
Hari ini rumah Kevin dan Keira ramai di kunjungi oleh para karyawan kantor dan juga beberapa kolega yang menyempatkan untuk menjenguk baby Rachel. Kini keduanya sedang duduk santai di ruang tengah, sembari merebahkan baby Rachel di atas kasur kecil yang Keira taruh diatas meja. Keira dan Kevin pun merasa sangat lelah karena tamu silih berganti berdatangan. Karena tidak mungkin naik turun lagi, akhirnya mereka menggelar sebuah kasur khusus untuk baby di ruang tengah.
“Kayaknya kalau pagi sampai sore, baby Rachel taruh di kamar bawah saja deh, Mas. Aku capek lho naik turun hari ini. Nanti malam kalau kita mau istirahat, kita bawa dia ke kamar atas.”
“Iya sayang aku setuju sekali. Aku sebenarnya juga capek sih naik turun. Tapi meskipun begitu aku bahagia sekali karena banyak sekali yang menyayangi baby Rachel.”
“Iya Mas, aku juga bahagia kok. Tapi kasihan dia juga kalau seperti ini.”
“Iya sayang, aku mengerti kehawatiranmu. Ya sudah biar untuk sementara kita rebahkan saja dia disini. Sebaiknya kamu mandi dulu, sayang. Anaknya sudah cantik begini masa Mamaya masih begitu.”
“Hmmm mulai deh protes, namanya juga ngurus anak, Mas.”
“Tuh,mulai deh sensitifnya. Padahal aku bercanda lho, sayang. Ya sudah kamu buruan mandi biar semakin cantik ya. Setelah itu baru aku yang mandi.”
“Nah, itu baru bener, Mas.” Keira kemudian beranjak dari duduknya dan segera menuju ke kamar. Sedangkan Kevin memilih menghabiskan waktu bersama si kecil.
“Hai Pah, aku sudah selesai mandi lho.” Sahut Marvel.
“Ih jagoan Papa makin ganteng saja.” Ucap Kevin seraya memberikan kecupan pada pucuk kepala putranya.
“Hehehe kan anaknya Papa. Adik sedang apa Pah?”
“Ini bobo, Marvel.”
“Kenapa bobo terus ya, Pah?”
“Namanya juga masih bayi. Kamu juga dulu seperti ini waktu masih bayi.”
“Terus kapan Pah, adiknya bisa melek dan diajak bercanda? Marvel kesepian nih.” Marvel pun semakin penasaran dan tidak sabaran.
“Kamu ini lucu sekali. Namanya juga adik bayinya baru berumur beberapa hari. Penglihatannya juga belum tajam, Nak. Nanti setelah tiga bulan, kamu sudah bisa mengajaknya bercanda.”
“Tap lama ya Pah, adiknya bisa jalan?”
“Paling tidak usia satu tahun, Marvel. Dulu saat kamu usia satu tahun baru bisa jalan juga. Sabar dong, sayang. Memangnya kamu ajak adik main apa sih?”
“Main kejar-kejaran, mobil-mobilan, laying-layang, banyak deh Pah.”
“Kalau kamu kesepian dan butuh teman main, kamu bisa ajak teman-teman kamu ke rumah. Biasanya juga ada Anrez kan?”
“Iya sih, Pah. Tapi kalau sekarang jangan dulu, Pah. Kasihan adiknya nanti dia terganggu, Pah. Pah, Marvel mau cium adiknya boleh?”
“Boleh dong, pelan-pelan ya.”
“Iya Papa.” Marvel kemudian menegcup lembut pipi merah baby Rachel. Marvel juag membelainya dengan sangat lembut dan pelan.
“Adik, cepat gede ya. Kakak sudah tidak sabar nih ingin mengajakmu bermain. Nanti Kakak akan memberikanmu mainan yang sangat banyak sekali, oke.”
“Oke Kakak Marvel,” jawab Kevin mewakili suara baby Rachel.
“Kita bawa adik ke atas ya, Papa mau mandi. Pasti Mama juga sudah selesai mandinya. Kamu temani Mama dan adik di kamar ya.”
“Siap Pah!”
Kevin dan Marvel kemudian menuju kamar, kebetulan sekali Keira pun hendak turun.
__ADS_1
“Baru mau nyusul, Mas.”
“Iya sayang, aku mandi dulu. Lagi pula ini juga sudah mau maghrib jadi biar Kakak Marvel juga ikut menemani.”
“Oh begitu, terima kasih Kakak Marvel.” Kata Keira.
“Sama-sama Mama.”
-
Keesokan harinya, Laras malas sekali untuk bangun pagi. Bahkan Krisna pun tidak berhasil membangunkannya. Akhirnya Krisna membiarkan Laras untuk tidur dan membawakan Laras sarapan ke kamar.
“Laras, ayo bangun. Aku mau ke kantor, kamu sarapan dulu ya.” Krisna mencoba membangunkan Laras dan membelainya dengan lembut.
“Kak, badan aku capek sekali. Kakak berangkat saja dulu ya. Nanti aku makan kok sarapannya.” Jawab Laras dengan nada malas dan dengan tetap dengan mata terpejam.
“Pasti kamu kecapekan karena butik lagi ramai ya.”
“Sepertinya begitu, Kak.”
“Ya sudah, aku ke kantor dulu ya. Kamu baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa panggil Bibi atau Ibu saja ya.”
