Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 158 Jebakan Mauren


__ADS_3

Keesokan harinya di kantor, Krisna tampak sedang melamun di ruangannya, bahkan Krisna sampai tidak menghiraukan panggilan Kevin, bosnya.


''Kris, mana berkas yang aku minta.'' Namun Krisna tak menghiraukannya. Kevin mengernyitkan dahinya melihat Krisna yang tampak aneh hari ini. Kevin lalu mencoba sekali lagi dengan suara meninggi. ''Krisna!" Krisna tercekat dan terkejut mendengar panggilan bosnya.


''I-iya Tuan. Ada apa?''


''Aku sudah sedari tadi berdiri di ambang pintu. Tapi kamu tidak melihatku. Aku menunggumu untuk memberikan berkas yang aku minta tapi kamu tidak juga ke ruanganku.'' Marah Kevin. Krisna beranjak dari tempat duduknya lalu membungkuk minta maaf.


''Maafkan saya Tuan.''


''Ada masalah apa, Kris? Kamu tidak biasanya seperti ini.'' Kevin lalu mendekat ke arah Krisna.


''Sebenarnya saya sedang bingung tapi disisi lain saya juga bahagia.''


''Maksudmu? Aku tidak mengerti.''


''Mmmm Laras meminta saya untuk menikahinya, Tuan.''


''Menikah? Apa kamu menghamilinya, Kris.''


''Ti-tidak Tuan. Saya tidak melakukan apapun. Kami hanya baru belajar berciuman saja,'' jawabnya tergagap. Kevin lalu tertawa terbahak mendengar pengakuan polos Krisna.


''Krisna, Krisna, ternyata Laras bisa membuat mu menjadi lebih jantan. Wah perkembanganmu sangat pesat sekali. Apa saja yang di lakukan Laras sampai kamu akhirnya bisa berciuman?''


''Dia mendesak saya untuk menikahinya karena jika tidak, dia akan di jodohkan oleh orang tuanya.''


''Ya sudah kamu nikahi saja dia.''


''Tapi saya belum melamarnya. Dia ingin saya melamarnya dulu.''


''Ya sudah kamu lamar dia, temui orang tuanya. Apalagi yang kamu bingungkan?''


''Saya harus bicara apa ya, Tuan. Sejujurnya ini pengalaman pertama saya dan jujur saya tidak bisa tidur memikirkan semua ini. Saya juga takut di tolak. Lalu apa yang harus saya bawa untuk seserahannya?''


''Krisna, Krisna, lucu sekali kamu ini. Tunjukkan pada orang tuanya kalau kamu bisa membahagiakannya secara lahir dan batin. Biasanya kalau lamaran, kamu cukup bicara serius dengan kedua orang tuanya. Setelah itu buatlah acara pertunangan dan saat pesta pertunangan itu, kamu membawa seserahan dan biasanya yang di bawa ya perhiasan, tas, sepatu, make up, baju dan semua keperluan wanita lah. Kamu kan bisa tanya Siska.''


''Apakah Tuan mau membantu saya?''


''Membantu apa Kris?''


''Saya ingin Tuan dan Nyonya mewakili keluarga saya untuk acara pertunangan saya. Karena saya hanya mempunyai Ibu jadi saya ingin Tuan dan Nyonya menjadi Kakak untuk saya yang nantinya mewakili sebagai keluarga. Karena disini kami tidak mempunyai kerabat atau siapapun.''


''Iya Kris, aku akan membantumu. Katakan saja kapan acara itu akan berlangsung. Kalaupun kamu butuh sesuatu, katakan saja padaku. Yang jelas sekarang fokuslah bekerja dan giatlah bekerja. Biaya menghidupi anak orang itu tidak sedikit karena kebahagiaan itu harus lahir maupun batin.''

__ADS_1


''Iya Tuan, pasti. Terima kasih ya, Tuan.''


''Sama-sama, Kris. Aku senang mendengar kabar akhirnya kamu akan menikah. Aku tunggu berkasnya.''


''Baik Tuan, akan segera saya siapkan.'' Kevin kemudian berlalu meninggalkan ruangannya. Saat akan menuju ruangannya, Kevin bertemu dengan Mauren. Kevin sebenarnya sudah sangat geram melihat Mauren ada di hadapannya. Namun kali ini ia harus berakting.


''Kevin, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.''


''Baiklah, ayo masuk ke ruanganku.'' Ucap Kevin seraya berlalu menuju ruangannya.


''Ada apa Mauren?''


''Aku ada ide baru mengenai proyek kita yang gagal ini.''


''Ide apa?''


''Selama ini kan kamu belum pernah berbisnis di dunia fashion. Aku yang pengalaman tentang fashion, akan membantumu.''


''Kerugianku terlalu besar karena sabotase itu jadi aku belum bisa memulainya lagi.''


