Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 222 Bercinta


__ADS_3

William lalu beranjak dari duduknya. Ia lalu berdiri di belakang Gina sambal meletakkan kedua tangannya pada pundak Gina. Jantung Gina berdebar dengan cepat, ia merasa takut dengan gelagat William.


''Gina, apakah selama ini kamu tidak sadar? Bahwa aku begitu mengagumimu.''


Gina mencoba tetap tenang dan tersenyum. ''Iya aku tahu William, kamu mengagumiku sebagai seorang desainer kan? Kamu mengagumi karya-karyaku.''


William memutar kursi yang di duduki Gina menghadapnya sampai terdengar suara decit kursi yang bergesekan dengan lantai. Gina semakin gemetar dengan sikap aneh William. William kemudian berlutut di hadapan Gina, di raihnya kedua tangan Gina lalu di kecupnya dengan lembut tangan Gina.


''Perasaanku lebih dari itu, Gina. Apa kamu tidak merasakannya?''


''Tapi aku sudah memiliki suami, William.''


''Aku tahu Gina. Aku juga tahu kalau pernikahan kamu itu tidak bahagia.''


''Aku bahagia, William. Aku sangat bahagia dengan pernikahanku.''


''Tidak Gina. Aku tahu kalau suamimu tidak bisa memberimu anak. Dan aku bisa memberimu anak, Gina. Aku bisa mencintaimu lebih dari suamimu.''


Gina tidak menyangka bahwa William memiliki perasaan lebih padanya. Gina selama ini hanya menganggap sikap William hanya sebagai bentuk apresiasi atas semua karyanya.


''Maaf William, aku tidak bisa. Masih banyak wanita lain di luar sana. Permisi.'' Ucap Gina seraya beranjak dari duduknya. Namun William tiba-tiba saja menghentikan langkah Gina dengan memeluknya dari belakang. Gina terkejut dengan apa yang di lakukan oleh William padanya.


''William, lepaskan aku! Kamu jangan gila! Aku hanya menganggapmu sebagai klien dan teman biasa.'' Ucap Gina penuh dengan penekanan.


''Gina, saat di luar kamu milikku dan saat di rumah, kamu milik suamimu. Bagiku itu sudah cukup untuk memilikimu. Kita bisa memanfaatkan waktu kita di luar.''


Gina dengan lalu melepaskan pelukan William dengan kasar. Gina lalu berbalik menatap William dengan penuh amarah dan rasa kecewa.


''Maaf William, aku bukan wanita seperti itu. Aku mencintai suamiku apa adanya. Aku bisa berada di titik ini, semua ini berkat suamiku. Sekalipun dia memiliki kekurangan, itu tidak mengurangi perasaanku padanya.''


''Tapi aku tulus mecintaimu, Gina. Aku bisa memberimu anak dan kehabagiaan yang berlipat ganda.''


''Jangan bodoh William!"


William lalu menarik tangan Gina dan membawa Gina dalam pelukannya. Semakin Gina memberontak, semakin kuat William merapatkan tubuh Gina pada tubuhnya.


''Lepaskan aku William!"


''Ijinkan aku bersama mu satu malam saja. Setelah itu aku akan pergi dan menghilang dari hidupmu.'' Pinta William dengan sorot mata tajamnya.


''Maaf William, aku harus pulang. Suamiku menungguku.''


''Tinggalah satu malam disini. Katakan pada suamimu kalau kamu menginap di hotel karena lelah. Tidak masalah jika aku hanya menjadi kekasih bayanganmu, Gina. Kamu wanita yang luar biasa bagiku. Bukan hanya secara fisik tapi juga inner beauty yang kamu miliki benar-benar memikatku.''

__ADS_1


''Aku mohon lepaskan aku, William!" Gina terus memberontak, mencoba melepaskan diri dari kungkungan William. William lalu membelai lembut kepala Gina. ''Tenanglah sayang.''


''William, jangan membuatku bersikap kasar!"


''Lakukan saja, aku suka yang kasar.''


Gina dengan sekuat tenaga, menendang keras pusaka William. Gina dengan sekuat tenaga mendorong William hingga tersungkur di lantai. William benar-benar merasa kesakitan. Gina kemudian segera pergi meninggalkan kamar hotel tersebut dengan langkah terburu.


''Semakin kamu berlari dan menolak, aku semakin semangat untuk mendekatimu, Gina.'' Gumam William sambil menahan rasa sakitnya.


-


Selama dalam perjalanan pulang, Gina hanya bisa menangis. Ia teringat bagaimana cemburu dan kesalnya Miko kepada William. Dan kini dugaan Miko terbukti bahwa William memiliki rasa pada Gina.


''Maafkan aku, Mas.'' Gumam Gina sambil terus menangis. Yang ingin Gina lakukan saat ini hanyalah, segera sampai rumah dan memeluk suaminya.


