Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 118


__ADS_3

Keesokan paginya Kevin terkejut saat menatap dirinya di depan cermin. Ada bekas merah yang tertinggal di lehernya, bahkan Kevin pun baru menyadarinya.


''Kei, lihatlah! Apa yang kamu lakukan semalam?'' tanya Kevin pada Keira yang sedang merapikan tempat tidur.


''Memangnya kenapa, Mas?''


''Coba lihat ini. Kamu memberikan tanda merah di sini. Nanti bagaimana kalau aku ke kantor dan semua karyawan melihatku.''


''Aku memang sengaja melakukannya. Supaya tidak ada yang berani mendekatimu. Memangnya yang kamu lakukan itu apa? Sampai dadaku memerah seperti di gigit nyamuk.''


''Oh jadi kamu sengaja membalasku ya?''


''Iya. Tapi kamu suka kan?''


''Oh rupanya kamu sudah mulai berani ya.'' Kevin kemudian mendekat dan menggelitik pinggang Keira. Keira pun tertawa geli di buatnya.


''Mas, ampun Mas. Geli!" kata Keira seraya tertawa.


"Habis kamu ngeselin banget.'' Kevin merasa gemas dengan tingkah istrinya itu.


''Sepertinya kamu harus ke kantor dengan style baru deh,'' kata Keira. Kevin pun menghentikan geletikannya.


''Style baru bagaimana maksudnya?''


''Ya biar tidak monoton memakai dasi seperti ini. Sebentar ya aku ambilkan scarf untuk kamu.'' Kata Keira sembari berlalu menuju arah almari. Beberapa saat kemudian Keira membawa scarf berwarna abu untuk Kevin.


''Sini aku bantu pakai, biar kamu lebih stylish dan modern. Jadi scarfnya di masukkan ke dalam seperti dasi.'' Kata Keira sambil memakaikan scarf di leher Kevin.


''Nah, coba kamu lihat ke arah cermin. Keren kan?'' kata Keira sambil memutar tubuh Kevin menatap cermin.


''Dan tanda merah di lehermu, tidak terlihat kan, Mas?''


''Selera kamu bagus juga ya. Baiklah sekarang temani aku sarapan ya.''


''Oke.''


''Nanti kita makan siang bersama ya.''


''Iya nanti aku ke kantor kamu sekaligus menjemput Marvel.''


Keira dan Kevin kemudian menuju ruang makan untuk sarapan bersama dengan Marvel.


''Sepertinya penampilan Papa ada yang beda nih,'' kata Marvel.


''Iya dong. Keren nggak?''


''Keren banget lah. Pasti Mama kan yang membuat Papa se-keren ini?''


''Iya lah, memang siapa lagi. Mama memang terbaik.'' Puji Kevin sambil mengusap kepala Keira.


''Mas, apa sebaiknya aku ke kampus saja ya? Membicarakan kepindahan magangku.''


''Tidak usah, Kei. Kamu lanjutkan saja mengurus para lansia disana. Lagi pula kan tinggal 1,5 bulan lagi. Apalagi mereka juga sudah sangat dekat denganmu."


''Kamu serius Mas? Kamu tidak marah?''


''Tidak, asalkan kamu bisa jaga sikap. Jadi nanti kita ubah rencana saja. Aku akan menjemput Marvel dan kita makan siang bersama dengan mereka disana. Jadi kamu tidak perlu ke kantor.''


''Baiklah Mas kalau begitu. Aku akan menunggu kamu dan Marvel disana.''


-


Saat tiba di kantor, style baru Kevin itu menjadi pusat perhatian seluruh karyawan. Bukan bangga akan tetapi Kevin khawatir kalau tanda cinta di lehernya terlihat oleh karyawannya. Dengan langkah terburu Kevin berjalan menuju ruangannya.


''Apa tanda merah itu terlihat? Mereka sampai segitunya memperhatikan ku,'' gumamnya sesaat setelah sampai di ruangannya. Kevin lalu menyalakan laptopnya dan meneruskan kembali rancangan proyeknya.

__ADS_1


-


Sementara itu Keira baru saja tiba di sekolah Marvel.


''Semangat ya Marvel, selalu menjadi kebanggaan Papa dan Mama.''


''Pasti Mah.'' Jawab Marvel dengan semanagat.


