatan Ibu aku lho." Chika berusaha mengalihkan arah pembicaraannya.


"Cobain deh. Pasti di negaramu tidak ada keripik seperti ini. Rasanya manis dan renyah." Ucapnya lagi sambil membuka bungkus keripik itu. Zidni melihat Chika yang selalu tersenyum padanya, sekalipun sikapnya begitu jutek pada gadis yang duduk disampingnya itu.


"Ayolah, tidak usah malu-malu. Disini cuma ada kita. Rasanya rumah sebesar ini terasa sepi tidak ada Om Miko, Tante Gina dan Sheeva. Mending ngobrol sambil ngemil." Chika terus berusaha membujuk Zidni dengan caranya. Zidni lalu mengambil keripik itu lalu mencobanya. Terasa renyah dan begitu manis.


"Apa ini benar buatan Ibumu?"


"Iyalah. Untuk menyambung hidup, ibuku membuat berbagai macam keripik. Lalu Ibu titipkan dari warung ke warung. Semua proses pembuatannya masih manual. Ya, tahu sendirilah kami dari keluarga yang sederhana. Aku datang kemari juga ingin merubah nasib orang tuaku, seperti yang di lakukan oleh Tante Gina. Aku ingin membelikan Ibu alat yang lebih canggih untuk memproduksi keripik ini. Meskipun aku tidak tahu kapan bisa membelinya." Ucap Chika seraya tertawa sambil terus mengunyah.


"Dia selalu bisa tersenyum bahkan tertawa dengan keadaan yang begitu sulit." Gumam Zidni dalam hati yang larut dengan sunggingan bibir manis Chika. Namun Zidni segera menyadari itu.


"Apa yang kamu pikirkan Zidni?" gumamnya lagi dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2