Setelah sampai di rumah dan sebelum masuk rumah, Gina buru-buru menyeka air matanya, merapikan kembali pakaiannya yang sempat berantakan. Saat masuk rumah, Gina melihat Miko tertidur di sofa ruang tamu. Gina menatap iba suaminya. Gina mendekat lalu mengecup kening suaminya.


''Mas, aku pulang." Mendengar suara Gina, Miko pun terbangun.


''Sayang, kamu sudah pulang?'' ucapnya sambil mengucek matanya. Miko kemudian bangun dari tidurnya dan memberikan pelukan untuk suaminya. Namun Miko mencium parfum yang sangat berbeda dari yang Gina pakai tadi.


''Iya Mas, kamu kenapa tidur disini?''


''Beda bagaimana, Mas? Tadi pagi kamu juga bilang seperti itu.''


''Ini lebih seperti ke parfum cowok sih.'' Kata Miko sambil melepaskan pelukannya. DEG! Gina tidak tahu harus mengatakan apa pada Miko, ia memilih diam sejenak untuk mencari alasan.


''Sayang, kok diam.'' Miko mencolek dagu Gina.


''Eh maaf, Mas. Kayaknya aku kecepekan deh jadi ada seklebat pekerjaan yang terlintas di pikiran aku. Kalau masalah parfum, ya aku kan bersama banyak orang disana, Mas. Yang memeluk dan memberu selamat juga bergantian.''


''Hmmm iya juga sih. Tapi seharusnya aku yang pertama kali memeluk kamu bukannya orang lain.'' Kata Miko.


''Ya sudah ke kamar yuk, Mas. Tapi kamu sudah baikan kan?''


''Aku sudah sangat membaik, sayang. Baiklah sekarang ayo kita ke kamar.'' Miko kemudian menggendong Gina menuju ke kamar. Sesampainya di kamar, Miko merebahkan tubuh Gina di atas tempat tidur.


''Sayang, tidak tahu kenapa? Aku hari ini sangat merindukan kamu.''


''Gombal kamu, Mas.''


''Serius deh.'' Miko kemudian mendekatkan wajahnya pada Gina, hendak memberikan ciuman di bibir Gina namun tiba-tiba Gina menghindar. Miko merasa heran dan aneh kenapa Gina menghindarinya.

__ADS_1


''Sayang, kenapa kamu menghindar?''


''Mas, sebaiknya aku mandi dan bersih-bersih badan dulu. Nanti kita lanjut lagi ya.''


''Oke sayang. Ya sudah kamu mandi, aku tunggu kamu.''


''Iya Mas.''


Gina lalu beranjak dari tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi. Gina tidak ingin kemesraannya bersama suaminya, di bayang-bayangi oleh William. Gina melepaskan semua pakaian yang ia pakai hari itu lalu membuangnya ke tempat sampah yang berada di kamar mandi.


''Semoga dia tidak menggangguku lagi.'' Gumam Gina.


Setelah selesai mandi, Gina melihat suaminya sedang menonton televisi.


''Mas, kamu sudah makan?''


''Sudah sayang. Kamu sendiri bagaimana?''


''Aku juga sudah kok.'' Gina terpaksa berbohong karena sejak kejadian tadi, Gina sudah tidak memiliki selera makan.


''Sayang, kemarilah!" pinta Miko.


''Rambutku basah, Mas. Aku keringkan dulu ya.''


''Tidak usah! Kamu seksi dengan rambut basah seperti itu.''


Gina tersenyum lalu mendekat kearah suaminya. Miko yang sudah tidak sabar menarik Gina dan mengajaknya bergulung di atas tempat tidur. Gina tertawa dengan sikap konyol suaminya itu.


''Mas, pusing di guling-guling gini.''


''Aku gemas sekali denganmu, sayang.'' Miko lalu menghentikan aksi gulingnya. Ia kemudian menciumi wajah istrinya dengan gemas.


''Mas, kamu ini kenapa sih? Wajah aku bau iler kamu.''


''Ah, kamu juga di ilerin.'' Goda Miko.


''Aku tahu apa yang kamu, Mas.''


''Coba tebak, apa?'' kata Miko. Gina kemudian menangkupakan kedua tangannya pada wajah Miko. Gina lalu memberikan ciuman pada bibir suaminya itu. Tanpa basa-basi, Miko membalas ciuman istrinya dengan sangat panas. Tangan Miko dengan sigap membuka tali handuk kimono yang Gina kenakan. Tentu saja tangan Miko sudah merambat ke arah buah dada Gina yang sudah polos. Ciuman keduanya semakin dalam, Gina semakin menikmati re...ma..san lembut tangan Miko. Miko lalu melepaskan ciumannya.


''Gina, aku sangat mencintaimu.''


''Aku juga sangat mencintaimu, Mas.'' Mereka berdua lalu kembali berciuman semakin dalam dan semakin menuntut. Miko dan Gina melewatkan malam panjang mereka dengan bercinta, bercinta dan bercinta.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2