''Aku masuk dulu ya, Mah. Sampai jumpa nanti.'' Marvel lalu memeluk dan memberikan ciuman pipi untuk Mamanya. Dengan kasih sayang, Keira pun membalasnya.


Saat hendak pulang, Keira melihat Tessa keluar dari taksi bersama Anrez. Namun Keira melihat luka membiru di wajah Tessa, Guru honorer yang sempat mengajar Keira saat SMA dulu. Keira kembali turun dari mobilnya dan mendekati Tessa.


''Bu Tessa!" seru Keira.


''Keira,'' gumam Tessa.


''Bu Tessa, apa Ibu ada waktu sekarang? Aku ingin sekali kita bicara banyak.'' Bujuk Keira.


''Sebaiknya jangan panggil, Bu. Panggil saja nama, Kei. Usia kita juga hanya terpaut lima tahun.'' Kata Tessa dengan senyum kecilnya.


''Baiklah Kak Tessa. Sepertinya Kakak lebih cocok,'' ucap Keira seraya tertawa.


''Kak, ayo ikut aku.''


''Kemana Kei?''


''Kakak tidak sibuk kan?''


''Kebetulan tidak ada.''


''Baiklah ayo kita minum teh atau kopi. Sudah lama sekali kita tidak bertemu.'' Keira lalu menggandeng tangan Tessa dan mengajaknya menuju cafe tempat Johan bekerja.


Sesampainya di cafe, Keira dengan penuh semangat mengajak Tessa masuk ke dalam.


''Jo!" panggil Keira saat melihat Johan membereskan meja.


''Ya ampun Kei, kemana aja lo? Lama nggak nongol. Terakhir kali sama suami elo kan?''


''Sorry ya Jo, habis gimana. Gue juga kangen banget sama elo dan Laras.''


''Kebetulan Laras otewe kesini.'' Pandangan Johan lalu tertuju pada Tessa yang berdiri di samping Keira. Namun Tessa yang di kenal Johan berbeda dengan dulu. Tessa yang Johan kenal adalah Tessa yang ceria, modis dan fresh. Namun kali ini penampilan Tessa sangat jauh berbeda dan membuat Johan pangling.


''Jo, ini Bu Tessa." Kata Keira. ''Kak Tessa, ini Johan. Masih ingat kan?'' kata Keira pada Tessa.


''Ini serius Bu Tessa?'' kata Johan tak percaya.


''Dan ini benera Johan yang cuby itu ya?'' kata Tessa kembali bertanya.


''Iya Bu. Ini Johan yang cuby dulu tapi sekarang berbeda kan?''


''Iya. Kamu semakin dewasa dan tampan tentunya.'' Suasana antara Johan dan Tessa pun tampak canggung. Apalagi Johan dulu sempat menyatakan perasaannya pada Tessa meskipun di tolak.


''Kok tiba-tiba pada diam. Duduk yuk, Kak'' Ajak Keira.


''Jo, jangan panggil Ibu ya. Panggil nama saja juga boleh. Aku juga bukan gurumu lagi.''


''Baiklah aku akan memanggil nama mu saja.'' Kata Johan.


''Oh ya Jo, kebetulan anaknya Kak Tessa satu sekolah sama Marvel. Dan mereka berteman.''


''Ah serius elo, Kei?''


''Iya Jo. Dunia memang sangat sempit sekali ya. Oh ya Kak Tessa mau minum apa? Aku yang traktir ya.''


''Terserah kamu saja, Kei.''

__ADS_1


''Jo, buatin moccacino dua ya buat kita sama snack yang enak deh.''


''Oke siap! Gue kebelakang dulu kalau gitu.'' Ucap Johan seraya berlalu.


''Kak Tessa, kalau boleh tahu kenapa pipinya lebam membiru?''


''Oh ini, tidak apa-apa Kei. Kemarin aku sedang mengepel dan terpleset, aku tersungkur sampai membentur kursi.'' Kata Tessa dengan teegagap.


''Ya ampun tapi kenapa sampai seperti ini, Kak?''


''Sudah tidak apa-apa Kei. Nanti juga sembuh sendiri.''


Mata Keira lalu tertuju pada lengan Tessa yang juga lebam. Apalagi ada kuku tangan Tessa yang menghitam seperti pembekuan darah bekas terjepit atau tertimpa sesuatu.