''Kalau masalah dana, aku yang akan membantumu untuk modalnya. Jadi aku akan berinvestasi pada perusahaanmu.''


''Oh ternyata itu tujuanmu, Mauren. Kamu berniat menggerogoti perusahaanku, licik sekali,'' gumam Kevin dalam hati.


''Iya aku tahu pasti kamu tidak akan percaya lagi padaku karena kejadian kemarin tapi sungguh aku tidak tahu kalau mereka akan melakukan itu pada kita. Aku sangat kecewa dan marah. Apa perlu aku meminta bantuan Papa untuk membantumu menghadapi masalah ini?''


''Tidak usah, Mauren. Aku tidak mau merepotkan siapapun. Aku akan berusaha semampuku untuk mengatasinya. Sekali lagi terima kasih ya untuk bantuan yang kamu tawarkan. Kamu tidak perlu melakukan sejauh itu.'' Melihat tatapan sedih Kevin, Mauren merasa menyesal. Mauren lalu memberanikan diri untuk meraih tangan Kevin. Kevin sangat terkejut saat Mauren tiba-tiba menggenggam tangannya.


''Kevin, maafkan aku ya. Maaf atas semuanya. Awalnya aku hanya berniat tulus membantumu tapi aku tidak tahu kenapa mereka justru menghianati kita. Aku janji akan menemani kamu untuk melewati semua ini. Melihatmu terpuruk, membuatku sakit, Kevin. Aku mohon jangan bersikap acuh padaku. Aku siap melakukan apapun untukmu, Kevin. Kamu tahu perasaanku sampai detik ini tidak berubah. Sekalipun kamu tidak pernah melirikku walaupun sedikit saja. Aku hanya menginginkanmu, Kevin. Sekalipun aku harus menjadi yang kedua.''


''Mauren, apa yang kamu katakan? Kamu kenapa malah meracau seperti itu?''


''Kevin, biarlah Keira menjadi yang pertama di hatimu tapi aku siap menjadi yang kedua, sekalipun kamu hanya membutuhkan uangku saja. Aku tahu perusahaanmu sedang tidak baik, aku tidak masalah jika hanya sebagai istri pendukung finansialmu. Aku bahkan rela menjadi simpananmu. Kevin apa kamu tidak merasakan kalau sampai detik ini, jantungku selalu berdebar saat berada di dekatmu?'' melihat Mauren yang semakin aneh, Kevin melepaskan genggaman Mauren dan beranjak dari sofa. Namun tiba-tiba saja Mauren memeluknya dari belakang.


''Kevin, berikan aku kesempatan sekali saja. Jangan marah padaku, ijinkan aku memelukmu seperti ini. Aku sangat merindukanmu, Kevin. Aku bertahun-tahun menahan dan memendam hasrat ini. Aku terlambat masuk kembali dalam duniamu, sehingga Keira datang mengisi kekosonganmu. Kevin, asal kamu tahu cintaku lebih besar dari Keira. Sekalipun kamu tidak melihatku tapi sampai detik ini rasa ini tidak pernah berubah.''


''Mauren, tolong lepaskan tanganmu. Kalau orang lain melihat, mereka akan salah paham dengan kita.''


''Aku tidak peduli, Kevin. Aku tidak bisa menahannya, biarkan aku merasakan aroma tubuhmu yang sudah lama tidak aku hirup. Aku tidak masalah jika aku hanya bisa menikmatinya untuk beberapa menit saja. Keria juga tidak akan tahu. Kamu bisa melihat kan, bahwa aku juga tidak kalah cantik ataupun seksi dari Keira. Kevin, sentuhlah aku meskipun sedikit saja.'' Mauren terus menggoda Kevin dengan kata-katanya yang mendesah dan manja itu. Namun Kevin sama sekali tidak bereaksi karena bagi Kevin, Mauren adalah pembunuh anaknya. Perlahan Kevin melepaskan tangan Mauren yang sangat erat memeluk pinggangnya. Ia lalu berbalik menatap Mauren.


''Mauren, kamu jangan gila. Kamu cantik dan memiliki segalanya. Carilah pria yang tulus mencintaimu. Aku sudah beristri. Aku hanya menganggapmu tidak lebih dari seorang teman dan adik saja. Jangan siksa diri kamu seperti ini, Mauren.''


''Tapi yang aku inginkan cuma kamu. Tidak masalah kamu menganggapku apapun tapi buat aku bahagia meskipun sebentar saja.''

__ADS_1


''Mauren, pergilah! Jangan sampai aku berbuat kasar.'' Kevin berusaha sabar menghadapi Mauren demi menjaga misinya yang belum selesai. Bukannya pergi, Mauren justru membuka kancing blousenya.


''Mauren, apa yang akan kamu lakukan? Kamu jangan gila!" Kevin berjalan mundur untuk menghindari Mauren namun Mauren justru semakin mendekat.