“Iya.” Jawab Laras. Krisna kemudian memberikan kecupan di kening Laras sebelum pergi ke kantor. Setelah berpamitan pada istrinya, Krisna pun segera turun kebawah untuk berpamitan pada ibunya.
“Bu, Krisna berangkat dulu ya.”
“Lho, Laras kemana Kris? Dia sudah sarapan belum?”
“Masih tidur, Bu. Katanya capek. Tadi sarapannya sudah Krisna bawa ke kamar. Titip Laras ya, Bu.”
“Iya Nak, kamu jangan khawatir. Ya sudah kamu berangkat sana.”
Hari ini Krisna harus berangkat pagi karena Kevin masih cuti selama dua hari kedepan. Jadi, Kevin memasrahkan semua pekerjaannya pada Krisna. Krisna pun mengerjakan semua tugas yang di ebrikan oleh bosnya tanpa suatu kendala apapun dengan di damping oleh Siska.
Selesai meeting si luar, Krisna mengajak Siska makan siang sekalian di luar.
“Terima kasih ya Sis, sudah membantu menghandle ku mengerjakan tugas Tuan Kevin hari ini.”
“Sama-sama, Krisna. Terima kasih juga untuk makan siangnya. Oh ya Kris, sepertinya aku mau resign.”
“Kenapa Sis? Apa Tuan Kevin sudah tahu?”
“Aku hamil tiga bulan, Kris. Suamiku menyuruhku resgin.”
“Pantes saja badanmu akhir-akhir terlihat melebar ya,” ledek Krisna.
“Biarain lah lebar, yang penting sehat. Namanya juga hamil,” ketus Siska.
“Hehehe sorry, Sis. Aku bercada kok. Selamat ya untuk kehamilanmu. Doakan aku juga ya Sis, semoga Laras segera hamil. Dia sedih sekali karena belum hamil-hamik. Padahal aku sama sekali tidak menuntutnya.”
“Sabar ya, Kris. Kalian menikah juga baru beberapa bulan. Sedangkan aku penantian dua tahun.”
“Sis, tapi siapa yang akan menggantikanmu nanti?”
“Entahlah, itu urusan Tuan Kevin. Aku akan menunggu Tuan masuk, setelah itu aku akan memberikan surat pengunduran diriku.”
__ADS_1
“Siska, aku mendadak jadi sedih begini. Kita sudah lama jadi partner dalam pekerjaan. Kamu juga sudah banyak membantuku. Kamu juga yang membantuku merubah penampilan cupuku ini.”
“Kris, jangan membuatku sedih. Aku malah jadi ikutan sedih. Mau bagaimana lagi, aku harus nurut sama suami dong.”
“Iya aku mengerti, Sis. Nanti setelah melahirkan kira-kira kamu kembali apa tidak?”
“Aku belum tahu, Kris. Yang jelas aku fokus urus anak dulu sih. Dan keputusan terakhir ada pasa suamiku.”
“Meskipun sedih tapi apapun keputusanmu, aku selalu berdoa semoga kamu selalu bahagia dan jangan lupa kabar-kabar ya.”
“Pasti dong, Kris. Aku doain juga semoga istri kamu cepat hamil ya. Nanti kalau udah hamil da nada baby jangan lupa kasih aku kabar juga.”
“Iya jangan khawatir. Kamu akan menjadi orang pertama yang aku beritahu kalau istriku hamil.”
“Sip deh!”
Saat sedang asyik mengobrol dengan Siska, tiba-tiba ponsel Krisna berdering. Ada panggilan masuk dari istrinya.
“Halo Laras sayang, ada apa?”
“Halo Kak, Kakak dimana?”
“Aku selesai meeting dan sekarang sedang makan siang di luar. Ada apa?”
“Bisa pulang tidak? Aku lagi pingin makan bakso beranak di dekat butik sana.”
“Bakso beranak? Beranak berapa?” goda Krisna.
“Kak, aku serius. Aku dari tadi pagi belum makan dan sekarang aku pingin makan bakso beranak itu. Belikan dua porsi ya, sambalnya yang banyak. Terus sama es jeruknya sekalian yang manis ya, Kak.” Pinta Laras dengan rengekan manjanya.
“Kalau kamu pingin makan bakso, kenapa tidak bilang dari tadi? Kalau kamu telat makan nanti kena maag bagaimana?”
“Iya Kak, ini kebetulan lagi selera makan tapi maunya bakso. Cepet ya, Kak.”
“Iya sayang, kamu tunggu ya. Aku segera meluncur.”
“Baiklah, hati-hati ya Kak.”
“Iya sayang.” Panggilan pun berakhir.
“Ayo Sia, aku antar kamu ke kantor dulu.”
“Sudah, kamu pergi saja Kris. Kasihan istri kamu. Aku bisa naik taksi lagian deket juga.”
“Eh jangan Sis, kita kan berangkatnya sama-sama.”
“Tapi istri kamu kasihan, Kris. Sudah mending belikan sana, dia lagi sakit kan? Kasihan kalau kelamaan nunggu.”
“Serius nih nggak apa-apa?”
“Yaelah Kris, kayak sama siapa aja.”
“Ya udah deh, aku pergi ya. Kamu hati-hati ya, Sis.”
"Iya santai aja lagi, kamu juga hati-hati ya.”
__ADS_1
“Oke.” Krisna dengan langkah terburu akhirnya meninggalkan restoran.
Bersambung.....