''Ini juga kenapa Kak? Lengan dan kuku jarinya?'' tanya Keira penasaran.


''Aku memang ceroboh Kei, jadi kurang hati-hati. Ini hanya lebam biasa dan kuku ini tidak sengaja terjepeti pintu saat bermain dengan Anrez. Tapi ini juga sudah membaik.'' Jawabnya penuh dengan rasa gelisah.


''Dari cara Kak Tessa bicara sepertinya memang ada sesuatu yang di sembunyikan. Bibirnya bergetar, tangannya saling meremas dan sorot matanya tidak fokus menatapku,'' gumam Keira dalam hati.


''Keira!" seru Laras sambil berlari kecil saat melihat Keira. Keira yang bahagia bisa bertemu sahabatnya itu, segera memeluknya.


''I miss you, Kei. Kemana aja sih?'' kata Laras denhan suara cemprengnya yang khas utu.


''Ya di maklumi saja lah, gue kan udah nikah. Jadi ya fokusnya lebih ke suami dah anak.''


''Cieee gaya banget yang sudah nikah dan dapat duda keren plus tajir melintir. Ngomong-ngomong udah di bobol apa belum nih gawangnya?'' cerocos Laras tanpa menyadari adanya Tessa disana.


''Mau tahu aja lo, rahasia lah.'' Kata Keira seraya tertawa.


''Oh ya Ras, ini Bu Tessa.'' Kata Keira. ''Bu Tessa ini Laras. Si suara cempreng dan paling berisik di kelas.'' Sambung Keira.


''Ya ampun kamu rupanya Laras, maaf ya aku benar-benar pangling melihat kalia semua. Kalian semakin dewasa, cantik dan ganteng. Tentunya kalian bertiga selalu kompak ya.''


''Bu Tessa, i miss you.'' Kata Laras dengan manjanya sambil memeluk Laras.


''I miss you too, Laras. Jangan panggil Ibunya supaya kita lebih akrab. Karena sudah bukan guru kalia lagi.''


''Baiklah aku akan memanggil Kakak saja, hehehe. Oh ya Kei, gimana ceritanya elo bisa ketemu sama Bu Tessa eh Kak Tessa maksudnya?''


''Soalnya anaknya Kak Tessa ini satu sekolah dan satu kelas sama Marvel. Jadinya kita ketemu lagi deh.''


''Permisi-permisi, moccacinonya datang.'' Seru Johan dengan begitu semangatnya.


''Thanks ya, Jo.'' Kata Keira.


''Sama-sama.''


''Ras, elo pesen aja, gue yang traktir.'' Kata Keira.


''Asyik nih dapat gratisan, hehehe.'' Kata Laras dengan tawa khas gigi gingsulnya. Hari itu Keira asyik berbincang dengan dua sahabat dan mantan gurunya dulu karena sudah lama sekali Keira tidak memiliki waktu untuk me time. Maklum saja dulu Tessa adalah guru paling muda dan sangat cantik. Sikapnya yang ramah, ceria, dan asyik dalam menyampaikan materi, membuatnya di sukai oleh semua siswa di sekolah. Jadi Tessa adalah salah satu sosok guru yang mebekas di hati Keira dan Laras, terutama di hati Johan. Namun baru juga berlangsung tiga puluh menit, Tessa pun buru-buru pulang karena masih ada pekerjaan yang tertunda rupanya.


''Eh, kayaknya Kak Tessa sedang tidak baik-baik saja deh. Di sekujur tubuhnya banyak luka.'' Kata Keira.


''Jujur gue sedih lihat dia seperti itu. Penampilannya yang modis berbanding terbalik dengan sekarang,'' kata Johan.


''Apa Kak Tessa ada masalah ya? Atau sedang mengalami kesusahan?'' sahut Laras.


''Kita doakan saja ya semoga Kak Tessa baik-baik saja.''


''Coba elo tanya alamat baru rumahnya, Kei.'' Kata Johan.


''Iya Jo, nanti gue tanya. Jangan bilang elo CLBK? Kak Tessa udah bersuami lho,'' kata Keira mengingatkan.


''Iya, gue tahu. Masa iya gue mau ngapel,'' seloroh Johan dengan kesal.

__ADS_1


Bersambung.... Sementara hari ini up nya 1 dulu ya, besok lanjut lagi 🙏😘


__ADS_2