''Aku hanya ingin kamu menyentuhku sedikit saja Kevin, setelah itu sudah. Apakah aku kurang menarik?'' Mauren terus berjalan mendekati Kevin sampai Kevin tersudut dan terduduk di kursi putarnya. Kancing blouse Mauren terbuka sehingga tampaklah sesuatu menyembul di balik bra warna marun itu.


''Pergi Mauren! Jangan sampai aku bersikap kasar padamu.''


''Lakukan saja Kevin. Sakiti aku sesuka hatimu.''


Kevin benar-benar terjebak dengan situasi ini. Kalau ia bersikap kasar, Mauren akan semakin nekat, kalau ia tidak melawan, Mauren justru akan mendesaknya. Mauren mendekatkan wajahnya pada Kevin, suapay Kevin bisa melihat dadanya. Namun Kevin justru memalingkan wajahnya dengan menatap fotonya bersama Keira dan Marvel di meja kerjanya. Mauren sangat kesal dengan reaksi Kevin, Mauren yang sudah tidak tahan, mendaratkan ciuman di leher Kevin, sehingga menyisakan bekas lipstik di leher Kevin. Kevin yang terkejut, reflek mendorong Mauren hingga Mauren terjatuh tersungkur di lantai.


''Mauren, jaga batasanmu! Aku biss bersikap kasar padamu. Kamu pergi dari sini dan jangan merendahkan dirimu di hadapanmu.'' Bentak Kevin dengan segala amarahnya.


''Kamu keterlaluan, Kevin.''


''Kamu yang keterlaluan, Mauren. Ini kantor, kamu jangan bertindak melewati batasanmu.'' Mauren kemudian berusaha berdiri. Ia lalu menarik kerah jas Kevin dan gantian mendorong Kevin dengan kuat, sampai Kevin terjatuh di lantai.


''Mauren, kamu gila ya.''


''Iya aku gila!" Mauren yang nekat lalu duduk di atas tubuh Kevin, ia mencengkeram kuat tangan Kevin dan menarik tangan Kevin keatas.


''Mauren, apa yang mau kamu lakukan! Jangan sampai aku memukulmu!" Mauren benar-bejar tidak peduli dengan kemarahan Kevin. Ia bahkan sangat bahagia bisa berada diatas tubuh Kevin, tubuh selalu ia impikan setiap malam.


''Kamu dan Keira terbiass melakukannya di kantor kan? Jadi kenapa dengan ku tidak bisa?''


''Dia istriku dan aku mencintainya. Kamu hanya seorang wanita murahan.'' Mauren murka mendengar ucapan Kevin. Mauren menarik jas Kevin dan mengoyak tubuh Kevin.


''Bunuh saja aku Mauren. Aku rela mati di tanganmu.''


''Aku sudah memberimu kesempatan tapi kamu tidak mau melihatku.'' Mauren mulai menagis sesenggukan sambil terus mengoyak dan memukul dada Kevin sampai kancing kemeja Kevin terlepas. Mauren yang lelah lalu memeluk Kevin dan menangis dalam pelukannya dengan posisi Mauren masih berada di tubuh Kevin.


''Mas, aku memba....,'' belum selesai Keira berbicara, Keira di kejutkan dengan pemandangan yang sungguh menyakitkan. Keira melihat Pakaian Kevin dan Keira berantakan di dekat meja kerja Kevin. Di tambah posisi Mauren yang berada di tubuh Kevin sambil memeluknya. Sementara Kevin terlihat pasrah sambil merentangkan kedua tangannya di lantai. Kevin mendoleh mendengar suara Keira, begitu pula Mauren. Keira terpaku, rantang makanan yang ia bawah terjatuh, melihat kancing kemeja Mauren yang terbuka bahkan terlihat buah dada yang menyembul di balik bra. Kali ini Keira tidak bisa berpikir jernih melihat sesuatu di hadapannya itu. Kevin lalu mendorong Mauren dan ia segera beranjak merapikan pakaiannya. Bahkan Kevin baru menyadari kalau kancing tiga kancing kemejanya terlepas karena ulah Mauren.


''Kei, sayang. Ini tidak seperti yang kamu lihat. Kamu salah paham.''


''Keira, maafkan aku. Kami hampir saja khilaf.'' Kata Mauren sambil mengancingkan kembali kancing blousenya.


''Jaga ucapanmu, Mauren! Aku tidak melakukan apapun padamu.'' Bentak Kevin.


''Kamu menikmatinya, Kevin. Aku memahami kalau hasratmu tertahan karena istrimu sakit. Aku hanya membantu memuaskanmu saja.''


''Mas, kamu menjijikkan.'' Keira lalu pergi meninggalkan ruangan Kevin dengan deraian air mata dan setumpuk kekecewaan. Kevin lalu mengejar Keira dan Mauren tersenyum puas melihat pertengkaran suami istri itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2